Selintas rencana terbesit dalam pikiranku. Pemuda itu aku perintahkan untuk menghentikan mobilnya. Dia sangat panik. Dia tetap tidak melakukannya. Aku terus menepuk pundaknya dari belakang. Sang Kakak de sebelahnya pun sangat kesal melihatku.
"Hei, jika kita berhenti lelaki bisu, kita akan mati. Ya, benar. Kita bertiga akan dengan mudah kehilangan nyawa yang tidak tertolong. Kau mau kita seperti itu? Jika kau ingin seperti itu, lebih baik kau melompat saja keluar dari mobil ini dan tinggalkan kami!"
Aku akan menyerahkan diriku. Aku akan menyerahkan tubuhku ini untuk semua petarung itu. Yah, itu yang akan aku lakukan. Jadi sebaiknya kalian menghentikan mobil ini. Biarkan aku menghadapi mereka.
Mereka saling menatap ketika aku berbicara di antara mereka menggunakan bahasa isyarat. Mereka tidak percaya aku akan melakukan hal yang sangat mengejutkan seperti ini. Lebih baik menyerah dari pada kabur. Sudah jelas kita tidak mungkin bisa kabur dari kejaran mereka. Ditambah anak buah Dad yang sangat banyak.
"Kau memang sangat mengejutkan. Tapi, aku tidak akan mengerjakannya, karena nyawamu adalah hutang budi yang harus aku jaga. Kau sudah menyelamatkan kakakku di sana. Aku juga akan mempertaruhkan semuanya untuk kamu. Kau pikir kami akan hidup tenang melihat kau melakukan itu? Ah, kehidupan kami tidak akan pernah bisa tenteram memikirkan sesuatu hal yang sangat bodoh seperti itu!"
Jika kita pergi seperti ini, kita akan semakin membuat mereka marah. Bahkan sekarang juga nyawa kita akan melayang dengan tembakan yang akan mereka lakukan itu. Lihatlah tangan mereka. Sudah keluar dari jendela mobil. Setiap genggaman itu lengkap dengan senjata api yang akan mengarah ke arah mobil kita. Hei, dengan mudah mereka bisa melakukannya. Bayangkan jika mobil ini berhenti akibat tembakan itu. Apakah nyawa kita akan selamat?
Pedal rem tiba-tiba ditekan dengan sangat mendadak. Pemuda itu paham dengan apa yang aku katakan. Aku sedikit lega melihatnya. Namun, aku juga bertambah takut. Rencanaku memang sangat luar biasa menakutkan mempertaruhkan diriku sendiri untuk semuanya nyawa petarung yang kalah itu.
Kami bertiga terdiam di dalam mengatur napas yang sangat tersendat. Tubuh kami bertiga sangat bergemetar melihat semua mobil suruhan Dad sudah memutari mobil yang aku tumpangi ini. Seperti sebuah film action, di mana aku adalah korban di dalamnya. Argh, ini benar-benar sangat menakutkan.
Kalian semua tinggal saja di sini. Aku akan keluar dan mengangkat kedua tanganku, lalu mengatakan jika menyerah. Tenang saja. Aku akan mengatakan jika kalian tidak ada hubungannya dengan pelarianku. Doakan aku berhasil.
"Midas, sebaiknya kau pikirkan lagi. Kita masih bisa lari dan terbebas dari mereka. Ada sela halan di antara mobil di depan kita, dan itu bisa aku lakukan dengan cepat," sarannya yang tidak aku jawab. Ekspresiku masih diam kaku menatapnya. "Apakah kau benar-benar akan melakukan ini? Ingat, jika kau masuk, kau tidak akan pernah bisa keluar. Apalagi kau mempertaruhkan dirimu seperti itu!"
Selamat tinggal dan berobatlah. Jangan mengikuti pertarungan. Kau tidak bisa. lebih baik nikmati hidupmu dengan sangat indah bersama pasangan. Jangan mencari sesuatu hal yang tidak bisa kau raih.
Aku tersenyum melambai ke arah mereka yang masih terdiam kaku menatapku di kursi depan. Dengan cepat aku segera membuka pintu mobil, lalu keluar. Aku mengangkat kedua tanganku. Semua pesuruh Dad berlari ke arahku, lalu mencengkeram lenganku kanan-kiri dengan sangat kuat. Kali ini aku benar-benar tidak bisa kabur!
Dengan sangat marah Dad dan Abdul berjalan ke arahku. Dia menamparku sangat keras, Plak!
Tamparan itu membuat sedikit cairan merah segar keluar dari lubang hidungku. Sangat perih rasanya.
"Kau! Laki-laki bisu sudah membuatku susah! Kau, melakukan hal yang sangat kurang ajar! Aku sudah menghubungi pihak pertarungan besar. Namamu sudah berada di sana! Kenapa kau melakukan hal ini?!" teriaknya sangat keras sekali lagi.
Tamparan itu melayang di pipiku kedua kalinya, Plak. Membuatku menundukkan kepala.
"Cepat bawa lelaki bisu ini masuk ke dalam mobil kita. Urus kedua pemuda itu yang sudah membantunya pergi."
Aku melotot tajam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dad barusan. Aku sudah berjanji untuk membebaskan mereka semua. Aku menahan cengkraman mereka untuk tidak melangkah, lalu berusaha untuk melepaskannya. Semua pesuruh yang memegangku mendadak terkejut. Apalagi dengan mudah aku bisa melepaskan cengkeraman kuat mereka.
"Apa yang kau lakukan lelaki bisu? Kau ingin melarikan diri sekali lagi?"
Dad kembali marah. Dia kembali mengangkat kedua tangannya, melihat aku sudah terbebas dari semua tangan yang semula mencengkeramku. Bergegas aku mendekatinya untuk mengatakan, jika aku adalah jaminan kehidupan semua pertarungan itu.
Lepaskan mereka, karena tidak ada hubungannya dengan pelarian yang aku lakukan. Jangan pernah mengejar mereka atau membunuh mereka. Semua petarung yang kalah itu, aku adalah jaminannya. Jika kalian melepaskannya, aku akan melanjutkan pertarungan ini dan memberikan uang yang sangat banyak kepadamu. Jika tidak! Maafkan, aku akan terus melawan dan kau pasti akan mengalami kerugian yang sangat luar biasa. Ini adalah tawaranku. Lebih baik kau menurutinya.
Abdul dan Dad saling menatap tajam. mereka pasti sangat marah. Dad mengepalkan kedua tangannya, lalu menghentakkan kakinya sangat keras. Kedua matanya memerah, ingin sekali dia meluapkan api panas yang sudah membakar jiwanya karena benci kepadaku!
Kau harus yang menyelamatkan nyawa mereka saja. Hanya itu. Apa yang membuatmu sangat susah melakukan itu?
Dad berjalan mendekatiku menunjukku dengan jemarinya yang sangat tegas tepat di antara kedua mataku yang masih menatap tajam ke arahnya. Aku sangat berharap dia mengabulkan apa yang sudah aku katakan.
"Aku tidak suka diperintah!" balasnya tegas. "Ingat, jika kau mengalami kekalahan! Aku tidak akan pernah membiarkan salah satu dari mereka hidup, karena aku sangat marah!" jawabnya dengan berteriak keras. Aku berusaha mengatasi ini dengan baik walaupun sebenarnya aku sangat bergemetar melihat senjata api yang siap berada di genggamannya untuk melesat begitu saja dan membuat aku kehilangan nyawa. Begitu juga dengan dua pemuda yang masih saja berada di dalam mobil menunggu keputusan.
Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu. Bebaskan mereka dan kita akan pergi ke sana melakukan pertandingan itu.
Dad spontan menarik napas panjang. Sementara Abdul masih terdiam tidak berkata apa pun. Aku sangat paham dengan posisinya. Dia hanya menjalankan perintah Dad tanpa bisa memberikan komentar sama sekali. Walaupun sebenarnya aku sangat tahu dengan tatapannya yang mengarah kepadaku. Yah, sebuah tatapan tidak setuju dengan apa yang aku rencanakan. Aku berusaha memalingkan wajah. Aku tidak suka dia memberikan tatapan itu.
"Baiklah, cepat masuk ke dalam mobil sekarang. Kita harus datang ke pertandingan itu tepat waktu, karena mereka sudah menunggu. Sementara bebaskan semua petarung itu, lalu dua pemuda yang masih berada di dalam mobil itu. Argh, ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak menyangka kali ini mengalami hal yang sangat luar biasa. Hal ini akan membunuhmu dengan cepat jika kau membuatku kalah hari ini! Sebaiknya kau menepati janjimu!"
Mereka menarikku dengan keras masuk ke dalam mobil yang Dad dan Abdul tumpangi. Kini aku benar-benar masuk ke dalam sangkar emas. Yah, sangkar yang akan mereka buka, lalu mendapatkan emas ketika aku terbebas dari sangkar ini.
Aku menolehkan wajahku ke belakang. Paling tidak aku merasa lega melihat mobil pemuda itu bebas pergi begitu saja. Semoga mereka bisa menjalani kehidupan dengan baik.
Dalam waktu yang cukup singkat, kurang lebih 30 menit. Kami sampai di sebuah peternakan yang sangat aneh. Bahkan di kelilingnya terdapat hutan di sebelah kanan kirinya. Aku tidak melihat sebuah gedung, atau pun mobil di sini. Yang aku lihat hanya suasana hutan yang sangat sepi, tidak ada penghuninya sama sekali.
Mobil terus melaju hingga sampai di sebuah gudang yang tidak terawat. Dua lelaki berpenampilan seperti petani menjaga di depan, membuka pintu gudang yang dipenuhi tanaman rambat. Saat Abdul memberikan mereka sesuatu, entahlah itu apa. Aku tidak mengerti. Abdul berlari kembali masuk ke dalam mobil.
Apa ini ...
Aku semakin bertambah gemetar setelah masuk ke dalam gudang itu. Mobil terus perlahan berjalan, menuju ke bawah seperti terowongan yang sangat menyeramkan dan gelap. Pantas saja Dad sangat frustasi jika aku tidak tepat waktu datang kemari. Pasti dia akan mengalami masalah yang sangat luar biasa. Bahkan, bisa kehilangan nyawanya.
"Hajar dia!"
Suara tepukan penonton semakin aku dengar. Aku memejamkan kedua mata untuk mengatasi diriku sendiri. Aku sudah masuk ke dalam jurang dan siap untuk mati. Apalagi suara itu semakin menembus gendang telingaku hingga mobil berhenti terparkir dengan baik. Aku sama sekali tidak percaya. Sebuah ruangan sangat megah dan besar, yang berada di dalamnya. Banyak sekali orang dengan pakaian rapi dan berjas, duduk sambil bersorak mengangkat tangan mereka sambil menggenggam uang.
Ini sangat mengerikan!
Terdapat ring di tengah, di kelilingi dengan kawat besi. Dua orang saling memukul sangat mengerikan. Sementara semua orang bertepuk tangan merasa puas melihat salah satunya kalah dan kehilangan nyawa. Aku menarik napas panjang, terus berjalan mengikuti Dad dan Abdul masuk di ruangan khusus.
"Persiapkan dirimu dengan baik. Ingat semua janji yang sudah kau ucapkan kepadaku. Kita harus menang. Atau aku akan membunuh semua petarung yang sudah kalah itu dan mengejar dua pemuda yang sudah ku biarkan pergi."
Dad keluar masih dalam keadaan sangat marah. Namun Abdul tinggal di tempat. Dia duduk di kursi menyandarkan tubuhnya dan menurut pelipisnya. Aku sangat tahu. Dia pasti kaget melihat perlakuan ku hari ini.
"Midas, entah apa yang sudah kau pikirkan. Yang jelas, kau sudah tahu apa jawabannya. Baiklah, waktumu hanya 20 menit untuk melakukan persiapan. Setelah itu aku akan menjemputmu dan kau harus siap di dalam ring itu. Ingat, Midas. Jangan pernah kalah atau kau mati. Bawalah uang yang sangat banyak hari ini. Karena semua orang mempertaruhkan dirimu sebanyak seratus juta setiap orang. Jangan membuat kami kecewa, Midas."
Seratus juta setiap orang? Kenapa mereka mempertaruhkan diriku dengan sangat mahal? Padahal mereka tidak pernah melihatku sebelumnya.
Tidak aku sangka uang itu berlaku untuk semua orang. Mereka mempertaruhkan uang seperti itu dengan sebuah nyawa? Kehidupan ini memang sangat misteri. Tidak ada yang menyangka hal seperti ini memang benar-benar ada.
Jantungku kembali berdetak kencang. Bahkan ketika aku membuka ranselku, dengan gemetar jemariku rasanya kaku. Apa yang aku rasakan ini? Ah, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Tapi, aku tidak bisa membiarkannya. Perasaanku harus baik. Aku harus pergi ke sana untuk memenangkan semuanya. Tapi, apakah aku bisa kabur setelah ini? Tidak aku sangka pertarungan ini ternyata benar-benar sangat mengerikan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
"Midas, waktunya kau keluar. Kau tidak perlu menggunakan pakaian untuk bertarung. Yang kau gunakan hanya celana panjang itu saja. Jangan banyak melamun, karena kita tidak memiliki banyak waktu. Mereka sudah menunggumu dan berteriak untuk melakukan pertandingan."
Abdul mengejutkanku dengan sangat mendadak. Aku semakin bergemetar. Detakan jantungku lebih hebat dari sebelumnya. Aku memejamkan kedua mataku sejenak untuk menenangkan diriku sendiri. Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus kuat dan menyelesaikan ini!
"Midas! Jangan melakukan suatu hal di luar kuasa kami lagi. Cepat keluar, karena ini sudah waktunya!" teriak Abdul sekali lagi.
Aku menatapnya dengan tajam, lalu mengepalkan kedua tanganku. Aku berjalan mengikutinya di belakang. Memang benar apa yang dikatakan Abdul. Karpet merah terbentang di hadapanku menuju tepat di depan pintu ring. Semua bersorak ketika melihat aku masuk. Namun, ada juga yang memakiku, mengatakan jika aku adalah wanita. Mungkin karena penampilanku yang berbeda dengan petarung lainnya.
"Masuklah Midas dan selesaikan pertarungan ini," ucap Abdul sebelum dia mengarahkan tangannya, membuat penjaga benar-benar membuka pintu ring.
Aku hanya terdiam tidak menjawab apa pun yang dia katakan. Aku hanya terus berusaha mengatur diriku sendiri. Yah, perasaanku yang sangat kacau ini.
"Masuklah dan berdiri di tengah. Jangan melakukan apa pun sebelum kami memerintahkan sesuatu," ucap sang penjaga kepadaku.
Perlahan aku masuk ke dalam ring itu, berdiri di tengah sesuai dengan perintahnya. Mereka semua terus bersorak, bahkan ada yang sudah mengumpulkan uang sangat banyak di sebuah kotak. Mereka tidak sabar ingin segera melakukan pertaruhan.
Lamunanku teralihkan, saat mendengar suara gemuruh tepukan penonton semakin terdengar. Sepertinya ditujukan kepada seseorang yang baru saja muncul. Ya, dia pasti adalah lawanku. Kali ini semua penonton tersenyum dengan girang. Tidak ada yang memakinya. Aku tidak tahu siapa dia. Aku terus berusaha melihatnya. Namun masih terhalang dengan jeruji besi ring yang menghalangi pandanganku.
Hingga aku kini benar-benar melihatnya. Dia ... dia sangat besar dariku. Dan ... aku sangat mengenalnya. Wajahnya sama sekali tidak asing bagiku. Yah, aku selalu saja melihat pertandingan gulat di televisi. Aku sangat mengenalnya. Dia adalah juara bertahan itu!
Apa? Jadi dia lawanku? Bukankah dia laki-laki yang sering muncul di televisi dan memenangkan semua pertandingan gulat dunia? Ah, jadi aku akan melawannya? Kali ini aku benar-benar akan mati!
Ting!
"Lawan!"
Baiklah, Midas. Kau harus menang dari dia!
Buk!