Dengan jalan sangat percaya diri, aku mendekati para petarung itu. Mereka mengadakan perundingan, siapa dulu yang akan bertanding di dalam ring mengerikan itu. Sebaiknya aku saja menawarkan diri untuk memulainya yang pertama. Itu lebih baik. Aku harus menyelesaikan ini segera. Waktuku sudah sangat berkurang. Pasti Rey akan mencemaskanku. Belum lagi melakukan perjalanan untuk menuju ke sana, cukup jauh.
Aku mengangkat tanganku, membuat lelaki lebay itu mengernyit. Selang beberapa detik, dia menggelengkan kepala. Aku tahu mungkin dia sangat kesal denganku, karena menyela pembicaraan yang sangat serius.
"Ayolah jangan membuatku marah. Aku sedang melakukan perundingan ini. Aih ... kenapa kau mengangkat tanganmu. Hei, kau mau mundur, atau ada masalah?" tanyanya sambil bersedekap. Aku semakin melangkah, menuju tepat di hadapannya.
Biarkan aku bertanding dulu karena waktuku cukup singkat. Aku harus buru-buru untuk pergi dari sini. Jadi aku perlu menyelesaikan ini semua dengan segera. Ijinkan aku memulainya.
Plok! Plok!
Dia bertepuk tangan, lalu menggelengkan kepala. Ditambah senyuman yang terlihat jelas di wajahnya. Saat ini salah satu alisnya terangkat, kemudian kembali mengamatiku dari atas sampai bawah.
"Onde mande. Baru kali ini aku melihat orang yang sangat berani seperti ini. Haha, ternyata penampilan luar tidak menjamin bagaimana itu ... seseorang. Kau seperti anak orang kaya yang sangat manja ataupun artis terkenal. Ah, ternyata cukup harang juga," balasnya sembari mengangkat salah satu tangannya membuat beberapa anak buahnya berjalan mendekat.
"Tidak kusangka kau sangat berani." Abdul di sebelahku tersenyum. Sepertinya dia kini bisa bahagia dan bernapas lega tidak membawa orang sembarangan seperti diriku.
Siapkan lelaki itu masuk ke sana. Bukankah kau bernama siapa tadi? Oh, Midas? Iya, Midas. Aku sangat bingung. Andaikan saja kau bisa berbicara, aku akan memiliki pekerjaan lebih mudah," gerutunya sambil meninggalkan kami lalu duduk di kursi penonton yang terdepan. Dia menyandarkan tubuhnya, mengelus-elus dagunya. Kedua matanya mengamati dengan jelas pertandingan itu.
"Ikutlah denganku!" kata salah satu anak buah yang sudah diberikan tugas oleh Dad. Dia membuka ring yang khusus. Tidak ada kawat berduri di sana. ku segera masuk disusul salah satu dari ketiga petarung itu. Tanpa berbicara lagi, aku berjalan mendekatinya dan memukulnya sangat keras.
PRAK!
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu menang! Kau akan aku hajar laki-laki bisu," ucapnya sambil menunduk dan mengusap hidung yang sudah memuncratkan darah akibat pukulanku.
Aku sepertinya memiliki rasa tidak tega. Bagaimana bisa memukul orang seperti itu hanya demi uang tapi? Aku sangat membutuhkannya. Mungkin aku akan meminta maaf nanti padamu.
"Tidak perlu menggunakan bahasa isyarat! Aku tidak mengetahuinya! Dasar laki-laki bisu!" umpatnya keras-keras. Dia mendadak mendorongku, dan aku terdorong ke belakang cukup keras. Untung saja kakiku aku gerakan dengan cepat, untuk menahan tubuhku ini agar tidak tertempel. Jka aku mengalaminya, pasti aku sudah kalah saat ini.
Dia melayangkan pukulannya tinggi tinggi ke atas di sebelah kanan. Aku menangkisnya, spontan memukul perutnya dengan tanganku satunya. Secepatnya aku menarik tubuhnya, membuatnya telentang di lantai dan menguncinya. Hitungan kesepuluh dia sama sekali tidak bisa bergerak dan aku memenangkan pertandingan pertama.
Aku melihat Abdul dan Dad sangat senang. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku. Sepertinya mereka sangat tertarik. Aku harus terus memenangkan pertandingan ini untuk bisa masuk ke pertandingan besar. Hanya sekali saja aku mendapatkan ratusan juta dan itu sudah cukup untuk membuatku hidup selama beberapa hari ke depan.
Semua pertandingan aku mainkan dengan sangat sempurna. Bahkan sangat mudah sekali mengalahkan mereka. Sepertinya aku sudah cukup memiliki waktu untuk memperoleh uang itu dan pulang.
Tanganku melambai-lambai ke arah anak buah Dad untuk membukakan pintu. Ketiga petarung yang melawanku sudah tergeletak di lantai. Aku harus keluar dari sini dan segera pulang.
Pintu itu terbuka. Kakiku melangkah cepat mendekati Abdul dan Dad yang sudah menyiapkan ratusan ribu uang di atas meja. Dad menunjukkan jemarinya ke arah uang itu, agar aku mengambilnya tanpa basa-basi. Aku segera mengambil dan menghitungnya. Oh, ternyata jumlahnya lebih dari perkiraanku. Satu setengah juta. Ini adalah keberuntunganku hari ini.
"Tidak kusangka kau memang sangat hebat lelaki bisu. Aku ingin kau datang kembali ke sini. Besok pagi kita akan memasukkan dirimu ke pertandingan besar. Jika menang, aku menyajikan uang seratus juta rupiah. Bagaimana? Kau setuju?"
Aku akan datang tepat pada waktunya. Tapi, aku membutuhkan kepastian. Uang yang kau janjikan itu harus benar-benar menjadi milikku.
Dad bangkit dari duduknya. Dia mendekatiku, lalu menepuk pundakku sebelah kanan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tersenyum kemudian berkata, "Tentu saja aku akan memberikannya. Kau tahu, pertandingan itu tidak sembarangan. Hanya orang khusus yang mengikuti pertarungan itu," ucapnya sembari menunjukkan jemari tepat di kedua mataku yang masih menyorotnya tajam.
Dad menarik napas panjang. Dia sedikit menggeleng, lalu melanjutkan perkataannya, "Ditambah pertaruhan yang sangat luar biasa. Hei, kau tidak perlu kawatir." Salah satu tangannya kembali menepuk pundakku dua kali. "Baiklah, aku tidak suka menunggu. Kau ... datanglah tepat waktu pukul tujuh pagi. Ingat, kau sudah harus berada di sini tanpa terlambat satu menit pun," imbuhnya dengan tegas. Namun, kini senyuman kembali terlihat di wajahnya yang semula sedikit angker.
Dia kembali mengamatiku sejenak dari atas sampai bawah. Setelah itu dia membalikkan tubuh meninggalkanku berlalu begitu saja. Beberapa anal buah mengikutinya.
Abdul semakin tersenyum dan memberikan jempol ke arahku. Begitu juga dengan anak kecil itu. Aku merasa lega. Yang terpenting aku sudah mengantongi sejumlah uang untuk melanjutkan hidup. Aku akan memeriksa wajah dan tubuhku agar Rey tidak mencurigaiku nanti.
"Om, ternyata memang hebat. Tidak kusangka bela diri Om sangat luar biasa. Apakah memang belajar ... atau ada yang mengajari? Ckk ... karena memang berbeda dengan yang lainnya. Om itu kayak pemain film zaman dulu."
Aku tersenyum, mengusap-usap wajah anak kecil itu yang belum aku ketahui namanya. Sudahlah, nanti aku akan menanyakannya. Jika dia mengantarku keluar, aku juga akan memberikannya bagian.
"Midas, ada yang perlu kau ketahui. Ada yang ingin aku bicarakan. Ikuti aku sekarang," ucap Abdul tiba-tiba membuatku kembali merasakan detakan jantung yang lebih cepat dari sebelumnya.
Ada apa dia memanggilku? Seperti itu sangat buruk. Semoga saja tidak ada hal mengerikan yang akan terjadi jika aku masuk ke dalam pertandingan besar itu.
Kami berjalan cepat keluar dari gedung ini. Menuju ke jalanan yang cukup sepi. Hanya ada kami bertiga yang berada di sana.
Abdul semakin menatapku dengan tajam. Memang sesuatu yang sangat buruk pasti terjadi. Aku harus mengetahuinya.
Kau membuatku sangat takut, Abdul. Hei, apa yang harus aku ketahui. Segera katakan, karena aku sepertinya sudah masuk ke dalam lubang buaya.
Abdul menarik napas panjang. Dia berkacak pinggang, sebelum akhirnya ia menatapku. Sejenak dia masih terdiam. Kedua alisnya mengkerut dalam. Aku sendiri tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya itu. Aku mendekatinya, spontan menepuk pundak kanannya dengan cukup keras, agar dia segera berbicara tanpa basa-basi.
Abdul kau membuatku sangat frustasi dengan menunggu jawabanmu itu. Cepat katakan! Ada apa sebenarnya?
"Sepertinya kau sudah mengetahuinya. Iya, kau sudah masuk ke dalam lubang buaya."
Aku sudah menduganya.