Semua memandangku serius. Terutama sang dosen. Tapi ... sepertinya aku harus mengalah. Aku tidak bisa terlihat terlalu unggul.
Sejak kecil, aku selalu membaca semua buku Kakek. Keahliannya dalam spesialis bedah, memang luar biasa. Kakek selalu saja melakukan dengan benar. Hingga aku berumur 17 tahun, aku diberikan warisan tiga buah buku paling penting. Buku itu adalah tulisan kakekku sendiri. Kebetulan di sana ada semua riwayat apapun yang sudah pernah dia lakukan. Termasuk apa yang dosen itu tanyakan. Dan, sepertinya itu adalah apa yang diajarkan Kakek kepada semua muridnya. Dia sepertinya salah satu dari murid itu.
Aku hanya terdiam. Aku tidak mau terlihat unggul di depan siapapun. Aku tidak akan menjawab walaupun aku mengetahuinya. Biarkan saja mereka yang menginginkan terlihat hebat mendapatkan itu semua. Karena aku tidak ingin terlihat hebat.
"Midas Apakah kamu mengetahuinya?" Sekali lagi aku menanyakan kepadamu. Kau sebelumnya mengangguk. Tapi ... sekarang kau diam saja."
Maafkan dosen aku tidak mengetahuinya. Anda bisa menjelaskan dan aku akan mengamati semuanya.
Harto menatapku dengan melotot tidak percaya aku mengalah untuk hal yang sangat hebat seperti ini. Namun, dengan mengalah bukan berarti kalah. Aku tidak mau terlalu terlihat menonjol dari semua mahasiswa yang juga memiliki kepintaran luar biasa. Akan ada saatnya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Sekarang, yang terpenting mereka mau berteman denganku. Semuanya akan aku ubah.
"Tapi sepertinya aku melihatmu mengangguk. Midas, aku tadi mengamatimu dengan tersenyum. Jadi ... ternyata tidak bisa melakukannya? Baiklah, kali ini nilai tertinggi kuberikan kepadamu," tunjuknya kepada tunangan Ana yang tersenyum sambil bersedekap. Semua mahasiswa bertepuk tangan sambil mengagungkan namanya. Aku juga melakukan hal yang sama. Dia terkejut ketika melihat aku melakukan itu.
"Baiklah pelajaran sudah selesai dilakukan. Kalian bisa istirahat. Midas, aku ingin berbicara denganmu. Tinggallah sebentar di kelas ini."
Harto dan aku saling menolehkan pandangan. Sang dosen menginginkan untuk bertemu denganku berdua saja. Apa yang sebenarnya diinginkan semoga saja ini tidak sesuatu yang buruk.
"Midas Aku pengin nemenin kamu. Tapi, sepertinya ndak boleh aku duduk di sana. Heh, kalau ada apa-apa, kamu lambaikan tangan ke arahku. Nant, aku langsung berlari, melompat, nangkap kamu, nolong kamu. Kamu jangan kawatir. Ada aku di sini. Haha, mahasiswa paling hebat dan kuat kayak pahlawan super."
Perkataan Harto yang selalu membuatku tersenyum dan tertawa. Dia sangat menghibur sekali. Aku menganggukkan kepala dan memberikan jempol kepadanya. Dia segera duduk di kursi. Sementara aku berjalan dengan bergemetar mendekati dosen yang menungguku di depan.
"Kau boleh pergi. Aku hanya ingin bertemu dengan Midas. Nanti, setelah ini tunggulah di kantorku," ucap sang dosen kepada tunangan Ana yang berdiri mengernyit melihatku. Dia tidak menyangka diusir oleh sang dosen begitu saja. Kini dia melangkah dengan pandangan yang dipenuhi amarah. Aku sangat khawatir melihat hal itu padahal aku ingin merubah semuanya.
"Duduklah Midas," ucapnya menunjukkan kursi yang berada tepat di depan meja kerjanya. Perlahan aku duduk dengan tegak dan membalas tatapannya. Aku masih berharap ini adalah pembicaraan yang tidak serius.
"Aku tahu kau tadi kau sebenarnya mengalah. Kau lakukan itu .... karena tidak ingin semua mahasiswa membencimu. Apakah seperti itu yang sebenarnya?"
Sudah kuduga ternyata dia mengetahuinya. Apakah ekspresi ku tidak bisa berpura-pura terlihat jelas, hingga dia dengan mudah dapat mengetahui apa yang aku pikirkan. Namun, aku tidak bisa lari dari pernyataan sang dosen. Aku perlahan menganggukan kepala.
"Untuk apa kau melakukan itu, Midas? Ingatlah apa yang menjadi tujuanmu ke sini? Midas, kau hanya membutuhkan waktu 4 tahun menyelesaikan gelar sebagai dokter. Kau tidak perlu mendapatkan simpati mahasiswa lainnya. Kau hidup individu saja. Selesaikan tugasmu. Dan ... berikan yang terbaik. Hanya itu yang perlu kau lakukan, tidak perlu memikirkan yang lain. Aku tidak ingin melihatmu melakukannya lagi. Jika kau memang bisa, lakukan saja. Aku memang mempelajari hal itu dari buku yang sudah kakekmu terbitkan. Itu adalah buku yang luar biasa. Kau pasti memilikinya dan membacanya. Padahal aku sering memberikan saran kepada semua mahasiswa untuk untuk membacanya. Tapi, sepertinya mereka malas melakukan itu. Mereka hanya ingin memperoleh gelar dokter karena orang tua mereka sangat kaya. Menjadi dokter tidak dari hati mereka, walaupun tidak semuanya seperti itu."
Dokter Maafkan aku. Aku hanya ingin memperoleh teman di sini. Aku akan melakukan semuanya. Semua ujian dan semua tugas yang diberikan untukku. Aku hanya tidak ingin terlalu terlihat unggul di antara semuanya. Otakku yang jenius ini adalah berkah. Tidak untuk dipamerkan. Semua itu sudah aku putuskan. Aku mohon maaf.
"Baiklah kalau memang seperti itu. Keinginanmu luar biasa. Tidak salah Dokter Alberth memilihmu. Sekarang, aku pergi dan jangan lupa, pekan depan ada ujian. Aku ingin kau memiliki nilai sempurna. Belajarlah dengan rajin. Nama legenda yang dibawa kakekmu adalah beban berat untukmu. Itu adalah prestasi yang sangat luar biasa."
Sang dosen pergi meninggalkan kelas begitu saja. Aku berdiri dan menolehkan pandanganku ke belakang. Harto melambaikan tangan agar aku menuju ke arahnya. Dengan cepat aku berjalan duduk di sebelahnya.
"Pasti membicarakan yang tadi. Benar apa tidak? Yah, tentu saja harus dibicarakan. Heh, aku melihat kamu itu ngalah. Sebenarnya kamu itu tahu. Kamu jangan melakukan itu. Biar aja mereka tidak menyukaimu. Sekarang, kan, ada aku. Apa kamu kurang teman? Teman kamu kurang banyak? Mau banyak?"
Aku terkekeh sembari menggeleng mendengar ocehan Harto. Sekali lagi dia sangat lucu sekali. Aku sangat bahagia dengannya. Memanh betul katanya. Bahwa aku tidak perlu teman yang banyak. Satu teman seperti dirinya sudah cukup buatku.
"Sekarang mari kita ke kantin. Duh, perutku sudah keroyokan di dalam. Alias, teriak-teriak. Midas, aku laper pengin makan. Wes, ayo, kali ini tak traktir makan bakso yang sangat luar biasa. Bakso malang enak banget itu. Pakai saus dan sambal. Ayo Midas."
Sepertinya keberuntungan berada di pihakku. Aku mendapatkan traktiran makanan kesukaanku. Kami berjalan dengan sangat santai menuju ke kantin. Seperti biasa mahasiswa mengamatiku dengan berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Aku merasa tidak nyaman berada di sini. Hingga saat aku berjalan di antara meja dan kursi yang berada di kantin, seseorang dengan sengaja mengeluarkan kakinya dan aku tersungkur ke lantai.
Buk!
"Hahaha. Lihatlah mahasiswa terpintar kita. Dia terjatuh. Sangat memalukan. Ternyata dia buta juga. Hingga tidak bisa melihat jalan."
"Hahahah!"
Mereka semua tertawa melihatku sambil menunjukkan jemarinya seolah aku adalah binatang yang pantas untuk diperlakukan seperti ini. Harto dengan cepat membantuku untuk berdiri. Aku hanya terdiam berusaha mengatasi hatiku agar tidak emosi. Aku kembali berjalan dan tidak mempedulikan apa yang barusan terjadi.
"Mereka semua itu sangat kurang ajar
Aku tahu kalau dia itu sengaja. Lihat saja nanti. Akan aku balas," ucap Harto sambil melirik laki-laki yang sengaja melakukannya kepadaku.
Spontan aku menepuk pundaknya dan menggelengkan kepala untuk membuat dia tidak melakukan hal itu kepadanya.
"Kau itu terlalu baik, Midas. Sedikit-sedikit tidak mau membalas. Makanya kau itu selalu ditindas. Jangan seperti itu. Tunjukkan kalau dirimu, ith kuat kayak pahlawan super yang selalu dipuji-puji. Walaupun mereka memiliki kekuatan yang sangat aneh. Kalau begini terus bagaimana kamu selama 4 tahun? Weleh, bisa-bisa, mati mendadak kamu."
Pyok!
"Maafkan aku, Mas. Tidak sengaja. Wah, tumpah. Terus bagaimana nih? Bajumu sangat kotor."
Aku mundur seketika. Mendadak tubuhku sangat panas. Aku sedikit merintih. Seorang wanita melewatiku membawa satu mangkok kuah bakso panas dan menabrakku. Dia menumpahkannya di seluruh tubuhku. Entahlah ini sengaja atau tidak. Tapi sepertinya dia tersenyum sinis melihatku bersama teman-temannya.
"Mbak kalau jalan hati-hati dong. Lihat itu. Bajunya kotor semua. Kamu mau tanggung jawab? Eh, malah senyum-senyum meringis seperti itu. Ini tidak baik, mbak. Jadi perempuan kok seperti itu. Jangan ceroboh." Harto terus menunjukkan jemarinya ke wajah beberapa gadis yang sama sekali tidak takut dengannya.
"Eh Mas. Aku tidak sengaja. Lagian, jalan juga enggak pakai mata seenaknya sendiri. Aku, kan, sudah minta maaf. Ih, ngapain sewit kayak gitu."
"Aku bukan sewot. Justru kamu yang seperti itu. Aku lihat dengan kedua mataku sendiri. Kamu sudah sengaja melakukan kepada Midas. Sekarang mau membela diri?"
Harto masih saja membelaku dengan keras. Namun, aku kembali menggelengkan kepalaku untuk mencegah dia melakukan itu.
"Ya sudah. Orang yang aku tumpahin aja tidak marah. Lihatlah, dia tidak menegur sama sekali. Kenapa harus kamu yang menegurnya? Lihatlah, dia tuh cuman diam saja," ucap wanita itu masih saja menunjukku dengan sangat keras.
"Bagaimana dia membelamu? Apa kau lupa? Dia itu, kan, bisu. Hahaha," balas salah satunya kemudian tertawa diikuti dengan mahasiswa lainnya.
Sudah Harto kita pergi dari sini. Makan baksonya, lain kali saja. Aku mau membersihkan bajuku dulu. Lihatlah, ini sangat basah. Tidak mungkin aku melanjutkan pelajaran dengan keadaan seperti ini.
"Huhuhu. Lihatlah, dia berbicara dengan memutar-mutar tangannya. Sangat memalukan. Nama baik Universitas ini sangat tercemar menerima mahasiswa bisu seperti dirinya. Sangat memalukan. Kau sebaiknya memang pergi dan bersembunyi di sebuah tempat yang tidak bisa kita lihat. Wujudmu itu adalah kuman di Universitas ini. Pergilah!"
"Apa kamu bilang? Kurang ajar! Heh, mau aku tonjok kepalamu! Dasar laki-laki mulut ember kamu!"
Aku menarik Harto yang akan memberikan pukulan kepada lelaki itu yang berdiri dari duduknya diikuti oleh mahasiswa lainnya. Ini memang sangat buruk. Mereka sudah menghinaku seperti itu.
Tapi, memang apa yang dikatakan benar. Aku lebih baik tidak muncul di semua mahasiswa ini. Aku akan diam di kelas saja sampai pelajaran selesai. Aku akan pulang, lalu kembali lagi, dan seterusnya akan seperti itu. Hanya itu adalah yang terbaik bagiku.
"Kurang ajar mereka semua. Apa tidak tahu di sebelah aku ini mahasiswa paling jenius di sini. Malah dapat penghinaan seperti itu? Ingin rasanya tak remes-remes wajahnya, tak bikin nasi rames. Huh, gemes aku." Harto terus mengepalkan kedua tangannya. Aku hanya terus menggeleng berusaha menenangkan hatinya.
Sudah, Harto. Kau jangan pedulikan mereka. Lihatlah, aku baik-baik saja. Aku akan membersihkan kemejaku ini di toilet. Apa kau juga mau ikut?
"Yo wes. Kebetulan aku ingin melakukan sesuatu agar sesuatu yang sudah lama aku tahan ini keluar. Kenapa tidak dari tadi, ya?"
Seketika itu juga aku tertawa melihatnya. Dia memang sangat lucu. Dalam sekejap aku melupakan kejadian memalukan barusan karena Harto sudah menghiburku berkali-kali.
Kami masuk ke dalam toilet. Aku membersihkan kemejaku yang dipenuhi dengan kuah bakso dan saos. Bagaimana mungkin aku bisa kembali ke kamar dan menggantinya. Waktu tidak cukup. Sementara pelajaran segera dimulai. Lebih baik aku menggantinya saja dan menutupnya dengan jaket nanti.
Selama berapa menit saat kami akan keluar, gerombolan mahasiswa laki-laki masuk ke dalam. Mereka sengaja menutup pintu toilet. Ini pertanda yang sangat tidak baik. Harto berdiri menatapku tegang. Mereka berjumlah 6 orang. Bahkan mereka membawa kayu digenggaman mereka. Pasti mereka akan mencelakaiku.
"Kau tidak akan pernah bisa keluar dari kamar mandi ini hidup-hidup. Kami akan memberikan pelajaran kepadamu," ucap salah satunya. Entah kenapa mereka semua sangat membenciku hingga ingin membunuhku.
"Kurang ajar! Tidak tahu diri! Beraninya main keroyokan. Coba satu lawan satu. Pasti kalian juga akan kalah." Harto membuat mereka semakin geram.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu laki-laki medok. Kau akan selamat karena kami hanya mengincar temanmu itu," balas mahasiswa itu sambil menyodorkan kayu tepat di wajah Harto yang menampiknya dengan cepat. Tidak kusangka dia memang sangat pemberani.
"Urusannya dia, urusanku juga. Jangan pernah coba-coba untuk melawan dia, karena kalau kalian melawan dia, aku juga akan ikut melawan. Ayo sini, lawan kami! Bisanya main keroyokan. Ciuh, memalukan!"
Harto mulai melingkis kemejanya. Aku hanya terdiam, walaupun sebenarnya aku bisa menghabisi mereka dalam sekejap. Namun, apakah ini perlu? Ataukah aku membiarkan mereka untuk memukulku saja?
"Rasakan!"