Lelaki itu sudah menjuarai pertandingan dunia beberapa kali dan aku melihatnya di televisi. Kini dia akan melawanku? Tubuhnya lebih besar dariku, bahkan lebih kekar, lebih berpengalaman, lebih dari segalanya. Apalagi semua penonton itu sudah mendukungnya. Walaupun sebenarnya ada juga yang mempertaruhkan uang ratusan juta untukku. Tapi, tetap saja aku pasti akan kalah.
Bel tanda pertandingan dimulai. Terdengar cukup keras setelah salah satu orang yang berjaga itu memukulnya. Wasit sudah mengangkat tangannya tinggi. Tanpa berbasa-basi, dia menyerangku, memukulku sangat keras pada bagian rahang. Aku terhempas begitu saja. Untung saja kedua kakiku bisa menahan cepat, hingga aku berhenti beberapa senti dari ring ini. Jika tidak, pasti tubuhku akan tersayat oleh semua kawat berduri yang dipasang di sana.
"Kau laki-laki lemah, seperti wanita! Tidak pantas mengikuti pertandingan ini. Haha, aku akan dengan mudah mengalahkanmu!" ucapnya dengan lantang. Dia terus menyerangku. Aku kali ini harus menghindar dan berpikir untuk menyerang di bagian mana, agar dirinya tumbang seketika.
Bagaimana aku bisa mengalahkannya?
Diriku saja sudah sangat kelelahan menerima serangan yang bertubi-tubi darinya.
"Lihatlah dirimu! Kau, sangat lemah seperti ini. Aku ternyata sangat beruntung mendapatkan lawan seorang wanita! Setelah pertandingan ini sebaiknya kau melayaniku saja tidak perlu melawanku di sini!"
Petugas yang berada di luar itu sudah siap untuk kembali menekan tanda beristirahat. Kini aku menemukan cara. Biarkan saja dia menyerangku sampai bel itu berbunyi. Aku harus mengulur waktu, membuatnya lelah. Walaupun dia sebenarnya sama sekali tidak terlihat kalah. Tapi aku harus berusaha!
"Rasakan ini!"
Buk!
Serangan itu kini menuju perutku. Dengan cepat aku berguling ke bawah. Dia ingin sekali menginjakku, secepatnya aku segera bangkit. Sepertinya dia sangat marah karena tidak bisa memegang tubuhku sama sekali. Aku seperti seekor hewan kecil dengan cepat menghindar darinya.
"Kenapa kau tidak membalas pukulanku? Kau takut, hah? Haha, menghindar seperti anak kecil. Baiklah, aku tidak akan pernah memberimu kesempatan lagi! Rasakan pukulanku ini!"
Dia berteriak sangat keras seperti orang hutan yang sangat marah. Gawat, kali ini dia berhasil mendekatiku. Aku sangat kelelahan. Dia mengangkat tangannya dengan mengepal sangat tinggi. Bersiap untuk melakukan bogeman kepadaku. Aku terus bersiap untuk menghindarinya. Tidak akan pernah aku biarkan dia menyentuh tubuhku sedikit pun sampai petugas itu memukul bel itu dan menghentikan pertarungan ini.
"Kau, sudah aku genggam!"
Teriakan itu terus terlontar dari mulutnya. Dia benar-benar marah aku terus menghindar mencari titik kelemahannya. Namun, belum juga aku temukan. Satu pukulan yang aku berikan mengenai perutnya. Tapi, tidak memberikan efek apa pun. Bahkan tubuhnya yang sangat kekar dan besar itu tidak bergerak sama sekali!
"Kau pikir bisa menumbangkanku dengan pukulanmu yang sangat kecil itu? Jangan pernah membuatku tertawa!"
Aku berusaha mencari lagi. Aku kali ini memukul punggungnya saat berhasil berada di belakangnya. Namun, dia tetap saja berdiri dan tidak merasakan apa pun. Sebenarnya siapa dia? Argh, ini benar-benar tidak baik!
"Hahaha mencoba lagi untuk memukulku? Sudah cukup! Kau yang akan tumbang. Rasakan ini!"
Dia berjalan cepat mendekati diriku dan kali ini dia berhasil menarik tanganku. lalu dia mengangkatku aku sangat tinggi. Aku benar-benar akan mati. Sekali hempasan yang akan dilakukannya, akan membuat seluruh tulangku patah dan aku akan lumpuh selama seumur hidupku. Baiklah, mungkin ini adalah pelajaran bagiku. Masuk ke dalam kandang singa dan tentu saja pasti aku akan dilahap singa itu dengan sangat cepat. Tidak akan pernah bisa lolos. Aku harus menerimanya.
Aku tidak akan pernah menyerah. Aku harus menang!
Aku menahan tubuhku saat dia menghempaskan tubuhku ke lantai. Rasanya sangat sakit. Aku berusaha mengumpulkan tenaga, dan bangkit. Dia berjalan cepat menghampiriku, aku akan mati!
Ting!
Bel penyelamat berbunyi. Aku merentangkan tubuhku di lantai. Rasanya sangat kacau. Sepertinya memang aku sudah patah tulang ringan.
"Bung! Bangunlah! Kau harus menuju ke tempatmu. Lihatlah. Seseorang sudah menyiapkan minuman dan handuk untuk mengelap keringatmu. Segeralah ke sana sebelum waktunya habis," ucap wasit mendekatiku. Aku berusaha bangkit, lalu berjalan dengan gontai menuju ke pojok ring. Abdul ternyata berada di sana. Perasaanku sangat tidak enak. Dia memperlihatkan wajah kekecewaan kepadaku. Ya! Aku sudah kalah. Aku sangat lelah dan aku tidak tahu bagaimana caranya mengalahkan lelaki itu. Dia lebih hebat dari ku!
"Midas! Apa yang kau lakukan? Kau harus melawan dia. Jangan menghindar seperti anak kecil. Pukul bagian tubuhnya dan tumbangkan dia. Dad sangat frustasi melihatmu seperti itu. Kau menyajikan pertandingan sangat buruk. Apa yang kau tampilkan barusan sangat menyebalkannya. Satu menit lagi kau harus kembali ke.sana. Siapkan tenagamu dan pikirkan strategi. Aku sendiri tidak tahu bagian mana kelemahannya. Bukankah kau mengetahui organ-organ tubuh manusia? Pikirkan apa yang bisa kau lakukan untuk menumbangkannya cepat!"
Aku akan memenangkan pertandingan ini. Kau tidak perlu kawatir Abdul. Tapi perlu kau tahu, dia sudah memenangkan pertandingan dunia berkali-kali dan aku melihatnya di televisi. Bagaimana bisa aku bisa mengalahkan dengan cepat. Aku membutuhkan waktu. Dia memiliki pengalaman yang jauh di atasku.
"Midas, sebuah pengalaman bisa kalah dengan otak yang cerdas. Sudahlah cepat. Kau harus minum ini dan segera masuk kembali ke sana. Lihatlah, petugas itu sudah akan menekan bel. Ingat, cari kelemahannya. Gunakan ilmumu. Otak yang lebih cerdas bisa memenangkan pertandingan ini, dan itu yang harus kamu lakukan!"
Ting!
Aku menarik napas panjang saat bel itu sudah berbunyi sekali lagi. Lelaki itu tertawa keras menatap semua penonton yang bergemuruh memberikan tepuk tangan kepadanya. Dia mengangkat tangannya tinggi, terus menyebutkan namanya dan mengatakan dirinya sangat kuat.
"Aku akan mengalahkannya. Dia bertarung seperti wanita. Lihat saja. Kali ini aku tidak akan pernah memperpanjang pertarungan ini!" teriaknya sambil menunjukkan jemarinya tepat di wajahku. Sementara diriku masih berjalan menuju ke tengah ring. Namun, apa yang kudapat. Sebelum bel tanda pertandingan dimulai, dia sudah mendekatiku, lalu mendorong tubuhku dengan sangat keras.
Buk!
Aku kembali terhempas keras.
"Patuhi peraturan! Kau tidak boleh seperti itu kepadanya! Kita akan bertanding saat keduanya siap," ucap wasit sangat kesal kepada lelaki itu yang sama sekali tidak memperhatikan peraturan yang diucapkan. Dia malah semakin tertawa melihatku kembali bangkit dan berjalan lemah berusaha kembali menuju ke tengah ring.
"Hahaha! Kau ... akan mati."
Dia menatapku dengan tajam. Aku berusaha mengangkat wajahku melihat keadaan agar tetap terjaga. Sebenarnya aku sudah tidak kuat. Rasanya aku ingin tumbang. Tapi aku tidak boleh seperti ini untuk terus menghindar darinya. Sangat mustahil aku akan memenangkannya. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus terus berpikir.
Dia berjalan kembali mendekatiku. Hingga aku melihat sesuatu. Dia menekan perut bawah sebelah kiri. Aku terkejut, karena aku ingat dia pasti memiliki riwayat penyakit di sana. Atau, dia sebelumnya terkena pukulan yang sangat keras selama puluhan pertandingan yang dia lakukan, kemudian membekas di sana. Pasti dia setiap hari melakukan pengobatan selama ini untuk menghindari rasa sakit itu. Namun, karena dirinya kini terlalu bersemangat, rasa sakit itu muncul. Ini adalah kesempatan yang baik buatku. Baiklah aku akan mencoba untuk memukulnya cukup keras di bagian itu!
"Kemarilah anak kecil. Sudah waktunya kau selesai dalam pertandingan ini, karena aku tidak ingin memberimu kesempatan!" ucapnya dengan penuh percaya diri. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi yang sudah mengepalkan keras. Secepatnya dia akan melayangkan di wajahku. Aku menunduk, menghindar dengan cepat.
Aku tidak akan pernah memberimu kesempatan untuk memukulku. Kau, kali ini akan kalah. Aku mengetahui apa yang menjadi kelemahannya!
Tangan kananku mengepal keras saat posisiku di bawah perut sebelah kiri Ini kosong.
Buk! Buk!
Dua kali pukulan cukup keras aku berikan kepadanya. Ia spontan terdiam, menatapku dengan tajam. Kini napasnya sangat keras dia hirup. Hingga aku mendengarnya. Dia tidak lagi melontarkan sebuah kata-kata yang sebelumnya dia ucapkan dengan sangat percaya diri.
"Midas! Ini kesempatanmu! Serang dia!" teriak Abdul keras berada di pojok ring luar. Aku menganggukkan kepala untuk memukul kembali perutnya sebelah kiri.
Buk! Buk!
Dua kali pukulan kembali aku layangkan. Dia mundur, berusaha menahan kakinya yang sedikit menekuk. Kedua matanya mulai mengerjap berkali-kali. Aku sangat tahu jika perut itu jika mendapatkan hantaman yang sangat kuat, maka dia akan pingsan seketika. Dan, sepertinya itu yang akan dia rasakan. Aku akan mengambil kesempatan ini dengan memukul punggung, lalu tengkuk lehernya agar dia tidak memperpanjang waktu dan segala tumbang.
"Midas! Tumbangkan dia!"
Abdul terus berteriak. Dia melompat kegirangan berada di luar saat melihat aku mulai memenangkan pertandingan ini. Gemuruh penonton semakin hebat. Mereka ada yang mendukungku, ada yang memakiku. Mungkin mereka tidak menyangka aku bisa mengalahkan lelaki yang sudah memenangkan pertandingan ini berkali-kali.
"Midas! Jangan beri kesempatan! Kalahkah cepat!" Abdul terus berteriak sekali lagi. Kali ini dia membuatku yakin jika aku akan menumbangkannya dengan cepat.
Baiklah, rasakan ini!
Aku segera menuju ke belakang punggungnya. Aku melompat, mengepalkan tanganku dengan keras. Lalu secepatnya aku melayang pukulan itu ke tulang rusuk bagian belakangnya.
Buk!
Sekali pukulanku membuat kakinya kini menekuk. Dengan cepat aku melanjutkannya. Memukul tengkuk lehernya sangat keras.
Buk!
Rasakan!