Jadi kau mengenal dokter Alberth? Dan, dia mengetahui aku saat mengintai rumahnya? Sudah aku duga ternyata itu memang benar-benar rumah yang sudah ditinggali di dokter Alberth.
Aku kembali menatap lelaki itu. Dia masih saja menekan perutnya. Ya, karena dia tadi mendapatkan tarikan dan sedikit tendangan dariku.
"Kau benar," jawabnya. Dia menganggukkan kepalanya dan aku senang dia paham dengan bahasa isyarat yang sudah aku berikan.
Lalu, tujuannya apa Dokter Alberth mencariku. Bukankah kemarin aku melihat dia menyembuhkan Amelia? Aku sangat paham itu. Dan, aku sudah jelas-jelas melihat wanita itu yang berada di sana adalah Amelia. Apakah dia sebenarnya kenal dengan wanita itu?
Lelaki yang ada di hadapanku kini terduduk. Dia menganggukkan kepala dan menarik napas panjang. Aku mencari botol minuman yang berada di depan jok mobil, kemudian segera memberikannya kepadanya.
Kau sebaiknya meminum air ini dulu. Tenangkan pikiranmu sebelum menjawab semua pertanyaanku. Kau harus berjanji untuk mengatakan semuanya. Jika tidak, kau tahu sendiri apa ancaman yang sudah aku berikan kepadamu.
"Aku mengerti dan aku akan mengatakan semuanya," jawabnya dengan pelan lalu kembali mengatur posisi duduknya, sebelum akhirnya dia berkata kembali jika, "Saat itu Dokter Alberth melihat bayanganmu di dalam cermin. Dia sangat terkejut kau mengamati Dokter Alberth. Dia tidak ingin siapa pun mengetahui posisinya, termasuk dengan Bram. Dia tahu keponakannya itu sudah mengatur semuanya, hingga kekayaan mantan suami Amelia tidak bisa digunakan. Dia memiliki kenalan semua mafia yang bisa membantunya," lanjutnya membuat aku tidak percaya. Ternyata Bram memiliki kekuatan seperti itu.
Lalu sebenarnya sakit apa Amelia? Kenapa dia sangat pucat seperti itu? Apakah penyakit yang parah?
"Yah, dia terkena penyakit di dalam otaknya stadium tiga. Sekarang dia selalu pusing dan pingsan. Dokter Alberth membawanya jauh karena dia paham Bram akan memanfaatkan Amelia dengan semua kekayaan Putri anak Rey. Dokter Alberth tidak ingin hal itu, apalagi Bram juga berusaha untuk mengambil kekayaan Dokter Alberth. Hal itu yang membuat Dokter menghilang sementara. Untuk mengurusi semua dan menyelidikinya. Namun, sekarang dia bersedih harus melihatmu keluar dari universitas itu. Sementara dia tidak bisa kembali sebelum urusannya selesai."
Aku terpaku mendengar apa yang diucapkan laki-laki itu. Tidak aku sangka ternyata Dokter Alberth tidak melupakanku. Namun, dia ingin sekali membantu Amelia. Apakah aku harus mengatakan ini semua kepada Rey? Ingin sekali aku membuat dia kembali dengan mantan istrinya. Dengan begitu, Putri akan bahagia memiliki orang tua yang lengkap.
Lalu untuk Apa kau diperintahkan membuntutiku?
"Dia tidak mengatakan apa pun. Aku adalah salah satu asistennya. Aku juga seorang dokter. Hanya aku yang di percaya kepadanya saat ini. Makanya aku mendapatkan tugas seperti ini. Dokter sangat ingin sekali kau menyelesaikan kuliahmu dan itu akan diatur secepatnya. Dia sudah berjanji akan melakukannya. Kau sekarang harus tenang. Tapi aku lihat kau melakukan sesuatu hal yang sangat buruk."
Aku tahu. Pasti kau mengetahui semuanya. Kau memang benar. Yah, aku membutuhkan biaya. Jadi aku masuk ke dalam kandang singa itu. Sekarang aku harus keluar, dan berusaha mereka tidak menerkam aku.
Aku masih terdiam sejenak. Aku sangat senang mendengar kenyataan ini. Ternyata Dokter yang melegenda itu masih saja memikirkan bagaimana nasibku berkuliah di sana. Semoga saja dia bisa membantu aku untuk kembali masuk. Tapi, sebelumnya aku harus menyelesaikan masalah dengan pertarungan ini. Aku tidak ingin dokter kecewa melihatku melakukan hal yang sangat buruk ini. Tentu saja dia mengenal Amelia. Bram adalah keponakannya.
Setelah aku menyelesaikan semua urusanku, aku akan menghubungimu. Aku akan menceritakan masalah ini kepada Rey karena dia berhak tahu. Ini adalah masalah keluarganya. Aku rasa tidak adil jika dia tidak mengetahuinya.
"Terserah kau mau memberitahukan atau tidak. Yang terpenting cepat selesaikan dan hubungi aku. Ini adalah nomor teleponku."
Dia memberikan sebuah kartu nama. Aku segera menatapnya. Ternyata dia adalah dokter bedah dan tentu saja dia pasti sangat hebat. Namun aku tidak tega melihat dia mendapat tugas untuk membuntutiku. Apalagi aku sudah menghajarnya tadi.
Baiklah. Kau sebaiknya pergi dari sini. Aku tidak ingin Roy melihatmu. Aku akan segera menghubungimu. Berikan aku waktu satu hari saja. Maafkan, aku tadi sudah memukulmu. Aku harap kau melupakan hal itu.
"Aku akan menunggumu kau menghubungiku. Jangan pernah terjun ke sana. Itu adalah tempat yang sangat membahayakan," ucapnya sebelum akhirnya dia keluar dari mobil dan berlalu begitu saja.
Aku duduk menatap ke depan. Aku sedikit memundurkan kursi ke belakang dan menyandarkan tubuhku agar aku rileks sejenak. Paling tidak aku mendapatkan kabar baik jika dokter Alberth masih mengingat diriku dan akan terus membantuku. Namun, yang aku takutkan. Bagaimana jika Putri dan Rey mendengar Amelia memiliki sakit yang sangat parah? Mereka memang membencinya. Namun, pasti ada sebuah perasaan yang akan membuat mereka trenyuh jika mengetahui hal itu.
Aku masih menunggu Roy. Dia tidak juga keluar. Sebaiknya aku keluar dari mobil dan memeriksanya. Paling tidak mengintip dari jendela. Aku tidak suka dia terlalu lama, dan ini sudah hampir satu jam.
Aku segera mengendap-ngendap dan mengamati jendela yang berada di halaman belakang. Ternyata memang benar. Dia masih saja melakukannya dengan dokter wanita itu. Kenapa lama sekali? Aku tidak mau melihat sesuatu hal seperti ini. Argh, dia benar-benar menyebalkan. Bahkan, suara erangan mereka terdengar keras.
Aku harus memberikan tanda agar Roy keluar. Ini tidak benar. Sementara dia menikmati hal itu. Namun, aku harus menjadi obat nyamuk di sini. Baiklah, aku akan melakukan sesuatu.
Aku mengambil beberapa batu kecil lalu melemparkannya terus ke arah pintu. Aku mengulanginya berkali-kali. Hingga sepertinya aku berhasil. Roy membuka pintu dalam keadaan sangat berantakan. Yang membuat aku lega, dia membawa kresek putih. Sepertinya itu adalah obat bius yang sudah kita inginkan.
"Midas, kau sudah menggangguku! Untung saja aku cepat mengeluarkan lahar itu. Kau sebaiknya membiarkan aku sejenak menikmati kepenatanku. Dokter itu, ah ... dia sudah membuatku melayang. Tapi aku mendengar suara lemparan-lemparan tidak jelas. Menyebalkan sekali kau, Midas."
Kau terlalu lama Roy. Kau pikir aku ini obat nyamuk? Sekarang sudah hampir satu jam, dan kau membuang waktu. Apa yang harus aku lakukan? Hah, apa aku harus masuk ke dalam dan melihatmu seperti itu? Kau yang menyebalkan.
Roy hanya terkekeh mendengar apa yang aku katakan. Kami segera masuk ke dalam mobil. Tapi, langkah kami terhenti saat dokter wanita itu keluar dan memanggil nama Roy dengan sangat keras.
"Woi, berhenti!" teriaknya. Dia berjalan cepat mendekati kami. "Aku mau kau tiap hari menghubungiku dan main di sini. Jika kau tidak mau melakukannya, aku akan terus mengejarmu. Aku sudah membantumu dan aku menginginkan hutang budi. Jangan lupakan itu," lanjutnya. Lalu, dengan mendadak dia menarik kerah baju Roy. Dia kembali mendaratkan bibirnya. Tidak aku sangka mereka melakukan dengan sangat liar seperti itu di hadapanku. Hah, benar-benar sungguh luar biasa. Sebaiknya aku pergi saja dan masuk kembali ke dalam mobil.
Roy melakukan perpisahan yang sangat luar biasa. Sebaiknya memang dia menikahi wanita itu. Mereka pasangan yang sangat serasi. Aku akan menyarankan itu kepada Roy agar dia tidak menjadi lelaki play boy lagi.
Dia melambaikan tangan dengan tersenyum, lalu kembali masuk ke dalam mobil. Di depan kemudi dia menarik napas panjang, dan mengambil satu botol minuman yang berada di jok di hadapanku. Dia sama sekali tidak mempedulikan lirikkan kedua mataku. Satu botol minuman itu dalam sekejap habis dia teguk.
"Aku benar-benar sangat segar hari ini. Tapi aku sangat mengantuk. Kau tau sendiri, Midas. Aku sudah menghabiskan tenaga aku dua kali di dalam."
Apakah aku harus marah? Baiklah, aku yang akan mengendarainya. Kau sebaiknya berada di sini dan kita bertukar tempat. Berikan saja alamat kedua yang harus kita datangi.
"Kau memang saudara sepupuku yang sangat pengertian," ucapnya lalu membuka pintu mobil dan memutarinya. Aku segera pindah ke kursi kemudi.
"Aku sangat mengantuk. Biarkan aku tertidur sebentar saja. Setelah sampai di alamat itu, kau bisa membangunkan aku," ucapnya segera merebahkan tubuhnya dan terlelap hanya dalam hitungan beberapa detik saja. Dia mendengkur dengan sangat keras. Tidak aku percaya dia melakukan hal ini kepadaku. Tapi, baiklah. Aku sebaiknya harus melakukan apa yang aku rencanakan.
Aku segera melesatkan mobil ini menuju ke sebuah alamat kedua. Aku melesat lumayan kencang. Dalam beberapa menit, aku sampai. Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh.
Aku mengamati semua arah. Rumah yang aku datangi sangat berantakan dan berada di alamat kumuh. Ternyata para petarung itu benar-benar membutuhkan uang, hingga mereka nekat untuk mempertaruhkan nyawa.
Aku terus mengamati rumah itu, karena aku tidak tahu bagaimana sebenarnya wajah lelaki yang akan melakukan pertarungan. Hingga aku melihat seseorang memakai pakaian yang sangat rapi keluar dari sana. Dia sama sekali tidak seperti seorang petarung. Apakah memang dia orangnya? Bagaimana jika orang lain? Hah, sebaiknya aku membuntuti dia.
"Midas, kenapa kau tidak membangunkan aku jika sudah sampai? Argh ... tubuhku benar-benar segar dan aku kembali bisa membuka kedua mataku dengan sangat lebar," ucap Roy tiba-tiba terbangun dan mengeliat. Spontan dia mengamati semua arah dan kebingungan. Sementara aku tidak mempedulikannya. Aku terus mengamati lelaki itu yang berjalan masuk ke dalam mobilnya. Mobil tipe versi sangat lama. Bahkan catnya saja sudah usang.
"Apa? Hei, kau membuntuti orang yang sangat rapi itu? Midas, dia tidak seperti petarung. Mungkin ada lelaki lainnya yang berada di rumah itu. Ini adalah perkampungan kumuh? Jadi alamat kedua berada di sini? Ah, tidak aku percaya," gumam Roy terus mengamati semua arah. Sementara aku masih saja serius dengan kedua mataku.
"Jadi kau akan membuntuti mobil itu? Bagaimana jika ada lelaki lain dan bukan dia?" tanya Roy menatapku dengan sangat serius.
Tidak ada lagi Roy. Lihatlah, rumah itu sangat sepi. Pasti dia. Kau tahu sendiri. Aku juga tidak seperti petarung. Namun, aku ternyata hebat kan? Bukankah seperti itu?
"Baiklah, kita membutuhkannya. Dan, semoga saja kita tidak salah orang. Karena dia seperti pegawai bank atau pegawai pemerintahan."
Hei. Jika dia seorang pegawai yang kau sebutkan tadi, tidak mungkin dia berada di lingkungan rumah seperti ini.
"Atau, dia bekerja sebagai sales marketing. Entah menjual barang apa pun, yang penting laku. Itu mungkin yang benar."
Roy masih saja tidak mau kalah denganku. Dia terus mengatakan semuanya, dengan memberikan lirikan tajamnya.
Sementara aku masih membuntuti mobil usang itu, dengan mengendarai mobil Roy tidak terlalu kencang. Aku harus menjaga jarak agar dia tidak mengetahui jika aku membuntutinya.
"Ternyata dugaanmu memang benar, Midas. Ini adalah jalan menuju ke tempat pertarungan itu. Bagaimana jika kita menghadangnya di pojok jalan pertigaan di sana. Lalu kau keluar dan berpura-pura untuk meminta bantuan. Nah, saat dia keluar mobil, aku akan menyuntikkan suntikan ini ke leher atau lengannya. Dan, dia bisa pingsan."
Aku menganggukkan kepalaku, karena ide Roy memang benar-benar sangat bagus. Kami segera menghadangnya saat berada di pertigaan itu. Tanpa berbicara lagi, aku segera keluar dari mobil dan mengetuk pintu mobil laki-laki yang pastinya akan melakukan pertarungan itu.
"Hei, apa aku mengenalmu? Aku sama sekali tidak tahu kau siapa. Kenapa menghadang mobilku begitu saja? Apa kalian mau mati!" teriaknya keras.
Seperti dugaanku. Sangat benar! Kata-katanya menandakan, jika dia seorang petarung. Sangat kasar dan bernada tinggi.
Aku hanya diam saja. Aku harus membuat dia marah. Membuat dia keluar dari mobilnya.
"Apa kau bisu? Tidak menjawab semua yang aku tanyakan? Jadi kau memang benar-benar mencari masalah denganku? Baiklah, aku akan keluar dan menghajarmu sekarang juga!"
Aku segera melangkahkan kakiku mundur ke belakang. Dia membuka pintu mobil, melepaskan jasnya. Lalu, sedikit melingkis kemeja, kemudian dia sudah mengepalkan kedua tangannya untuk menyerang aku. Namun, dia terlambat. Roy sudah berhasil menyuntikkan obat bius itu ke lengannya. Tanpa dia sadar, kini orang itu pingsan seketika itu juga. Ternyata obat bius itu adalah level paling atas. Namun, dia masih akan selamat dan tersadar.
"Midas. Kita berhasil. Ayo kita membawa dia dan mengembalikannya ke dalam rumah. Karena kita tidak mungkin membiarkan dia tergeletak di sini saja."
Tidak perlu Roy. Paling dia beberapa jam lagi sadar. Kita masukkan saja dia ke dalam mobil dan membuka jendela agar angin masuk ke dalam.
"Baiklah, aku akan menuruti semua perkataanmu. Ayo cepat kita lakukan."
Kami segera memasukkan laki-laki itu lagi ke dalam mobilnya dan memastikan bernapas dengan sangat baik. Dengan cepat kami masuk kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan menemui petarung ketiga.
Apa ini?
Sama sekali tidak kami duga. Beberapa orang mengamati kami sambil membawa kayu di tangan mereka dan siap untuk menyerang.
"Midas ini sangat tidak baik. Kenapa mereka seperti itu di hadapan kita?" gumam Roy pelan sambil melotot melihat mereka yang sudah berjalan mendekati kami.
"Hei! Apa yang kau lakukan dengan ketua kam? Dia sebentar lagi akan melakukan pertarungan. Apa kau berusaha untuk membunuhnya? Hah, kalian tidak akan pernah kami lepaskan!"
"Midas! Ternyata kita kembali mendapatkan masalah! Rencanamu ini benar-benar gagal!" teriak Roy.
Lari, Roy!