Pukulan keras aku layangkan benar-benar tepat mengarah perut kirinya.
Buk! Buk!
Kini dia tumbang. Aku terpaku melihatnya. Tidak aku sangka kali ini aku memang benar-benar bisa mengalahkannya. Yah, mengalahkan lelaki yang sudah menjuarai pertandingan gulat dunia. Dia benar-benar terjatuh, tidak bergerak sama sekali. Apa dia sudah mati?
Abdul di luar melompat kegirangan. Dia menuju ke Dad, menerima sebuah bisikan. Entahlah itu apa. Aku tidak mengerti. Sementara aku di dalam ring masih termangu melihat semuanya. Apalagi saat aku mendongakkan kepala, melihat semua penonton itu berdiri bersorak kegirangan. Namun, masih banyak juga yang memakiku dan menundukkan kepala kecewa karena mengalami kekalahan.
"Bung berdiri di tengah ring. Aku akan mengumumkan jika kau pemenangnya. Jangan melamun seperti itu. Pertandingan masih banyak. Kau sekarang keluar. Temui Abdul, lalu bersiaplah untuk pertandingan selanjutnya."
Wasit menghampiriku, mengatakan sesuatu hal yang tidak aku sangka. Apakah aku harus melakukan pertandingan selanjutnya hari ini juga? Tidak mungkin aku lakukan.
"Ayolah cepat berdiri di sini. Jangan diam seperti patung!" teriaknya sekali lagi kepadaku.
Aku berjalan mengikuti wasiat itu yang mengambil mikrofon dari tangan gadis seksi yang memberikan kepadanya. Dia memasang senyuman kepada semua penonton sebelum akhirnya mengangkat tanganku dan mengatakan kepada semuanya jika aku adalah pemenangnya.
"Tenanglah kalian semua. Aku akan mengumumkan pemenang perlombaan pertama yang sangat seru. Yah, dia bisa mengalahkan petarung yang sudah memenangkan berbagai pertandingan! Dia adalah Midas!"
Penonton semakin bersorak. Aku hanya diam saja. Entah ini perasaan bahagia atau tidak. Aku sama sekali tidak mengerti. Yang jelas aku tidak bisa melakukan pertandingan lagi. Cukup satu kali aku melakukannya, lalu memperoleh uang dan pergi dari sini.
"Sekarang pergilah. Kau harus mengikuti Abdul. Persiapkanlah dirimu sekali lagi," ucap wasit itu menunjukkan jemarinya ke arah Abdul yang melambaikan tangan ke arahku. Aku dengan cepat berjalan keluar dari ring. Aku akan memikirkan cara untuk kabur sekali lagi. Yang terpenting aku harus keluar dari ring mengerikan ini.
"Kau sangat hebat, Midas. Tidak aku sangka kau bisa memenangkan pertarungan yang sangat luar biasa ini. Aku pikir kau akan mati hari ini. Ternyata tidak," ucapnya masih dengan tersenyum dan melambaikan tangannya ke semua penonton yang memberikan jempol ke arahku. Sementara aku diam saja menundukkan kepala dan tidak memberikan respon kepada semua orang yang berteriak memujiku.
"Midas kamu sangat luar biasa. Kamu sangat kaya raya sekarang. Masuklah ke ruangan itu. Kita akan beristirahat dulu."
Dad tiba-tiba datang menghampiriku. Dia berjalan dengan sangat bersemangat memasuki ruangan khusus. Ruangan yang akan aku tempati. Aku tidak percaya ketika melihat isinya. Beberapa wanita seksi menari di sana. Mereka menyambut kami seperti itu.
Apa ini? Mereka ... hampir saja tidak berpakaian?
Aku tidak mengerti semuanya. Ini benar-benar sangat buruk. Apalagi salah satu wanita itu sudah meraba tubuhku yang berkeringat ini. Ditambah salah satunya memberikan handuk, lalu menarikku hingga aku terduduk. Dengan cepat mereka mengusap semua keringat itu, bersama sentuhan-sentuhan yang membuatku sangat bergidik. Aku tidak boleh termakan dengan belaian ini. Aku bukan lelaki seperti itu!
"Midas! Kau jangan diam seperti patung. Kau ini ... apakah tidak pernah dilayani oleh seorang wanita? Atau, jangan-jangan kau masih suci? Kau, tidak pernah tersentuh sama sekali? Hahaha. Akan aku biarkan kau malam ini mendapatkan pelayanan yang bisa membuatmu melayang dan sangat nikmat."
Dad tertawa keras bersama Abdul. Dia mengarahkan tangannya kepada semua wanita itu agar mendekatiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi tangan mereka mulai akan menyentuh daerah sensitifku.
Gawat! Aku bisa menegang. Aku laki-laki normal! Tapi, aku tidak mau!
"Hmm, kau sepertinya sudah mulai menegang." Dad menarik salah satunya, lalu menikmati bibir wanita itu dengan liar. Aku pikir dia tidak menyukai laki-laki karena tingkahnya yang agak lembek. Ternyata, dia sangat .... membuatku terkejut.
"Layani dia dengan sangat baik. Aku mengandalkan kalian. Jika kalian bisa memuaskan Midas, aku akan memberikan uang yang sangat banyak," ucapnya membuat semua wanita itu tertawa girang. Mereka segera mendekatiku dan semakin meraba tubuhku.
Aku ... aku tidak mau ini.
Dad dan Abdul masih saja tersenyum ke arahku, lalu keluar dari ruangan itu dan membiarkanku sendiri bersama mereka.
Aku tidak akan membiarkan mereka memuaskanku. Aku harus melakukan sesuatu. Ini tidak benar.
Aku menggeleng keras. Perlahan aku menyingkirkan semua tangan yang masih saja merabaku. Mereka sangat terkejut. Aku tetap sopan, dan lembut. Bagaimanapun, mereka adalah wanita. Aku sangat menghargai pekerjaan mereka. Yah, mereka tetap mencari uang. Namun, dengan cara yang salah. Seperti diriku ini.
Aku bisu. Aku bukan laki-laki seperti itu. Aku menghormati kalian, dan tolong hentikan ini.
Semua wanita itu terkejut ketika aku berusaha berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa isyarat. Mereka saling menatap, lalu berbisik. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, aku sudah menegaskan kepada mereka jika aku bukan seperti itu. Yang membuat aku lega, mereka segera menurut dan tidak meraba tubuhku lagi.
Aku berjalan menuju ke meja, melihat sebuah amplop cokelat. Dengan cepat aku mengambilnya. Ternyata di dalamnya berisi uang yang sangat banyak. Pasti Dad meninggalkan uang ini ketika dia meninggalkanku. Uang ini adalah milikku. Ini adalah bayaranku dan aku akan membawanya.
"Jadi kau bisu?" tanya salah satu wanita yang menarik lenganku, membuat aku menganggukkan kepala. Aku tetap saja bergegas untuk segera pergi dari sini. Kemejaku segera aku keluarkan, lalu memakainya dengan cepat.
"Kau mau ke mana? Kamu akan pergi, lalu kabur dari sini? Jawablah!" tanyanya sekali lagi. Sementara, beberapa wanita yang berada di belakangnya bersedekap mengamatiku. Mereka menunggu sebuah jawaban yang belum aku berikan.
Apakah kau mengetahui bahasa isyarat? Kau tahu apa yang akan aku katakan?
"Tentu saja aku mengetahuinya. Aku sering melihat orang yang berbicara seperti itu. Aku sedikit paham. Tapi aku mengerti apa maksudmu. Sekarang jawablah! Apa kau mau kabur dari sini?"
"Hai, kau tidak bisa kabur dari sini. Kau tidak akan pernah bisa menghindar dari semua pengawal yang sudah berjaga di sana. Untuk apa kau kabur? Bukankah kau seharusnya menikmati kemenanganmu? Kau tahu, jika kau menang. Kau akan mendapatkan semuanya. Termasuk kami. Untuk apa kau kabur?"
Ucapan salah satu wanita yang kini menatapku. Aku tidak tahu mereka berpihak kepada siapa. Namun, aku harus berterus terang kepada mereka. Mungkin saja mereka mau membantuku untuk kabur dari sini. Paling tidak aku harus mencobanya.
Aku adalah mahasiswa kedokteran. Aku ingin sekali menjadi seorang dokter. Namun, aku terusir dan tidak memiliki biaya sama sekali. Aku memiliki saudara yang harus aku biayai. Lalu aku mengikuti pertarungan ini. Tapi uang ini sudah cukup aku gunakan untuk menutup kebutuhanku. Jadi aku tidak mau melakukan pertandingan lagi. Aku harus pergi.
"Ini tidak mungkin. Jika kau pergi dari sini, maka kau sama saja kehilangan nyawamu."
Bantulah aku untuk pergi dari sini. Aku tahu hati kalian sangat baik. Kalian pasti terpaksa melakukan pekerjaan ini karena tuntutan ekonomi. Aku pun melakukan hal yang sama. Bantulah aku. Aku mohon. Aku tidak mau terjerumus dalam pekerjaan ini. Aku salah. Aku ingin melanjutkan cita-citaku menjadi dokter.
Mereka segera berkumpul membicarakan apa yang menjadi keinginanku. Ada yang menepuk jidatnya, ada mengangkat tangannya tidak setuju dengan apa yang aku lakukan.
Aku sangat paham. Jika mereka membebaskanku, pasti mereka sama saja juga mempertaruhkan nyawa. Ini adalah pilihan sulit yang harus mereka lakukan, dan aku sangat mengerti akan hal itu. Namun, aku tetap berharap mereka bisa membantuku. Karena aku sendiri juga tidak mengerti dan tahu bagaimana cara keluar dari ini.
Sebaiknya aku memeriksa keluar. Aku harus melihat kondisi.
Aku meninggalkan semua wanita itu yang masih berdebat. Aku berjalan mendekati pintu dan sedikit membukanya. Puluhan lelaki garang bersiaga di depan pintu ini. Bagaimana bisa aku keluar dari sini tanpa bantuan dari orang dalam?
Aku benar-benar celaka. Aku akan mati hari ini.
Aku kembali menutup pintu itu dan masuk ke dalam.
Apa ini?
Aku terperanjat. Semua wanita itu bersedekap, menatapku dengan tajam. Kenapa mereka? Tatapan itu sangat mengerikan. Apakah mereka akan mengadukan aku?
Jelaskan kepadaku, kenapa kalian seperti itu?
"Dengarkan baik-baik!" ucap salah satunya, berjalan mendekatiku. "Kami sudah memutuskan semuanya, dan ini adalah hal buruk yang aku dan mereka semua lakukan," lanjutnya. Jemari telunjuknya mengarah ke wajahku dengan kuat. Perasaanku sangat tidak enak. Apa yang sudah mereka putuskan?
Apa yang akan kalian lakukan. Jika kalian memutuskan tidak membantuku, aku sama sekali tidak keberatan. Tapi, aku hanya memohon kepada kalian untuk tidak mengadukanku. Hanya itu saja.
"Yah, kami akan mengadukanmu, lalu mereka akan menganggap kami pahlawan. Kami semua akan menerima uang yang sangat banyak. Kami kaya, dan kau ...," ucapnya terhenti. Dia mengambil pisau kecil di atas meja, mengarahkan kembali ke wajahku. "Akan mati!" lanjutnya berteriak.
Aku mohon. Biarkan aku hidup. Aku tidak akan meminta apa pun. Aku akan memberikan sebagian uangku untuk kalian. Tapi, biarkan aku pergi dari sini.
"Kami akan membantumu, lelaki bisu."
Aku semakin tidak percaya. Barusan saja dia marah, lalu mengarahkan senjata. Tapi, sekarang mereka mengatakan akan membantuku?
Apa kalian mengatakan yang sesungguhnya? Bukankah kau mengancamku barusan?
"Aku menegaskan kepadamu jika kami mau mempertaruhkan nyawa untukmu. Kami ini para wanita, dan punya hati. Tapi ..."
Ucapannya terhenti. Aku semakin mendekatinya.
"Berikan aku bibir itu. Kau ... sangat tampan. Kami tidak pernah melihat lelaki tampan sepertimu, apalagi menolak kami yang sangat cantik ini."
Aku tidak percaya mendengar permintaannya. Ini benar-benar mengejutkanku. Tapi, jika aku tidak memberikannya, mereka kemungkinan tidak akan membantuku. Sebaliknya, jika aku memberikannya, aku sama saja mengkhianati Ana.
Maafkan. Aku ... aku tidak bisa. Aku memiliki kekasih dan ... ini sama saja pengkhianatan buatnya.
"Ayolah. Dia tidak berada di sini. Dia tidak akan pernah tahu apa yang kau lakukan."
Semua wanita itu tersenyum, lalu mendekatiku. Tidak mungkin aku bergantian mendaratkan bibirku kepada mereka.
Jangan memaksaku. Tidak mungkin aku melakukannya kepada kalian semua.
"Kau melakukannya, kami akan membantumu. Ada jalan rahasia yang ... hanya kami ketahui."
Waktuku sangat sedikit. Aku menarik dia, lalu melakukannya. Aku melakukannya dengan semua wanita ini yang berjumlah enam orang. Bibirku digigit mereka. Bahkan, mereka tersenyum setelah aku melakukannya. Ah, aku sudah berselingkuh dari Ana! Apa yang harus aku jelaskan kepadanya nanti?
"Hei, jangan melamun! Ikuti kami!"