Mendapat Hinaan

1013 Kata
Ini sangat membuatku terkejut. Semua mahasiswa ini akan memukulku bersama Harto. Dia seharusnya tidak ikut andil dalam urusanku. Tapi sudah terlambat. Kami harus bertahan untuk melawan mereka semua. Tentu saja Harto akan kalah. Aku juga tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Baiklah, aku akan melawan mereka. Paling tidak aku akan sedikit memberikan luka ringan di tubuh mereka. "Midas, ayo kita lawan. Hei kalian. Belum tahu siapa aku? Aku ini titisan Gatot Koco lengan wesi. Ta jambak rambutmu." Perkataan Harto membuatku menggeleng. "Jangan ngawur kamu medok!" balas mereka. Aku menarik Harto untuk berdiri dibelakangku. Spontan dia melotot melihatku tidak percaya aku melakukan itu. "Midas. Apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu? Aku ini bisa melawan mereka. Sudah, biarkan saja aku yang melawan. Kau lebih baik berdiri di sana dan menungguku untuk mengalahkan mereka semua." Semakin tidak aku percaya ternyata keberanian Harto sangat luar biasa. Padahal sudah jelas-jelas dia akan kalah jika menghadapi mereka. Apalagi membawa kayu untuk memukul kita. Harto aku bisa melawan mereka. Kau yang harus di sana sekarang. Lihatlah, paling tidak aku akan menghabisi mereka. Bukankah itu yang kamu inginkan? "Jadi kamu benar-benar bisa berkelahi, Midas? Oh iya, aku lupa kamu. Kan, kamu kemarin mengalahkan tunangan Ana di belakang kampus dengan sekali pukulan. Weh, tentu saja kau pasti bisa mengalahkan mereka. Ya sudah kalau begitu. Cepat lakukan karena kelas ke-2 akan segera dimulai." Aku menganggukkan kepala. Mereka satu persatu maju ke depan. Aku menampis dengan cepat. Kayu yang mereka arahkan ke kepalaku, aku tampis dengan cepat. Aku menangkap tangan itu dan merebut kuat kayu digenggamannya. "Serang dia!" teriak salah satu dari mereka saat melihat dua dari mereka sudah aku kalahkan dan tersungkur di lantai. Kini pukulan bertubi-tubi menyerangku. Namun, aku tidak akan membiarkannya. Benar kata kakekku. Jika untuk membel diri, aku boleh menggunakan kekuatanku. Sekali pukulan aku layangkan salah satu dari mereka, berlanjut yang lainnya. Sekarang ke-6 mahasiswa itu tergeletak di lantai. "Midas, tidak aku pikir. Memang, kamu yang seperti Gatot Kaca. Luar biasa." "Brak!" Pintu terbuka lebar. Tunangan Ana membawa beberapa dosen ke toilet. Aku bersama Harto terpaku. Ini sangat gawat. Aku akan mendapatkan ancaman keluar dari kampus. "Lihatlah. Dia sudah menyerang semua mahasiswa ini. Mereka terluka. Dia memegang kayu. Apakah ini, mahasiswa yang diberikan kesempatan oleh kalian? Perlakuannya saja seperti binatang. Dia, anak dari rektor kita. Lelaki bisu ini sudah menghajarnya. Kalian harus mengeluarkannya!" Aku masih terpaku mendengar apa yang dia katakan barusan. Memang aku masih memegang kayu digenggamanku. Aku menjatuhkannya seketika dengan rasa gemetar. Harto di sebelah aku hanya bergeming. Dia tidak berkata apapun juga. Ini adalah ancaman yang sangat berat. Aku bisa saja dikeluarkan dari kampus ini dengan segera. Apalagi salah satu dari mereka adalah anak rektor yang mestinya akan membuat sang ayah sangat marah denganku. "Midas. Kau sebaiknya ikut aku. Kita akan di kantor untuk membicarakan masalah ini, begitu juga dengan kalian semua. Ayo, berdirilah dan cuci muka kalian. Benar-benar kalian semua harus ke kantor menghadap untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" bentak sang dosen lalu meninggalkan kami begitu saja. "Kali ini kau, mampus, Midas. Hahaha, kau tidak akan pernah bisa lepas dari ganjaran hukuman yang sangat berat. Apa kau tidak tahu, bahwa perkelahian sangat dibenci di kampus Ini? Jika mahasiswa melakukan kesalahan itu, akan segera dikeluarkan dari kampus ini, dan itu akan sangat membuatku bahagia." Aku masih mengatur dadaku yang terasa sesak. Begitu juga dengan Harto yang terlihat menarik napas panjang. Aku berusaha menenangkan hatiku. Aku sangat tidak enak dengan Harto. Gara-gara aku, dia terlibat dalam masalah yang rumit seperti ini. Harto aku minta maaf. Apapun yang terjadi, kau akan aku bela mati-matian. Kau tidak bersalah. Kau akan terbebas dari semua ini. Aku berjanji kepadamu Harto. "Midas .... Midas. Tenang saja. Kau jangan takut. Semuanya itu pasti akan terbongkar. Kau tahu, kebaikan itu selalu di pihak yang menang. Sudahlah, aku tidak takut menghadapi mereka. Kalau memang aku juga bersalah, ya sudah. Biar saja aku dihukum." Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Aku tidak mau terjadi apapun dengan Harto. Dia pokoknya tidak boleh dihukum, dan aku akan bertanggung jawab sepenuhnya untuknya. "Jangan berpikir macam-macam. Ayo kita segera ke kantor dan menghadapi masalah ini." Tidak kusangka Harto begitu tenang menghadapi semuanya. Tidak seperti denganku yang sangat panik seperti ini. Hah, mungkin karena aku menginginkan berkuliah di sini. Tapi, tetap saja menimbulkan masalah. Lebih baik aku bersembunyi saja setelah masalah ini selesai. Kami berdua berjalan menuju kantor. Semua mahasiswa yang terlibat perkelahian juga melakukan hal yang sama. Perasaanku sangat tidak enak. Ruangan yang selalu dimasuki mahasiswa bermasalah ada di hadapanku. Aku menarik napas panjang sebelum memasukinya. Harto melirikku, dan melakukan hal yang sama. Kami akhirnya perlahan memasukinya bersama-sama. "Para pembuat masalah. Siapa yang menjadi biang kerok?" tanya Dosen dengan tegas. "Mereka, Pak. Aku dengan Midas masuk ke sana. Eh, mereka masuk main keroyokan," ucap Harto sembari menunjukkan jemarinya dengan tegas. Para mahasiswa melotot melihatnya. "Tidak benar! Aku adalah mahasiswa pilihan. Tidak mungkin aku melakukan itu. Apalagi aku adalah cucu dari rektor kampus. Justru dia yang menyebabkan perkelahian!" balasnya lebih keras dari Harto. "Omong kosong kamu. Wes. Ngaku sajalah. Duh, gemes aku kudu ta bogem wae," kata Harto tidak mau mengalah. "Sudah, jangan ribut. Tidak ada yang akan saya bela dalam masalah ini. Kalian semua salah. Sekarang, kalian harus membersihkan toilet selama satu bulan. Jika aku mengetahui kalian membuat masalah lagi, aku akan benar-benar bertindak!" ucap tegas dosen sembari menunjukkan pintu. "Keluar kalian. Sudah dewasa, tidak bisa bersikap semua. Sangat memalukan," lanjutnya masih menatap kami dengan tegang. Aku perlahan melangkah keluar. Dalam diam, aku benar-benar akan merenungi kesalahan ini. Aku tidak akan pernah membuat keributan lagi. Byur! "Kau, yang menyebabkan teman kami akan dikeluarkan. Dasar sampah!" teriak mereka sangat membenciku. "Kau tidak tahu diri. Pergilah kau dari sini! Dasar bisu! Tempatmu di jalanan!" Byur! "Kurang ajar kalian. Midas, mereka malah brutal. Ini tidak bisa dibiarkan!" Harto menarik lenganku. Aku menganggukkan kepala ke arahnya dengan tersenyum, berusaha menenangkan hatinya. Aku terus melangkah, berusaha mengabaikan hinaan mereka yang menusuk. Harto terus melawan mereka. Namun, dia juga mendapat penghinaan yang sama denganku. Makian itu semakin membuatku menahan amarah. Aku memang sampah dan tidak patut di sini. Apakah aku harus pergi? "Midas, cepat lari!" Ana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN