Menuju Ruangan Rektor

1317 Kata
Pihak kampus datang ke dalam kelas memberitahukan, jika aku harus berada di kantor rektor. Sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Hatiku bagai tersambar petir rasanya, ketika aku mengetahui hal ini. Semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan Rey dan Putri yang berada di dalam kamarku. "Midas, sebaiknya kau pergi saja ke sana. Jangan diam saja melongo seperti itu," kata sang dosen membuatku terperanjat. Aku menganggukkan kepala lalu meringis mendadak dengan perasaan gelisah. Spontan kakiku melangkah, mengikuti mahasiswa yang sudah memanggilku itu. Saat aku melangkah, lenganku tertarik oleh Harto. Dia berbisik kepadaku, "Midas, aku harus ikut denganmu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan pernah menolak, karena aku juga bagian dari ini." Aku menggeleng keras. Harto tidak perlu masuk ke dalam semua masalahku, karena akan sangat membuat kehidupannya rumit. Itu tidak boleh terjadi. Harto  kau tidak boleh seperti itu. Jangan pernah ikut campur dengan semuanya. Aku tidak mau kau celaka. Hei, cita-citamu menjadi seorang dokter harus kau raih tanpa ada masalah. Bagaimana jika orang tuamu tahu kau ternyata memiliki sebuah masalah yang sangat rumit denganku. Pergilah dan jangan ikuti aku. Harto terus aja menggeleng. Dia tetap ngotot untuk ikut denganku. Bahkan, dia melangkah mendahului diriku. Kaki kurus miliknya sudah mendekati orang yang telah memanggilku itu. Ini benar-benar sangat menyebalkan. Apa yang harus aku lakukan jika Harto ikut dihukum dan dikeluarkan, di kampus Ini gara-gara diriku? "Midas! Sudahlah! Jangan berpikiran apa-apa.Lebih baik sekarang kamu berjalan saja denganku dan menghadapi semuanya aku tidak mau hal buruk terjadi sama dirimu. Aku bisa membantu. Heh, aku ini saksi hidupmu." Suara yang sangat motot sampai gurat-guratnya terlihat terus terlontar dengan sangat jelas. Harto memberikan pelototan tajamnya ke arahku yang baru kali ini aku lihat. Ternyata dia galak juga. Baiklah, tapi kamu tidak boleh berbicara sebelum aku mengizinkannya, karena aku tidak mau kau terlibat. Harto  jangan mempersulit keadaanku. "Iya! Iya, aku tahu. Sudah tangannya itu diem. Jangan muter-muter seperti itu. Weh, nanti kamu capek. Aku sudah paham dengan semua yang kamu maksud. Walaupun sebenarnya itu baik tapi aku ini orang kepo. Ingin tahu semua masalah yang mendera kamu. Susah, bahagia, kita hadapi bersama. Seharusnya kamu itu bersyukur, aku mau membantumu." Bersyukur bagaimana? Aku malah akan mendapatkan masalah yang sangat berat, jika kedua orang tuamu itu melakukan protes kepadaku. Bahkan, akan menghajarku saat tahu anaknya mendapatkan masalah gara-gara aku. Sudahlah, aku mau masuk saja. Ingat perkataanku. Diam dan jangan berbicara. Kamu harus mengerti itu, Harto." "Iyo... iyo, aku mengerti. Ayo kita masuk ke dalam," balasnya sambil sedikit mendorong tubuhku yang sudah melangkah ke dalam. Spontan kami resah saat ke dalam, mengamati wajah sang rektor dan beberapa dosen yang melotot tajam. Aduh, ini benar-benar sangat buruk. Pasti aku akan mendapatkan masalah yang sangat luar biasa. "Aku hanya memanggil satu mahasiswa bernama Midas. Kenapa ada mahasiswa lain masuk juga di sini?" tanya Rektor dengan tegas. Aku bersama Harto saling menatap panik. Harto, kau dengar sendiri. Kau tidak boleh di sini. Lebih baik aku keluar saja, dan tunggu aku di depan pintu itu. Kalau aku membutuhkan bantuanmu, aku akan memanggilmu. Sana keluar! Semua mata memandang kami dengan sangat tajam. Harto akhirnya menundukkan kepala dan menuruti apa yang aku katakan. Perasaanku sangat lega. Aku terbebas dari satu masalah lagi tidak melibatkan Harto dalam masalah ini. "Selamat siang semuanya maaf aku terlambat," kata seorang wanita yang tiba-tiba datang. Aku yakin dia adalah seorang dokter wanita yang mungkin Ikut andil dalam masalah ini. Tapi ... aku sangat terkejut saat menatap wajahnya. Kenapa dunia sesempat ini? kenapa dari sekian banyak wanita, haruskah Ana yang datang masuk ke dalam ruangan ini? Argh, kenapa harus dia? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan dia mengedipkan salah satu matanya ke arahku. Kini semuanya menjadi semakin rumit. Haruskah aku diam saja, atau aku mengelak ketika mereka menghakimi ku saat ini juga? Sebaiknya aku diam dan menunggu apa maksud dari pertemuan ini. "Baiklah, aku mengumpulkan kalian karena aku mendapatkan sebuah laporan yang sangat luar biasa. Laporan yang mengatakan ... dan memberikan foto untuk bukti nyata." Rektor itu membuka sebuah amplop coklat berisi semua gambar. Pikiranku semakin kalut. Aku merasakan jika yang ada di dalam sana adalah diriku bersama Ana atau siapa pun. Entahlah aku tidak tahu. Ana berdiri tidak jauh dari hadapanku. Dia terus memperhatikan wajahku. Namun, dia tetap saja diam membisu. Kupalingkan wajah menghadap semua dosen untuk menghindari tatapannya. Aku hanya berharap dia tidak ada hubungannya dengan semua gambar yang berada di dalam amplop itu. "Baiklah, aku tidak akan pernah mengulanginya perkataanku lagi. Dan, setelah aku menanyakan ini, kamu harus menceritakan apa yang terjadi. Sehingga kamu bisa menjelaskannya." Semua kata Rektor dengan tatapan serius ke arahku. "Midas, kau majulah dan lihatlah semua gambar yang berada dalam foto ini. Lalu, perlahan jelaskan semuanya kepada kami. Begitu juga dengan Dokter Anna yang akan memberikan klarifikasi juga." Sudah aku duga pasti Ana terlibat dalam masalah ini. Kedua mataku melebar tak percaya melihat diriku bersama Rey dan Putri diam-diam masuk ke dalam kamar asrama kedokteran. Lalu, ketika aku berdua saja dengan Ana dan berpelukan. Untung saja saat ciuman dia tidak mengabadikan gambarnya. Apa yang harus aku jelaskan kepada Anda?Oh Tuhan! Sudah jelas-jelas di sana ada gambarku peserta Dokter Ana dan kedua saudaraku. Iya benar, aku sudah membawa mereka untuk tinggal di sana karena mereka tidak mempunyai rumah. Ada sebuah masalah yang sangat rumit dan tidak bisa ku jelaskan. Rektor itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara dengan sangat keras. Aku pikir dia akan sangat marah dan membuang semua barang yang ada di hadapanku ini. Ternyata pikiranku tidak benar. Yah, dia masih tenang sambil mengamatiku, lalu mengelus-elus dagunya. Mungkin sekarang dia sedang berpikir keras apa yang harus diputuskan untukku, terutama dengan Ana. "Baiklah, aku akan memberimu waktu satu hari saja untuk mencari sebuah tempat tinggal yang bisa ditempati oleh saudaramu itu. Untuk hubunganmu dengan Dokter Ana, sebaiknya aku tidak ikut campur karena itu urusan pribadi kalian." "Tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan! Kenapa Anda menyelamatkan mahasiswa seperti ini? Bagaimana jika dia ditiru mahasiswa yang lainnya!" Suara keras mendadak masuk ke dalam ruangan. Tunangan Ana sangat marah melihat kami mendapatkan sebuah keringanan dari Rektor. Dia berjalan mendekati meja, lalu melotot tajam ke arahku. Ini suatu hal yang sangat buruk. "Dia tidak bisa dilepaskan begitu saja! Kenapa Anda tidak bisa memberikan hukuman yang pantas untuk mahasiswa kurang ajar seperti dia?! Anda lemah! Anda tidak seharusnya menjadi Rektor!" teriaknya keras membuat sang rektor spontan berdiri, lalu menghentakkan tangannya di atas meja. Brak!! "Apa hakmu membuat keputusan seperti itu, dengan memberikan penilaian terhadap apa yang aku putuskan!" balas Rektor lebih berteriak dua kali kencang dari tunangan Ana, sambil menunjukkan jemarinya tepat di wajah lelaki itu yang masih memerah. Ini tidak bisa aku biarkan. Aku harus mencegah hal ini dan berusaha menjadi penengah. Jika aku hanya diam saja, kesalahanku akan semakin banyak. "Dokter Albert sudah memutuskan untuk membuat Midas menjadi salah satu mahasiswa di sini sampai dia lulus dan dia sudah memberikan waktu singkat untuk Midas, menyelesaikan kuliah ini. Kenapa kau sangat ngotot untuk mengeluarkannya!" teriakan Ana sangat kencang, mendekati sang tunangan dan sedikit mendorong tubuhnya. "Hahaha. Carilah Dokter Albert jika kalian menemukannya. Dia menghilang begitu saja dan tidak ada kabar. Hmm, kalian tidak percaya? Carilah sampai mendapatkannya. Dokter yang sudah merekomendasikan Midas menghilang begitu saja. Bukankah itu tandanya dia menyerah?" Dokter Albert menghilang? Kenapa kau mengetahuinya? Ini sangat tidak masuk akal. Jika memang dokter Alberth menghilang, kau pasti ada hubungannya dengan dirinya! "Hahaha! Kau tidak perlu memikirkan hal itu, lelaki tidak tahu diri! Yah, dia menghilang karena sudah tidak mau bertanggung jawab lagi denganmu! Midas, sebaiknya kau keluar dari kampus ini!" Ini benar-benar tidak mungkin! "Yah, dokter itu sudah menghilang. Sekarang waktunya orang ini keluar dari kampus ini, karena kita tidak mau memiliki mahasiswa cacat seperti dia!" teriakan seorang pria yang memasuki ruangan dengan sangat mendadak. Kedua mataku melotot tajam tidak percaya, sosok laki-laki ini sudah masuk ke dalam kampus ini. Apa yang harus aku lakukan? Ini sangat! Kenapa ... kenapa kau bisa masuk ke dalam sini? Gawat! Argh, kau pasti bisa menemukan Rey dan Putri!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN