Melarikan Diri

1300 Kata
"Kau sangat hebat Midas. Bisa memenangkan pertarungan ini dengan sangat cepat. Kau ini siapa sebenarnya? Kau bisa mengobati orang, bisa juga bertarung. Kau seperti seorang bunglon saja. Bisa berubah dalam keadaan apa pun." Abdul masih saja tersenyum ke arahku sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku hanya menganggukan kepala tidak menjawab apa pun yang dia katakan kepadaku. Dalam beberapa menit, tiga pria datang memberitahukan kepada Abdul bahwa semua yang dia inginkan sudah siap di dalam ruangan khusus. Abdul menganggukkan kepala, mengarahkan tangannya tinggi agar ketiga pria itu pergi dari hadapannya. Sementara para petarung yang sudah kalah, terus mengamatiku dengan penuh amarah. Mereka sepertinya dendam kepadaku. Yah, aku abaikan saja. Ini adalah pertarungan. Pasti ada yang kalah, ada juga yang menang. "Midas. Ayo ikut aku ke sana. Kau membutuhkan tenaga sebelum benar-benar malakukan pertandingan." Abdul kembali menarik lenganku. Spontan aku menyambar ranselku, kemudian mengikutinya. Tidak kusangka ada ruangan khusus yang sangat rapi. Di dalamnya terdapat kursi sofa yang cukup mewah terbuat dari bahan kulit, lalu meja di atasnya terdapat semua makanan lezat yang sepertinya ditujukan untukku. "Midas makanlah sepuasnya, lalu simpanlah tenagamu baik-baik. Karena kita akan berangkat ke pertandingan itu satu jam lagi." Abdul akan melangkah keluar dari ruangan.Aku mencegah, dengan menarik lengannya. Aku ingin menanyakan beberapa hal yang sangat membuatku penasaran. Seperti apa pertandingan itu? Apakah memang sangat mengerikan? Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Sementara yang lainnya tidak. "Kau tahu sendiri pemenang adalah segalanya. Jadi, jangan pernah mempertanyakan suatu hal yang kau tahu sendiri jawabannya." Abdul memang benar. Yang terbaik pasti memiliki fasilitas yang sangat baik. Tapi, aku masih saja ingin tahu, sebenarnya apa pertandingan ini. Apa yang terjadi dengan mereka yang kalah. Bukankah mereka tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup? Sedangkan jika meninggalkan ini semua, mereka akan celaka. Abdul, apa yang akan terjadi dengan mereka? Abdul menarik napas panjang mengamatiku dengan seksama. Dia akhirnya duduk di kursi, lalu menyandarkan tubuhnya. "Ya. Kau benar. Mereka tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup. Mereka akan berlatih setiap hari dan kembali bertarung. Itu yang akan terjadi. Kau terlalu banyak ikut campur dalam masalah ini. Pertanyaan bertubi-tubi lontarkan kepadaku. Kau seperti pengacara saja. Jangan-jangan kau bekerja sama dengan aparat untuk menangkap kami," balasnya dengan menatapku sangat serius. Aku segera menggelengkan kepala dengan cepat. Untuk apa aku melakukan itu. Aku sendiri memiliki masalah yang cukup sangat serius. Aku harus menghindari semua aparat. Bahkan aku tidak ingin mereka ikut campur dalam urusanku. Hilangkan tuduhanmu itu. "Baiklah Midas. Kau lebih baik mengatur tenagamu kembali. Menjadi pemenang, akan mendapatkan uang yang sangat banyak. Kau bisa sangat kaya jika memenangkan semua pertarungan itu." Abdul kembali berdiri dari duduknya. Dia kali ini benar-benar keluar dari ruangan. Aku membiarkannya. Lebih baik aku sendiri di dalam sini tanpa ada yang menggangguku. Kemudian berpikir apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Setelah pertandingan besar itu, aku akan jujur pada Rey, lalu kabur begitu saja. Aku masih mengamati makanan yang berada di atas meja tanpa menyentuhnya. Entahlah kenapa perasaanku sangat takut untuk memyantapnya. Tapi, perutku juga sangat lapar. Aku membutuhkan tenaga. Aku mengingat telah mengambil dua roti yang disiapkan Rey saat sarapan tadi lalu memasukkannya ke dalam ransel. Sebaiknya aku memakan itu saja. "Apa yang kalian lakukan! Kami memang sudah kalah. Tapi kami tidak mau diperlakukan seperti ini!" Seseorang dari luar ruangan berteriak kencang. Aku segera menuju pintu dan akan membukanya. Namun sesuatu sangat mengejutkan terjadi. Pintu itu terkunci. Aku tidak bisa keluar dari sini! "Kalian sangat lemah.Kalian tidak dibutuhkan lagi. Lebih baik kalian menghilang. Karena ini adalah peraturannya!" "Tapi kami tidak ingin mati. Jangan perlakukan kami seperti ini. Hei, kami bisa bertarung sekali lagi dan berlatih. Kau memiliki petarung yang sangat banyak. Bukankah ini keuntunganmu? Untuk apa kalian membunuh kami? Tidak ada untungnya sama sekali. Bahkan kau akan sangat kerepotan mencari petarung lainnya." "Apakah aku bisa menjamin kalian tidak membuka mulut ketika keluar ke sana? Aku sangat meragukan itu!" "Kami bisa!" Plak! Teriakan yang tidak asing aku dengar. Sepertinya itu adalah suara Dad dan memang apa yang aku pikirkan terjadi. Para petarung yang kalah itu pasti akan mengalami suatu hal yang sangat buruk. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Mereka tidak mungkin mengalami hal seperti ini. Kenapa mereka harus mati? Aku terus menekan gagang pintu dan tetap saja terkunci. Keributan semakin aku dengar di luar. Ini sangat tidak baik. Perasaanku tidak enak. Aku pasti juga akan mati pada saatnya. Aku mengedarkan pandangan, melihat sebuah jendela yang berada di atas. Untung saja jendela itu terbuka. Dengan cepat aku menarik kursi, lalu menaikinya. Aku segera membawa ranselku, kemudian bergegas keluar dari jendela. Baiklah. Mungkin aku akan mencari uang dengan cara lain, tidak seperti ini. Lebih baik aku menyelamatkan diriku saja. Secepatnya aku keluar dan melompat. Tubuhku menggelundung di tanah. Aku masih selamat. Namun nasib sial menghampiriku. Beberapa pesuruh ternyata mengetahui aku melakukan hal ini. Mereka berlari dengan cepat menghampiriku. "Kau mau melarikan diri! Woi, tidak akan kami biarkan!" teriak mereka. Parahnya, mereka mengeluarkan senjata tajam untuk menyerangku. Gawat! Dengan cepat aku bangkit, melawan mereka satu persatu. Ini benar-benar di luar dugaanku. Aku sudah sangat celaka, membawa masalah baru dalam kehidupanku. Dari kejauhan aku melihat Abdul memegang kepalanya. Dia sangat kebingungan. Untung saja Rahman tidak ada di sini. Dia masih sangat kecil jika harus melihat kejadian mengerikan barusan. Namun, yang lebih membuatku kawatir, Dad keluar mengarahkan senjata api, lalu mengangkat tangannya tinggi agar semua pesuruhnya segera menangkapku. "Tangkap dia!" teriaknya keras. Ini sangat tidak baik. Aku harus segera pergi. Tapi ke mana? Tidak mungkin aku bisa lolos dari semua pesuruh itu yang jumlahnya kurang lebih sepuluh orang. Pukulan terus aku layangkan tanpa berpikir. Yang terpenting, aku akan memukul mereka semua dan memenangkannya, lalu berlari begitu saja. Buk! Buk! Masih dengan sekuat tenaga aku memukul mereka yang terus berdatangan. Keringatku terus bercucuran. Tenagaku sudah mulai mau habis. Tapi, aku tidak akan pernah menyerah. "Midas, masuklah!" Tidak aku sangka pemuda yang aku selamatkan tadi membawa mobil dan berhenti tepat di hadapanku. Secepatnya aku membuka pintu mobil itu dan masuk. Dia melesatkan mobil dengan sangat kencang. Aku segera menolehkan pandanganku ke belakang, melihat apa yang terjadi. Ya, Dad dan Abdul sangat frustasi. Sepertinya mereka mengarahkan tangannya agar semua pesuruh masuk ke dalam mobil untuk mengejar kami. Kejadian ini persis dengan apa yang selalu aku lihat di televisi. Tidak aku sangka akan mengalami hal seperti ini. "Midas! Apa kau sudah gila? Midas, seharusnya kau menurut saja kepada mereka. Tidak perlu memikirkan nasib orang lain. Sekarang kau benar-benar buronan sama persis seperti kami. Kita akan mati, Midas!" Aku hanya terdiam tidak menjawab perkataan pemuda itu. Biarkan saja. Yang terpenting sekarang yang harus aku pikirkan adalah kabur begitu saja dari mereka. Walaupun sebenarnya itu tidak akan pernah terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Pikirkan sesuatu, Midas! Aku memejamkan kedua mataku, terus berpikir. Apa yang harus aku lakukan? "Apakah kau memiliki keluarga, Midas? Argh, jika iya. Telepon mereka segera dan suruh mereka pergi dari rumah. Pasti para penjahat itu akan mencari keberadaan keluargamu dan membunuh semua saja yang sudah kau kenal. Ini benar-benar sangat tidak baik. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi, apakah itu? Kami saling mengejar di jalanan. Pemuda itu mengendarai mobilnya semakin kencang, bahkan menerabas lampu merah. Kau, jangan melanggarnya! Aku menepuk pundaknya dari belakang, dan dia mengamatiku dari kaca spion. "Apa kau sudah gila! Hei, jika aku berhenti di jalan itu, mereka akan menuju mobil kita dan menarik kita keluar, lalu menembak kita begitu saja. Kita sudah melanggar semuanya. Untuk apa kita harus mematuhi peraturan lalu lintas!" teriaknya dengan sangat kesal. Berhentilah! Carilah jalanan yang sepi. Aku mengetahui sebuah cara agar menyelesaikan ini semua. Aku kembali menepuk pundaknya, membuat dia kembali menolehkan pandangan ke arahku dari kaca spion. Dia menggelengkan kepala tidak mengerti dengan apa yang sudah aku rencanakan. "Midas! Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Jangan bertindak sesuatu hal yang sangat bodoh. Jika kita berhenti, mereka akan menangkap kita!" Berhentilah! Karena aku memiliki sebuah cara. Percayalah kepadaku. Berhentilah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN