Dia sangat terkejut mendengar aku ingin menemui Dokter Alberth. Tentu saja aku ingin menemuinya, meminta pertanggungjawaban dia. Kenapa dia pergi begitu saja meninggalkanku dalam situasi yang sangat rumit. Paling tidak dia seharusnya bisa sedikit membelaku, walaupun aku nantinya akan keluar dari sana.
"Kau mengenal dokter itu? Dia sudah sangat tua. Tapi sepertinya dia sangat kaya. Kemarin datang saja, dia memakai mobil sedan mewah dan juga beberapa pengawalan ketat. Yah, karena kami ini jarang melihat semua itu. Para warga yang berada di desa itu melihat kedatangannya dengan terkejut. Maklum saja kamu tidak pernah kedatangan orang seperti itu."
Bagaimana? Bisakah aku bertemu dengannya?
"Baiklah, aku akan membawamu ke sana," jawab pemuda itu yang membuatku sangat senang. "Hari ini kau membantuku. Walaupun sebenarnya aku ragu-ragu untuk itu," lanjutnya sambil mengangguk.
"Baiklah, masalah telah selesai. Kalian sebaiknya pulang. Dan, jangan lupa datang ke sini pukul tujuh pagi. Kalian tahu sendiri Dad tidak ingin melihat kalian terlambat. Dia bisa marah besar. Kita tidak mau hal itu terjadi."
Abdul dengan sangat serius menunjukkan jemarinya bergantian tepat di wajahku, lalu di wajah pemuda itu. Kemudian, dia membalikkan badannya pergi begitu saja. Kecuali Rahman yang masih berdiri tegak menatap kami dengan sangat serius. Aku sendiri sangat kawatir dengan keadaannya. Dia tidak seharusnya bisa terjerumus dalam keadaan seperti ini. Dia masih terlalu sangat kecil.
Rahman, kau pulang saja. Ini sudah waktunya kau harus menemani ibumu di rumah. Jangan ke mana-mana. Aku tidak bisa mengantarkanmu. Om harus pergi ke suatu tempat.
"Om, bukannya juga harus pulang. Kenapa pergi lagi? Nanti orang yang di rumah juga kawatir," balasnya membuat aku semakin kebingungan. Rahman benar, aku harus terus berpikir. Tapi, bertemu dengan Dokter Alberth tentu saja sangat penting.
Jangan kawatir. Yang terpenting sekarang kau bisa jaga diri. Selamat tinggal Rahman. Sampai ketemu besok pagi.
Aku mengikuti pemuda itu masuk ke dalam mobilnya. Iya, sebuah mobil yang sangat butut. Mobil lama tapi masih terawat. Mereka sepertinya orang baik-baik. Tapi, kenapa mereka masuk ke dalam pertarungan ini. Hidup ini memang sangat aneh. Sesuatu yang terlihat di luar dengan baik, belum tentu bagus di dalamnya.
Dia terus melirik ke kiri, tepatnya ke arahku. Mungkin dia sangat penasaran siapa aku sebenarnya. Atau bukan aku. Tapi, dengan Dokter Alberth.
"Jadi kamu apanya Dokter Alberth? Sepertinya sangat penting sekali. Maafkan, aku hanya bertanya saja. Karena ini sangat membingungkan buatku. Memberikan tumpangan gratis kepada seseorang yang sama sekali tidak aku kenal. Tapi, aku mengucapkan banyak terima kasih. Kau sedikit membuat kakak aku bisa merasa lega. Apakah kamu seorang dokter?"
Sebaiknya kau jangan melakukan pertandingan itu. Kau akan kehilangan kakakmu. Dia keluargamu satu-satunya. Untuk apa mengikutinya.
Pemuda itu tidak langsung menjawabnya. Dengan serius dia tetap mengendarai mobilnya. Bahkan menambah kecepatan. Kini mobil ini melaju sangat kencang.
Aku melihat sesuatu tidak asing di sekitar. Ternyata dia memiliki rumah yang tidak cukup jauh dari tempat tinggalku bersama Rey. Sekarang aku bisa bernapas lega. Aku tidak perlu kerepotan mencari jalan untuk pulang ke rumah.
Selang beberapa menit, kami sampai di sebuah rumah yang sangat rapi dan tertata indah. Bahkan, terdapat taman bunga yang cukup beragam di sana. Pemuda itu keluar memapah kakaknya untuk masuk ke dalam rumah. Spontan aku segera mengikutinya dan membantu.
Tidak aku percaya ternyata mereka memiliki rumah yang sangat rapi. Bahkan, tidak ada kotoran sekalipun.
"Terima kasih atas bantuanmu. Sekarang Ikuti aku. Akan aku tunjukkan rumah dokter itu," kata pemuda itu setelah merebahkan kakaknya di atas ranjang. Tapi, aku sebaiknya memeriksa kondisi kakaknya sekali lagi. Dia benar-benar sangat membutuhkan seorang dokter.
Aku akan memeriksa kondisi kakakmu sekali lagi. Aku hanya memiliki beberapa obat yang bisa aku berikan kepadamu. Namun, sebaiknya kau mencarinya di apotek. Tapi, aku tidak tahu itu harus menggunakan resep dokter atau tidak. Karena obat ini aku dapatkan dari seorang wanita yang kini dekat denganku. Aku tidak bisa memintanya lagi karena aku tidak mau dia tahu aku mengikuti pertarungan itu.
"Jadi kau sudah memiliki seorang kekasih? Wah, beruntung sekali hidupmu. Hah, kita berdua sampai sekarang, tidak pernah memiliki seorang kekasih," jawabnya lalu mendekatiku dan melihat obat yang sudah aku keluarkan dari ransel. "Aku akan bisa dengan mudah mendapatkan obat ini. Tenang saja," lanjutnya kemudian membawa obat itu dan segera memberikan kepada kakaknya.
"Kau selalu membawa obat-obatan?" tanyanya sekali lagi.
Aku mempelajarinya. Aku membawa semuanya. Tapi tidak banyak.
"Apakah bisa, kau ... maafkan bisa menjadi dokter? Kau ... bisu," ucapnya pelan. "Aku paham bahasa isyarat. Kakakku ini juga bisu. Dia bercita-cita ingin menjadi petarung. Makanya aku ke sana," lanjutnya mengejutkanku. Tapi, aku sebaiknya tidak menanyakan hal lebih. Aku memiliki urusan lebih penting.
Setelah melihat rumah Dokter Alberth, aku pamit akan pergi. Hei, sebaiknya kalian melarikan diri saja. Jangan kembali ke sana. Menjadi buronan lebih baik dari pada besok kalian mati di sana. Akan lebih merugikan.
Pemuda itu hanya menatapku begitu saja. Sepertinya dia juga tidak ingin bercerita lebih tentang kehidupannya kepadaku.
"Rumah dokter itu ada di ujung rumah yang paling tidak terawat itu. Sepertinya dia memang sangat misterius. Seorang dokter, tapi tinggal di rumah yang sangat tidak terawat. Bukankah itu sangat aneh? Namun, rumah itu memang paling besar yang berada di kompleks ini."
Terima kasih atas bantuanmu
Baiklah, aku akan segera pergi. Jaga diri kamu baik-baik.
Aku sedikit tersenyum, lalu keluar dari rumah. Kakiku terus melangkah, menuju pojok rumah yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Aku berjalan dengan sangat cepat untuk ke sana. Aku harus menanyakan sendiri kepada Dokter Albert. Kenapa dia tiba-tiba menghilang dan melepaskan semua tanggung jawabnya kepadaku?
Apa ini?
Namun, sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi sekali lagi. Aku sangat mengenal sebuah mobil yang berada di depan halaman itu. Mobil yang sering aku lihat ketika mantan istri Rey mengejarnya. Apakah itu mobil dia, Amelia?
Kepalaku terus berputar, berpikir. Bagaimana jika memang aku masuk ke dalam, lalu mantan istri Rey ... Amelia ada di sana? Tentu saja nyawa Rey dan Putri akan benar-benar terancam. Tapi, aku harus menemui Dokter Albert.
Aku kembali terus melangkah, menuju balik pohon yang cukup besar. Aku akan memanjat dan melihat siapa saja yang berada di dalam rumah dari atas pohon itu yang menjurus ke jendela. Itu adalah satu-satunya cara yang harus aku lakukan.
Sekuat tenaga aku terus memanjatnya, hingga aku benar-benar sampai di puncak. Aku mengatur posisiku dengan baik. Jangan sampai aku terjatuh.
Semua ini sangat misterius buatku. Ada hubungan apa Dokter Albert dengan Amelia? Walaupun yang aku tahu, kekasih Amelia itu adalah keponakan Dokter Alberth.
Aku terus menyorotkan pandangan, mengamati dalam dengan saksama. Untung saja kaca jendela itu cukup bersih hingga membuatku bisa mengamati dengan jelas.
Seseorang telah terbaring di atas ranjang. Dokter Alberth kebingungan untuk memeriksanya. Dia adalah seorang perempuan. Apakah itu Amelia? Kini aku baru ingat Amelia ternyata mengidap penyakit. Tapi, kenapa dia disembuhkan di suatu tempat yang sangat terpencil?
"Kau! Turunlah!"
Apa? Gawat!