Tidak aku percaya, aku melihat Roy berlari mendekatiku dengan napas terengah-engah.
Roy, kenapa denganmu? Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?
"Midas, ini sangat gawat. Aku selalu diteror oleh laki-laki itu. Kekasih Rey. Apakah namanya Briyan. Hah, dia selalu saja mengancam akan membunuhku."
Roy, sebaiknya kau mengatur tenaga dan napasmu. Kenapa kau seperti itu? Siapa yang melakukan ini? Apakah kau membawa mobil. Aku akan mengendarai mobil itu dan kau sebaiknya menginap di kamarku malam ini.
"Kau benar, Midas. Aku sangat membutuhkan bantuan seseorang. Kau tahu sendiri ayah dan ibuku tidak mempedulikanku. Mereka hanya menginginkan aku bekerja dan bekerja terus. Memaksaku menghasilkan uang yang sangat banyak. Apalagi pamanmu itu sangat menginginkan kekuasaan lebih. Dia sudah menguasai kekayaanmu, Midas. Kapan kau bisa membalas mereka dan mengambilnya kembali?"
Aku akan mengambil semuanya di saat waktu yang sangat tepat, Roy. Baiklah. Ayo kita segera menuju mobilmu. Kita segera pergi dari sini.
Roy menganggukan kepala mengikutiku berlari menuju mobilnya. Kali ini aku yang mengemudikan mobil itu dengan cepat. Aku menyalakan mesin dan melesatkan mobil itu hingga sampai di dalam kampus dalam waktu sekejap. Untung saja hari sudah sangat malam, bahkan tepat tengah malam. Semua mahasiswa sudah tertidur lelap hingga aku bersama Roy dengan mudah masuk ke dalam kamar.
Rey bersama putri sangat terkejut melihat kami. Namun, dia lega. Akhirnya aku bisa kembali dalam keadaan selamat.
"Midas. Kenapa Roy bersamamu? Ada apa ini? Apa yang sudah terjadi? Kau sangat pucat. Sebaiknya aku mengambilkan minuman hangat untukmu," ucap Rey segera membuatkan secangkir teh hangat buat Roy yang terus berusaha mengatur napasnya yang masih terasa sesak.
"Sebenarnya aku sudah mengalami suatu hal yang sangat menakutkan setiap hari. Yah, mereka sudah menerorku dan mengancam akan membunuhku setiap hari. Tapi, aku tidak menyalahkanmu, Rey."
"Aku semakin bersalah dengan kalian. Gara-gara aku, kalian semua mengalami ini. Gara-gara aku, kalian selalu ketakutan. Hah ... apa yang harus aku lakukan?" ucap Rey menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat.
Tidak ada yang harus kau lakukan, Rey. Hei, kau harus menjaga Putri. Rey, itu yang harus kau lakukan.
Rey masih saja menggelengkan kepalanya. Dia sangat pucat tiba-tiba. Sebaiknya aku membiarkannya.
Roy, malam ini menginap di sini sampai situasi tenang. Besok aku akan kuliah dan kita akan merencanakan sesuatu untuk menyelesaikan semua masalah ini.
"Maafkan aku Midas. Yah, gara-gara aku lagi, kuliahmu berantakan. Kau mengalami masalah yang sangat banyak dan rumit. Apa yang bisa aku lakukan?" Rey kembali menyalahkan dirinya sendiri. Dia masih menundukkan kepalanya.
Kau harus tenang.Jangan membuatku merasa panik. Rey, melihatmu sangat kebingungan seperti itu, aku menjadi susah. Yang harus kau lakukan, jaga Putri dan Roy selama di sini. Aku besok akan kuliah selama 2 jam. Setelah itu kita melakukan rencana sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan kepada Amelia. Ingat rencana kita untuk membalas mereka. Namun, kau harus tenang, jangan panik karena dengan begitu, aku tidak akan mencemaskanmu.
"Aku tahu Midas. Baiklah kau sebaiknya tidur dengan cepat. Dan, Roy, kau bisa tidur dengan Midas. Aku akan tidur bersama Putri."
Kamar di sini hanya ada satu dan kasur tambahan. Lebih baik kau bersama Putri berada di dalam kamar. Sementara aku dan Roy akan tidur di kasur tambahan itu dan kursi sofa. Rey, kami laki-laki. Tentu saja kami kuat dan kau seorang ayah yang harus melindungi anakmu. Sudah, jangan berdebat. Kau harus melakukannya.
"Kau selalu saja menang dengan semua perkataanmu, Midas. Entahlah. Apa yang bisa aku perbuat untuk membalas budi kepadamu."
Aku Melambaikan tangan kepada dia agar segera masuk ke dalam kamar bersama Putri yang terus menguap dan sangat mengantuk.
Kini Roy menatapku dengan sangat serius setelah Rey bersama Putri masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau rencanakan? Sepertinya, kau merencanakan untuk membalas mereka, Midas. Apakah aku boleh ikut andil dalam rencana itu?"
Tentu saja kau ikut andil dalam rencana itu. Kau sudah berada di sini dan kau pasti akan mengikuti kami. Sekarang tidur, karena aku sangat lelah.
Kami berdua akhirnya tertidur lelap hingga matahari kembali menyinari bumi dengan cerah. Aku segera bangun dan bergegas membersihkan diri untuk segera masuk ke dalam kelas. Aku tidak boleh terlambat, karena mereka sudah mempercayakan sebuah kepercayaan yang sangat besar kepadaku.
Aku akan segera pergi. Jangan lupa, tutup rapat pintu ini. Dan, jangan berisik. Rey, kau paham dengan apa yang aku katakan?
Perkataanku yang mendapatkan anggukan cepat dari Rey. Aku berjalan cepat sambil menelan roti yang sudah disiapkan Rey untukku. Dengan cepat aku segera menutup pintu kamar dan berlari tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun untuk masuk ke dalam kelas.
Seperti biasanya, ternyata tunangan Ana sudah berada di sana menatapku dengan sangat tajam. DIa pasti sangat marah.
"Ternyata laki-laki bisu sudah berada di sini. Aku mencurigaimu. Karena, kau pasti menyembunyikan sesuatu di dalam kamarmu itu. Kau, mengakulah laki-laki bisu. Karena aku akan mengungkapnya, dan melaporkan hal ini kepada kepala kampus."
Lakukan apa yang kau mau lakukan. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin melakukan pelajaran ini tanpa memandangmu sama sekali. Apa kau tidak lupa, dengan semua yang pernah kulakukan kepadamu? Pagi ini aku bisa menghajarmu sekali lagi.
"Sangat menggelikan. Berbicara terus memutarkan tangan. Kau memang tidak tahu diri."
Kali ini ancamanku sepertinya dia dengarkan. Walaupun dia masih sedikit mengejekku. Dengan cepat tunangan Ana menjauhiku. Dia berjalan mendekati kursi dosen dan duduk di sebelahnya. Dia adalah asisten dosen. Memang dia sangat hebat. Dia selalu bisa mengerjakan tugas yang diberikan dosen dengan sangat cepat. Aku sangat mengakui kehebatannya.
Kali ini pelajaran berlangsung dengan sangat cepat. Seperti biasanya aku selalu unggul dengan mereka. Aku selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang dosen itu berikan. Semua mahasiswa semakin iri melihatku. Namun, hal itu aku abaikan.
"Pak, kenapa Anda selalu saja menunjuk laki-laki bisu itu untuk menjawab. Aku bisa melakukannya. Kau tidak pernah menganggap mahasiswa lain ada. Kau hanya menganak tirikan kami. Bukankah begitu teman-teman!" teriak salah satu mahasiswa laki-laki yang memang selalu saja memandangku rendah sejak kemaren. Tapi, dia berhasil mempengaruhi mahasiswa lain untuk memusuhiku.
"Weleh, kenopo bisa begitu. Sudah jelas Midas bisa mengerjakan semua. Kalian harus mengakuinya," bantah Harto dengan tegas membelaku.
"Sudah, cukup! Aku akan mengadakan kuis. Kalian, jawab dengan cepat. Pemenangnya, akan mendapat nilai terbaik dariku," ucap sang dosen lantang membuat kami sangat tegang.
Dosen itu mulai menuliskan sebuah bagian kerangka manusia.
"Jika, bagian di sini," tunjuknya tepat di bagian lambung. "Terdapat benjolan penyakit berat. Anggap saja kanker. Lalu, bagaimana cara kalian mengambilnya? Siapa yang bisa menjelaskan, akan aku anggap sangat hebat."
"Waduh, ini berat. Kita belum paham masalah ini, Midas. Opo, kamu tahu jawabannya?"
Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Harto melotot melihatku.
"Opo? Kamu tahu?" tanyanya terkejut. Namun, aku akan diam saja dan tidak akan menjawabnya. Padahal dosen itu menatapku dengan mengernyit.
"Kau, apakah bisa menjawab?" tunjuk sang dosen kepada mahasiswa yang selalu menentangku. Kini dia panik karena tidak bisa menjawabnya.
"Ini sangat mudah. Aku bisa menjawabnya," balas tunangan Ana. Dia dengan percaya diri mengambil spidol dan menjelaskan dengan detail permasalahan.
"Bagaimana. Bukankah, aku hebat?" Tunangan Ana sangat percaya diri. Semua mahasiswa bertepuk tangan memujinya. Namun, tidak dengan sang dosen.
Dosen itu mengambil spidol dan melingkari sesuatu.
"Jika kau mengambil bagian organ di sini. Lalu, apakah dia bisa hidup? Sementara, organ penting di sebelah jantung akan berhenti berdetak jika kau melakukan itu," ucap sang dosen membuat semua mahasiswa diam mendadak.
Dosen itu, kini menolehkan pandangan ke arahku.
"Midas, kau bisa menjelaskannya?"
Aku bisa menjelaskannya. Aku akan menuliskan semuanya. Aku sudah mempelajarinya.
"Ini tidak mungkin!"