Aku tidak percaya melihat sebuah mobil sedan tiba-tiba menghadang kami dengan cepat. Apalagi kedua laki-laki bertubuh tinggi dan garang keluar dari sana memakai jas hitam. Ada apa ini sebenarnya? Rey di sebelahku juga sangat panik. Aku akan berusaha menenangkannya.
Jangan panik Rey. Tenanglah. Aku akan keluar dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Kau sebaiknya di sini menjaga Putri dengan baik. Duduklah di depan kemudi ini. Jika aku melambaikan tangan dengan keras, kau harus membawa mobil ini pergi dari sini. Rey, keselamatan Putri adalah yang paling utama.
"Midas. Bagaimana bisa kami akan meninggalkanmu? Hei, itu tidak mungkin terjadi. Tentu saja kami akan menunggumu di sini, hingga kau selesai dengan urusan yang sama sekali tidak aku mengerti ini. Tapi, aku benar-benar tidak mengenal mereka. Aku sangka kau yang mengenal mereka."
Rey jangan bodoh. Sudah jelas mereka adalah suruhan orang yang akan menangkap kita. Sudahlah ikuti saja aku. Kau pasti harus kabur dari mereka. Kau jangan khawatir. Apa kau tidak ingat, berkali-kali mereka sudah menangkapku, dan aku sekarang berada di sini. Kau harus melindungi Putri. Ingatlah, jika aku melambaikan tangan dengan cepat, kau harus mengendarai truk ini pergi dari sini.
"Tapi Midas. Kesempatan tidak selalu datang dengan mudah. Sudahlah, keluarlah dan selesaikan urusan ini. Aku akan tetap menunggumu di.sini. Jangan berdebat."
Rey masih saja ngotot tidak mau melakukan apa yang aku inginkan. Aku menggelengkan kepala kesal. Tapi, dia tidak bisa dibantah. Rey bersedekap sambil melotot tajam ke arahku. Aku kali ini menerima keputusannya. Aku sejenak mengatur napas, kemudian perlahan membuka pintu untuk menemui kedua orang itu yang sudah menungguku di sana.
Perlahan aku melangkahkan kakiku. Kini tubuhku tepat berada di hadapan mereka
"Kau yang bernama Midas?" tanyanya dengan tegas sembari menatapku dengan tatapan tajam.
Benar namaku adalah Midas.
Jawabanku menggunakan bahasa isyarat, sepertinya membuat mereka mengerti. Dengan cepat mereka menganggukkan kepala.
"Kau harus mengikuti kami ke rumah Nona Ana Smith. Ini adalah perintah dari ayahnya."
Sesuatu yang sangat tidak kuduga sama sekali. Dia menyebutkan nama Ana dan ayahnya ingin menemuiku? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa mereka memanggilku? Apa yang terjadi dengan Ana?
Pertanyaanku dengan sangat panik. Aku berusaha mengatasi hatiku yang bergemetar seketika.
"Nona Ana akan melakukan bunuh diri
Dia terus memanggil nama Anda, Tuan. Sebaiknya Anda mengikuti kami dan dan ini adalah perintah yang harus kami lakukan. Jangan mempersulit kami, Tuan. Nyawa Nona Ana ada di tangan Anda."
Hatiku benar-benar tersiksa mendengar apa yang dilakukan Ana. Kenapa dia nekat melakukan hal itu? Aku sudah memberikan pengertian kepadanya. Jika dia harus menungguku datang. Pasti aku akan menjemputnya nanti. Ini benar-benar sangat rumit.
Aku harus menemui temanku terlebih dahulu. Kalian tunggu di sini. Aku akan bersama kalian setelah berbicara dengan mereka.
Ucapanku sembari menunjukkan truk yang ditumpangi Rey dan Putri.
"Sebaiknya Anda bergegas. Jangan terlalu lama, Tuan. Karena Nona Ana masih saja berteriak histeris dan terus meronta. Bahkan dia menggoreskan pisau ke pergelangan tangannya. Kami tidak memiliki waktu yang cukup lama."
Aku menganggukan kepala segera berlari menuju ke truk dan membuka pintu mobil.
"Midas apa yang sudah terjadi? Kenapa wajahmu begitu pucat? Aku sangat khawatir melihatnya," tanya Rey dengan sangat panik. Begitu juga dengan hatiku yang sangat tidak karuan mendengar apa yang dilakukan Ana. Kenapa dia nekat untuk membunuh dirinya sendiri?
Dia adalah pengawal suruhan Ayah Ana, Rey. Kau tahu, Ana akan membunuh dirinya. Dia sudah hampir saja memotong nadi di pergelangan tangannya. Rey, aku harus ke sana untuk mencegahnya. Kau sebaiknya pulang bersama Putri dan jangan menungguku. Aku akan segera menyusul kalian di kamar. Rey, berhati-hatilah untuk masuk. Jangan sampai ada yang melihat kalian.
"Apa? Jadi Ana mau melakukan bunuh diri? Kenapa dia melakukan hal senekat itu? Seharusnya dia tidak melakukannya. Baiklah Midas. Kau sebaiknya segera ke sana dan mencegahnya melakukan suatu hal yang sangat bodoh. Aku akan pergi dan kembali ke kamar bersama Putri. Kau jangan terlalu lama."
Aku menganggukkan kepala kemudian kembali menutup pintu truk. Aku segera berlari menghampiri 2 pengawal itu dan segera masuk ke dalam mobil mereka. Sepanjang perjalanan aku sangat cemas. Aku harap bisa mencegah Ana tepat waktu. Tidak kusangka dia akan melakukan hal yang sangat bodoh. Jika dia sampai melakukannya dan aku terlambat, aku pasti tidak memiliki semangat untuk hidup lagi.
Dalam sekejap, kami sampai di rumah megah Ana. Tanpa berpikir lagi, aku segera membuka pintu mobil itu dan berlari menuju pintu rumah inti dan masuk tanpa mengucapkan permisi.
Aku melihat seorang wanita bersanggul dan berdandan sangat anggun menangis sambil memeluk Ayah Ana. Ini sangat tidak baik. Apa yang sudah terjadi? Apakah Ana sudah melakukan bunuh diri? Aku berjalan cepat mendekati mereka. Ayah Ana sangat terkejut melihat kedatanganku.
"Midas, kau datang tepat waktu. Pemuda, tolong sadarkan Ana untuk tidak berbuat seperti itu. Aku tidak mau anakku hancur karena masalah cinta yang sangat rumit seperti ini," kata Ayah Ana dengan terburu-buru. Dia menatapku dengan tajam, memperlihatkan pengharapan, jika aku harus bisa meredakan Ana untuk tidak melakukan hal yang sangat bodoh.
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian aku segera masuk ke dalam kamar Ana. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar itu. Kedua mataku semakin tidak percaya. Aku melihat Ana sangat menderita. Bahkan dia sangat berantakan. Wajahnya semakin pucat. Pergelangan tangannya terbalut perban. Dia terus menangis dan memanggil namaku. Aku sudah membuatnya seperti ini. Semua ini, sangat tidak baik untuknya.
"Midas ... jangan tinggalkan aku," ucapnya lirih dengan tangisan.
Perlahan aku mencengkeram telapak tangannya. Spontan dia melirikku dengan pandangan kosong. Perlahan dia tersenyum dan kemudian mengangkat tubuhnya yang semula berebah. Kini dia terduduk. Dengan cepat dia memelukku.
"Apakah ini mimpi? Ataukah aku sudah mati? Hingga aku bisa melihatmu, Midas. Kau tahu aku sangat menderita. Aku tidak mau menikahi laki-laki lain selain dirimu. Dia, laki-laki yang sudah dijodohkan denganku itu, sangat tidak baik. Midas, dia tidak pantas denganku. Tolonglah, bawalah aku pergi dari sini. Aku tidak mau menikah dengannya. Kau harus mengerti hal itu Midas. Ini sangat membuatku menderita. Jika kau tidak bisa melakukannya, aku akan membunuh diriku. Lebih baik aku mati saja dan tidak mau hidup."
Ucapan Ana yang semakin membuatku hancur. Dia .... sangat menderita. Hatiku semakin tergoncang melihatnya. Tapi, aku tidak bisa membawanya pergi. Aku tidak memiliki apapun yang bisa aku berikan kepadanya. Belum waktunya untukku membawanya pergi.
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya.
Ana Ini bukan mimpi. Aku akan membawamu pergi dari sini setelah aku menyelesaikan semuanya. Aku akan berbicara kepada ayahmu agar kau tidak dijodohkan dengan lelaki itu. Aku mohon kepadamu. Tunggulah aku sebentar saja. Aku harus membawa sesuatu untuk memilikimu. Jika tidak, kita akan bagaimana menjalani hidup ini yang penuh dengan rintangan. Tolonglah mengerti Ana. Kau adalah wanita yang sangat luar biasa. Aku sangat mencintaimu. Tunggulah aku hanya sebentar saja.
Ana kali ini terdiam. Dia mengusap air matanya yang sudah membuat kedua matanya sembab. Spontan dia tersenyum, dan membelai rambutku. Kedua mata sembabnya menatapku dengan sangat hangat. Perlahan dia memelukku dengan erat.
"Ternyata ini benar-benar dirimu, Midas. Aku bukan mengalami mimpi. Aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama. Aku akan menunggumu, Midas."
Beberapa suster yang masuk ke dalam segera menyuntikkan obat penenang di lengan Ana sebelah kanan. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya. Namun, dia harus seperti itu. Jika tidak, aku tidak bisa pergi dari sini karena dia pasti akan menahanku. Itu tidak bisa aku lakukan.
Perlahan aku merebahkan tubuhnya. Aku melihat sisir berada di atas nakas di sebelah ranjangnya. Dengan cepat aku mengambilnya, kemudian menyisir rambutnya menjadi sangat rapi. Perlahan aku mengambil selembar tisu dan mengusap keringatnya hingga tidak tersisa di wajahnya. Selimut yang sudah berada di bawah kakinya, aku tarik hingga menutupi sebagian tubuhnya. Aku sedikit membelahnya, kemudian mengecup keningnya.
Aku sangat mencintaimu, Ana. Tunggulah, aku akan datang dan menjemputmu.
Sembari menarik napas panjang aku berdiri meninggalkan kamar Ana dalam kesenduan. Hatiku tersiksa dan merasa tertusuk meninggalkannya dalam keadaan seperti itu.
"Terima kasih pemuda. Hah, tidak aku sangka kau memiliki hati tulus kepada anakku," kata Ayah Ana sembari menepuk pundakku sebelah kanan. Begitu juga dengan Ibu Ana yang menatapku, kemudian memelukku dengan tiba-tiba.
"Untung saja kamu datang. Jika tidak, anakku pasti akan terlambat untuk bisa lebih baik. Aku sangat menyesal melakukan ini kepadanya. Aku lebih baik menjadi miskin dari pada kehilangan anakku satu-satunya. Pemuda, sekarang harapanku hanya kepadamu. Pemuda, kau harus menepati janjimu. Aku akan menunggumu menjemput anakku setelah kau meraih semuanya. Aku sangat mengetahui bahasa isyarat dan aku mengerti apa yang sudah kau janjikan kepada anakku. Kau lebih baik mewujudkannya. Jangan terlalu lama."
Aku akan melakukan apapun untuk membuat Ana bahagia. Walaupun aku memiliki kelemahan yang tidak bisa aku sembuhkan. Namun, aku sangat mencintai anak Anda. Terima kasih atas kepercayaan yang sudah kalian berikan padaku.
Setelah menyelesaikan semuanya. Aku keluar dari rumah megah Ana. Kedua orang tuanya kini menatapku dengan senyuman. Ini sedikit membuatku lega. Mereka kini percaya kepadaku, bahwa Ana sangat pantas untukku.
Namun, beban berat diriku kembali bertambah. Aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Aku harus menjemputnya.
Sebuah kehidupan yang sangat berat di luar dugaanku. Dulu, aku selalu merasa kehidupanku sempurna. Tidak ada masalah, atau beban yang ada di dalam otakku ini. Kini, aku tahu kenapa kedua orang tuaku selalu mengatakan, kekuatan, itulah yang kau butuhhkan di luar sana. Karena sesuatu kejutan tidak kau duga, akan membuat otakmu berputar. Hadapilah dengan kuat, Midas.
"Midas, untunglah kau ada di sini." Seseorang mengejutkanku dari belakang.
"Roy?"