Aku berlari kencang. Dad sudah mengetahui pelarianku. Aku tidak peduli. Kakiku sekuat tenaga berlari kencang. Melewati jalanan yang cukup gelap. Napasku sangat sesak. Aku berhenti, menunduk beberapa menit.
Aku tidak boleh ketangkap. Ini kesempatanku untuk lari.
Aku kembali berlari setelah mengatur nafasku yang sudah mulai mereda. Terus berlari hingga aku berada di pojok jalanan yang cukup ramai. Aku kembali berdiri di sini, tepatnya di balik poster yang cukup besar untuk menutupi tubuhku. Aku berkacak pinggang, terus mengatur napasku yang sangat sesak. Ini ingin rasanya aku memuntahkan makanan dalam perutku akibat dari berlari tanpa henti.
"Kamu baik-baik saja, Mas? Aku lihat kau sangat pucat."
Seseorang mengejutkanku dari belakang. Dia salah satu penumpang bus yang berada di sebelahku. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Bus sudah datang. Lebih baik kamu menaikinya," ucapnya lalu mengulurkan tangannya. Dia lelaki yang cukup tua dan berkacamata. Mungkin dia sangat tahu jika aku aku terlalu lelah. Sebaiknya aku menerimanya. Perlahan aku menggenggam telapak itu dan berjalan masuk ke dalam bus. Untung saja penumpang sangat sepi hingga banyak sekali kursi yang kosong. Dia mengarahkan tangannya agar aku duduk di kursi depan.
"Sebaiknya kau duduk di sini. Udara yang bisa kamu nikmati dari pintu masuk itu, akan membuatmu sedikit segar."
Aku kembali tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Aku segera duduk, sedikit mendorong kursi ke belakang. Kemudian menyandarkan tubuh dan kepalaku yang sangat lelah ini. Untung saja aku bisa tepat waktu untuk masuk ke dalam bus dan berlari dari sana. Entahlah apa yang terjadi dengan Dad. Dia pasti sangat marah dan berusaha mengatasi keadaan. Aku harap Abdul tidak disalahkan atas perbuatanku, begitu juga dengan semua wanita cantik itu.
Kedua mataku sangat berat. Ingin rasanya aku memejamkan dengan cepat. Tapi, bagaimana jika aku tidak tahu arah? Namun, aku akan memikirkannya nanti. Lebih baik aku beristirahat untuk mengumpulkan tenaga dan pulang. Aku tidak boleh menunjukkan sesuatu yang mencurigakan kepada Rey. Aku mengurungkan niatku untuk berterus-terang. Ini sudah berakhir dan dia tidak perlu mengetahui hal itu.
Perlahan aku akhirnya menutup mataku. Aku melemaskan begitu saja tubuhku. Rasanya sangat nyaman ketika bersandar di kursi ini.
Kalian? Aku sangat merindukan kalian.
Dalam tidurku, aku bermimpi sangat indah. Bertemu dengan kedua orang tuaku dan juga Ana. Kami saling tertawa menikmati hidangan yang sangat lezat di kebun belakang rumahku yang megah. Ini adalah mimpi yang sangat nyata. Tidak ingin rasanya aku terbangun dari mimpi ini.
Ana terus memelukku. Kami tidak melepaskan pandangan. Tanpa Rasa sungkan kami menyatukan bibir di depan kedua orang tuaku yang tersenyum mengamatinya. Aku memeluknya erat, terus memberikan tatapan hangat. Bibirnya sangat nikmat, membuatku candu. Rasanya aku tidak pernah bisa untuk melepaskannya.
Aku mencintimu, Ana. Aku juga mencintai kalian. Ibu, Ayah ...
Namun, aku melihat seseorang datang. Dia sangat marah dan memukulku dengan sangat kencang. Aku sama sekali tidak berdaya. Aku merasakan darah keluar dari seluruh tubuhku hingga membuat aku tidak bisa terbangun dari mimpi ini. Apakah aku sudah mati?
"Midas. Kau sangat kuat. Kau adalah anakku yang terkuat. Ibu yakin kau bisa mengatasi semua ini. Jangan pernah menyerah."
Ibuku semakin membuatku bahagia. Semua nasehatnya selalu aku dengarkan, walaupun berada di dalam mimpi. Nasehat itu selalu menyejukkan pikiranku yang sangat kalut.
"Ibumu benar. Midas, kau harus kuat dan tetap dalam tujuan yang baik. Selesaikan kuliahmu, karena Ayah yakin kau bisa menjadi seorang dokter hebat menggantikanku dan kakekmu. Menjadi sang legenda. Sekarang, bangunlah."
"Midas, sayang. Aku menunggumu. Bangunlah." Ana kembali menatapku lembut.
Aku kembali tersenyum menatap kedua orang tuaku dan Ana. Mereka menganggukan kepala memintaku untuk terbangun.
Cahaya itu. Kalian ... kenapa menghilang. Jangan pergi aku mohon. Kalian ... aku membutuhkan kalian.
Yang paling menyedihkanku, cahaya itu memudar dari penglihatanku. Mereka menghilang dengan perlahan. Aku sama sekali tidak ingin terbangun. Aku berdiri, berlari menyusul cahaya itu yang tidak ada ujungnya. Aku hanya bisa hidup bahagia dengan mereka. Aku ingin sekali. Walaupun berada di dunia lain. Itu adalah keinginanku.
Jangan pergi!
"Midas, kemarilah! Ini kakekmu!"
Suara keras lantang terdengar dari belakang tubuhku. Aku menghentikan langkah, lalu membalikkan tubuhku untuk melihatnya.
Kakek?
Ternyata aku melihat sosok yang sangat melegenda di sana, yaitu kakekku. Dia tersenyum lalu melambaikan tangannya. Aku berada di antara dua pilihan. Mengikuti kedua orang tuaku dan Ana, atau kakekku. Aku sangat mencintai mereka semua. Aku terdiam di tengah, masih terus berpikir jalan mana yang harus aku tempuh.
"Midas. Kakek dan ayahmu ingin sekali melihatmu mengenakan baju putih itu. Bantulah semua orang yang memiliki penyakit. Kakek bisa membantumu. Datanglah kemari."
Kakek kembali berteriak. Namun, perkataannya memang benar. Aku ingin sekali menjadi seorang dokter seperti dirinya dan Ayah. Itu adalah cita-citaku hingga aku memutuskan untuk melangkah mendekati kakekku. Aku akan belajar darinya, setelah itu aku akan kembali menjemput kedua orang tuaku dan Ana.
Kakek, aku datang!
"Berlarilah yang kencang! Jemputlah Kakek di sini!"
Aku semakin menambah kecepatan kakiku. Aku berlari, namun aku masih saja tidak bisa meraih kakek. Walaupun dia terlihat sangat dekat. Semakin aku ulurkan tanganku dengan tegas. Tetap saja aku tidak bisa menyentuhnya. Dia hanya terdiam di depanku tanpa berkata apa pun juga. Aku terus berlari dan berlari. Namun, aku semakin melihat sebuah cahaya merah dan masuk di dalamnya. Kepalaku sangat sakit. Ingin rasanya aku berteriak kencang.
Argh!
Kedua mataku tiba-tiba terbuka. Aku terduduk dan mengatur napasku. Kepalaku rasanya sangat sakit.
Apa? Di mana aku? Hah, kenapa aku berada di dalam kamar ini?
Aku berusaha mengatur penciumanku. Ya, aku mencium aroma rumah sakit di sini. Perlahan aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Ternyata semua perban putih itu membalutnya. Apa yang sudah terjadi? Aku berusaha memutar pikiranku di masa beberapa jam sebelumnya. Namun, aku tidak mengingat apa pun.
"Jadi kau sudah terbangun? Untung saja kau tidak mati. Jika kau mati, lalu bagaimana kau akan merebut kekayaanmu kembali? Kau, kenapa bisa tergeletak di jalan raya dengan sangat mengenaskan seperti itu?"
Roy, kau di sini? Kenapa kau bisa menemukan aku? Apa yang kau katakan? Apa yang sudah kau lihat. Jadi, aku tergeletak di jalan raya dengan keadaan seperti ini? Apakah itu yang terjadi? Tolong jangan membuatku menjadi penasaran. Aku benar-benar tidak ingat apa yang sudah terjadi. Terakhir aku hanya masuk ke dalam bus, lalu tertidur di sana. Kemudian aku terbangun dan melihat diriku berada di sini.
Roy mendekatiku. Dia menepuk jidatnya, lalu berkacak pinggang. Mengamatiku dengan menggeleng. Aku tahu, pasti perasaannya sangat kesal kepadaku melihat keadaanku yang sangat berantakan seperti ini. Namun, ini benar-benar sangat mustahil. Aku sama sekali tidak mengingatnya. Terakhir kali aku memang berada di dalam bus itu bersama dengan lelaki tua dan beberapa penumpang lainnya. Sebaiknya Roy harus menceritakan apa yang telah terjadi.
Katakan padaku apa yang telah terjadi? Aku tidak mengingat apa pun. Ini benar-benar membuatku gila, Roy. Kau jangan diam saja.
"Apa yang harus aku katakan kepadamu? Sementara aku tidak mengetahuinya. Aku hanya mendapatkan kabar dari seseorang yang tidak aku kenal di ponsel. Lalu, memberitahukan posisimu setelah aku datang ke sana. Aku terkejut kau tergeletak di jalan raya seperti itu dengan darahmu yang sangat banyak. Kau pasti melakukan sesuatu hal yang sangat buruk, hingga seseorang memperlakukanmu seperti ini. Justru kau yang harus mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Aku semakin tidak mengerti dengan ucapan Roy. Apakah Dad saat itu menemukanku lalu menghajarku? Bagaimana dengan nasib semua penumpang di bus itu?
Aku benar-benar masih tidak mengerti. Otakku tidak menyimpan memori itu. Aku hanya mengingat mimpi yang sangat indah itu.
Roy, aku bisa melihat nomor itu? Aku harus mencari sesuatu.
"Midas, apa yang kau lakukan? Kau sangat buruk, dan aku resah melihatmu. Kau tahu, aku panik mengangkat tubuhmu yang sangat besar itu dipenuhi luka. Kau sepertinya habis bertarung. Atau ..."
Roy menunjukkan jemarinya tepat di wajahku. Dia memasang wajah kesal. Dia pasti sudah bisa menebak apa yang aku lakukan. Aku sebaiknya jujur saja dengannya. Memang hanya dia yang bisa membantuku.
"Midas! Tubuhmu lebam, dan kau seperti bertarung. Apa kau melakukan pertarungan ilegal? Hei, Bung. Jawab aku, karena aku akan memukulmu jika kau tidak menjawabnya!" lanjutnya dengan membentak.
Aku menarik napas panjang, tidak tahu harus bagaimana.
"Midas! Katakan!"
Roy terus mendesak aku untuk mengakui apa yang aku lakukan. Dia memberikan pelototan sangat tajam ke arahku. Sementara aku masih diam untuk berpikir keras. Namun kepalaku semakin sakit jika aku melakukannya. Pasti mereka sudah memukulku dengan sebuah benda yang sangat keras di tengkuk bagian leher, hingga membuatku seperti ini.
"Midas! Kenapa diam saja? Aku sangat paham jika kau memberitahukanku dengan menggunakan bahasa isyarat. Jangan kau lupakan itu. Sebaiknya cepat gerakan tanganmu itu dan jawab semua pertanyaanku. Aku tahu, pasti kau sudah melakukan hal yang sangat buruk. Kau benar-benar sudah tidak waras, Midas!"
Roy terus membentakku. Dia pasti sangat paham dengan pertarungan itu. Dia juga sangat kaya raya. Pasti mengetahuinya. Entahlah aku harus memberitahukannya atau tidak. Aku terus berpikir, hingga aku memutuskan untuk memberitahukan semuanya kepada Roy.
"Midas, kau memang menyebalkan. Katakan cepat, atau aku memanggil Ana dan memberitahukan kepadanya tentang kondisimu ini. Kau tahu, dia terus menghubungiku dan menanyakan kabarmu. Ana sangat marah."
Baiklah. Roy, jangan katakan kepada Ana tentang kondisiku. Kau benar. Aku mengikuti pertandingan itu. Aku membutuhkan uang, Roy. Aku melakukan ini untuk memenuhi kebutuhan.
"Apa? Jadi kau masuk ke dalam kandang mafia? Apa kau memenangkannya?"
Aku memenangkannya. Dan, aku kabur. Sekarang aku buronan mereka.
"Kau ... sangat menyebalkan, Midas!"