Rencana Midas Untuk Bertarung

1301 Kata
Pesan memgerikan ada di ponsel Ana. Sekali lagi, Bram kekasih mantan istti Rey, melakukan ancaman. Dan, kali ini ancaman itu tidak main-main. Ana, aku selalu mengatakan untuk tidak mengikutiku. Sekarang, kau tahu sendiri alasanku. Aku tidak mau hidupmu hancur seperti itu. Dia mengancam akan menyebarkan foto kita saat bermesraan di kampus, dan aku menyembunyikan Rey. Nama kamu akan menjadi jelek. Lihatlah .... "Menyembunyikan maling dan menjadikan kekasih. Kurang ajar. Apa yang sebenarnya dia inginkan dari Rey?" tanya Ana menatapku serius. Aku kan sudah pernah mengatakan. Putri memiliki warisan luar biasa. Rey, anak angkat orang kaya. Rencanaku untuk mengadu domba mereka kemaren agar mereka pisah, dan berharap berhasil. "Sudahlah, biarkan saja mereka melakukan hal ini. Aku membantu Roy pergi dari sana," ucap Ana mengejutkanku. Roy, ah ... aku melupakannya. Dia padahal ada di sana. Pikiranku hanya tertuju Rey dan Putri saja. Lalu .... "Iya, aku membebaskan dia. Saat itu dia mengendap keluar. Aku tidak percaya ada dia. Namun, dia lolos dan segera pergi menggunakan truk milikku. Pasti dia sudah selamat sekarang. Ucapan Ana sangat melegakanku. Aku tidak tahu harus berkata apa dengannya. Dia sudah menolongku Ana, lebih bagus kau pulang saja. Tidak bagus untukmu ke sini. Aku berjanji akan selalu menghubungimu. Kau jangan kawatir. Aku tidak akan pernah sedikitpun melupakanmu. Semua yang aku lakukan, kau akan tahu. "Midas, bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasakan bahaya. Sudah, itu saja. Tapi, sepertinya apa yang kau katakan benar. Kedua orang tuaku pasti akan mencemaskanku. Baiklah aku akan pergi dari sini. Jaga dirimu dengan baik. Jangan melakukan suatu hal tanpa sepengetahuanku. Aku harus menjadi orang yang linglung jika kau akan melakukan hal itu." Aku tidak akan pernah melupakan itu. Tenanglah. Sebaiknya kau sekarang cepat pergi. Karena situasi sepertinya sudah aman dan tidak akan ada orang yang bisa menemukanmu. Ana menganggukkan kepala. Sekarang aku bisa merasa lega. Dia menurut dan tidak membantah apa pun. Seperti biasanya, senyuman itu teepampang di wajah secerah awan miliknya. Aku memang tidak tahan. Aku benar-benar lelaki yang tidak punya otak. Begitu saja aku menarik tengkuk lehernya, dan menikmati bibir merekah itu sekali lagi. Kami menyatukan dengan sangat indah. Perasaan cinta yang mendalam, dan senyuman yang telah hadir di wajah Ana, tidak pernah hilang. Hatiku sedikit lega dia meninggalkanku dalam keadaan baik-baik saja. Hanya itu yang ingin aku dapatkan. Baiklah Tuan Putri. Sekarang pulang. Aku akan keluar dari mobil ini. Berikan kabar kepadaku saat kau sampai di dalam rumahmu. Untuk sementara apa yang dilakukan oleh Brian kita pikirkan nanti. Kita simpan dulu tenaga dan pikiran. Aku juga akan mencari tahu, bagaimana Amelia menemukan sesuatu di kamarnya. Aku ingin tahu perasaan dia dengan Brian. "Aku tidak tahu itu apa. Tapi ... nanti kau bisa menceritakan kepadaku." Aku keluar dari mobil. Ana melambaikan tangannya dengan senyuman cantik itu. Sekali lagi aku menarik napas panjang berpikir sesuatu. Aku sama sekali tidak memiliki uang. Semua yang ada di dalam tasku sudah sangat menipis. Apa yang harus aku lakukan untuk menghidupi mereka? Ah, tidak mungkin aku menumpang begitu saja kepada Ana. Semua ini saat memusingkanku. "Midas, apa urusan kalian sudah selesai?" tanya Rey dengan mendadak mendekat dan menepuk pundakku membuat lamunanku teralihkan. Ya, semua sudah selesai. Ayo kita masuk. Lebih baik kalian beristirahat saja. Kami masuk ke dalam. Nenek tua itu sangat ramah kepada kami. Bahkan sudah menyiapkan semua makanan yang mungkin dari Ana. Dia memberikannya sekali lagi. Aku merasakan menjadi lelaki yang sangat bodoh. Menumpang adalah suatu hal yang sangat membuatku resah. Ini tidak bisa aku biarkan. Aku harus mencari uang dan menghidupi mereka sendiri dengan hasil kerja kerasku. "Midas, kira-kira apakah Brian sudah berdebat dengan Amelia tentang rencana kita untuk mengadu domba mereka? Kau tahu, aku sangat penasaran ingin mengetahuinya. Tentu saja aku berharap mereka bertengkar hebat dengan pisah. Bagaimana ekspresi Brian saat berada di dalam kamarnua ketika bersama Brian? Apakah dia merasa emosi atau biasa saja? Argh, aku sangat bosan!" tanya Rey dengan sangat serius. Dia bahkan meremas ke sepuluh jarinya sendiri agar aku bisa menjawab semua pertanyaan. Aku memang aku tidak tahu. Ekspresi Brian sama saja. Ketika dia tidak marah, wajahnya selalu tegang. Ucapan yang dia katakan selalu kasar. Bagaimana aku bisa membedakannya? "Midas! Kenapa kau diam saja? Ayolah, kau tidak menjawab semua perkataanku? Apakah memang dia memperlihatkan suatu ekspresi yang lain, atau bagaimana, Midas?" Ayolah ... aku tidak bisa membedakannya kau banyak sekali lagi memaksaku mengatakan sesuatu hal yang memang aku tidak tahu. Aku tidak mengetahuinya. Dia hanya masuk, lalu marah, dan mengusirku. Bukankah wajahnya selalu sama, saat dia marah atau tidak. Rey, ku tidak bisa membedakannya. Aku bisa mengetahui hal itu. Aku harus keluar dari sini dan memata-matai dirinya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menjawab semua pertanyaanmu itu. Rey menggerakan kepala dengan keras. Dia kembali menarik lenganku untuk masuk ke dalam kamar, lalu mengamati Putri yang sudah tidur terlelap. Rey mengedarkan pandangan, memastikan tidak ada orang yang melihat kami. "Midas, kau tidak bisa membedakan? Hei, aku harus mencari tahu dan ikut denganmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang sangat buruk. Ini adalah masalahku. Kenapa harus kau yang selalu melakukannya?" Hari ini Rey mengatakan sesuatu hal dengan nada emosi dan menatapku tajam. Aku hanya ingin dia menjaga Putri, itu saja. Jika dia yang pergi, lalu siapa yang menjaga anaknya? Yang ada di dalam pikiran Rey sangat membuatku tidak nyaman sekali, dan kali ini aku benar-benar sangat marah. Kenapa dia tidak pernah mengerti dengan keadaan ini? Putri adalah segalanya yang aku pikirkan. Siapa yang menjaga Putri jika kau akan meninggalkannya sendiri bersama seorang wanita yang sangat tua itu? Bagaimana jika ada yang ke sini, lalu kita tak menemukannya. Dia membawanya pergi kita tahu dia pergi ke mana. Kau akan sangat menyesali perbuatan itu. Rey, jadi lebih baik menurutiku, karena itu yang terbaik. Hari ini aku berkata tegas. Sudah jelas kalau meninggalkannya begitu saja, Putri akan sangat bahaya. Rey hanya terdiam berkacak pinggang dan terus berpikir. Aku tidak akan pernah mengizinkannya. Jika dia akan bersamaku dan meninggalkan Putri sendirian. Rey, sebaiknya kau beristirahat. Karena aku mau pergi ke suatu tempat. Ini sangat penting. Aku harus mencari Roy. Kau tahu sendiri, kan, aku sempat melupakannya. Jadi kau diam saja di sini dan jangan pernah melanggar apa yang aku perintahkan. Ini menyangkut hidup Putri, Rey. Dia yang akan aku beritahu. Tugasku untuk mengamati  Bria dan Amelia. Kau sekarang tenanglah, jawabanmu itu akan segera kau dapatkan. "Bukankah itu sangat membahayakan bagi Roy? Aku sudah melibatkannya terlalu jauh, Midas. Kau tidak memikirkan hal itu?" Sudahlah, kalau lebih baik jaga Putri dengan baik. Aku akan bersiap setelah menyantap makanan ini. Rey, hanya aku yang bisa melakukan ini. Sebenarnya kau pun sudah tahu akan hal itu. Rey menarik napas panjang. Dia hanya terdiam dan akhirnya mempercayaiku untuk mengatasi semuanya. Dia berjalan mendekati meja makan, melanjutkan makanannya yang sudah dingin di atas piring. Untung saja Putri sudah terlelap dan tidak mengetahui perdebatab kita yang cukup mendebarkan ini. "Kau akan pergi ke mana? Midas, kita tidak punya kendaraan dan tentu saja lokasi kota sangat jauh. Apakah bisa kamu lakukan keinginanmu itu? Hei, menemui Roy sangat susah. Bahkan kau tidak tahu alamatnya. Dia itu sepupuku. Tentu saja aku tahu alamatnya. Baiklah, aku sudah selesai menyantap makanan ini. Aku akan pergi. Jaga Putri dengan baik. Aku hanya sebentar. Tunggu saja aku sampai pulang. Rey hanya pasrah melihat aku pergi berlalu dengan cepat dari rumah itu. Aku berjalan kaki menelusuri semua jalanan yang sangat sepi ini. Di samping kanan dan kiriku terdapat pedesaan dan persawahan yang sangat luar biasa. Namun, pemandangan itu tidak membuatku sedikit lega. Aku harus melakukan sesuatu. Yah, mencari uang untuk menghidupi mereka. Bertarung. Yah, dengan cara bertarung, itulah caranya. Aku hanya bisa mendapatkan uang itu dengan ikut pertarungan. Aku akan bertarung dengan seseorang yang mempertaruhkan diriku, lalu mendapatkan uang. Aku akan menuju pertarungan jalanan. Uang itu akan aku dapatkan, dan aku bisa bertahan. Lagi pula aku sudah tidak kembali di kampus lagi. Baiklah, aku harus bergegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN