Pergi Dari Kampus

1667 Kata
Dia. Lelaki itu udah masuk ke dalam. Entahlah apa yang terjadi dengan Rey dan Putri. Pasti dia sudah menemukan mereka. Sekarang aku paham. Jika mereka memeriksa aku di sini pasti ada seseorang yang melaporkannya. Ya, itu adalah tunangan Ana dan kekasih mantan istri Rey. "Kau tidak bisa bergantung dengan siapa pun lagi karena Dokter Albert sudah tidak ada. Dia menghilang entah ke mana. Kalian tahu sendiri aku adalah pemilik dari universitas ini, karena aku satu-satunya keponakan Dokter Albert. Tidak ada pewaris lain selain diriku." Ucapannya dengan penuh percaya diri sambil terus menatapku dengan senyuman sinis itu. Aku sebaiknya harus keluar dari sini untuk memeriksa Rey dan Putri. Mereka tidak boleh tertangkap oleh lelaki tidak tahu diri ini. Jika memang aku bersalah, baiklah. Aku akan segera keluar dari kampus ini. Tapi, aku harus membawa saudaraku itu pergi bersamaku. Aku tidak ingin kalian membawanya. Tanpa berbasa-basi lagi, aku keluar dari ruangan itu. Aku tidak mendengarkan semua orang yang memanggilku atau mencegahku. "Midas! Kamu mau ke mana? Kenapa terburu-buru?!" Bahkan Harto aku lewati begitu saja. Kakiku semakin melangkah cepat untuk segera sampai ke kamar. Aku harus memeriksa apakah Putri dan Rey masih di sana. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika mereka mengalami suatu hal yang sangat buruk. Lebih baik aku tidak menjadi seorang dokter. Dari pada kehilangan satu-satunya keluarga yang ada bersamaku sekarang. "Midas hentikan! Untuk apa kau pergi? Midas, aku bisa membantumu menyelesaikan ini!" Aku tahu yang berteriak itu adalah Ana. Lebih baik aku tidak menolehkan pandanganku sama sekali ke belakang. Tujuanku hanya satu. Menyelamatkan Rey dan Putri. Brak! Akhirnya aku sampai juga di depan kamarku. Dengan cepat aku membuka pintu. Untung saja Rey dan Putri masih saja berada di sini. "Midas, apa yang terjadi? Kenapa napas mu terengah-engah seperti itu?" tanya Rey sangat panik. Aku hanya menggelengkan kepala dan segera masuk ke kamar, lalu mengambil koper. Semua barang yang penting aku masukkan ke dalam. "Ayah, Om kenapa?" Putri berlari memeluk Rey. Dia menangis melihatku melakukan hal itu. Aku memegang kepala dan tidak seharusnya memperlihatkan kepanikan seperti ini kepada Putri. Rey, kita harus pergi. Kekasih mantan istrimu itu sudah membuat Dokter Albert entah ke mana . Dia ... bersama dengan tunangan Ana, bekerja sama untuk menyingkirkanku. Bahkan aku tadi berada di ruangan Rektor dan mereka semua sudah tahu keberadaanmu. Di sini tidak aman. Kita harus pergi dari sini. Lagipula Dokter Albert menghilang Rey. Aku tidak mau terjadi hal yang sangat buruk kepada kau dan Putri. "Midas, tapi bagaimana dengan dirimu? Yah, cita-citamu. Jika kau pergi dari sini, kau akan kehilangan semuanya. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi, Midas. Aku yang akan pergi. Kau tetaplah di sini menyelesaikan apa yang menjadi tujuanmu." Tidak, Rey. Sudahlah, jangan berdebat. Ini masalah yang sangat serius. Mereka sebentar lagi akan datang dalam beberapa menit. Sekarang, ambil semua barang yang sangat penting, atau tidak usah membawa barang. Kita harus segera pergi Rey. Jangan banyak bicara. Nanti, kita akan membicarakan setelah situasi tenang. Untunglah kali ini Rey menurut apa yang aku katakan. Dia mengambil semua barang, lalu kita segera pergi dari kamar itu. Kami terus berjalan tanpa menolehkan pandangan ke belakang. "Midas. Kemarilah. Aku sudah menyiapkan kendaraan untuk kalian." Suara Ana tiba-tiba muncul dari arah samping kanan. Aku menganggukkan kepala, mengajak Rey dan Putri untuk mendekatinya. Ana, kenapa kau sekali selalu saja ikut andil dalam masalahku? Ingatlah, jangan pernah kau melakukan hal bodoh seperti ini, Ana. "Jika kau tidak menerima bantuanku, Midas. Lalu, kau akan bagaimana? Lihatlah, mereka sudah berlari untuk menghalangimu. Untung saja kau bertemu denganku. Cepatlah naik dan jangan berpikir apa pun. Aku memang melihat suruhan kekasih Amelia mengejar. Ini sangat buruk. Namun, pandangan itu sangat menakutkan buatku. Baru kali ini aku melihat ekspresi Ana yang seperti itu menatapku. Aku melambaikan tangan kepada Rey dan Putri. Mereka segera bergegas masuk ke dalam mobil. Kali ini Ana yang duduk di depan kursi kemudi. Entah kenapa aku tidak berani menyapanya. Tatapan itu sangat menakutkan buatku. "Midas, kita akan pergi ke mana?" bisik Rey sambil menatap Ana yang masih dengan sangat serius menyorotkan pandangan ke depan. Bahkan, dia menambah kecepatan mobil ini. Aku semakin tidak tenang melihat tindakan Ana yang sangat mengejutkan. "Dokter, Ana. Maafkan, aku. Apakah Dokter akan membawa kami ke suatu tempat? Hmm, lebih baik dokter menurunkan kami di tempat halte bus saja. Yah, kami akan pergi dan tidak menyusahkan dokter lagi." "Cukup dan jangan banyak bicara! Sebaiknya Anda duduk saja dengan tenang di sana. Karena saya lagi ingin marah. Saya tidak ingin melakukan, atau berbicara apa pun. Yah, kalian semua harus menurut, karena aku tidak akan mengatakan apa pun dan pastinya aku akan membawa kalian ke tempat yang sangat aman." Aku dan Rey saling menolehkan pandangan. Seketika kami terdiam. Putri hanya mengamati kami tanpa berbicara apa pun, sambil memeluk boneka beruangnya yang berwarna cokelat. Aku sangat resah dengan hal ini. Putri tidak seharusnya mengalami situasi yang seperti ini di saat dia masih belum cukup umur untuk paham dengan semua kondisi. Sepanjang perjalanan, aku masih terus berpikir. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan kepada Ana? Hah, dia masih saja sangat marah. Aku tidak mengerti kenapa dia marah seperti itu. Aduh, pikiranku sangat terombang-ambing tidak jelas. Ingin sekali aku mendapat jawaban ini dengan pasti. Aku menatap kaca spion dari depan. Rey melotot ke arahku, lalu menggerakkan kepalanya ke kanan. Entahlah apa yang dia maksudkan. Rey terus melakukan hal itu. Putri menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala. Dia mengambil secarik kertas di saku jaketnya dan bolpoin yang selalu dia bawa. Putri selalu menggambar sesuatu yang ada di hadapannya. Dia memiliki bakat seni yang sangat luar biasa. Aku kembali mengamati kaca spion. Putri menuliskan sebuah kalimat yang cukup besar dan dengan jelas bisa k****a. Om Berbicaralah dengan dokter Ana. Om, jangan diam saja. Seorang wanita itu harus dipahami jangan dicuekin! Rey memberikan jempolnya. Ah, ternyata dia yang menuliskan itu. Hmm, kini aku paham apa yang harus aku lakukan. Memang benar. Sepertinya Ana sangat marah ketika aku melarikan diri dari ruangan Rektor itu. Padahal dia sudah datang untuk membelaku. Ah, aku sepertinya menjadi seorang penjahat yang melupakan pahlawanku seketika itu juga. Ana. Apakah kau bisa melihatku berbicara? Karena aku hanya bisa menggerakkan tanganku saja untuk berkomunikasi denganmu. Tapi, sementara kau mengendarai mobil itu. Ana hanya melirikku. Dia tidak memberikan ekspresi apa pun. Sebaiknya aku harus menunggu dia sampai di tempat tujuan. Mobil terus melaju kencang menuju sebuah pedesaan. Entahlah ini di mana. Aku juga tidak tahu. Hanya Ana yang mengetahuinya. Aku baru sadar telah masuk ke sebuah halaman rumah yang cukup kecil. Di sana nenek tua menyambut kami dengan tersenyum. Ana segera memarkirkan mobil lalu berlari ke arah nenek itu dan memeluknya. Sepertinya dia sangat akrab dengan Ana. "Midas, jangan bengong saja. Apa yang harus kita lakukan? Aih, ini benar-benar tidak bisa aku mengerti. Sebenarnya kita ini berada di mana? Apakah kita harus keluar? Ah, ya! Kita harus keluar saja, Midas." Aku dan Putri hanya saling bertatapan tidak mengerti. Namun Rey sepertinya benar. Aku keluar saja dari mobil dan menghampiri Ana yang masih mengobrol dengan nenek tua itu. "Ini adalah Midas yang aku ceritakan tadi, dan Ini saudaranya Rey. Ada lagi anak kecil yang masih berada di dalam mobil itu bernama Putri. Mereka sementara akan tinggal di sini. Semua keperluan mereka nanti aku yang ngatur. Nenek tenang saja tidak perlu memikirkan apa pun. Yang penting, mereka tinggal di sini dengan aman. Ana, kita harus berbicara. Aku menarik lengan Ana, mengajaknya menjauh dari semua orang. Nenek itu mengamati kami dengan serius. Sementara Rey kembali masuk ke dalam mobil dan menemui Putri. Bisakah kau menceritakan siapa dia? Aku tidak ingin tinggal bersama seseorang yang tidak aku kenal, Ana. Semuanya harus kita bicarakan dengan baik-baik. Jangan seperti ini. "Dia pengasuhku dari kecil. Aku sengaja membuat dia tinggal di rumahnya kembali, karena itu permintaannya. Dia sudah sangat tua dan ingin berhenti bekerja. Hanya dia yang bisa membantu kita. Kamu tenang saja. Tidak mungkin aku memberikanmu kepada seorang predator." Sekali lagi Ana menjawab ucapanku dengan sangat ketus. Aku semakin kebingungan dengan hal ini. Sebaiknya aku menenangkan dirinya dengan memeluknya atau memberikan sesuatu yang bisa membuat hatinya lega kembali. Ana ke sini. Aku ingin berbicara denganmu. Berikanlah aku waktu sebentar saja. Kami kembali berjalan masuk ke dalam mobil. Aku menolehkan pandanganku ke belakang, memberikan kode kepada Rey dan Putri agar keluar dari sana. Rey mengedipkan salah satu matanya. Sementara, Putri tersenyum. Membuatku malu saja. Akhirnya kami sudah berdua kembali. Ini mungkin saatnya aku harus merayu Ana agar dia tidak bersikap seperti ini. Ana, aku akui ni kesalahanku. Aku sangat bersalah tadi keluar dari sana tidak mengajakmu atau membawamu. Kau tahu sendiri aku sangat panik. Apa yang harus aku lakukan? Lihatlah, mereka semua menyerangku seperti seorang maling atau teroris. Aku harap kau memaafkanku. Jangan seperti ini. Aku bisa tersiksa melihatmu marah tidak jelas seperti itu. "Aku akan diam, tapi beri aku satu ciuman." Seketika aku melotot mendengar permintaan Ana dengan wajahnya sangat manja dan menggemaskan itu. Ia menyentuh pipiku lalu membelainya. "Aku tidak akan pernah pulang sebelum kamu menyetujui bahwa permintaanku adalah sah." Dia mendekatkan wajahnya padaku hingga hidung mancungnya menyentuh hidungku. Oh Tuhan, wajahnya benar-benar luar biasa. Bahkan keharuman tubuhnya bisa menggelitik kedua lubang hidungku. Aku benar-benar lemah jika seperti ini. Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku mendekatkan wajahku kepadanya. Kini bibirku mulai mendarat. Dengan sangat lembut kami kembali saling melumat, meluapkan rasa rindu yang sempat tertahan. Aku menekan tengkuk lehernya, semakin menikmati wajah cantiknya itu. Aku seperti seekor macan yang terus haus memangsa kelinci sangat cantik. Ciuman intens semakin menjadi. Hingga akhirnya aku menahan diriku dan melepaskan bibirku yang sudah semakin liar tak terkendali. "Rupanya kamu sangat menikmatinya," kata Ana di akhir ciuman itu. Aku hanya terdiam karena tak tahu harus berbicara apa. "Aku sangat mencintaimu, Midas," lanjutnya. Jaga dirimu baik-baik. Setelah ini kau harus pulang. Jangan pernah kemari   kecuali jika aku yang memerintahkannya. Ana, tolonglah. Jika kau ingin bersamaku dan menikah, paling tidak belajarlah untuk mematuhi calon suamimu ini. Ana tersenyum, kembali menatapku. Sambil terkekeh, dia menghapus lipstik miliknya yang menempel di bibirku. Namun, ponselnya berdering. Dia segera melihatnya dan tidak percaya sebuah pesan sangat mengerikan ada di depan layar. Ana, kenapa? "Gawat!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN