Tidak aku percaya dengan apa yang aku lihat. Ana memanggilku dengan sangat keras dan mengajakku berlari. Aku terdiam terpaku. Begitu juga dengan Harto yang berada di sebelahku. Kami saling menolehkan pandangan, tidak mengerti harus bagaimana.
Sementara semua mahasiswa masih saja meneriaki kami dan menghina kami lebih parah. Mereka terus menyiram kami dengan air yang sangat keruh entah berasal dari mana.
"Kenapa kamu diam saja, Midas, Harto! Hei, ayo lari. Cepatlah! Aku akan bersama kalian. Woi, kalian akan aku lindungi!" teriak Ana sekali lagi.
Aku dan Harto saling berpandangan sekali lagi dan tersenyum. Kemudian kita berlari dengan kencang menuju ke Ana. Dengan cepat Ana menarikku. Spontan aku menarik Harto. Kami bertiga berlari dengan kencang menuju ke belakang kampus dan bersembunyi di sana. Ana dengan cepat membuka gudang rahasianya dan kami segera masuk ke dalam.
Ana Apakah ini benar-benar kamu? Aku tidak menyangka kau ternyata berada di sini. Aku sangat merindukanmu.
Dia Ingin memelukku. Tapi aku menggelengkan kepala, tidak mungkin aku membalas pelukannya. Yah, aku sangat basah dan kotor. Aku tidak mau melakukannya. Harto berkacak pinggang, tersenyum menatapku dengan sangat bahagia.
"Kalau sudah cinta, mau kotor, mau tidak, itu tidak masalah. Yang penting bersatu dengan hangat," ucapnya dengan tersenyum dan mendorongku agar menerima pelukan yang sudah Ana tunggu.
"Kau benar-benar tidak mau memelukku, Midas? Apa yang dikatakan Harto memang benar. Aku tidak mempedulikan tubuhmu yang basah itu," ucapnya yang membuatku semakin tersenyum. Kini aku menarik, kemudian memeluknya dengan erat. Aku membelai rambutnya yang sangat harum dengan kedua mata memejam. Ingin sekali aku menciumnya. Tetapi, tidak mungkin aku lakukan, karena Harto berada di sini.
"Wes Romeo dan Juliet sudah ada di depan. Hmm, setelah berpelukan pasti berciuman. Ya sudah, aku lebih baik membalikkan badan supaya kalian tidak canggung melakukannya."
Benar-benar Harto temanku yang sangat luar biasa. Ternyata dia benar-benar membalikkan tubuhnya, membuat aku dan Ana tertawa dengan keras. Tapi, aku mengambil kesempatan ini mendadak mencuri ciuman itu. Ciuman itu membuat Ana terkejut dan akhirnya dia membalasnya. Kami saling berpandangan, hingga akhirnya berciuman dengan sangat mesra.
"Midas, aku mencintaimu," bisiknya mesra.
Aku juga mencintaimu, Ana.
Bibirnya sangat aku rindukan. Dia juga menerima ciumanku dengan sangat hangat. Kami sangat bahagia, akhirnya Kerinduan yang tertahan meluap dengan indah.
"Wes jangan lama-lama. Weleh, masa aku harus menghadap sini terus? Hmm, bikin iri saja. Yah, aku ini belum punya pasangan. Semoga saja aku sebentar lagi punya pasangan biar bisa kaya kalian," ucapnya akhirnya membalikan tubuh ketika aku menepukkan jemariku ke pundak kanannya.
Ana berjalan membuka almari. Dia mengeluarkan kemeja putih yang ternyata ada disana dan berjumlah 2. Ukurannya sangat pas. Aku pikir kenapa Ana mempunyai kemeja laki-laki yang sangat besar seperti itu?
"Ini adalah kemeja ayahku. Dulu mereka suka berada di sini dan meninggalkan beberapa kemeja untuk mereka buat ganti jika kemeja yang semula dipakai kotor. Jadi, kalian jangan kawatir. Ruangan ini penuh dengan sejarah yang kalian tidak ketahui. Lebih baik sekarang bergantilah di kamar mandi itu. Pakailah dan bersihkan tubuh kalian. Cepat, pelajaran kedua akan segera dimulai."
Untung saja malaikat pelindungku datang. Ini sangat membuatku bahagia. Aku bersama Harto dengan bersemangat segera menuju kamar mandi. Kami berdua segera membersihkan diri dan mengganti pakaian kami yang sangat basah.
"Nanti pakaiannya aku ambil lagi ya, Mbak. Biarkan sementara di sini dulu. Nanti pas pulang aku ambil. Akan aku cuci punyamu juga, Midas. Wes, tinggalkan saja, Midas. Biar aku cuci."
Aku juga bisa mencuci sendiri, Harto. Tenang saja. Sekarang lebih baik kita bergegas masuk ke dalam kelas karena pelajaran kedua sudah harus dimulai.
Saat aku berjalan, Ana tiba-tiba memelukku dia menatapku dengan sangat gelisah.
Ana, kenapa kau seperti ini?
"Midas, aku semakin bersemangat menjalani kehidupan. Kedua orang tuaku mengijinkanku untuk menemuimu. Mereka akan menyetujuimu denganku jika kau bisa membawa gelar terbaik. Tapi, aku melihat mereka menyiksamu seperti itu. Aku tidak tahan melihatnya, Midas."
Aku kembali memeluk Ana dengan mesra. Kami masih saling meluapkan kerinduan. Aku akan meyakinkan dia agar percaya denganku.
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya dengan pandangan sangat serius.
Ana, aku berjanji akan melakukannya. Percayalah kepadaku. Aku akan mewujudkan keinginan kita.
Ana menganggukkan kepalanya. Spontan aku menarik tengkuk lehernya dan menciumnya sekali lagi, tanpa memperhatikan Harto yang terpaku menatap kami.
"Wes, jadi obat nyamuk. Tapi, ndak apa-apa. Kalau lihat rukun begini, sapa tahu aku ketularan," ucapnya sambil meringis.
Kami tersenyum melihat ekspresi Harto yang sangat lucu.
Kau akan mendapatkan pasangan sangat hebat. Karena kau adalah Gatok Koco tulang wesi.
"Hahaha. Kalau pasangannya sama-sama wesi, nanti gimana?"
Kami bertiga tertawa keras. Semoga saja kebahagiaan selalu menyertai mereka. Aku sedikit sedih jika mengingat apa yang harus aku lakukan. Tapi, paling tidak aku akan memenuhinya.
Baiklah, kita akan berangkat.
Kami berdua segera keluar dari gudang Ana. Kami berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Tidak mempedulikan semuanya. Yang terpenting, kami bisa aman.
Hingga hatiku lega akhirnya kita sampai di depan kelas. Kami segera duduk dan diam kaku di sana. Semua mahasiswa masih saja berbisik membicarakan kami.
"Midas, aku akan diam saja. Mereka menganggap kita seperti kuman. Sabar ... sabar." Harto mengelus-elus dadanya untuk menenangkan hatinya. Sementara aku hanya menarik napas panjang.
Pelajaran dimulai dengan tenang. Aku tidak mengangkat tangan sama sekali. Aku membiarkan semua mahasiswa itu saling beradu pendapat. Aku dan Harto hanya diam. Sama sekali tidak menanggapi apa yang mereka bicarakan. Walaupun sang dosen sesekali melirikku, menginginkanku untuk menjawab.
"Jawaban kalian sama sekali tidak benar. Midas, apa kau bisa menjawab? Majulah dan jawablah!"
Aku sangat terkejut melihatnya. Semua mahasiswa sontak menatapku. Aku merasakan hawa tidak enak. Detakan jantungku lebih cepat dari sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya ingin tidak terlihat menonjol.
"Midas, apa kau tidak mendengarku? Kau harus maju dan berikan jawaban apa yang aku tanyakan."
Dosen itu menungguku dengan tatapan tajam. Dia melambaikan tangan, agar aku ke sana. Aku ... benar-benar tidak mau melakukannya. Pandangan semua orang menusukku. Aku seakan terhakimi dengan ini.
"Midas. Kau memilih Ana, atau harga dirimu? Pilihlah Ana dan majulah! Kau harus selesai selama 4 tahun." Bisikan Harto membuat kedua mataku terbuka. Aku berdiri dan berjalan cepat menuju ke depan.
Aku menuliskan semua jawaban dalam hitungan menit, dan itu sangat mudah. Aku selalu membaca semua buku yang aku pinjam dari Ana. Aku selalu membacanya sepanjang malam. Bahkan aku selalu dengan serius mempelajarinya.
"Bagus. Kau sangat benar," ucap sang dosen memujiku.
Brak!
Pintu kelas terbuka lebar. Seseorang masuk dengan menatapku.
"Midas. Badan pemeriksaan kampus ingin menemuimu."
Ada apa lagi ini?