"Kau! Untuk apa ke sana? Wei, segera turun! Jangan pernah menguntit rumah seseorang! Turun!"
Ini benar-benar gawat. Seseorang memergokiku. Aduh, aku pasti akan dibawa ke kantor polisi, karena pasti aku dianggap seperti maling. Perlahan aku menuruni pohon ini, berjalan cepat mendekati mereka. Aku berdiri tegak di hadapan dua pria yang berkacak pinggang menatap ku dengan amarah. Aku sudah mampus!
"Apa yang kamu lakukan di sana? Untuk menguntit seseorang? Kamu pasti maling! Ayo ikut aku ke kantor polisi! Jangan pernah banyak bicara," ucap salah satunya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah menemukanku dan aku tidak bisa mengelak. Semua bukti sudah jelas. Aku memang seperti seorang maling!
Aku hanya ingin memeriksa seseorang di dalam sana. Ada orang yang sakit dan juga, ada dokter yang memeriksanya. Aku kenal dengan dokter itu. Aku ingin menemuinya, karena aku membutuhkan dia. Bagaimana jika kita masuk ke dalam? Dia sangat mengenalku.
"Jadi kau bisu? Hmm, tidak bisa berbicara? Ah, ada-ada saja. Orang bisu banyak ulah. Sudah, nggak usah banyak alasan. Sekarang ikut saja aku ke kantor polisi. Tidak ada hubungannya dengan rumah sebelah. Semuanya baik-baik saja sebelum kamu datang menguntit seperti itu. Sangat meresahkan warga saja kamu itu!"
Jangan bawa aku. Lebih baik aku pertemukan saja aku sama tuan rumah yang sudah aku awasi ini. Biar saja mereka yang memutuskan aku dihukum seperti apa. Kalian jangan main hakim sendiri. Itu tidak benar.
"Halah, orang sudah enggak bisa bicara ngotot saja. Enggak tahu malu kamu itu. Hah sudah! Mending nggak usah ngomong panjang lebar."
Mereka berdua menarikku dengan sangat paksa. Aku terus menahannya. Untung saja tubuhku lebih besar dari mereka. Hingga aku tidak terlalu susah untuk menahan langkah kakiku agar tidak melangkah.
"Orang bisu, jangan main-main ya. Kamu itu tidak tahu, lagi berurusan dengan siapa?!" bentaknya keras.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di sini?"
Seorang pria berkaca mata dan memiliki sedikit kumis, datang tiba-tiba di antara kami. Dia memisahkan kami segera. Untung saja ada orang ini. Aku sedikit menjadi lega.
"Pak! Dia menaiki pohon, lalu mengamati rumah itu. Dia ini maling Pak! Sangat mencurigakan. Tadi kami berdua sudah memergokinya. Tapi, dia membantah. Lebih baik kami akan membawanya ke kantor polisi segera, agar dia mendapatkan hukuman!"
"Benar itu!" balas satunya masih mengawasiku dengan kesal.
Aku masih tidak terima jika diperlakukan seperti ini. Memang aku sudah bersalah memandang rumah seseorang persis seperti maling. Tapi aku juga harus menjelaskan. Gawat jika aku masuk penjara. Bagaimana nasibku nanti. Rey dan Putri juga akan sangat berantakan. Aku berjalan cepat mendekati lelaki yang berkacamata itu, lalu menarik lengannya agar dia memandangku.
Namaku Midas, Pak. Aku tidak bisa berbicara. Semoga saja Bapak bisa mengetahui bahasa isyarat yang aku gunakan ini. Aku mengenal seseorang yang berada di rumah itu. Dia adalah dokter dan aku perlu bertemu dengannya. Tapi aku memanjat untuk memeriksa, apakah dia ada di rumah. Jika tidak percaya, aku bisa masuk ke dalam. Dia sangat mengenalku.
Lelaki berkacamata itu sepertinya mengerti apa yang aku katakan. Dia menatapku dengan seksama. Semoga saja dia benar-behar bisa mengerti apa yang aku katakan. Jika tidak, aku benar-benar akan celaka hari ini.
"Untung saja aku ngerti apa yang kamu katakan. Jadi, kamu kenal dengan orang yang ada di dalam sana? Baiklah, kita akan pergi ke sana dan menanyakan apakah yang kamu katakan itu memang benar. Jika tidak. Terpaksa aku harus membawamu ke kantor polisi. Kamu jangan pernah mengelak lagi."
Dengan berat aku menganggukkan kepala, lalu memaksa memasang senyuman. Kami semua berjalan cepat menuju pintu utama. Aku melihat kanan kiri, rumah ini sangat tidak terawat. Tapi, cukup besar. Lebih tepatnya seperti rumah hantu. Sangat mengerikan.
Berkali-kali pria itu mengetuk pintu rumah. Namun tidak ada yang membukanya. Aku sudah jelas-jelas melihat semua orang berada di dalam. Tapi kenapa sekarang suasana menjadi sangat sunyi. Ini benar-benar sangat misteri.
"Kamu yakin ada orang di dalam? Hmm, sepertinya ini rumah tidak berpenghuni. Memang sudah lama sekali tidak ada orang yang tinggal di sini. Tidak mungkin tiba-tiba kau melihat seseorang. Apalagi dokter. Apakah kamu berhalusinasi, atau mempunyai penyakit?"
Aku menggeleng kepala dengan keras. Tidak mungkin aku memiliki halusinasi yang sangat bodoh seperti itu. Sudah jelas-jelas aku melihatnya.
Pak aku benar-benar melihat ada penghuni di sini. Aku melihatnya dari jendela yang ada di atas itu. Makanya aku menaiki pohon. Bagaimana jika kita mendobraknya saja?
"Mendobrak rumah orang tanpa melakukan permisi itu namanya kejahatan. Seperti yang kamu lakukan itu. Haduh, menguntit dengan seenaknya sendiri. Sudahlah, tidak ada orang di sini. Jangan pernah membantah. Sebaiknya aku mengantarmu ke kantor Polisi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kau Jelaskan saja di sana. Sangat merepotkan saja. Aku ini banyak sekali urusan. Huh, tidak mengurusi masalah seperti ini," protesnya dengan kesal sambil melirikku tajam.
Pak aku tahu siapa yang bisa menjadi saksi. Pemuda yang tinggal di rumah sana. Yah, rumah yang dipenuhi dengan taman yang sangat indah itu. Mereka tahu jika di sini ada seorang dokter yang bernama Dokter Alberth. Mereka yang memberitahukan aku tempat tinggalnya.
Ketiga pria itu saling menatap. Mereka menggelengkan kepala, lalu menepuk jidat secara bersama-sama. Aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hari ini aku benar-benar seperti seseorang yang linglung dan dipermainkan oleh hantu.
"Aduh, tidak ada yang tinggal di rumah yang rapi itu. Rumah itu juga rumah kosong. Sudah lama mereka tidak tinggal di sana. Kedua saudara itu sudah tidak ada lagi. Entahlah mereka ke mana. Aku juga tidak tahu. Sudah cukup! Jangan mengada-ngada kamu. Atau ... kamu jangan-jangan memang bertemu dengan salah hantu. Aduh ngeri."
Aku menarik napas panjang, berusaha mengatasi sebuah peristiwa yang sangat menegangkan hari ini. Aku lebih baik menyerang lima orang, dari pada aku harus bertemu dengan orang-orang yang sangat aneh. Tapi Abdul dan Rahman juga melihat bahwa mereka itu ada, dan bukan hantu. Ah, ini benar-benar sangat membingungkan. Lebih baik aku segera pulang dan beristirahat. Rey dan Putri pasti akan menungguku. Kebetulan saja lokasi rumahnya tidak jauh dari sini. Tapi, apakah mereka akan melepaskanku?
"Woi, malah ngelamun. Udah! Kamu itu sekarang lebih baik pulang. Tak maafkan. Jangan pernah aku melihat batang hidungmu di sini lagi. Jika kamu muncul, aku akan benar-benar membawamu ke kantor polisi. Camkan itu baik-baik."
Makasih, Pak.
Sangat lega, mendengar dia melepaskanku. Aku menganggukan kepala, lalu berjalan meninggalkan perkampungan itu. Aku ingin sekali menengok ke belakang, tapi aku tahan. Aku tidak mau tertangkap oleh mereka lagi. Tapi, siapakah 2 pemuda itu? Lalu, apakah yang aku lihat dari atas pohon itu memang Dokter Alberth? Tapi, kenapa mereka mudah sekali menghilang dari sana. Kenapa mereka bersembunyi di dalam?
Pasti mereka menyembunyikan sesuatu yang sangat rahasia dan ini ada hubungannya dengan Amel. Aku hanya ingin bertemu dengannya, menanyakan bagaimana kelanjutanku untuk bersekolah di universitas itu. Aku sangat ingin sekali menjadi seorang dokter, dan hanya dia yang bisa membantuku.
Sebenarnya aku sangat penasaran sekali. Ingin rasanya aku kembali mengendap-endap menuju rumah itu dan memasuk paksa. Apalagi orang itu mengatakan rumah kedua pemuda yang sudah aku temui itu sebenarnya tidak berpenghuni. Lalu aku ingin menemui siapa? Argh, ini benar-benar membuatku sangat pusing.
Kakiku terus melangkah menuju ke jalanan. Hingga aku melihat perkumpulan orang yang sangat mencurigakan di depan. Aku berlari cepat bersembunyi di balik pohon untuk mengamati kejadian itu.
Dia ... adalah Amelia dan bersama dengan Dokter Alberth? Mereka masuk ke dalam mobil itu? Hah, apa yang sebenarnya terjadi? Andai saja aku bisa berteriak dan memanggil Dokter Alberth agar dia mengetahui aku ada di sini. Ah ... apa yang harus aku lakukan? Ini benar-benar sangat membingungkan buatku.
Aku terus mengikuti mereka. Aku catat nomor plat nomor itu. Aku akan mencari Roy dan memeriksanya. Aku harus tahu ini semua. Ini tidak bisa aku lepaskan.
"Kau, kenapa masih di sini?"
Kedua mataku tidak percaya. Aku melihat pemuda yang tinggal di rumah sangat rapi itu. Bukankah kata semua orang mereka tidak ada? Aku spontan melihat kakinya yang jelas menyentuh tanah. Yah, dia memang bukan hantu. Membuatku sangat lega. Hanya saja, mereka dianggap hantu. Tapi, aku tidak akan pernah memikirkannya.
Aku mau mengikuti mobil itu. Tapi, aku terlambat.
"Ikuti, aku!"