Kemenangan Awal Pertarungan

1502 Kata
Ini adalah benar-benar hari sial buatku. Hari pertama aku akan melakukan pertarungan, aku malah terlambat walaupun hanya 5 menit Wajah menyeramkan sudah Dad diberikan tepat di hadapanku. Aku hanya bisa terdiam, menundukkan kepala sambil berdiri bersama petarung lainnya yang melakukan hal sama. "Apa kalian sudah gila? Tidak mengikuti peraturan sejak pertama, berarti kalian sama saja sudah kehilangan nyawa! Aku tidak pernah bermain-main dalam hal ini. Camkan itu baik-baik. Kepalaku sangat pecah rasanya melihat kalian semua tidak menghiraukan apa yang aku katakan! Abdul, atur mereka dengan baik. Jika sampai mereka terlambat lagi besok pagi, kau yang akan menanggung semuanya," ucapnya sembari menunjukkan jemarinya tepat di wajah Abdul yang terpaku seketika. Aku sangat kasihan dengannya. Abdul masih berkacak pinggang, lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Aku tidak tega untuk memandang wajahnya. Dia sangat kecewa, apalagi denganku. Lebih baik aku diam saja sampai dia menegurku. "Kalian tahu, sebelum kalian datang, ada satu orang yang melakukan hal ini dan membantah apa yang dikatakan Dad. Dan, barusan dia kehilangan kelima jemari kanannya. Kalian tidak ingin hal itu terjadi pada kalian bukan? Jadi, jangan pernah bermain-main dengan semua perkataannya. Katakanlah iya jika kalian mengerti!" teriak Abdul keras. "Ya! Kami mengerti!" balas mereka berteriak bersama-sama. Sementara aku menggunakan bahasa isyarat. Abdul sedikit melirikku. Aku masih saja menundukkan kepala. Sekarang aku harus memenangkan pertandingan ini. Membuat Abdul percaya jika aku memang sangat serius dengan pertarungan ini. "Aku akan melakukan pengundian. Nanti, pemenang 3 kali berturut-turut akan ikut bersamaku menuju mobil dan segera masuk dalam pertandingan besar. Bersiaplah!" lanjut Abdul lalu meninggalkan kami begitu saja. Aku tidak percaya melihat pemuda itu bersama kakaknya yang masih saja ikut dalam pertarungan ini. Padahal aku sudah memperingatkan mereka untuk tidak mengikutinya. Kenapa mereka masih saja melanggar? Kakak dari pemuda itu memiliki riwayat jantung. Dia bisa mati dengan sekali pukulan yang tertuju ke bagian depan tubuhnya. Dia harus berhenti dan segera kabur. Lebih baik aku mendekati dan memperingatkannya sekali lagi. Dia semakin memicingkan kedua mata bulat hitamnya ketika aku mendekatinya. Mungkin dia paham dengan apa yang akan aku lakukan. Kenapa kau harus mengikuti pertandingan ini? Bukankah aku sudah memberitahukanmu untuk tidak mengikutinya. Hei, kakakmu tidak bisa melakukannya. Kau tidak mau kehilangan nyawamu bukan? Sekali pukulan itu jika mengenai bawah lehermu kirimu, kau akan kehilangan nyawamu. Aku berkata dengan sungguh-sungguh. Spontan dia mendorong tubuhku dengan keras, lalu menunjuk jemarinya tepat di hadapanku dengan sangat tegas. "Jangan pernah ikut campur dengan apa yang akan aku lakukan. Kau tidak berhak menasehatiku. Sekarang pergilah dan jangan mendekatiku, karena sepertinya kita yang akan bertanding untuk pertama kalinya. Hmm, dan ... aku sangat berharap untuk melawanmu. Aku ingin sekali menghajarmu!" Apa salahku hingga kau sangat membenciku? Aku mengatakan yang sesungguhnya. Baiklah, memang sebaiknya kau melawan aku saja karena aku tidak akan pernah menyerangmu pada bagian jantung itu. Tapi, tidak akan berlaku dengan petarung yang lainnya. Mungkin kau akan tergeletak lemas jika bertanding dengan petarung lainnya. "Pergilah lelaki tidak tahu diri, atau aku akan membuat keributan yang membuat diri kita tidak akan pernah melakukan pertandingan itu dan malah mendapatkan hukuman!" Ancaman yang membuatku sangat resah. Padahal aku berniat baik kepadanya. Namun, dia tidak menerima hal itu. Aku meninggalkan dia dan membiarkan dirinya melakukan hal bodoh. Semoga saja tidak terjadi hal yang sangat buruk menimpanya. Aku tidak ingin melihatnya sama sekali. Abdul telah siap dengan beberapa nama. Memang benar. Dia memanggil namaku untuk melakukan pertandingan pertama kali bersama dengan kakak pemuda itu yang sudah siap mengepalkan kedua tangannya sambil memberikan lirikan sangat tajam kepadaku. Dia sepertinya merasa dendam padaku, karena aku sudah mencegah dirinya untuk melakukan pertarungan. "Kau akan aku kalahkan dengan cepat. Terimalah kekalahamu itu," ucapnya tajam saat melewatiku. Pemuda itu masih saja memicingkan kedua mata saat masuk ke dalam ring. Aku menarik napas panjang lalu melepaskan kemejaku dan memasukkannya dengan rapi ke dalam tas ransel yang sudah aku bawa. Aku tidak ingin terlihat kusut. Aku harus pulang masih terlihat rapi di depan Rey dan Putri. Mereka tidak akan pernah curiga kepadaku. "Midas, masuklah! Kenapa kau sangat lama!" teriak Abdul kesal. Aku spontan bergegas menyusul pemuda itu yang sudah siap di dalam ring. Di dalam ring, kami saling menatap tajam. Aku tidak tahu harus bagaimana melawannya. Karena aku juga tidak ingin membunuh seseorang hari ini. Namun, aku harus memenangkan pertandingan ini untuk bisa lanjut menuju pertandingan yang cukup besar. Yah, aku sangat membutuhkan uang yang cukup banyak untuk melangsungkan kehidupanku. Walaupun aku sudah terlihat sangat jelas masuk ke dalam kandang singa yang sangat mengerikan. Bahkan, aku sama sekali tidak bisa keluar dengan selamat. Tapi, ini yang harus tetap aku lakukan. "Jangan diam saja! Kau, ayo lawan aku! Kau laki-laki lemah!" teriaknya dengan makian yang sama sekali tidak membuatku marah. Aku sangat paham jika dia memancing emosiku, agar aku memulai perlawanan terlebih dahulu. Namun, itu tidak akan pernah aku lakukan. Aku ingin dia melawanku dahulu, lalu aku akan menampisnya. Aku akan membuat dia lelah dan akhirnya menyerah. Dia memiliki riwayat penyakit jantung yang akan membuat dirinya sangat lelah dan akhirnya menyerah. Dia tidak akan melanjutkan pertandingan lagi. Itu lebih baik yang akan aku lakukan untuk menyelamatkan nyawanya. "Dasar laki-laki tidak tahu diri! Baiklah, aku akan menyerangmu dan membuatmu celaka!" Dia mulai melayangkan pukulannya. Aku dengan cepat menghindar. Aku terus menghindar, sama sekali tidak membalasnya. Dia bertubi-tubi terus menyerangku, hingga setelah beberapa menit dia mengeluarkan kucuran keringat yang sangat deras dan lelah. Aku hanya diam menatapnya dan menunggu. "Aku tidak boleh kalah! Aku tidak akan pernah menyerah! Aku akan tetap melakukan pertarungan ini! Kau akan mati!" ucapnya dengan sangat percaya diri. Aku tetap berdiam untuk menunggunya bangkit. Tubuhnya sudah sempoyongan. "Cepatlah lawan aku! Jangan banyak bicara! Kau tidak akan pernah memenangkan pertarungan ini. Ayo lawan aku!" Dia terus mendekatiku dan berkali-kali melayangkan pukulannya dengan cepat. Aku sudah melihat wajahnya sangat pucat. Ini tidak bisa aku biarkan. "Lawan aku dasar laki-laki bisu!" Makian itu semakin keras dia katakan. Kali ini aku akan menghentikan pertarungan ini. Aku berjalan cepat, mendadak mendorong tubuhnya dengan keras. Sekali dorongan membuat dia terhempas. Kini dia tergeletak di lantai begitu saja. "Argh," rintihnya menekan bawah lehernya sebelah kiri. Aku tahu pasti dia tidak bisa bernapas. Dengan cepat aku menghampirinya. "Apa yang kau lakukan? Jangan pernah menolongku, karena aku tidak membutuhkan bantuanmu!" teriaknya semakin keras. Aku melambaikan tangan kepada sang adik agar dia segera masuk ke dalam ring dan membawa kakaknya untuk keluar dari sana. "Tidak ada yang bisa keluar dari ring itu sebelum kehilangan nyawa, dan itu adalah aturannya!" ucap Dad dengan sangat keras. Pemuda itu terus berusaha menerobos para pengawal yang menahan kakaknya. Kali ini aku harus bertindak. Ini tidak mungkin aku biarkan terjadi. Dengan cepat aku membuka pintu ring, lalu mendekati Dad. Spontan aku menarik kerah bajunya. "Jangan pernah melakukan hal bodoh padaku, jika kau tidak ingin kehilangan nyawa! Di sini aturannya sudah jelas. Siapa pun tidak boleh keluar dari sini dengan hidup-hidup!" balasnya sembari menampis tanganku, namun aku tahan dengan kuat. "Jika tidak kau lepaskan, kepala mereka akan tertembus peluru saat ini juga," ancam Dad tegas. Aku melepaskan cengkramanku, lalu membalas pandangan Dad dengan tatapan tajam. Aku yang akan menanggung kehidupan mereka. Tapi, tolong lepaskan mereka. Kini mereka berada di dalam genggamanku. Aku akan melawan semua petarung itu dan memenangkan pertandingan ini, lalu memberikan uang yang sangat banyak kepadamu saat lertarungan besar. Tapi, semuanya tidak gratis. Kau, harus melepaskan mereka. Dad diam. Dia menatapku untuk terus berpikir. Aku sangat berharap Dad bisa menyetujui apa yang menjadi saranku. Walaupun aku akan sangat sulit melakukannya. Tapi, ini satu-satunya cara yang harus aku lakukan. "Baiklah, aku akan memberikanmu separuh dari hasil kerja kerasmu dan separuhnya adalah mereka. Lepaskan pemuda itu dan biarkan dia menolong kakaknya!" balas Dad membuat hatiku sangat lega. "Jika kau memegang janjimu, mereka tidak akan pernah menjadi buronan sama sekali. Hidup mereka akan baik-baik saja," lanjut Dad kembali menunjukkan jemarinya tepat di wajahku dengan tatapan tegas. Aku tidak akan pernah mengingkarinya. Sekarang biarkan aku melawan semua petarung itu dan menyelesaikannya dalam waktu singkat. Semua petarung masuk ke dalam ring. Aku benar-benar akan celaka. Tapi, bagaimana lagi. Aku tidak bisa menghindar. Menyelamatkan satu orang, mempengaruhi lainnya. "Kau sangat sombong. Lelaki berwajah cantik terlalu percaya diri untuk mengalahkan kami semua? Haha, aku ingin sekali tertawa," ucap salah satu petarung mulai melayangkan pukulannya. Dengan cepat aku menampis, lalu membalasnya. Satu per satu petarung itu aku bantai dengan cepat. Dad bersama Abdul tidak percaya melihat keahlianku dalam hal bela diri. Aku sedikit melihat ekspresi Dad. Dia selalu tersenyum menatap aksiku, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam tiga puluh menit, semua petarung berjumlah lima orang, kini tergeletak di lantai. Aku berdiri tegak, menatap Dad yang spontan bertepuk tangan ke arahku. Plok! Plok! "Tidak aku sangka. Kau ... sangat hebat. Aku mengira kau adalah lelaki yang lemah. Ternyata, aku memiliki hercules di sini. Hahaha, aku akan memiliki uang yang sangat banyak! Abdul!" Abdul yang juga semringah, segera menatap Dad saat memanggilnya. "Siapkan semua keperluan untuk menuju pertandingan besar, malam ini. Layani dia dengan baik. Apa pun yang dia minta, berikan saja." "Midas, ikuti aku!" Aku benar-benar akan masuk ke dalam kandang singa. Apakah aku bisa keluar nantinya? Aku akan memikirkannya nanti. Yang terpenting, aku bisa menyambung hidupku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN