Aku mengikutinya. Pemuda itu aku tidak tahu namanya. Akan aku tanyakan nanti.
Yang penting dia bukan hantu. Sudah jelas kakinya menapaki tanah.
"Namamu siapa?" tanyanya masih berjalan menuju rumahnya.
Dia menatapku tajam, dan menghentikan langkahnya. Aku juga melakukan hal yang sama.
Namaku Midas. Aku mahasiswa di salah satu universitas kedokteran milik Dokter Alberth yang kau lihat kemarin itu. Yah, dokter yang tinggal di rumah yang berada di ujung itu. Namun, aku tidak melihatnya sekarang. Bahkan, aku kepergok warga saat memanjat pohon dan memeriksanya. Entahlah ini semua sangat membingungkan. Apa kau benar-benar akan mengantarku mengikuti mobil itu?
"Yah, aku akan mengantarmu dan membawamu pulang sekarang juga," katanya. "Kau harus segera sampai di rumah. Kenapa masih berkeliaran seperti maling? Kau ini sangat merasakan saja," lanjutnya dengan kesal. Entah kenapa dia merasakan hal itu, padahal aku tidak melakukan apa pun kepadanya.
Beberapa warga mengatakan kau tidak pernah tinggal di sini. Hei, sebenarnya siapa dirimu?
"Apakah aku perlu menjawab semua oertanyaanmu? Dengar, kita ini baru kenal. Aku tidak perlu menjelaskan apa pun denganmu. Sekarang, masuklah ke mobil itu dan aku akan mengantarmu."
Pemuda itu memasukinya mobilnya setelah melirikku kesal. Sejenak aku berdiri, berkacak pinggang memikirkan apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus masuk ke dalam mobil ini? Tapi, jika aku harus menaiki bus dan pulang sendirian, sepertinya waktu sudah menjelang malam. Tidak mungkin aku melakukan hal itu. Aku akan terlambat sampai di rumah, membuat Rey dan Putri semakin gelisah. Lebih baik aku menerima penawarannya.
Kini mobil melaju dengan cepat. Aku meliriknya, dia mengendarai mobil itu dengan sangat serius. Dia terus mengamati plat nomor yang aku sodorkan padanya. Kedua matanya memasang tajam semua plat nomor mobil yang berada di hadapannya. Aku pun melakukan hal yang sama. Tetapi, aku terlambat. Aku tidak bisa menemukan plat itu. Ssebaiknya aku nanti akan meminta Roy saja untuk membantu. Yang terpenting, aku harus pulang ke rumah dengan cepat.
"Kita sepertinya kehilangan mobil yang kau cari. Maafkan, aku mengecewakanmu."
Bagaimana keadaan kakakmu? Kau lebih baik kabur dan jangan kembali dengan pertarungan itu. Hei, pikirkan keselamatan kakakmu. Dia akan mati jika terus melakukannya. Bukankah kau sangat menyayanginya?
Dia tidak menjawab apa yang aku katakan. Dia sebentar melirikku, dan kembali konsentrasi dengan kemudinya.
Aku menunjukkan jalan agar dia mengikuti semua arahku. Dalam sekejap, kami sampai di depan rumah. Pasti Rey sudah mengamatiku dari jendela dan merasa resah karena aku membawa seseorang menuju rumah itu. Padahal ini adalah lokasi yang sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tapi, karena situasi mendesak, membuat aku melakukan ini. Yah, sebaiknya aku berharap dia tidak orang jahat yang berhubungan dengan mereka.
"Kita sudah sampai rumah. Cepatlah keluar dan jangan kembali lagi ke desa itu. Kau ... jangan mencampuri urusanku dan semua yang ada di sana. Apa kau mengerti Midas?" tegasnya semakin membuatku curiga. Untuk apa dia melakukan itu?
Aku akan kembali ke sana, karena aku membutuhkan Dokter Albert. Sebaiknya kau memikirkan apa perkataanku. Aku ulangi lagi. Jangan pernah kembali ke pertandingan itu. Kamu akan bisa kehilangan nyawa jika melanjutkan. Dia memiliki penyakit riwayat jantung. Kau, pikirkan baik-baik apa yang aku katakan ini. Sekali lagi terima kasih sudah mau mengantarku pulang.
Dia hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali melesat saat aku benar-benar keluar dari mobil.
Rey dari kejauhan melambai ke arahku. Aku segera menghampirinya.
"Midas. Siapa dia?" tanyanya melotot sambil mengangkat kedua tangannya.
Seorang pemuda yang membantuku. Ayo masuk ke dalam. Aku akan menjelaskannya di dalam.
Rey semakin menatapku dengan menggelengkan kepala. Aku sangat tahu. Dia mungkin kesal, aku membawa seseorang yang tidak dikenal. Aku sebaiknya menceritakan semua kepada Rey. Ya, kecuali pertarungan itu, tidak akan pernah aku katakan. Tentu saja dia akan semakin marah, bahkan akan menghukumku. Aku tidak akan pernah diizinkan untuk keluar dari rumah.
"Sudah! Kau, sekarang jelaskan. Kita sudah berada di dalam. Aku sudah menutup pintu dengan rapat, bahkan tidak ada orang yang akan mendengarkan pembicaraan kita." Rey semakin menatapku tajam.
"Midas, siapa dia, dan kenapa kau bawa ke sini? Midas, apa kau sudah gila? Kita di sini bersembunyi. Argh, untuk apa kau selalu membawa orang asing mengantarmu? Apa kau ingin memberikan lokasi kita? Bagaimana jika mereka adalah salah satu bagian dari gerombolan itu? Jangan pernah melakukan suatu hal yang sangat bodoh. Aku tidak ingin kita celaka. Kita harus tetap bersembunyi sampai situasi reda. Kau harus mengerti itu."
Aku menemukan Dokter Alberth dan pemuda itu yang memberitahukannya. Aku mengikutinya dan ternyata aku memang benar-benar melihatnya di sebuah rumah menyembuhkan seorang wanita.
Rey mengernyit tidak mengerti apa yang sudah aku katakan. Dia semakin tidak paham.
"Midas, apa yang kau katakan? Siapa wanita itu? Hei, jangan bilang jika dia adalah Amelia! Midas, katakan yang sesungguhnya. Kau semakin membuatku panik!"
Benar. Dia adalah Amelia. Makanya aku sangat bingung. Dokter Alberth tiba-tiba menghilang. Sekarang dia menyembuhkan Amelia. Aku sendiri tidak tahu, Rey. Sudahlah, aku hanya ingin beristirahat dan menenangkan pikiranku. Aku ada sedikit uang untuk berbelanja besok pagi. Kau pergilah untuk membeli keperluan Putri. Jangan bertanya uang ini dari mana. Kau tahu sendiri aku adalah pewaris kekayaan keluargaku yang sangat banyak. Tentu saja aku memiliki tabungan.
Aku menyodorkan uang satu juta padanya dan aku membawa sedikit sisanya untuk aku gunakan kembali menuju pertarungan itu besok pagi. Semoga saja Rey tidak menanyakan hal-hal yang diluar pikiranku. Karena aku tidak mau dia melakukan hal itu.
"Kau tahu, aku ini adalah psikologi handal dan mengerti semua ekspresi dari wajah yang ada di hadapanku. Tentu saja kau sangat berbohong. Cepat katakan dari mana uang satu juta ini, Midas!"
Ayolah. Rey, apa yang harus aku katakan kepadamu? Apakah kau tidak percaya? Baiklah, kita sebaiknya pergi ke ATM dan kita memeriksa bagaimana isi dari tabunganku itu. Rey, kita sekarang akan pergi!
Entahlah kenapa aku berkata seperti itu. Sangat ceroboh! Bagaimana jika dia mengiyakan. Aku harus ke ATM, lalu menunjukkan isi di dalam mesin itu yang sama sekali tidak aku punya.
Rey masih mengamatiku dengan seksama. Aku berusaha memperlihatkan wajah kejujuran walaupun dibaliknya penuh dengan kebohongan. Dia tidak boleh mengetahuinya. Aku harus mencari alasan lain untuk menutupinya.
Apalagi yang harus aku sembunyikan. Apakah aku harus mengatakan jika aku mendapatkan uang dari pemuda itu? Rey, tidak mungkin dia meminjamkan uang sebanyak ini. Oke, Roy yang sudah mengirimkan uang itu. Puas mendengarnya? Apa yang aku jelaskan ini benar. Roy tidak ingin aku memberitahumu, karena dia tidak mau pertolongan ini dianggap hutang budi. Apakah aku kurang jelas memberitahukan padamu? Ya, Roy sangat kaya raya, Rey. Kau pasti tahu, uang satu juta saja untuk apa dia tidak memilikinya?
Aku kali ini membawa nama Roy dalam masalah ini. Sebaiknya dia akan memaafkanku nanti. Atau ... dia tidak akan pernah kubiarkan untuk mengetahuinya. Rey, menatap diriku dari atas bawah. Aku berusaha memperlihatkan gigi putih rataku untuk menyembunyikan perasaan panik yang ada di dalam pikiranku. Hanya alasan ini yang bisa aku katakan kepadanya, untuk menutupi semuanya. Dan, semoga saja dia akhirnya bisa mempercayainya.
"Baiklah, kali ini aku percaya kepadamu jika ini memang dari Roy. Sebaiknya kau mandi. Lihatlah. Tubuhmu penuh dengan debu seperti itu. Sangat bau! Setelah itu, makanlah dan istirahat. Simpan tenagamu ini. Jangan melakukan suatu hal yang sangat salah. Besok, kita akan kembali membicarakan masalah Dokter Alberth dan Amelia. Argh, ini benar-benar membuatku pusing, Midas. Diamlah dan jangan sampai Putri mengetahuinya, jika ibunya sakit. Dia akan sangat terpukul."
Aku akan mengingat semua perkataanmu. Tunggulah aku sampai selesai membersihkan diriku. Kau benar, aku sangat gerah.
Aku berjalan memasuki kamar yang sudah disiapkan untukku. Kaos dengan celana jeans sesuai dengan ukuran tubuhku, sudah siap berada di atas ranjang. Pasti Ana yang sudah menyiapkannya dengan segera. Aku sangat merindukannya. Yah, itulah cinta.
Aku membersihkan tubuhku, segera memakai pakaian yang sudah disiapkan untukku.
Kakiku melangkah mendekati pintu. Ternyata Rey sudah duduk menungguku untuk keluar. Wajahnya sangat pucat. Aku semakin kawatir kepadanya. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan sama sekali tidak mengetahui semua misteri ini. Aku tidak bisa memecahkannya. Belum lagi ditambah aku besok harus tepat waktu datang ke pertarungan itu. Jika tidak, mereka akan sangat marah dan mengancam nyawaku. Sepertinya aku sudah benar-benar jatuh ke dalam jurang. Semakin jatuh di dasar jurang yang sangat dalam.
Aku berjalan mendekati dia sontak menatapku dengan wajah penuh rasa panik tangannya melambai agar aku duduk di sebelahnya
"Midas, sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu, aku tidak ingin mengakhiri hidupku dengan menjalani kehidupan seperti ini. Aku tidak rela Jika Putri mengalami suatu hal yang sangat membahayakan seperti ini. Apa sebaiknya aku bertemu dengan Amelia dan membicarakan masalah ini? Yah, menyelesaikan dengan cara baik-baik. Jika aku terus kabur, kehidupanku tidak akan menjadi semakin baik, Midas. Kasihan Putri."
Berpikirlah terhadap semua hal yang akan mempengaruhi hidupmu. Karena keputusanmu itu tergantung oleh kehidupan Putri selanjutnya. Jangan ceroboh memutuskan semuanya.
"Sekarang katakan! Apakah kau memang sudah pernah melihatnya? Katakan kepadaku, Midas. Jangan pernah mengurangi atau menambahnya. Katakan dengan jelas. Tolonglah, aku tidak bisa berdiam seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Aku juga ingin menolongmu kembali ke Universitas itu. Kau harus menjadi dokter, Midas. Jangan karena diriku, kau putus harapan seperti itu. Aku tidak mau."
Aku saat itu berjalan bertemu dengan seorang pemuda. Dia terkena serangan jantung dan aku berusaha untuk menolong. Aku memberikan obat yang biasa aku bawa. Obat pereda nyeri. Dia menerimanya, lalu berhutang budi kepada aku. Ya seperti itulah.
Aku semakin menatap Rey. Dia mendengarkan semua perkataanku dengan sangat serius. Dalam pikiranku, aku terus mencari sebuah cerita untuk menutupi pertarunganku itu. Semoga saja dia tidak bisa membaca ekspresi kebohonganku.
Aku saat itu tidak tahu harus ke mana. Aku mengikutinya ke rumah, lalu dia mengatakan di ujung sana ada dokter bernama Alberth. Tentu saja aku memeriksanya dan aku mau melihat itu. Tapi, maafkan aku. Aku kehilangan jejak. Namun, kau tenang saja. Aku mencatat plat nomor mobil itu yang membawa Amelia pergi. Aku akan meminta bantuan Roy untuk mencarinya.
"Temukan plat nomor itu. Bawalah aku kepada mereka, Midas. Tolonglah. Di sana juga ada Dokter Alberth. Aku akan memintanya untuk membawamu kembali ke Universitas, dan menyelesaikan kuliah itu sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Lakukanlah itu, Midas."
Aku hanya menganggukan kepala. Entahlah apa yang harus aku lakukan. Tapi, yang jelas aku memang akan mencari plat nomor itu, lalu memikirkan cerita kembali untuk aku jelaskan kepada Rey. Yang terpenting, besok pagi aku harus menyelesaikan pertarungan itu.
Percayalah. Aku akan membawamu ke sana. Sekarang aku membutuhkan istirahat. Kau juga harus melakukan hal yang sama. Besok pagi aku ada urusan, lalu aku akan menemui Roy. Aku akan memberikan kabar baik untukmu. Percayalah Kepadaku, Rey.
Dia menganggukkan kepala, sedikit memberikan senyuman. Aku merasa lega. Akhirnya dia memperlihatkan wajah seperti itu.
Kami sama-sama memasuki kamar. Aku sepanjang malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin Rey juga mengalami hal yang sama. Besok adalah hari baru, hari di mana kehidupanku semakin sulit untuk aku jalani.
Keluar dari rumahku dulu yang sangat megah itu dengan semua pelayanan yang aku terima setiap pagi yang aku anggap itu adalah hal yang sangat membosankan, padahal itu adalah hal ternyaman di dunia. Sekarang aku sadar kehidupan di luar ini penuh dengan masalah. Bahkan, nyawa sebagai taruhannya. Aku harus menyelesaikan semuanya untuk meraih apa yang harus aku inginkan.
Matahari bersinar membangunkanku di atas ranjang. Ternyata aku tertidur saat melamunkan sesuatu. Aku terperanjat, segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri kembali. Dengan cepat aku memakai pakaian, menyusul Rey yang sudah berada di depan meja makan untuk menyiapkan sarapan bersama Putri.
Tanpa berbasa-basi lagi, aku mengambil roti berisi selai itu, lalu melambaikan tangan ke arahnya dan berlari keluar rumah. Waktuku tinggal 30 menit lagi untuk sampai di pertarungan itu. Argh, ini sangat gawat. Aku tidak bisa terlambat. Dan, itu malapetaka!
"Midas! Kau ini, kenapa kau terburu-buru? Apakah kau melihat hantu?" teriak Rey yang aku abaikan. Aku hanya mengambil roti itu, lalu berlari cepat menuju keluar rumah
Kenapa aku bisa terlambat bangun? Argh, aku bisa celaka!
Aku semakin menambah kecepatan berlari hingga sampai di halte bis tepat waktu. Semua penumpang mengamatiku dengan aneh. Aku tidak menanggapinya. Jantungku rasanya mau pecah akibat berlari. Aku mengaturnya dengan baik.
Gawat, aku terlambat selama, entahlah berapa menit. Kakiku terus berlari kencang menuju ke gedung pertarungan itu.
"Apa kau mau mati! Terlambat selama sepuluh menit? Aku sangat marah! Aku sudah mengatakan! Kau, tidak boleh terlambat! Kenapa kau melakukan itu!" teriak Dad sangat kencang.
Gawat!