Fakta Mengejutkan

1401 Kata
Aku terus berpikir dan berpikir bagaimana cara mengatasi hal ini. Aku memutuskan untuk masuk dan membiarkan Putri sendiri di dalam mobil. Memang itu adalah hal yang harus aku lakukan. Rey pasti terjebak di dalam. Dia tidak bisa keluar di sana. Ini sangat berbahaya. Dia pasti membutuhkan pertolongan. Aku harus masuk. Putri kau harus berdiam di sini dan jangan ke manapun. Menunduklah. Semua pintu mobil harus kau kunci. Om akan masuk ke dalam menolong ayahmu. Kau harus mengerti Putri. Kau sekarang adalah wanita terkuat dan harus membuktikannya hari ini. Apakah paham dengan perkataan Om? "Om. Bawalah Ayah keluar. Jangan sampai tertangkap oleh ibuku. Aku tidak mau terjadi hal apapun dengan Ayah. Om, ambil Ayah keluar, Om. Aku akan berjanji berada di sini sampai menunggu Om keluar walaupun itu sampai hari besok." Syukurlah Putri paham dengan apa yang aku perintahkan. Kini aku perlahan membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Aku melambai kepada Putri dan dia memberikan senyuman manis yang seketika itu membuatku lega. Aku mengamati kanan kiri, lalu berlari dengan cepat menuju pagar yang tidak tinggi ini. Ku panjat pagar ini perlahan dan melompat masuk ke dalam. Aku mengamati sekitar dengan saksama. Jangan sampai aku tertangkap. Tujuannya adalah di kamar wanita itu dan keluar bersama Rey. Aku terus mengendap hingga sampai di dapur. Aku melihat Amelia tertidur di sofa. Dia sepertinya sangat lemah. Wajahnya begitu pucat. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, lalu berteriak kepadanya. Sepertinya itu adalah kekasihnya yang sudah pergi tanpa memberi kabar padanya. "Kau tahu, aku menunggumu! Katakan, di mana dirimu! Aku sudah menunggumu sangat lama. Kenapa kau tidak muncul juga? Apa kau bersama wanita lain? Jika kau seperti ini, aku akan meninggalkanmu, dan kau tidak akan pernah mendapatkan harta apapun dariku! Aku membencimu! Sudahlah!" Seperti dugaanku dia sangat marah dan ini sangat membuatku lega. Dia pasti akan tertidur di sana karena dia meminum, minuman alkohol itu cukup banyak. Aku bisa segera naik ke tangga itu dan menjemput Rey ketika dia sudah tidak sadarkan diri. Aku terus berdiam diri di sini menunggu Amelia tertidur. Dia sudah tidak sadarkan diri karena terlalu banyak meminum alkohol. Ini adalah kesempatanku untuk segera menaiki tangga itu dengan cepat. Syukurlah aku melakukannya, dan akhirnya aku berhasil. Rey. Kau di mana? Ini aku, Midas. Rey, keluarlah. Aku akan membantumu keluar dari sini, Rey. Batinku terus menyebut namanya. Andai saja aku bisa memiliki suara dan berteriak kencang. Dia pasti sudah mendengarku. Aku terus membuka pintu kamar satu demi satu. Namun, masih saja tidak menemukan Rey di semua ruangan. Apa yang sudah terjadi? Di mana sebenarnya dia? Aku masih berusaha, hingga aku mengamati sebuah pintu yang berbeda dengan lainnya. Aku merasa curiga. Pintu itu sangat antik. Tanpa berpikir lagi, aku berjalan dengan cepat ke sana. Jemariku perlahan membuka gagangnya. Hei, Rey, apa yang kau lakukan? Ayolah Rey, kenapa kau terduduk di sana dengan menangis? Rey, sadarlah. Ini bukan saatnya untuk seperti ini. Rey terduduk dengan menangis tersedu-sedu. Jemarinya dengan kuat memegang sebuah benda. Sepertinya itu adalah sesuatu yang mengingatkan dirinya tentang masa lalu yang sangat berarti buatnya. Namun, aku harus tetap menyadarkannya, agar dia cepat tersadar dan keluar dari sini. Dia harus memendam rasa amarahnya itu. Rey aku tahu. Kau pasti memiliki kenangan dengan benda ini. Oke, bawalah keluar dan kita harus segera pergi dari sini. Sadarlah Rey, Putri menunggu kita. Aku sangat cemas. Amelia sudah tertidur pulas di sana. Ini kesempatan kita untuk keluar. Rey, kita harus keluar. Ayo Rey, sadarlah. "Maafkan. Aku teringat sesuatu. Benda ini adalah barang milik Ayah angkatku dan aku sangat mengingatnya. Barang itu ada di sini dan aku sudah mencari ke mana pun. Ternyata sekarang aku menemukannya. Aku mengingat dia, dan aku terus menangis. Maafkan aku yang sudah sangat lemah seperti ini. Baiklah, kita akan segera keluar dari sini." Untung saja Rey paham dengan apa yang sudah aku katakan. Dia kini bersamaku mengendap kembali untuk keluar dari kamar ini. Kami perlahan melangkah dan untung saja Amelia masih tertidur lelap di atas kursi sofa, sehingga memudahkan kami untuk keluar dari sini. Perlahan aku bersama Rey menuruni tangga. Kami berjalan cepat melewati Amelia. Tapi ... Amelia terbangun? Gawat! Dia berjalan sempoyongan sembari menunjukkan jemarinya ke arahku dan Rey. "Reynard, ternyata kau ada di sini. Suamiku, hahaha. Kau mau apa, suamiku? Kamu mau mengambil semua barangku? Hah ... kau tahu, aku tidak punya apapun. Aku sangat membencimu. Sejak menikah denganmu, hidupku sengsara. Karena aku tinggal dengan laki-laki yang tidak aku cintai dan aku terpaksa melakukannya. Aku hanya ingin uangmu Reynard. Tidak lebih. Apa kau tahu laki-laki tidak tahu diri, kembalikan Putri kepadaku, karena aku ibunya." Buk! Amelia kembali pingsan di atas kursi sofa. Aku bersama Rey terperanjat tidak kami duga, ternyata Amelia terbangun dan mengetahui keberadaan kami. Namun, yang membuat aku lega dia sangat mabuk berat, dan kini tidak sadarkan diri kembali. Rey kita sebaiknya mengabaikan mantan istrimu itu. Rey, dia mabuk berat. Sekarang dia tidak sadarkan diri. Ini keberuntungan bagi kita. Sebaiknya kita pergi dari sini. "Tidak, Midas. Aku sangat kasihan. Amelia, siapa yang akan menjaganya? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Lihatlah, dia pingsan kembali. Aku sebaiknya membawanya ke kamar. Ini hanya memakan waktu sebentar. Tunggulah aku Midas, aku mohon." Yang dikatakan Rey benar. Spontan aku menganggukkan kepala dan dia segera menggendong Amelia untuk menaiki tangga. Rey segera masuk ke salah satu kamar. Dia merebahkan tubuh Amelia di dalam kamar itu. Tidak aku sangka. Rey ternyata memiliki hati yang tulus. Aku sangat kasihan sekali kepadanya. Aku kembali panik mendengar suara mobil terdengar mendadak di halaman rumah. Aku segera berlari menuju jendela, membuka sedikit tirainya. Gawat, itu pasti kekasih Amelia yang sudah datang. Rey ada mobil datang. Apa kau tidak mendengarnya? Sudahlah, kita harus keluar dari sini. Aku tidak mau kita tertangkap Rey. "Midas, Maafkan aku yang sudah mengulur waktu sangat banyak. Lalu, kita harus bagaimana? Lihatlah, kekasih Amelia sudah masuk ke dalam," kata Rey dengan panik. "Amelia. Kau di mana? Amelia, kenapa rumah ini sangat berantakan? Apakah kau mabuk lagi, Amelia?" teriak lelaki itu dengan sangat keras. Aku masih mengamati sekitar untuk mencari jalan keluar. "Ayolah Amelia. Kau pasti sudah tidak sadarkan diri di kamar atas. Aku sudah bilang jangan mabuk. Kau tidak boleh mabuk. Amelia, kondisimu masih sangat lemah. Kau harus ingat penyakitmu itu!" Aku dan Rey saling bertatapan tidak percaya mendengar apa yang dia katakan barusan. Penyakit Amelia? Jadi dia mengidap suatu penyakit? Apa penyakitnya? Ini benar-benar di luar dugaan. Sebuah kejutan selalu menyertai kami. "Jadi mantan istriku sakit apa, Midas? t Ternyata dia selama ini menyimpan sakit itu dan aku tidak tahu?" Kita akan mencari tahu nanti. Lebih baik sekarang kita harus keluar melewati jendela itu. Kita tidak mungkin menuruni tangga, karena pasti kita akan ketahuan. Aku dan Rey bergegas keluar lewat jendela. Kita menuruni lantai ini dengan memanjat pohon yang berada tepat di sebelah pagar. Untung saja kita masih sangat beruntung bisa keluar dari rumah itu dengan selamat tanpa ketahuan. Kami segera berlari menuju pagar. Aku segera berjongkok. Rey menaiki pundakku lalu berdiri di atas pagar. Dia mengulurkan tangannya untuk menarikku. Aku dengan cepat menerima uluran tangannya sambil sedikit mengangkat tubuhku untuk sampai di atas pagar. Kemudian kami melompat keluar dan berlari menuju ke dalam mobil. "Ayah dan Om. Hah, aku lega akhirnya keluar juga kalian. Astaga, aku sangat khawatir. Bahkan aku ingin sekali menangis di dalam sini. Untung saja kalian bisa keluar dengan selamat," ucap Putri tersenyum dan aku sangat lega melihatnya baik-baik saja. Namun, tidak dengan Rey. Mendadak dia terdiam dan merenung menatap sebuah barang yang dia dapatkan di dalam. Barang milik mendiang ayah angkatnya. Kini dia menatapku dengan sangat serius. "Midas, sebenarnya Amelia sakit apa? Aku ingin mengetahuinya. Bagaimana caranya Midas. Apakah kita harus membuntutinya setiap hari? Aku harus tahu di rumah sakit mana dia berobat. Kenapa aku seperti ini. Entahlah, aku sangat khawatir dengannya." Kita akan melakukannya Rey. Tapi, sekarang kita harus pulang dan beristirahat. Penyelidikan, cukup untuk hari ini. Kita tidak bisa melanjutkannya lagi. Kasihan Putri. Kita akan mengetahui keadaan mereka esok harinya. Rey menganggukkan kepalanya, kemudian kembali menatap barang kesayangannya itu. Aku menarik napas lega melihat dia akhirnya sedikit tenang. Aku segera melesatkan mobil ini dan segera pulang untuk beristirahat. Semoga saja tidak terjadi hal apapun di luar dugaanku lagi. Putri sudah terlelap di kursi belakang. Dia pasti sangat capek. Aku terus mengendarai mobil ini. Hingga aku sadar ada seseorang yang menghalangi kami. Cuiiit!! Aku menghentikan mobil ini dengan mendadak. Rey menatap depan dengan sangat serius. Begitu juga denganku. Ada apa ini? Siapa mereka? "Midas, apa kau mengenal mereka?" Aku perlahan menggelengkan kepalaku. Gawat!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN