Rencana Kedua

1105 Kata
Mereka terus berjalan mendekatiku. Semakin dekat dan ... semakin dekat. Duh, apa yang harus aku lakukan. Berpikirlah Midas. Jangan sampai ketahuan karena jika itu terjadi, tamatlah riwayatmu Dalam kepalaku terus memutar untuk mencari cara agar mereka berhenti dan tidak membuka tirai ini. Jika hal itu terjadi, aku pasti sudah akan mati hari ini. "Aku jelas-jelas mendengar suara itu. Tirai itu sepertinya baik-baik saja. Tapi .... seseorang menariknya dan aku mendengar sesuatu yang sangat keras." Wanita itu masih saja mengamatiku. Namun dia menghentikan langkah. Begitu juga dengan wanita yang ada di sebelahnya. Mereka berdua kini mengernyit dalam sambil mengamati semua arah. Aku masih terdiam kaku. Berharap ada keajaiban terjadi, hingga aku melihat seekor kucing ternyata melompat di sebelahku dan sedikit membuatku terkejut. Spontan aku menutup mulutku berusaha tidak berteriak. Aku benar-benar terperanjat. Hah, kucing itu keluar dari tirai ini dan berlari melompat di tubuh salah satu wanita yang mengamatiku. "Ternyata kamu yang menyebabkan tirai itu rusak. Aku sudah lama mencarimu. Kau pergi ke mana saja. Dasar kucing nakal." Penyelamat akhirnya datang. Seekor kucing yang ternyata dipelihara oleh kedua wanita itu. Aku berhutang budi kepada kucing itu. Untunglah aku masih bisa selamat. Aku menarik napas dengan perlahan, kemudian menghembuskannya. Huf, aku harus mengatur hatiku yang sangat tidak karuan ini, sebelum aku keluar dari sini. Untung saja aku masih bisa selamat. "Sudahlah kalian berdua jangan bersandiwara seperti itu. Sekarang, cepat turun ke sini. Kita harus membicarakan sesuatu. Menyebalkan, kalian membuang waktuku saja Paling ini adalah jejak sepatu dari tukang kebun kotor itu. Bukankah kau tadi menyuruh dia membersihkan kebun itu. Kalian ini selalu saja berdebat dengan masalah yang sangat sepele. Jika pencuri sudah masuk, pasti rumahmu sangat berantakan. Sedangkan ini sangat rapi!" bentak kekasih Amelia membuat dua wanita itu menurut. Meeka dalam diam segera menuruni tangga dan duduk tepat di depan kekasih Amelia. Hah, ini sangat membuatku merasa lega. aku bisa dengan cepat melarikan diri dari sini. Tanpa berpikir panjang lagi, aku membuka tirai jendela ini dan segera keluar. Untung saja lantai ini tidak begitu tinggi. Ada sebuah pipa yang sangat besar tertempel di tembok di sebelah pagar jendela. Dengan cepat aku menuruninya kemudian aku berlari dan meraih batang pohon yang sudah aku gunakan tadi. Sekuat tenaga aku menggunakannya untuk sampai di atas pagar lalu menuruni pohon yang menempel di pagar itu yang bisa membuatku turun ke bawah dengan selamat. "Midas, syukurlah kau selamatkan. Aku sangat khawatir melihat mobil itu kembali masuk ke dalam rumah. Kau tahu, jantungku rasanya berdetak tidak karuan. Midas, aku pikir kau tertangkap di dalam dan mereka menyiksa kamu." Sudah, kita sebaiknya pergi dari sini. Aku sudah mendapatkan apa yang aku butuhkan. Jika kita tetap berada di sini, nanti kita tidak bisa melakukan rencana kita. "Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" tanya Rey dengan sangat serius. Kita akan pergi ke rumah kekasih Amelia itu. Dan, meletakkan semua barang ini ke dalam kamarnya. Ketika Amelia berada di sana, dia akan terkejut melihat dua pasang anting dan c*****************a lain. Binggo, pasti mereka akan segera putus. "Tidak aku sangka kau memang benar-benar sangat cerdas, Midas. Baiklah. Ayo kita lanjutkan rencana kita dan sebaiknya kita tidak membuang waktu sia-sia." Dengan cepat aku melesatkan mobil, segera menuju ke rumah kekasih Amelia yang aku dapatkan dari tanda pengenal yang sudah aku curi darinya. Sepanjang perjalanan kami sebenarnya saling menyimpan rasa cemas. Rey selalu saja menggerakkan kesepuluh jemarinya sendiri untuk mengatasi rasa itu. Sementara aku mengemudi berusaha mengatasi detakan jantung yang sangat luar biasa. "Midas, kali ini aku yang akan masuk ke dalam rumah laki-laki itu. Kau tahu, aku ingin sekali tahu apa yang Amelia lakukan di dalam. Aku ingin mencari petunjuk apa yang sudah mantan Istriku itu lakukan di belakangku semasa kita menikah." Rey kau seharusnya tidak melakukan itu. Sudahlah, biarkan saja masa lalu itu. Biarkan aku yang melakukannya. Kau jagalah Putri di sini dengan baik. Untuk apa kau mencari tahu tentang mantan istrimu lagi. Kalau aku mengetahuinya, nanti kau malah sakit hati Rey. "Tidak Midas. Biarkan aku yang melakukannya. Aku mohon untuk kali ini saja. Aku yang ingin masuk ke dalam sana. Dan, meletakkan perhiasan itu sebagai jebakan di kamar yang pasti sering digunakan mantan istriku itu sama lelaki sialan itu. Mereka memang benar-benar sialan. Izinkan aku melakukannya, Midas. Hanya ini yang bisa membuatku tenang. Aku ingin membalas dendam kepada mereka." Entahlah apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menyetujui apa permintaan Rey? Atau aku harus membiarkan kan diriku saja yang masuk ke dalam sana?Jika terdapat hal buruk kepadaku, Putri masih ada yang menjaga. Namun, jika sebaliknya, siapa yang menjaga Putri nanti. Sebaiknya aku saja yang masuk. Aku akan merayu Rey agar dia tidak pergi ke sana. Karena itu terlalu berbahaya untuknya. Rey dengarkan aku. Bagaimana jika kau tertangkap? Bagaimana nanti dengan nasib Putri? Rey. biarkan aku saja yang masuk ke sana. Karena itu adalah jalan satu-satunya. Rey menggelengkan kepala dengan sangat keras. Dia pasti menolak dengan apa yang aku katakan. "Lelaki itu tidak ada di rumah, Midas. Tentu saja aku akan selamat. Sudahlah. Emangnya aku tidak bisa melakukan hal itu. Hei, aku sering menonton film dan aku paham apa yang harus aku lakukan. Lihatlah, kita sepertinya sudah sampai sesuai dengan alamat ini. Yah, rumah yang di depan itu adalah rumahnya. Tidak aku sangka, rumah itu memang sangat megah. Baiklah, aku akan keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu." Rey, kau harus berhati-hati. Ini bukan di dalam film, Rey. Cepatlah, dan keluar. "Aku mengerti. Kau doakan aku." Akhirnya Rey masuk juga ke dalam rumah itu setelah aku memarkirkan mobil. Ternyata dia cepat juga bisa memanjat pagar yang tidak terlalu tinggi itu hingga masuk ke dalam. Aku meremas d**a, mengatasi ketakutan dalam diriku. Semoga saja pemilik rumah tidak pulang. Waktu sudah berjalan selama setengah jam. Rey tidak juga muncul. Aku bersama Putri semakin gelisah. Apa yang dilakukan Rey di dalam? Ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Hah, aku tetap menunggu untuk berjaga-jaga. Rey, keluarlah. Kau ini ke mana? Jangan sampai lelaki itu datang dan memergoki kita. "Om. Apakah Ayah bisa berhasil dengan rencananyaa? Aku sungguh sangat khawatir," kata Putri dengan sangat cemas. Kini wajahnya semakin pucat dan aku juga merasakan hal yang sama. Sudah selama hampir enam puluh menit terakhir, Rey tidak juga keluar. Apakah aku harus masuk ke dalam? Astaga, ini membuatku sangat frustasi. "Om. Lihatlah itu. Ada mobil yang datang. Sepertinya aku sangat mengenali mobil itu. Yah, itu adalah mobil Ibu, Om. Dia pergi ke rumah itu. Sedangkan Ayah belum keluar. Bagaimana ini, Om?" Aku melotot melihat mobil Amelia masuk ke dalam dan terparkir di sana. Ini sungguh gawat. Sedangkan Rey masih ada di dalam. Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti kebingungan di sana. Baiklah, aku akan melakukan sesuatu untuk menolongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN