Sekali lagi Abdul mengatakan sesuatu hal yang sudah aku duga sebelumnya. Ya, aku sudah masuk ke dalam lubang buaya. Tidak mungkin aku bisa keluar dengan selamat. Jika aku terus memenangkan pertandingan ini, aku semakin terjerumus ke dalamnya Hal itu yang biasanya terjadi. Aku tidak akan bisa melarikan diri.
Jangan kawatir. Aku akan bertanding dengan peraturan mereka. Tenang saja kalian.
"Aku tahu. Kau pasti akan bertanding dengan hebat Midas. Tapi perlu aku tekankan kepada kamu. Kau berhenti, dan mereka tidak menyetujuinya, kau akan menjadi buronan. Sebelumnya aku mendengar kau mengatakan bermain satu kali saja dan mendapatkan uang itu, lalu pergi. Hei, aku memperingatkanmu. Jangan kau lakukan. Nanti kita yang akan menjadi korbannya. Karena kami yang membawa kamu ke sini," ucap Abdul dengan sangat cemas. Dia memandangku dengan penuh pengharapan aku tidak melakukan suatu hal bodoh dan mengorbankan nyawa mereka.
"Bener Om. Terakhir kali ada seseorang yang seperti Om ini. Dia sangat hebat. Tapi, ternyata saat mendapatkan uang, dia pergi bersama anak dan istrinya. Lalu ...," sela anak kecil itu. Kini kepalanya menunduk. Wajahnya cukup sedih. Aku sudah bisa menebak nasib mereka. Ya, lelaki itu dengan istrinya pasti sudah diburu dan dibunuh oleh mereka.
"Sudah jangan diingat kejadian itu. Kau tau sendiri, Midas. Ini pertandingan ilegal. Jika kau pergi, mereka takutnya mengira dirimu akan membongkar apa yang sudah mereka lakukan itu. Ini inti dari permasalahannya. Sekuat tenagaku membantah, tetap saja kau keluar, kau mati."
Aku tahu. Kalian jangan kawatir. Aku bisa menjaga diri. Kalian tidak perlu ikut campur dalam masalah ku mulai sekarang. Yah, aku akan sendirian ke sana.
"Namaku Rahman. Aku adalah keponakannya Abdul. Aku mengikuti pamanku ini karena aku sudah capek, Om. Harus jualan koran setiap hari tidak ada hasilnya. Makanya aku harus membantu Ibu. Paman sangat baik memberikanku beberapa uang untuk diberikan kepada Ibu."
Doakan aku menang setiap hari. Kau tidak boleh bekerja di sini lagi. Kau harus pergi temani ibumu. Kamu harus bersekolah. Aku akan memberikan setiap hasil dari pertarunganku untukmu. Tapi, berjanjilah padaku, kau akan melakukannya.
"Om serius? Maksud aku, dengan apa yang Om katakan? Om! Aku sangat senang sekali mendengarnya. Berjanjilah Om akan melakukannya. Maka, aku akan memegang teguh janjiku," jawab Rahman dengan tegas sambil tersenyum bahagia. Dia melompat kegirangan. Abdul pun sangat senang melihatnya. Abdul hanya menggelengkan kepala, lalu menepuk jidatnya.
Tentu saja aku akan berjanji untuk memberikannya. Ini aja sudah aku siapkan. Tapi tidak banyak karena aku hanya mendapatkan sedikit saja.
Segera aku memberikan uang tiga ratus ribu untuk Rahman agar diberikan kepada ibunya. Saat aku ingin memberikan kepada Abdul, dia menggelengkan kepala dan menolak.
Aku sudah mendapatkan bagian. Terima kasih sudah perhatian dengan keponakanku. Aku juga memiliki keluarga dan tidak bisa memberikan yang banyak. Tapi, Rahman tetap menjadi tanggunganku. Hanya aku satu-satunya keluarga yang dia punya selain ibunya sendiri."
Kau ini sama sekali tidak sesuai dengan penampilanmu yang sangat garang itu. Ternyata hatimu memang lembut dan itu membuat aku sangat lega melihatnya. Hahaha! Maafkan Aku.
"Tolong! Ada orang sakit. Tolong! Dia tidak bisa bernapas. Dia terkena pukulan ku dan tergeletak di lantai. Dia ... dia tidak bisa bernapas. Aku harus bagaimana? Tolonglah! Apakah kita tidak bisa memanggil dokter!" teriak seseorang mengarah ke kami.
"Tidak bisa! Kita tidak bisa memanggil seorang dokter, dan itu adalah aturannya! Yang sudah kalah, berarti kalah. Biarkan saja dia kalau seperti itu. Jika dia memang akan tetap hidup, dia akan sembuh dengan sendirinya," jawab Abdul dengan sangat tegas.
"Tapi dia adalah saudaraku. Aku tidak mau dia mati. Tolonglah aku harus membawa dia keluar dari sini dan menemui seorang dokter. Aku membutuhkan bantuan. Kau harus menolongku. Jika tidak, aku akan kehilangan saudara aku satu-satunya."
Abdul semakin melotot ke arahnya. Dia berjalan cepat, kembali ke gedung itu untuk melihat keadaan yang terjadi. Aku bersama dengan Rahman mengikutinya dari belakang. Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya lelaki itu alami. Mungkin saja aku bisa menyembuhkannya.
Abdul, menunduk. Dia semakin menatap lelaki itu dan menekan-nekan d**a, serta lehernya.
"Aku tidak tahu dia kenapa. Tapi, sepertinya dia memiliki riwayat penyakit. Apakah saudaramu ini memiliki sebuah penyakit? Kenapa kau ajak ke sini? Ah, apa kalian sudah gila masuk ke sini? Jika melanggar, berarti kalian sudah mati tidak bisa keluar seperti itu. Apalagi memanggil seorang dokter!" teriak Abdul dengan sangat keras sambil menunjukkan jemarinya tepat di wajah pemuda yang sangat pucat melihat saudaranya masih menekan jantungnya. Aku akan nekat melakukan pengobatan. Segera kulepas ransel yang selalu aku bawa ini dan mengambil beberapa alat kedokteran milik Ana yang masih ada di sana. Untung saja aku selalu siap sedia dengan semua ini.
Maaf semua minggir. Sebelum masuk ke sini, aku sempat sekolah kedokteran. Jadi mungkin saja aku bisa membantu. Tapi, berikan aku ruang untuk memeriksa dia.
Pemuda yang masih pucat itu, menggelengkan kepala. Da sepertinya tidak mengetahui bahasa isyarat. Tapi, tidak dengan Abdul yang menarik napas panjang merasa lega ketika aku mengatakan hal itu.
"Untung saja kau Midas. Ternyata kau calon seorang dokter? Argh, hatiku benar-benar kacau. Kau sangat membuatku panik. Ingatlah baik-baik, tidak ada yang bisa keluar dari sini jika tidak membungkam mulutnya, apalagi pergi ke rumah sakit dengan keadaan babak belur. Pasti mereka akan menanyakan, kenapa? Lalu kau akan bilang ini sebuah kecelakaan? Tentu saja ini akibat pertarungan. Visum akan dilakukan dengan jelas, dan kita akan tertangkap. Jangan sekali-sekali bertindak hal bodoh. Jika tidak mampu, jangan ke sini!" Sekali lagi Abdul membentak pemuda itu yang sangat pucat.
"Jadi kau seorang Dokter? Untung saja. Sepertinya kehidupan saudaraku ini masih beruntung," jawabnya tanpa mempedulikan apa yang diucapkan Abdul.
"Kau dari tadi tidak memperhatikan aku? Argh, aku berbicara sendiri? Baiklah, jika ada sesuatu, aku tidak akan pernah membantumu," lanjut Abdul membuat pemuda itu menundukkan kepala, lalu mengangguk dengan cepat.
"Maafkan, aku tidak akan pernah melakukannya. Tapi, tolonglah. Paling tidak, sembuhkan saudaraku ini," balasnya dengan wajah memelas.
Kalian semua minggir. Berikan aku ruang. Aku harus memeriksa detak jantungnya.
Dengan sangat serius aku memeriksa bagian jantungnya dengan alat yang sudah aku bawa. Sepertinya dia memiliki riwayat sesak napas. Jantungnya tidak beraturan dan terasa sedikit sakit jika aku tekan. Sakit ini adalah gejala ringan penyakit jantung dan dia sama sekali tidak boleh melakukan pertandingan ini, jika tidak ingin kehilangan nyawanya.
Saudaramu tidak bisa melanjutkan pertandingan. Dia memiliki riwayat jantung. Jika dia tetap saja maju, maka sebelum pertandingan pun dia bisa mati kehilangan nyawanya. Pikirkan hal itu baik-baik.
Pemuda itu terkejut. Dia memejamkan matanya sejenak, mungkin untuk berpikir keras, apa yang harus dia lakukan. Aku dan Abdul, serta Rahman masih terdiam, menatapnya. Kami sendiri juga tidak mengerti apa yang harus kami lakukan. Yang jelas, peraturan ... tetap peraturan.
"Aku memiliki tetangga. Dia baru saja datang dari kota. Dia ilang dirinya adalah dokter. Apakah aku bisa ke sana setelah membawanya pulang? Dia tidak berada di rumah sakit atau di mana pun. Karena ingin menyelesaikan suatu masalah. Itulah yang dia katakan saat aku menanyakannya."
Abdul terus menekan pelipisnya yang mungkin terasa pening. Dia tidak bisa memutuskan sesuatu hal, karena ini menyangkut nyawanya juga. Namun, karena dokter itu tidak melakukan praktek, maka dia akan memberikan izin.
"Baiklah, kau bawalah pulang saudaramu itu. Lalu, bawa ke tetanggamu. Tapi ingat! Jangan bertindak suatu hal bodoh dan nekat. Karena jika kau ketahuan sedikit saja, anggap saja dirimu sudah mati saat itu juga."
Ancaman Abdul membuat dia menggelengkan kepala dengan cepat. Pemuda itu sedikit tersenyum. Dia berusaha memapah saudaranya itu dan aku membantunya hingga sampai ke parkiran mobil.
"Terima kasih kau sudah membantuku. Aku akan membawanya. Yah, semoga saja dokter sebelah rumah bisa membantuku dan memberikan solusi. Namanya Dokter Alberth."
Dokter Alberth? Bukankah selama ini dia menghilang? Jadi ... ternyata dia tinggal bertetanggaan dengan pemuda ini? Hah, ini benar-benar mengejutkan.
Katakan kepadaku! Apakah kau mengenal Dokter Alberth? Atau paling tidak kau tahu di mana tempat tinggalnya. Ya, aku membutuhkan dokter itu. Dia adalah kenalanku dan salah satu pemilik Universitas terbesar kedokteran yang pernah aku tempati untuk bersekolah. Namun, aku sangat membutuhkannya. Bantulah aku, maka aku akan membantumu. Bagaimana?"
"Jadi ... kau mengenalnya?"
Yah, aku mengenalnya. Bantulah aku menemuinya.