Kemarahan Amelia

1208 Kata
Menuju ke kota dan mencari surat kabar. Itulah yang akan aku lakukan. JIka aku menemui Roy, dia pasti akan memarahiku. Hmm, sepertinya mencari uang dengan cara singkat seperti itu adalah cara terbaik. Sebuah bus melintas di hadapanku. sepertinya menuju ke kota. Aku punya uang jika sekedar menaikinya. Tanganku melambai. Bus itu berhenti. dan aku segera naik. Semoga ini jalan terbaik yang bisa aku lakukan. Aku hanya akan memenangkan pertarungan itu dan ... aku memiliki uang. Jangan sampai, lawanku membuat wajahku lebam. Rey akan mengetahuinya dan itu bahaya buatku. Perkelahian ajaran Kakek yang harus aku lakukan. Baiklah, ini jalan terbaik. * Perdebatan terjadi sengit di rumah Bram. Amelia menemukan pakaian dalam dan anting wanita di kamar Bram. Dia merasakan pengkhianatan terjadi. Amelia sangat marah. Bahkan semua isi rumah Bram sudah hancur. Prang! "Tidak aku sangka, kau ... kau mengkhianatiku?!" teriaknua keras. Sebuah vas bunga kembali diarahkannya. Bram menghindar, berusaha untuk selamat. Prang! "Amelia! Tenanglah, dan jangan seperti ini! Paling tidak, dengarkan penjelasanku. Aku tidak tahu soal ini!" balas Bram juga berteriak. "Aku akan memeriksa kamera cctv. Aku akan membuktikannya!" lanjutnya bersembunyi di belakang sofa berusaha menghindar kemarahan Amelia. "Sudah jelas, ini milik wanita jalang itu! Kau mengatakan mereka tidak menyukai pria. Ini buktinya?" Amelia menyodorkan perhiasan milik wanita itu yang diremasnya. "Aku sudah mengorbankan semua diriku. Bahkan aku menjadi penjahat, untuk anakku sendiri! Tapi, kau melakukan ini!" lanjutnya semakin berteriak. "Tenanglah, aku mohon. Aku akan memeriksa kamera cctv itu. Tunggu di sini, jangan pernah pergi. Aku akan melihatnya. Kau akan tahu, kamera itu pasti menjawab semuanya. Jika aku memang benar-benar tidak seperti yang kau duga, aku akan pergi," jelas Bram masih tidak mendapatkan respon kekasihnya. Amelia berusaha menenangkan. Dia masih tidak mau tahu. Wanita itu merasa dirinya sudah dikhianati. "Kau tahu Bram, kau tidak akan pernah kaya jika aku memutuskan hubungan kita. Kau ...," tunjuk Amelia dengan jemarinya tepat di wajah Bram. "Kau ... sudah menjadi milikku. Ingatlah, tidak orang lain yang bisa menolongmu. Saat kau berkhianat, aku akan membuat dirimu memiliki kehidupan yang sangat sengsara!" imbuhnya masih dengan amarah meluap. Kepala Bram menggeleng keras. Dia mengulurkan tangannya perlahan, mendekati Amelia yang sudah terdiam. Namun, tatapan amarah itu masih terlihat jelas di sana. Dia berusaha, paling tidak membuat Amelia menghentikan tangannya membuang semua barang. "Jangan mendekat! Hah, aku akan memberikan waktu untukmu selama satu jam. Kalau kau tidak pernah membuktikannya, maka kita akan benar-benar putus! Bram, kau harus keluar dari rumah ini, karena ini milikku!" Amelia menampis uluran tangan Bram. Dia kembali menghindar saat lelaki itu semakin mendekat. Jijik, itulah yang dirasakan Amelia sekarang. "Amelia, ayolah. Kita bisa membicarakan ini," ujar Bram terus berusaha mendekat. "Hentikan, dan menjauhlah. Aku jijik melihatmu," balas Amelia. "Aku akan benar-benar membuangmu, lelaki pengkhianat!" imbuhnya. Sebuah ancaman yang sangat membuat Bram menahan amarah. Dalam batinnya, sebenarnya dia ingin sekali menjambak rambut Amelia. "Dia ... ingkin aku tampar. Amelia, kau ...," batin Bram mengepalkan kedua tangannya. Namun, dia masih berusaha menahannya. Akhir-akhir ini Bram memang merasakan sesuatu yang salah. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Apakah dia benar-benar mencintai Amelia, atau hanya sekedar melirik hartanya itu? Bram sendiri sebenarnya memiliki kekayaan dari dokter Albert. Dia satu-satunya keponakan dokter itu. Walaupun Bram hanya anak angkat dari adiknya yang sudah meninggal. Bram sendiri tidak memiliki hubungan darah dengan dokter Albert. Hingga dia bertemu dengan Amelia yang secara sah memiliki kekayaan dari Putri. Bram merayunya, membuat istri Rey itu terpana seketika. "Amelia Kau bisa tenang. Aku sudah menghubungi seseorang yang akan membuka kamera CCTV itu. Hei, sayang. Kau harus menyaksikan sendiri. Jelas-jelas aku tidak akan pernah mengkhianatimu seperti itu," rayu Bram. Masih saja tidak mendapat respon Amelia. Amelia masih mengatur napasnya yang terengah-engah akibat kemarahan. Penyakit yang dideritanya, membuat dia merasakan seperti itu. Amelia sendiri tidak menyangka dia memiliki penyakit yang luar biasa. Dia berusaha untuk melawan itu semua karena keinginan yang belum tercapai. Amelia melangkah perlahan menuju kursi sofa. Dia duduk, menundukkan kepala sambil merenung. Dalam batinnya, dia sangat paham. Bram pasti suatu saat akan memperlakukannya seperti ini. Apalagi Amelia sudah satu bulan ini tidak memberikan kepuasan seperti dahulu. Amelia harus bersiap-siap mengalami suatu hal yang sangat menyakitkan buatnya. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Bram. Kau pasti akan mencari wanita lain dan itu kenyataan yang harus aku terima. Aku sendiri paham, tidak bisa memuaskan kamu seperti dulu. Aku cepat lelah. Bahkan, aku tidak pernah berhubungan dengan liar seperti biasanya. Namun, pengmhianatan itu tetap tidak mau aku terima. Lebih baik aku hidup sendiri dari pada aku hidup dengan orang yang menyakitiku seperti ini. Kau sebaiknya bersiap-siap untuk pergi jika memang terbukti bersalah." Bram menarik napas panjang. Dia tetap akan mempertahankan Amelia karena harta yang memang dia inginkan. Kepergiannya akan membuat dia tidak memiliki apa pun, dan itu malapetaka baginya. Kehidupan glamor, berkelas dan perjudian sudah melekat dalam dirinya. Bram tidak akan pernah bisa hidup tanpa hal itu. "Ayolah, Amelia. Jangan berpikiran macam-macam denganku. Kita menunggu dan lihat hasilnya. Aku sangat mencintaimu, Amelia. Mana mungkin aku berkhianat dengan wanita yang sudah bersamaku lebih dari 10 tahun. Kau bersamaku selama itu. Hei, kita bersama ketika anakmu Putri itu barusan lahir. Dia sekarang berumur 10 tahun. Kita sudah lama menjalin hubungan. Sayang, aku tidak pernah menduakanmu. Untuk apa aku melakukan hal itu? Mereka tidak menyukai pria. Percayalah." "Jaga mulutmu dan diam!" bentak Amelia saat Bram akan duduk di sebelahnya. Bram mendadak terhentu. "Setiap seseorang pasti berubah jika barang yang dihasilkan lama-lama menjadi rusak. Yah ... pasti mereka akan membeli lagi yang baru," lanjutnya sembari melotot. Amelia berdiri dari duduknya. Dia berjalan sambil menekan dadanya yang semakin sesak. Dia ingin menenangkan diri. Dengan pandangan tegang, kakinya menaiki lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Bram masih diam, berkacak pinggang. Kedua matamya terus mengawasi kekasihnya itu yang sama sekali tidak merespon. Brak! Hentakan pintu Amelia lakukan sangat keras. Bram spontan mengankat kedua tangannya, dan menghentakkannya keras. "Argh!" teriaknya kesal. "Aku memang sudah merasakan sesuatu yang lain dengan Amelia. Entahlah, aku mencintainya atau tidak. Oh tidak, aku tidak melakukan hal ini. Astaga, siapa yang sudah menjebakku? Pasti mereka sudah masuk ke dalam rumahku. Lalu, dari mana mereka mendapatkan perhiasan dan pakaian dalam itu? Bukankah itu milik mereka?" Dalam pikiran Bram masih terus berputar. Sebuah rencana tersembunyi yang dilakukan oleh seseorang terus dia pikirkan. Tidak mungkin hal itu terjadi tanpa andil seseorang yang sangat ahli dalam bidang itu. Memasuki rumahnya berarti bencana. Dia akan mencari siapa yang sudah membuatnya kalah kali ini. "Seseorang sedang melakukan ini. Siapa ... siapa dia? Argh, ini tidak akan aku biarkan. Mereka memang sengaja. Aku yakin kedua wanita menyebalkan itu. Hmm, pasti wanita tidak tahu diri itu yang menjebakku. Aku akan melihat kamera cctv itu. Lihat saja. Hmm, saat aku melihat wajah mereka, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!" Bram terus bergumam sendiri sambil berdiri tegak mengamati semua arah ruangan. Dia terus memutar otaknya, memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang bisa masuk dengan mudah dan menjebaknya seperti itu? Hingga akhirnya bel rumahnya berbunyi. Bram sedikit terperanjat. Dia kembali menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan diri. Tangannya sedikit mengusap wajah yang sedikit berkeringat agar semakin membuatnya sedikit lega. "Itu pasti orang yang akan memeriksa kamera cctv. Oh, benar-benar. Aku sebaiknya segera melihat," gumamnya sambil terus melangkah untuk segera membuka pintu. "Lihat saja, aku benar-benar akan membuat mereka celaka. Siapa saja yang membuat aku marah, mereka akan kehilangan nyawa saat ini juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN