Roy terdiam, melihatku mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Dia tidak menyangka, aku akan melakukan hal buruk seperti itu.
"Jadi kau benar-benar melakukan apa yang aku katakan barusan?" Roy bertanya sekali lagi. Membuat aku menarik napas. Lebih baik aku memang jujur kepadanya. Lagi pula tidak mungkin aku melakukan kebohongan. Dia sudah menemukanku seperti itu. Tapi yang membuat aku bertanya-tanya, siapa yang sudah menghubunginya? Hingga aku mendapatkan pertolongan dari Roy. Peristiwa itu yang membuat aku tidak mengerti sampai sekarang.
"Midas, kau memang benar-benar melakukan itu? Hei. Kau bisa minta uang kepadaku. Kau tau sendiri aku sangat kaya. Midas, untuk apa kau terjun kepada berbahaya seperti ini? Kau tahu, mereka itu para mafia dan, kau tidak akan bisa menghindar dari mereka. Argh, ini benar-benar suatu kejutan yang sangat luar biasa."
Aku tidak mungkin merepotkanmu, Roy. Aku ingin sendiri. Apakah aku harus selalu meminta kepadamu untuk memenuhi kebutuhanku? Hei, tentu saja itu tidak akan aku lakukan.
Roy semakin berjalan mendekatiku, lalu menarik kursi dan duduk tepat di hadapanku. Sementara aku diam dan menahan kepalaku yang sangat sakit ini. Pasti seseorang memukul dengan sangat keras, hingga aku mengalami luka-luka seperti ini.
"Untung saja kau tidak mati, Midas. Kau lebih baik merepotkanku dari pada kau seperti ini. Hei, kau sekarang lebih merepotkanku. Oh Tuhan, ini benar-benar tidak mungkin. Midas, kau harus selalu bersembunyi. Yah, mereka akan mengejarmu setiap saat. Dan, itu merepotkanku."
Aku tahu itu dan aku akan mengatasi hal ini dengan baik. Kau tidak perlu kawatir.
"Apa? Hah, tidak perlu kawatir?" tanya Roy sambil mengangkat kedua tangannya. Spontan dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menepuk jidatnya. Lalu kembali mendadak, menatapku dengan tajam.
"Kau ini sudah dikejar-kejar oleh seseorang yang ada hubungannya dengan Rey dan Putri. Sekarang kau dikejar-kejar lagi oleh mafia. Bagaimana kau bisa dengan santainya mengatakan akan mengatasi hal itu. Ternyata memang kau sudah tidak waras. Kau selalu melakukan apa pun keinginanmu tanpa diketahui orang lain, dan itu adalah suatu hal yang sangat buruk!"
Baiklah aku menyerah. Maafkan aku. Aku sekarang sekarang kebingungan. Aku sudah sangat salah dengan melakukan hal yang sangat buruk ini. Aku sudah terjun ke dalam lubang buaya. Aku akan memikirkan apa yang harus aku lakukan. Lebih parahnya aku sudah melibatkanmu.
"Aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Kami harus membelimu. Tentu saja pasti dengan harga yang sangat mahal. Hanya itu satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk melepaskanmu."
Membeli? Jadi aku seperti barang tukar tambah? Kau membeliku dan mereka menyerahkanku. Hah. Tapi aku bukan milik mereka. Untuk apa kembali ke sana. Roy, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu. Lagi pula mereka tidak akan pernah menyerahkan diriku pada kalian jika aku kembali.
Roy spontan beranjak dari duduknya. Dia berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus dagunya. Sepertinya dia mencari sebuah cara lain untuk membebaskan aku dari para mafia itu. Tapi, tentu saja aku tidak akan pernah membuat dia melakukan apa yang dia katakan barusan. Aku bukan sebuah barang yang bisa di tukar tambah. Lebih baik aku melawan jika aku diperlakukan seperti itu.
"Ah, aku tahu," ucap Roy keras. Dia kembali mendekatiku. "Para mafia itu akan menyerahkan petarung jika kita membelinya, atau ... jika kau melakukan pertarungan selama 5 kali dan memenangkan semuanya. Maka kau akan bebas. Yah, dengan catatan kau harus menang."
Aku mengernyit, menatapnya dia yang berdiri tegak di hadapanku sambil menunjukkan jemarinya tepat dengan tegas di wajahku. Aku melakukan pertarungan selama 5 kali dan aku harus menang, maka aku dengan mudah bisa terbebas dari mereka.
Apakah kau memikirkan apa yang aku pikirkan? Kau pasti sangat tahu apa yang berada di dalam otakku ini.
Roy kembali mendekatiku dan duduk di kursi itu. Dia menunjukkan kembali jemarinya di wajahku dan menganggukkan kepala. Perkiraanku memang benar. Dia memiliki sebuah rencana yang sama, dengan apa yang aku pikirkan. Dari kecil memang kita selalu memiliki kesamaan yang sama.
"Kau benar. Aku harus membawamu kembali ke sana dan menyelesaikan pertarungan itu selama 5 kali. Lalu kau bisa selesai dan terbebas dari ini semua. Kita hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk itu."
Baiklah setelah aku sembuh, aku akan menyerahkan diriku. Kita pergi ke sana dan aku akan meminta maaf kepada mereka. Aku yakin mereka akan memaafkanku, karena mereka tahu kemampuanku.
"Tapi itu tidak mudah, Midas. Pertarungan selama 5 kali itu sangat berat. Kau akan melawan petarung yang sangat hebat. Bahkan sudah memenangkan pertandingan selama berkali-kali. Mungkin kau bisa beruntung di pertandingan pertama. Tapi, empat pertandingan selanjutnya. Aku tidak tahu bagaimana keberuntunganmu."
Masuk ke sana berarti aku sudah mati dan itu adalah konsekuensinya. Aku harus menerima apa pun resikonya, karena aku sudah terjun ke sana. Tapi, satu hal yang membuat aku sangat resah. Bagaimana aku bertemu dengan Rey nantinya dan juga Ana. Karena aku sedikit melakukan hal salah yang pasti membuat Ana akan sangat marah.
Roy spontan mengernyit. Dia semakin mencondongkan wajahnya tepat di hadapanku. Kedua matanya menelisik tatapanku yang seketika kupalingkan dari wajahnya.
"Apa yang kau lakukan? Apakah kau menikmati semua wanita yang ada di sana? Kau tahu. Midas, aku sangat mengerti keadaan di sana. Yah, petarung yang memenangkan pertandingan akan mendapatkan pelayanan dari wanita yang sudah disiapkan. Jujurlah kepadaku kau sudah memberikan kesucianmu."
Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah memberikannya kepada wanita seperti itu. Aku selalu menginginkan wanita yang elegan dan sangat pintar dan kau sangat tahu jika aku sudah memiliki Ana.
Roy sekali lagi bernapas lega. Sepertinya dia merasakan kelegaan dalam hatinya, aku tidak melakukan itu. Karena aku sudah sangat ... sangat melakukan hal yang buruk. Untung saja aku bisa menahan. Jika tidak, aku melakukan hubungan intim dengan salah satu wanita itu, pasti dia akan menghajarku habis saat ini.
"Lalu apa yang kau lakukan di sana? Kau tau sendiri, kabur dari sana itu sangat susah. Pasti ada seseorang yang membantumu di belakang itu."
Pandangan Roy semakin menghakimiku dan aku harus mengakui apa yang sudah aku lakukan.
Baiklah Roy. Aku akan mengakuinya.Ya, semua wanita itu sudah membantuku untuk keluar dari sana. Tepatnya 6 wanita dan mereka tentunya meminta sesuatu agar mereka membantuku dan aku melakukannya.
Roy menggelengkan kepala, lalu menarik napas panjang. Dia kini kembali resah setelah aku mengakui kejujuranku.
"Baiklah, katakan apa yang sudah kau lakukan terhadap mereka. Kau ini ternyata mudah sekali berpaling dari kekasihmu."
Kau benar. Ya aku harus melakukannya untuk keluar dari sana, dan itu hanya sebuah penyatuan bibir.
"Apa maksudmu?"
Yah mereka meminta aku memberikan bibirku kepada mereka satu persatu dan aku harus melakukannya.
"Apa? Kau memberikan bibirmu secara bergantian kepada 6 wanita itu? Hah, tidak aku percaya kau memang sudah tidak waras, Midas. Tapi itu satu hal yang sangat menyenangkan. Andai saja aku yang berada di sana aku yang akan menggantikanmu. Tapi ... kau akan celaka jika Ana mengetahuinya."
Ana jangan sampai tahu. Tutuplah mulutmu, Roy.
"Baiklah, kita akan pergi besok pagi. Kau, akan bertarung lima kali. Sebaiknya kau memenangkannya."
Aku tahu. Tapi, kepalaku sangat sakit. ali takut jika aku kalah.
"Midas, tunggu. Aku mau menanyakan sesuatu. Bagaimana caramu memenangkan pertandingan itu? Apa kau melihat sesuatu kepada petarung yang kau lawan? Yah, mungkin kelemahannya."
Aku kembali berpikir. Apa yang dikatakan Roy, memang benar. Aku sudah melihat kelemahan dia saat menekan perutnya sebelah kiri dan setelah aku memukulnya, aku memenangkan pertarungan itu.
Kau benar Roy. Aku memang melihat kelemahan dari petarung itu. Lalu aku menghajarnya hingga membuat aku memenangkan pertandingan itu. Sekarang apa yang kau pikirkan? Sepertinya aku memiliki rencana lain yang harus kita lakukan.
"Kau benar, Midas. Aku memiliki rencana yang sangat baik dan ini adalah satu-satunya cara agar bisa memenangkan pertandingan itu. Namun, kita harus melakukannya dengan cara yang sangat singkat." Roy mengatakan sesuatu hal yang membuatku sangat penasaran. Seperti dugaanku, dia memiliki sebuah rencana dan sepertinya itu sangat matang ada di dalam otaknya.
Katakan kepadaku apa rencanamu, Roy? Karena aku sangat penasaran. Sepertinya ini adalah suatu rencana yang sangat hebat, dan tentu saja aku akan menurut, lalu melakukannya. Kau sama sekali tidak pernah membuat kesalahan. Aku sekarang hanya bergantung kepadamu. Tidak ada orang lain yang bisa membantuku selain dirimu.
"Apa yang kau katakan memang benar. Kau sekarang bergantung kepada aku, dan jangan pernah membantah. Atau pun mengeluarkan sikap keras kepalamu itu. Karena aku sangat membencinya. Sekarang dengarkan aku baik-baik," katanya kembali duduk di kursi yang berada tepat di depan ranjangku. Dia menatapku dengan sangat serius. Aku pun melakukan hal yang sama. Aku berharap ini adalah benar-benar sebuah rencana yang sangat baik. Karena memang aku sangat bergantung kepadanya. Keselamatanku kini berada di tangan Roy dan aku akan menuruti apa pun yang dia katakan.
Cepat katakan semua rencana yang ada dalam otakmu itu. Aku berjanji akan menuruti semua yang kau katakan.
"Baiklah. Kita akan mencari informasi empat petarung yang akan bertanding selanjutnya. Kita akan mengikuti mereka, dan mencari kelemahan mereka."
Roy, itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Kita akan mencarinya hanya satu hari. Mereka cuma berempat. Yah, kita besok akan menyelidikinya. Lalu, setelahnya kita akan kembali menuju kandang singa."
Apakah kita bisa melakukan tepat waktu? Hei, empat orang sangat banyak. Roy.
"Kau, katanya akan selalu menurutiku. Kenapa kau meragukanku?"
Baiklah. Aku akan menurutimu. Kita akan melakukannya besok.
"Sekarang kau tidurlah. Kau jangan banyak berbicara."
Saat kami berdebat, ponsel Roy berbunyi. Dia segera merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel itu.
"Midas, kau dalam bahaya."
Ana?