Mulai Masuk Ke Dalam

1807 Kata
Kakiku terus melangkah bersama anak kecil yang mengayuh sepedanya dengan pelan. Aku sedikit berlari untuk bisa mengikutinya. Kedua mataku mengedar ke semua arah. Ternyata dia tinggal disebuah perkumuhan yang sangat mengerikan di Kota Jakarta. Banyak sekali sampah di sini, atau tepatnya tempat tinggal itu berada di sebelah tempat pembuangan sampah semua warga di kota. Astaga baunya sangat menyengat hidungku. Hingga tenggorokanku rasanya gatal jika aku terus menghirupnya. Padahal hanya sedikit saja, aku sudah merasakan mual seperti ini. Apalagi mereka yang setiap hari. Anak kecil itu menghentikan sepedanya di sebuah rumah yang cukup ramai dengan beberapa pria. Mereka sontak menatap dan mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku terdiam saja menunggu anak kecil itu untuk memberikan kode. Namun, pandangan itu sangat tidak mengenakan. Ah, aku seperti wanita yang dilirik beberapa pria. Oh Tuhan, ini membuatku sangat tidak nyaman. Bahkan, ada yang tersenyum sambil menghisap rokoknya mengarah kepadaku. Lebih baik aku memalingkan wajah dan tidak membalas semua tatapan misteri itu. "Om tunggu di sini. Aku ingin menemui seseorang. Jangan pernah ke manapun. Kalau Om tiba-tiba pergi dan berubah pikiran, nanti aku yang kena pukul. Nanti aku dipikir jadi pembohong lagi. Om sekarang diam di sini. Tunggu aku. Ini sangat serius!" Aku menganggukkan kepala. Perasaanku masih sangat resah. Seorang anak kecil berkumpul dengan orang yang mengerikan seperti ini? Hah, ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Aku akan memberitahukan kepada orang tuanya. Anak itu harus belajar dan jangan bekerja terus-menerus. Masa depannya tidak akan pernah baik. Dengan sangat sabar aku masih menunggu. Berperang dengan semua tatapan yang sangat mengerikan itu. Banyak sekali wanita seksi yang melewati depan rumah ini. Namun, semua pria ini tidak memandang wanita itu. Malah menatapku, seolah-olah aku ini adalah mangsa mereka. Sebaiknya aku bangkit dari dudukku, agak menjauh dari posisi rumah itu. Bersandar pada tembok dan menundukkan kepala, itu yang lebih baik aku lakukan. Sambil menunggu anak itu segera keluar dan memberikan kabar yang sangat baik. Bagaimana jika semua orang mengetahui aku sudah terjun ke dunia seperti ini. Apakah aku bisa lari? Jika aku ingin menyelesaikannya. Argh, ini benar-benar membuatku sangat frustasi.Jika aku pergi. Bagaimana nasib anak itu? Yah, dia mengatakan akan dipukul jika aku pergi. Astaga, tidak mungkin aku membiarkannya. Selang beberapa menit keluarlah orang dengan rambut yang sangat gondrong, agak sedikit kusut, memakai kaos tanpa lengan karena kulitnya dihiasi oleh semua tato itu. Bahkan ada yang bergambar wanita sangat cantik. Mungkin saja itu adalah pacar atau istrinya. Dia menghisap rokok, berjalan mendekatiku dengan cepat. Lalu mengamatiku dari atas sampai bawah dengan sangat serius. "Om, ini adalah orang yang bisa membuat Om masuk ke dalam pertandingan itu. Tapi, dia mau menguji dulu, karena dia tidak bisa membawa seseorang dengan mudah. Om harus melewati tahap tes. Gimana? Apa Om sanggup? Tenang saja, Om. Dia sudah aku beri tahu jika Om tidak bisa berbicara. Jadi ... Om tidak perlu menyembunyikan apa pun. Dia juga sedikit bisa mengetahui bahasa isyarat karena ada beberapa petanding yang juga seperti Om." Kepalaku terus mengangguk dengan keras. Aku sangat lega, ternyata tidak aku sendiri yang memiliki cacat tidak bisa berbicara. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa masuk dalam pertandingan? Aku hanya ingin bertanding satu kali saja dan memenangkan semuanya. Yah, karena aku sangat membutuhkan uang itu. Jelaskan bagaimana pembagiannya? Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku? Aku sangat membutuhkan uang itu dengan cepat. Jika hari ini aku tidak bisa bertanding dan mendapatkan uang, sepertinya aku tidak bisa kembali. "Oh, oh! Hmm, jadi sangat butuh uang? Hei, kami semua di sini juga butuh. Tidak kamu saja, dasar! Semua orang di dunia ini juga butuh uang. Semua itu ada prosesnya, tidak bisa instan!" Jawaban tegas dari lelaki itu membuatku terdiam. Dia membuang rokok yang semula dihisapnya di tanah lalu diinjak keras hingga api itu menjadi padam. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan, lalu berjalan. Anak itu menarik lenganku. Aku baru paham. Ternyata dia memberikan kode kepadaku agar mengikutinya. Kami terus berjalan menelusuri gang sempit yang cukup kotor dan bau. Aku tidak akan pernah menutup hidung ini. Aku menghormati semuanya. Hanya saja, aku sedikit menahan napas agar rasa mual itu tidak semakin tajam menyerang perutku. Suara rintihan, gebukan, mendadak semakin menembus gendang telingaku. Kedua mataku terus menatap, mengamati sebuah gudang yang cukup besar. Aku sedikit mendongak ke atas, untuk memastikan tempat apa ini. Ternyata itu adalah sebuah gedung yang tidak selesai dalam penggarapan. Mereka kini menggunakannya untuk tempat bertarung. "Om! Ayo jangan melamun saja. Nanti kita kehilangan jejak sama Abdul. Dia kalau sudah tidak suka, bisa melempar kita dengan cara mengenaskan." Lamunanku teralihkan oleh perkataan mengejutkan anak kecil itu sekali lagi. Dadaku terasa perlahan berdetak kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Apakah aku harus melanjutkan ini semua? Argh, sepertinya ini adalah pertandingan yang sangat mengerikan. Pertandingan legal yang sering aku lihat di televisi. Yang kalah berarti mati. Perasaanku semakin tidak karuan. Namun, jika aku mundur. Apakah anak kecil ini akan selamat? Yah, dia sudah mengorbankan dirinya sendiri untuk membawaku ke sini. Jika aku pergi dia celaka. Aku menjadi seorang pengecut. Maafkan aku. Om hanya terkejut saja melihat gedung setinggi ini, tapi tidak selesai digarap. Hmm, kalau pemiliknya tidak berhenti untuk membuat gedung ini sangat berantakan, tentu saja gedung ini menjadi sebuah tempat yang sangat Indah. Bahkan berguna bagi penduduk sekitar. Atau bisa dijadikan untuk sebuah klinik. Pasti sangat menyenangkan. Ucapan yang sangat tidak masuk akal dan tidak nyambung dengan semuanya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan kepadanya tentang lamunanku yang cukup mengerikan itu. Dia masih anak kecil dan tidak akan aku biarkan untuk mengetahuinya. Tidak habis pikir, kenapa anak sekecil ini kira-kira berumur 10 tahun sudah masuk kedalam jurang? Namamu siapa dan rumahmu di mana? Apa kau setiap hari bekerja seperti ini? Aku menepuk pundaknya agar dia menatap ke arahku. Dia tidak meresponku sama sekali. Anak kecil itu selalu menyorotkan kedua matanya ke depan, menunggu seseorang dengan sangat gelisah. Kesepuluh jarinya dia remas terus menerus. Ini pertanda yang cukup tidak baik. Siapa lagi yang kau tunggu? Bukankah Abdul sudah cukup membuat kita akan bertarung di sini? Aku menarik lengannya sekali lagi agar dia mengetahui bahasa isyaratku. Tetap saja kedua kalinya dia tidak merespon apa yang aku ucapkan. Mungkin hatinya benar-benar resah. Sebaiknya aku membiarkan saja dahulu. Aku akan menunggu apa yang selanjutnya terjadi menimpaku. Argh, aku sudah terjun. Tidak mungkin untuk keluar, kecuali aku menyelesaikan semuanya. Ini seperti sebuah pertandingan game yang selalu aku mainkan di ponsel. Dari kejauhan aku melihat seseorang berjalan cepat mengarah kepada kami bersama Abdul. "What? Hei, kau membawa seorang wanita untuk bertanding? Lihatlah, mana mungkin lelaki seperti ini ... sangat mulus dan cantik bisa mengalahkan anak buahku. Jangan pernah bercanda dan aku tidak ingin membuang waktu!" Lelaki agak lebay mengejutkanku. Padahal dia sebenarnya terlihat sangat garang. Banyak sekali tato menghiasi sebagian kulitnya sama persis seperti Abdul yang berdiri tegak di sebelahnya. Dia berusaha menjelaskan jika aku ini mampu untuk berkelahi. "Bos, paling tidak dicoba saja lah. Siapa tahu dia memang bisa berkelahi dan memberikan keuntungan pada kita." Abdul membuat sang bos mengelus-elus dagunya. Kedua mata hitamnya masih menatapku dari atas sampai bawah. "Hmm! Mana Mungkin dia bisa berkelahi. Tubuhnya sama persis seperti orang kaya yang sangat menyebalkan itu," balasan Bos dengan pelan. Lelaki lebay itu sama sekali tidak mempercayaiku. Namun, aku tidak menyalahkannya. Jika aku lihat semua petarung itu sangat garang dengan penampilan yang acak-acakan. Sementara aku seperti seorang CEO tampan tersesat ke sini dan minta pertolongan kepada mereka. Wajar saja jika mereka tidak mempercayaiku. Apa kau tahu aku tidak bisa berbicara? Apa dia sudah mengatakan kepadamu? Sekarang aku tidak akan pernah menyalahkan kamu menuduhku dengan sangat mengerikan itu. Tapi, aku ini laki-laki yang bisa berkelahi. Cepat berikan aku tempat untuk membuktikannya. Aku tidak memiliki banyak waktu karena aku harus kembali. "Hahaha sangat percaya diri sekali. Hmm ... aku menyukaimu. Ini yang aku butuhkan. Melawanku dengan sangat tegas. Baiklah!" Lelaki lebay itu mengangkat telapak tangannya ke atas, lalu menjentikkan dua jemarinya. Beberapa orang berlari menghampirinya. Yah, kira-kira 3 orang. Abdul tersenyum berada di sebelahnya. Akhirnya dia berhasil membuat lelaki itu percaya denganku. Namun, sepertinya karena jawabanku yang super tegas itu, membuatnya akan memberikanku sebuah tes percobaan. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku benar-benar membutuhkan uang itu. "Berikan dia tempat untuk bertanding. Cepat kosongkan ruangan. Semua hentikan kegiatan. Aku akan memberikannya sebuah tes." Ketiga orang itu menganggukkan kepala, segera melakukan perintah lelaki lebay itu. "Tunggu!" teriaknya membuat salah satu anak buahnya menghentikan langkah. "Apakah tadi ada 3 orang baru yang juga bergabung?" tanyanya serius. "Mereka ada diruang tunggu, Bos." "Baiklah, segera kumpulkan mereka. Pemenangnya akan aku bawa ke pertandingan besar." Aku terkejut mendengarnya. Pertandingan besar? Lalu ini pertandingan apa? Aku tidak akan memiliki waktu yang cukup lama untuk membawa beberapa uang. Dengan cepat aku melangkah mendekati lelaki lebay itu dan menarik lengannya. Dia sangat terkejut memberikan pelototan tajam. "Hey, aku tidak suka dipegang oleh semua orang, termasuk dirimu. Jika kau memanggilku, cukup saja panggil aku dengan sebutan, Dad," ucapnya dengan amarah, menunjukkan jemarinya tepat di wajahku. Aku membutuhkan uang saat ini juga. Hei, jika harus bertanding ke pertandingan besar itu, akan memakan waktu yang cukup lama. Kau tahu, aku bisa melakukannya besok hari. Namun, sekarang pertandingan kecil ini saja dan kau, tetap harus membayarku. Yah, aku membalasnya. Aku juga menunjukkan dia dengan jemariku. Bahkan, pelototanku juga sama tajam dengannya. Aku tidak peduli. Demi uang aku harus bersikap tegas. Kali ini aku tidak ingin mereka membohongiku begitu saja. "Hei, rileks. Tenang saja. Aku akan memberikanmu setiap orang dengan bayaran satu juta. Kau tahu, di sana ada tiga orang. Hahaha, kau bisa membawa uang tiga juta. Kalahkan mereka, buat mereka tidak bisa melanjutkan pertandingan." Baiklah, aku akan memenangkan pertandingan ini. Di mana aku harus memulainya? Dad menunjukkan jemarinya ke sebuah ring. Aku sama sekali tidak pernah melihat ring seperti itu. Pembatas ring dipasangi kawat berduri. Sedikit saja tubuh kita sampai menempel ke sana, pasti kulit kita akan terkoyak dan berdarah. Sebisa mungkin aku harus menghindari pagar pembatas itu. Aku harus pulang dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan wajahku pun tidak boleh lebam. Rey ataupun Ana tidak bisa mengetahui hal ini. Tanpa berbicara lagi, kelima kancing kemejaku perlahan aku buka. Aku tidak mungkin bertarung dengan kemeja berwarna putih ini. Pasti akan terlihat kotor, membuat Rey curiga. Semua orang sudah bersorak memutari ring itu. Ketiga petarung itu juga sudah siap berada di bawah ring untuk melakukan pengundian siapa dahulu yang masuk ke dalam dan melakukan pertandingan. Sebaiknya aku memulainya dari awal. Aku harus menyelesaikan tepat waktu, dan waktuku hanya satu jam. Semoga saja mereka tidak memiliki keahlian bela diri di atasku, karena aku akan benar-benar kalah! "Om, jangan kalah ya. Om, yang menang! Biar bisa pulang bawa uang banyak!" Sedikit senyuman aku berikan kepada anak itu, yang aku sendiri masih tidak mengetahui namanya. Sebuah senyuman dengan perasaan yang cukup bergetar. Ada sedikit rasa takut di dalam diriku. Bagaimana jika aku tidak bisa mengalahkan mereka? Apakah aku akan mati? "Kau! Hei, lelaki yang berada di sana! Siapa namamu dan cepatlah ke sini!" Aku Midas! Baiklah, aku akan bertanding. PRAK!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN