"Selain tampan, bibirmu memang sangat lezat. Aku baru kali ini merasakannya."
Aku terpaku, tidak percaya melakukan ini. Mereka sangat menikmati bibirku secara bergantian. Aku hanya diam saja, sedikit membukanya. Bahkan ada yang menggigit ujungnya. Ini benar-benar pengkhianatan kepada Ana yang sudah aku lakukan. Jika dia mengetahuinya, aku benar-benar akan diputuskan oleh Ana. Gawat!
"Hai, jangan melamun saja. Ayo ikuti kami," ucap salah satu dari mereka sambil menarikku maju, berjalan menuju pintu. Apakah mereka akan melewati pintu depan? Tentu saja tidak mungkin dilakukan. Banyak sekali pengawal yang berjaga di sana.
Aku menghentikan langkah, memegang kepalaku. Tidak aku sangka mereka akan melakukan suatu hal nekat seperti ini. Sama saja dengan bunuh diri, memperlihatkan diri sebelum kabur!
Apakah kita akan melewati pintu depan?Itu tidak mungkin kita lakukan. Banyak sekali penjaga yang berjaga di sana. Apa kalian ingin bunuh diri? Mereka pasti akan memergoki kita dan menghukum kalian, atau menembak kalian di tempat. Aku tidak mau kalian terlibat dalam hal ini. Sudahlah, biar saja aku yang melakukannya. Kalian diam di sini dan tidak melakukan apa pun. Itu yang terbaik, yang harus kalian lakukan. Aku tidak ingin siapa pun mengorbankan nyawanya demi aku.
"Tentu saja aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Hei, kami ada 6 orang. Aku akan memberitahukan kamu jalan rahasia, sementara beberapa di antara kami akan mengalihkan perhatian para pengawal itu saat kita akan keluar dengan diam-diam. Yah, itu yang akan kita lakukan."
Aku tidak percaya mendengarnya. Tentu saja yang dikatakannya adalah rencana yang sangat bagus. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Kini aku bisa sedikit tersenyum. Ternyata mereka sangat berpengalaman sekali. Tapi, kenapa mereka mau membantuku dengan mudah dan percaya kepadaku? Lebih baik aku menanyakannya.
Kenapa kalian membantuku? Untuk apa melakukan ini semua. Bagaimana jika Dad dan Abdul tiba-tiba masuk ke sini dan mencari kalian? Kalian ... tahu sendiri apa yang akan terjadi.
"Karena kami menyukaimu. Kau, laki-laki yang setia. Itu sangat penting buat kita. Hei, kami wanita yang memiliki perasaan walaupun pekerjaan kami seperti ini. Kamu juga memiliki perasaan halus kepada kita. Kami pertama kali menerima lelaki yang menolak kami. Biasanya, para petarung itu ... udahlah. Argh, jika kita berbicara panjang lebar seperti ini, kapan kita akan kabur. Kita akan kehabisan waktu dan kau harus mengikuti pertandingan selanjutnya. Sebaiknya kita bergegas," ucap salah satu wanita yang mungkin pemimpin dari mereka. Wajahnya paling tua di antara mereka.
Baiklah. Maafkan, aku. Aku hanya tidak mengerti dengan situasi ini. Aku sebenarnya sangat panik. Apalagi aku takut juga, jika kalian ketahuan oleh mereka. Aku tidak ingin wanita-wanita cantik dan baik seperti kalian akan mengalami hal buruk karena aku. Itu saja.
"Sudahlah, sekarang kita akan beraksi. Kau, berjanjilah padaku. Kau ... tidak akan pernah terlihat lagi di pertarungan ini. Jika kau lakukan itu, kita tidak akan membantu untuk yang kedua kalinya."
Aku berjanji tidak akan pernah terlihat lagi.
Mereka tersenyum, lalu memelukku secara bergantian. Aku merasa lega sekaligus merasa panik. Yang aku pikirkan, apakah mereka akan baik-baik saja setelah aku keluar dari sini? Entah dalam keadaan hidup atau mati.
Tiga di antara mereka keluar. Aku bersama tiga sisanya. Kami berdiri di belakang pintu, sedikit mengintip para pengawal yang lemah seketika itu juga saat para wanita mendekati mereka. Apalagi mendapatkan belaian dan bibir para wanita itu. Mereka tidak peduli dengan penjagaan lagi.
Mereka sangat ahli dalam melakukan rayuan itu. Mungkin saja mereka setiap hari melakukan itu dengan lelaki yang berbeda. Aku sangat kasihan melihat pekerjaan mereka. Namun, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Aku pun tidak bisa melakukan hal apa pun untuk menolong mereka. Mungkin saja itu akan aku lakukan, jika aku sudah mengambil hak milikku lagi yang sekarang sudah dikuasai oleh Paman dan Seluruh keluargaku. Aku akan mengambilnya di saat waktu yang tepat!
"Kita akan pergi saat mereka berada di sebelah panggung itu. Kau ikuti saja aku berlari ke mana pun. Jangan menolehkan pandangan ke belakang. Itu adalah aturannya. Apa kau mengerti?"
Aku mengerti. Aku sama sekali tidak akan menolehkan pandangan ke belakang, dan akan mengikuti kalian.
"Ayo ikuti aku!"
Mendadak dia menarikku keluar ruangan. Aku segera berjalan mengikuti mereka dan mematuhi peraturan yang sudah wanita itu ucapkan barusan. Dengan cepat kami berlari menuju ke belakang ring, melewati jalan yang dipenuhi kardus. Ternyata di sini ada jalan rahasia menuju pintu belakang. Kami kembali menunduk saat salah satu pengawal berjalan melewati pintu belakang. Tentu saja pintu itu pasti ada yang menjaga. Lalu, bagaimana kita melewatinya?
Hei, ada pengawal dua orang. Sangat berbahaya, melewati pintu itu.
"Kau tahu. Kau tidak akan pernah melewati pintu belakang itu. Tapi kau akan melewati jendela yang berada di ujung lorong itu. Lihatlah, jendela yang sudah terbuka lebar, yang itu," tunjuknya dengan tegas. "Jendela itu tertutup almari dan kau akan aman melewati di belakangnya. Kau akan berlari setelah aku bersama ketiga temanku ini mendekat dan membuat pengawal itu terpuaskan. Apa kau mengerti?"
Ucapannya yang mengejutkanku. Aku tidak ingin mereka memuaskan para pengawal itu dengan menolongku. Semua itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak benar. Mungkin ada cara lain yang bisa aku sarankan kepada mereka selain itu. Aku laki-laki, dan aku tidak terima mereka melakukan itu.
"Kenapa kau sering melamun dan tidak memberikan jawaban saat kau mengerti? Ayolah, ini tidak waktunya untuk melakukan hal itu? Hei, jika kita lambat melakukannya, kau tahu sendiri apa yang terjadi. Mungkin saat ini Dad dan Abdul sudah dilayani oleh wanita lain dan bermabuk-mabukan. Namun, mereka tetap akan tersadar jika pertarungan itu segera dilakukan."
Maafkan, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ingin kalian memuaskannya. Ah, itu yang aku pikirkan. Apakah kalian tidak mempunyai cara lain untuk membuat dia pergi dari sana? Aku tidak ingin kalian melakukan hal itu untuk menolongku. Yah, aku tahu kalian sangat berat melakukannya.
"Sadarlah, Bung. Lihatlah pengawal itu. Dia sangat tampan. Siapa yang tidak suka dengan perut rata seperti itu? Haha, dengan sosok yang sangat gagah itu. Kami tidak memiliki perasaan dan hanya menginginkannya saja. Tapi kami melihat kau sangat tulus. Itu yang membuat kami membantumu. Jadi jangan pernah memikirkan apa yang akan kami lakukan, karena itu juga sebuah kebutuhan," balasnya dengan berbisik.
Aku mendengarnya, lalu menganggukkan kepala perlahan. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. udahlah, yang terpenting aku akan segera berlari saat mereka melakukan, apa yang mereka rencanakan dan sebaiknya aku menurut.
"Kau mengerti? Jangan melamun lagi," bisiknya sekali lagi sambil menatapku tajam. Aku segera menganggukkan kepala sekali lagi.
Maafkan aku. Baiklah, aku akan bersiap berlari ke sana. Dan, mengendap keluar setelah kalian melakukan rencana. Aku ... aku ucapkan terima kasih sekali lagi. Kalian sangat berjasa buatku. Semoga hidup kalian bahagia setelah ini.
Mereka menganggukkan kepala, lalu segera berjalan dengan sangat seksi mendekati pengawal yang seketika itu juga tersenyum lebar.
"Halo seksi. Apa kalian tersesat?" ucap pengawal itu. Mereka spontan meletakkan senjata.
"Kami sangat bosan. Biarkan kami menghangatkanmu."
Aksi itu segera mereka lakukan. Para pengawal spontan menarik tubuh para wanita, dan segera meraba seluruh tubuh seksi itu dengan sangat bebas. Namun, seperti yang dikatakan oleh wanita itu. Mereka ternyata sangat menikmatinya. Aku memang melihat para pengawal itu sangat gagah dan tampan.
Baiklah. Ini kesempatanku untuk pergi dari sini. Aku akan segera mengendap-endap menuju ke lemari itu dan membuka jendela.
Secepatnya aku berjalan tanpa menolehkan pandangan sama sekali. Aku terus menunduk, berusaha untuk tidak terlihat. Aku sangat lega melihat jendela itu benar-benar terbuka. Jalanan di depan terlihat dengan jelas.
Apa ini?
Sebuah mobil yang sangat banyak terparkir di sana. Ternyata ini adalah halaman samping. Sebuah lapangan yang digunakan untuk memarkir mobil semua penonton itu. Yang membuat aku tersenyum, semua mobil itu bisa menutup tubuhku hingga aku mencapai jalanan utama dan pergi menaiki bus.
Entah apa yang akan terjadi oleh Dad dan Abdul, lalu beberapa wanita itu setelah sadar tentang kepergianku. Mungkin mereka akan sangat marah, dan membuatku menjadi buronan. Ya, seorang buronan mafia yang sangat mengerikan. Sekarang aku memiliki masalah baru. Hah, tapi itu akan aku pikirkan nanti. Sekarang yang terpenting aku harus pergi dulu dari sini.
Dengan cepat aku masuk ke parkiran itu, terus melewati mobil yang cukup besar. Semua mobil yang bisa menutup tubuhku yang super tinggi ini.
"Dad, Abdul."
Apa?
Hingga kedua mataku tidak percaya, melihat Bram ternyata berada di sana? Apakah dia melihat aku melakukan pertarungan itu? Aku tidak menyangka! Astaga, ini memang sangat gawat. Dunia ternyata sangat sempit. Tapi, tidak heran jika Bram sangat menyukai pertandingan elite seperti ini. Dia juga memiliki uang sangat banyak, dan tentunya dia juga seorang mafia. Pasti pergaulannya tidak jauh dengan hal-hal buruk seperti ini.
"Hai Abdul dan Dad. Aku dengar kalian memiliki petarung yang sangat hebat. Kau tahu, aku menghentikan kegiatanku dan segera menuju ke sini untuk menyaksikan pertandingan. Aku akan memberikan pertaruhan yang sangat banyak untuk petarungmu. Karena aku percaya kau pasti memberikan yang terbaik kepadaku. Aku selalu menang jika bertaruh kepada semua petarungmu. Kau memang sangat hebat dalam mencari lelaki yang sangat kuat."
Aku masih diam berjongkok di balik mobil yang cukup besar, mendengarkan perkataan Bram barusan kepada Dad yang membuat aku resah. Apalagi yang Bram maksud adalah diriku. Sedangkan aku berada di sini.
"Hmm, kau benar," balas Dad.
Aku melihat Dad tersenyum bersama Abdul dengan percaya diri. Dia akan memberikan yang terbaik kepada Bram. Sementara kekasih Amelia itu memberikan taruhan yang cukup luar biasa.
"Tentu saja aku memilih petarung yang sangat hebat. Walaupun dia tidak bisa berbicara, dia memenangkan pertandingan dengan sangat luar biasa. Aku sendiri tidak menyangka Dia memiliki strategi yang cukup unik tidak dimiliki oleh petarung lainnya." Dad terus saja memujiku, dan ini semakin sangat buruk.
Spontan Bram melotot. Dia terkejut saat Dad mengatakan petarung itu bisu. Semoga saja di dalam benak Bram tidak terlintas diriku.
"Apa? Jadi ... dia tidak bisa berbicara? Haha, sangat mengejutkan memiliki petarung lelaki bisu."
Aku sangat beeharap, semoga saja dia tidak mengingat diriku.
"Kenapa? Sepertinya kau mengenal seseorang yang memiliki ciri yang sama. Yah, dia tidak bisa berbicara," balas Dad membuat Bram kembali menatapnya.
Aku menahan detakan jantungku yang cukup kencang. Bram terus terdiam menatap Dad yang mengangkat kedua tangannya. Abdul yang berada di sebelahnya, spontan juga ikut terdiam. Apakah Dad akan menyebutkan namaku? Aku berharap dia tidak akan melakukannya. Ah, akan sangat tidak baik jika Bram benar-benar mengetahui lelaki itu adalah diriku. Semoga saja nama itu tidak terlontar dari mulut Dad.
"Hahaha. Tentu saja banyak sekali lelaki bisu yang ada di dunia ini. Dan itu tidak mungkin seseorang yang aku kenal," balas Bram melegakanku. "Ah, sudah. Lupakan saja. Lebih baik kita masuk ke dalam dan menyaksikan pertandingan yang sangat menarik. Hmm, yang sudah aku tunggu. Kau tahu kan, aku baru saja mengatakan jika aku menghentikan kegiatanku untuk ke sini. Sebaiknya kau memang memberikan hal sangat menarik untukku."
"Tentu saja aku akan memberikannya. Kau adalah pelangganku yang sangat setia dan sangat tampan. Aku akan mengantarmu menuju ke ruangan VIP. Di sana sudah siap dengan semua wanita dan makanan yang sudah aku siapkan seperti biasanya. Kau akan menikmatinya sambil menyaksikan pertandingan yang sebentar lagi akan dilakukan."
"Tidak salah jika aku mengenalmu, Dad. Kau memang luar biasa. Ayo kita masuk, karena aku tidak sabar.
Tidak aku sangka Amelia memiliki kekasih yang sangat menyebalkan seperti Bram. Dia jelas-jelas akan menikmati semua wanita di dalam sana. Dia sama dengan para lelaki hidung belang itu. Untung saja aku mengabadikan Bram tadi. Biar saja Rey mengetahui aku melakukan pertarungan mengerikan ini. Yang terpenting, aku memiliki bukti kuat, tentang Bram. Sekarang aku akan benar-benar pergi.
Aku kembali mengedarkan pandangan ke semua arah, memastikan tidak ada orang yang melihatku untuk segera keluar dari pagar itu dan menuju jalanan utama. Semoga aku bisa segera menemukan bus untuk mengangkut diriku terbebas dari lapangan yang sangat mengerikan ini.
Secepatnya aku berlari menuju pagar itu saat para pengawal berlari menemui seseorang mereka. Sepertinya mereka tergesa-gesa karena mendapatkan panggilan yang sangat mendadak. Ini adalah kesempatan yang tidak akan pernah aku buang sia-sia. Kakiku terus berlari menuju pagar itu hingga akhirnya aku benar-benar bisa keluar dari sini.
"Semua! Cari lelaki bisu itu. Karena dia sudah kabur dari sini. Aku tidak akan pernah membiarkan dia selamat jika menemukannya. Dasar lelaki kurang ajar! Kau sudah membuatku rugi miliaran malam ini. Kau akan aku bunuh jika aku menemukanmu!"
Sepertinya kepergianku sudah diketahui Dad, dan dia sangat panik. Pantas saja semua pengawal itu mendekatinya dengan mendadak!
Untunglah, aku bisa terbebas.