Tidak alasan untukku tetap diam saja. Namun, aku juga tidak tahu harus memulai dari mana. Kota ini sangat besar. Bagaimana aku bisa menemukan apa yang aku cari?
"Pak, mau koran ya, Pak?"
Anak kecil menaiki sepeda tiba-tiba berhenti di depanku menyodorkan surat kabar terbaru. Alam sudah berpihak kepadaku. Tentu saja aku harus mencarinya di surat kabar.
"Oh Om. Ternyata masih muda. Aku sudah manggil bapak-bapak. Gimana, mau nggak surat kabarnya? Murah, cuma lima ribu aja."
Kepalaku mengangguk, segera menerima sodoran itu. Aku mengambil uang yang masih tersisa di tas ranselku. Anak kecil itu sangat gembira ketika aku membeli dagangannya. Mungkin saja dia tidak memiliki banyak pelanggan. Sepertinya koran yang dia bawa masih tersisa sangat banyak.
"Om sepertinya tidak dari daerah sini. Dari tadi aku amati, Om tolah-toleh sana sini. Mau ke mana sih sebenarnya?" ucapnya dengan sangat serius. Dia mengernyit, terus menatapku tanpa henti. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membuka rahasia aku jika aku tidak bisa berbicara?
"Tuh kan, dari tadi tidak menjawab pertanyaanku. Eh, hati-hati Om. Orang yang mencurigakan di sini akan segera ditangkap warga, lalu diberikan ke rumah Pak RT. Setelah itu pergi ke kantor polisi. Om nggak mau kan, seperti itu?" lanjutnya dengan perkataan yang cukup menegangkan buatku. Tidak mungkin aku akan diperlakukan seperti itu. Sepertinya aku harus membongkar identitasku saja.
Om tidak bisa berbicara makanya dari tadi Om diam.
Aku membalasnya dengan bahasa isyarat. Entahlah, dia mengerti atau tidak. Yang penting aku sudah berusaha. Anak kecil itu menganggukkan kepala, lalu menepuk jidatnya dan menggeleng keras. Sudah kuduga ekspresinya pasti akan seperti itu.
"Oalah, ternyata Om ini tuna wicara. Duh- duh eman banget sih. Om itu ganteng banget, tinggi, kulitnya putih, dan sepertinya, Om itu anaknya orang kaya. Tapi, kenapa cacat seperti itu?" balasnya masih dengan menggeleng. Namun, kali ini pelan.
Aku mengusap rambutnya lalu tersenyum. Namun, aku berusaha tidak menatap matanya yang masih menelisik itu. Ku palingkan wajahku dan melambaikan ke arah dirinya, lalu pergi.
"Om! Jangan pergi dong. Nyari apa sih, Om? Hmm, mungkin aku bisa membantumu."
Kakiku berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang kembali. Dia mengayuh sepeda kecilnya dengan cepat kembali menghampiriku. Sepertinya dia sangat penasaran denganku.
Tidak perlu membantuku. Kau urusi urusanmu saja.
"Aku ini nggak ngerti Om itu ngomong apa? Hmm, tapi sepertinya Om menggelengkan kepala nggak mau aku mengikuti Om. Aku ini hanya mau membantu. Nggak ada maksud apa pun. Jangan mencurigai aku seperti seorang maling yang kecil. Ibu sangat melarang hal itu, Om," balasnya agak ketus. "Itu loh. Dari tadi tolah-toleh saja. Om tersesatkan? Hei, sudah bilang saja. Nih aku berikan kertas sama pulpen. Tulis di situ apa yang Om cari, nanti aku bantu," lanjutnya dengan sedikit senyuman.
Anak itu masih tidak menyerah. Bahkan dia memberikan aku secarik kertas dan bolpoin. Entahlah bagaimana aku harus menyikapi dia. Namun, apa salahnya jika aku bertanya. Mungkin saja dia bisa mengetahui apa yang aku cari.
Perlahan aku menuliskan sesuatu di kertas itu. Aku menuliskan, "Bagaimana menjadi petarung jalanan atau resmi, yang bisa menghasilkan uang." Mungkin saja dia mengetahuinya. Aku pikir anak ini adalah warga sini dan sangat paham dengan semua seluk beluk Kota Jakarta.
Sambil mengernyit, dia menerima kertas yang aku berikan. Lalu, selang beberapa detik dia melotot dan menggelengkan kepala lagi. Ah, ekspresi itu sangat membingungkanku. Semoga saja dia tidak menganggapku orang yang sangat aneh.
"Jadi Om mau jadi pegulat? Ini kan kekerasan. Om membutuhkan uang ya? Tapi kelihatannya Om ini orang kaya. Kenapa membutuhkan uang?"
Namanya juga anak kecil. Pasti memberikan beribu pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Lebih baik aku mengabaikannya saja dan kembali dengan tujuanku. Aku menggeleng pelan, lalu tersenyum dan akhirnya melambaikan tangan ke arahnya. Dia masih bergeming di tempat. Hatiku merasa lega, akhirnya Anak itu tidak mengikutiku.
Aku terus melangkah dan sampai ke sebuah pertigaan jalanan yang cukup ramai. Sebaiknya aku beristirahat dulu di taman kota.
"Om tunggu!" teriak anak kecil itu kembali.
Aku terkejut melihatnya. Dia mengayuh sepedanya dengan kencang, kembali menghampiriku. Napasnya terengah-engah sampai dia terus menekan dadanya berkali-kali.
Jangan pernah mengikutiku. Sudah, kamu bekerja saja. Lihatlah dirimu itu. Sampai mengatur napas seperti itu. Hei, kamu bisa sakit sesak napas.
Dia menggelengkan kepala sekali lagi. Entahlah mengerti dengan perkataanku atau tidak.
"Om! Aku itu mau membantumu. Jangan pernah menyuruh aku pergi. Aku tahu sedikit bahasa isyarat.Temanku juga seperti Om. Malah ada dua," ujarnya dengan kejelasan yang sedikit membuatku lega. Ternyata akhirnya dia mengetahui apa yang sudah ku katakan dengan bahasa isyarat.
"Gini Om. Aku tuh ngerti apa yang kamu cari. Tapi ... ini ilegal, Om. Hmm, jadi tidak resmi. Pahamkan dengan perkataanku barusan, Om?"
Tdak resmi? Jadi kamu tahu di mana Om bisa mendapatkan uang dengan menjadi pegulat?
Kepalanya mengangguk. Dia melirik kanan kiri, sepertinya memastikan keadaan aman. Aku sudah mendengar pekerjaan yang dia katakan itu tidak resmi, dan pastinya seperti sebuah perjudian.
"Om, mendekat sini," katanya pelan menarik lenganku agar aku aku lebih dekat dengannya. Kini jarak kami hanya satu senti saja. Dia melambaikan tangan, hingga aku menunduk untuk mendengarkan perkataan yang mungkin sangat pelan.
"Jadi Om. Pertunjukan itu sebuah pertaruhan. Ada orang mempertaruhkan antara pemain satu dengan pemain dua. Pemenangnya akan mendapatkan uang taruhan itu. Aku sangat mengenal siapa yang bisa Om temui. Cuman ....," ucapnya terhenti dan kembali mengamati sekitar. "Tapi ... satu pertanyaan. Aku tidak bisa menemui mereka juka Om tidak bisa benar-benar berkelahi. Om ini bisa bisa berkelahi? Om terlihat kaya gini. Om, meragukan sekali sih," lanjutnya meremehkanku.
Om bisa bela diri karena sudah berlatih sejak kecil. Om benar-benar membutuhkan uang. Apakah uang itu bisa aku ambil sangat banyak? Hmm, berapa biasanya yang akan didapatkan jika menang?
Dia kembali melambaikan tangannya, aku semakin menunduk.
"Puluhan juta! Karena yang bertaruh ini adalah orang-orang kaya. Alias, tidak orang sembarangan. Jika Om sering menang, nanti akan bertarung dengan pilihan mereka. Om tahu ... sekali bertarung Om bisa membawa ratusan juta!"
Aku benar-benar tidak percaya. Ini sebuah takdir. Aku tidak sengaja bertemu dengan anak ini. Berarti pekerjaan ini memang direstui oleh alam. Mendapatkan uang ratusan juta sekali bertarung saja, aku bisa bertahan beberapa hari dan itu sangat menguntungkan buatku.
Bawa Om pergi ke sana, karena Om membutuhkan uang. Nanti kau akan mendapat bagian.
"Ikuti aku, Om. Tapi sepeda aku ini kecil. Om naik apa?"
Gayuhlah perlahan saja. Om bisa berlari mengikutimu. Namun, kau jangan kencang-kencang. Nanti sebelum bertanding, Om udah capek.
"Om bertanding itu tidak bisa langsung. Tapi aku akan berusaha membantu Om. Lebih baik kita pergi ke kedai ku saja. Nanti, kita akan beristirahat di sana. Aku akan menemui seseorang yang bisa membantu Om masuk."
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Semua ini sangat mudah kudapatkan. Walaupun sebenarnya aku akan mendapatkan kemarahan dari Rey ataupun Ana tentang hal ini. Tapi, itu akan ku tepis. Dengan cara ini aku bisa mendapatkan uang.