Ponsel Roy berdering. Dia segera menunjukkan kepadaku, dan ternyata memang Ana yang menghubunginya. Pasti Ana sangat kebingungan mencariku. Aku benar-benar sangat ketakutan. Tubuhku lemas seketika. Aku tidak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan Ana nantinya. Aku sangat bersalah. Hatiku sangat bergejolak saat ini.
"Bagaimana ini, Midas? Apakah aku harus mengangkatnya? Argh, ini benar-benar membuatku sangat frustasi. Oh, Tuhan. Aku lebih baik menghadapi masalah yang sangat berbahaya, dari pada aku menghadapi wanita. Kau tahu sendiri mereka selalu saja menangis dan membuat kita kalah tidak bisa berkutik. Atau saat mereka berbicara hati. Apalagi jika kita mencintainya. Aku sudah pernah merasakan hal itu. Dan, ternyata dia memang meninggalkanku ketika aku sudah salah berbicara kepadanya. Kau akan memberikan aku saran apa? Hei, apa yang harus aku katakan kepada Ana?"
Roy terus memandangku sambil mengangkat ponselnya tinggi yang masih terus berdering. Aku sendiri tidak tahu harus memberikan saran apa kepada dia. Aku pun juga tidak tahu harus berkata apa. Ah, pasti Ana akan bertanya di mana aku dan kenapa aku tidak pernah mengangkat telepon darinya. Karena aku memang sengaja mematikan ponselku. Aku tidak ingin semua orang menghubungiku karena aku memang sekarang dalam bahaya. Memiliki masalah yang sangat rumit. Lebih baik biarkan saja mereka menganggapku hilang. Tapi aku harus menghubungi Rey. Dia harus mengetahui di mana aku tinggal.
"Sudah, kamu jangan ngelamun saja. Cepat gerakan tanganmu itu, dan katakan kepadaku apa yang harus aku katakan kepada Ana? Lihatlah, dia mematikan ponselnya lalu menghubungiku berkali-kali. Ini benar-benar membuatku sangat kesal."
Maafkan, Roy. Aku sendiri juga tidak tahu harus memberikan saran apa kepadamu. Lebih baik aku hanya mengangkatnya saja dan beri tahu jika kau tidak pernah menemukanku di mana pun.
"Jadi aku harus mengangkatnya dan mengatakan aku tidak mengerti kau di mana? Lalu kenapa kau tidak mengangkat ponselmu sendiri? Midas, kau seharusnya harus menyalakan ponselmu dan mengangkatnya. Katakan kau sangat sibuk, atau kau melakukan sesuatu hal. Kau sudah melibatkanku dalam masalah pribadimu, dan itu menyebalkan."
Maafkan aku, Roy. Aku sangat kebingungan. Aku tidak ingin dia mengetahui di mana aku berada dan mengetahui kondisiku. Sudahlah, angkat saja. Katakan apa yang aku sarankan tadi.
Roy menggelengkan kepalanya dengan kesal. Akhirnya dia perlahan menekan tombol hijau yang berada di layarnya, kemudian dilanjutkan menekan speaker agar aku bisa mendengarkan percakapan dirinya dengan Ana.
"Halo bagaimana kabarmu? Maafkan aku. Yah, aku tadi baru saja habis dari kamar mandi dan meletakkan ponselku di luar. Apa yang bisa aku bantu untukmu?" kata Roy masih saja menatapku dengan sangat melotot. Dia mau terus menggelengkan kepalanya, karena hatinya sangat kesal. Sementara aku terdiam menatapnya dengan detakan jantungku yang berdebar cepat. Aku sangat kebingungan sebenarnya ingin sekali aku bertemu dengan Ana. Namun aku sebaiknya harus menghindar sampai semua masalahku selesai.
Roy, di mana Midas? Aku menghubunginya tidak bisa. Ponselnya mati. Apakah terjadi hal buruk kepadanya? Aku sangat kawatir. Hanya kamu yang bisa aku hubungi. Rey pun, tidak tahu di mana Midas berada. Dia juga sangat kebingungan. Untung saja saat itu aku aku minta nomor ponselmu. Jadi aku harap kau mengetahui bagaimana Midas, kata Ana dengan sangat pelan. Suaranya itu ... sepertinya terisak. Apakah dia menangis? Oh, tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak mau dia menangis gara-gara diriku. Aku adalah lelaki yang sangat menyebalkan. Hatiku hancur saat mendengar suara itu yang sangat pelan. Aku benar-benar rapuh sekarang.
"Jadi kau tidak mengetahui di mana Midas? Jika kau tidak mengetahuinya, apalagi aku. Bukankah kalian sudah berpacaran. Seharusnya kalian saling berkomunikasi dengan jelas. Maafkan aku, Ana. Aku tidak mengetahui di mana Midas berada," jawab Roy sambil berjalan mendekatiku dan duduk di kursi tepat di depan ranjangku kembali. Dia menyandarkan tubuhnya dan menarik napas panjang. Aku tahu perasaannya. Dia sekarang tidak tahu harus berkata apa dengan perasaannya yang sangat kesal kepadaku. Dia hanya hanya bisa berbohong kepada Ana.
Jika kau tidak mengetahuinya, aku pun tidak mengetahuinya. lalu Rey pun tidak mengetahui keberadaan Midas. Siapa yang mengetahui keberadaannya? Dia menghilang seperti hantu, tidak ada kabar sama sekali. Bagaimana jika dia diculik atau dia melakukan suatu hal yang sangat buruk, hingga membuat dirinya entah ke mana atau terluka di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Roy, aku tidak ingin hal itu terjadi. Jika kau mengetahui kabarnya, tolong beritahu aku, ucapnya sekali lagi dengan nada yang lebih lemas dari sebelumnya. Aku mendengar isakan tangis itu. Aku benar-benar hancur. Aku tidak ingin dia menangis karena diriku yang sangat egois ini.
"Aku berjanji kepadamu akan mengatakannya walaupun misalnya Midas tidak ingin dirinya diketahui oleh siapa pun. Aku tetap akan memberitahukan kepadamu, Ana. Aku berjanji. Sekarang kau lebih baik tenang. Karena aku yakin Midas baik-baik saja. Tentu saja tidak akan ada yang menculiknya. Kau tau sendiri tubuhnya sebesar itu," balas Roy sekali lagi membuat Ana masih saja tidak menghentikan tangisannya. Ternyata wanita jika sudah mencintai, hatinya sangat lemah. Bahkan mereka mudah sekali meneteskan air mata kepada orang yang sudah terisi di hati mereka. Sementara aku masih terdiam, menatap Roy yang akhirnya menutup ponselnya.
"Kau tahu kenapa aku paling tidak bisa menghadapi wanita? Yah, mereka cepat sekali menangis, Midas. Dan aku tidak bisa melihatnya. Lihatlah, walaupun Ana bukan pacarku. Aku aku sangat sedih. Hah, kau seharusnya tidak membuat dia seperti itu. Dengarkan aku. Kalau kau terus menyakitinya, aku akan merebutnya darimu. Aku akan menikungmu dari belakang. Kau ini benar-benar sangat tidak tahu diri."
Jangan pernah merebut dia dariku, karena aku benar-benar akan menghajarmu. Kau benar, aku memang sangat tidak tahu diri. Setelah keluar dari sini besok dan mengetahui kelemahan semua petarung itu, aku akan menelepon Ana dan memberitahukan semuanya. Tapi sekarang aku sebaiknya harus menghubungi Rey. Dia harus tahu apa yang aku lakukan. Aku tidak ingin membuat semua orang cemas karena diriku.
"Kau sudah membuat cemas semua mafia itu, bahkan kau sekarang buronan. Malam ini saja kita tidak tahu apakah akan tetap hidup sampai besok. Bagaimana jika mereka mengetahui dirimu berada di rumah sakit ini, dan membunuh kita berdua. Mereka tidak akan pernah mendengarkan sebuah alasan jika sudah sakit hati. Sebaiknya kau mengetahuinya itu. Kau menyerahkan dirimu, sama saja kau bunuh diri. Peluru yang berada di dalam senjata api itu bisa melesat cepat, menembus kepalamu itu kapan saja yang mereka mau."
Roy, kita sebaiknya tidak perlu menuunggu esok. Aku sudah baik. Kau mengatakan jika mafia itu malam ini bisa saja dengan mudah membunuh kita. Sebaiknya kita memang pergi dari sini malam ini. Segera urus administrasi pembayaran. Aku sangat baik-baik saja. Kita akan beristirahat di mobil, lalu dini hari menemui seseorang yang bisa membantu kita. Tidak mungkin kita menemukan keempat petarung itu tanpa bantuan. Bukankah seperti itu, Roy?
Roy masih terdiam, menatapku sangat serius. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dia melihat diriku masih sangat pucat. Namun, dia pasti juga sadar dengan apa yang aku katakan. Memang benar malam ini sangat tidak aman. Pasti semua mafia itu akan mencariku dan ini tidak baik.
Roy tiba-tiba membuka pintu kamar dan keluar. Dalam beberapa detik, dia membawa kursi roda masuk ke dalam, lalu mendekati ranjangku.
"Aku sudah menyelesaikan administrasi dengan cepat. Tidak mungkin aku menunggu sesuatu yang sangat membahayakan seperti ini. Sekarang lebih baik kau cabut infus itu dan duduklah di kursi roda ini. Kita akan keluar dengan diam-diam. Perasaanku sangat tidak enak. Cepat lakukan dan jangan bertanya apa pun padaku."
Aku menganggukkan kepalaku dan segera melakukan apa perintah Roy. Dia lebih paham kepadaku, karena dia sudah pernah terjun dalam situasi rumit seperti ini. Berkumpul dengan mafia pasti sudah dialaminya. Semua bisnis yang dilakukan Paman pasti berhubungan dengan mereka semua.
Aku segera menuruni ranjang dan mengambil baju yang terselampir di kursi sofa. Dengan cepat aku mengganti pakaian rumah sakit ini dengan pakaianku, lalu aku berjalan mendekati Roy dan duduk di kursi roda itu.
"Midas. Kenapa kau mengganti bajumu? Jangan pernah kau lakukan hal itu. Sekarang ganti bajumu dengan pakaian rumah sakit itu lagi dan masukan bajunya yang asli ke dalam tas ransel. Cepat lakukan. Tidak mungkin kita melewati semua dokter itu dengan bajumu, karena akan lebih mencurigakan lagi. Semua kamera CCTV berada di di sudut ruangan dan kita pasti akan ketahuan jika kau memakai pakaian seperti itu."
Aku masih terdiam dan berpikir. Dari pada aku keluar dari sini menggunakan kursi roda itu, lebih baik aku berjalan seperti pengunjung yang menunggui pasien.
Bagaimana jika aku tetap menggunakan baju ini dan aku berpura-pura menjadi pengunjung saja. Itu sepertinya lebih baik dari pada aku berpura-pura menjadi pasien.
"Kau ini memang tidak pernah waras. Lihatlah kepalamu itu, penuh dengan perban. Kau jelas-jelas seperti pasien. Tidak mungkin aku membuka perban itu, karena kamu sangat parah. Setelah kelyar dari sini, aku akan membawamu ke temanku. Dia juga seorang dokter yang memeriksanya. Tapi kita tidak bisa membuka perban itu. Lebih baik kau sekarang mengganti pakaianmu dan menuruti apa yang aku katakan. Cepat!"
Tanpa berbicara lagi, aku menuruti apa perkataan Roy. Aku segera menduduki kursi roda itu dengan perasaan gelisah. Roy mulai mendorongnya perlahan sampai menuju pintu kamar. Dia membuka pintu itu dan mengamati kanan kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang akan mengetahui perbuatan kita.
"Sekarang kau menunduk, jangan sampai kau mengangkat kepalamu sampai kita berada di dalam lift. Ingatlah , aku tidak mau kita ketahuan."
Kau sepertinya sangat berpengalaman sekali, Roy. Jangan-jangan kau pernah melakukan hal ini sebelumnya.
"Aku selalu melihat film action. Aku tahu cara ini pasti berhasil. Sekarang, diamlah!"
Aku hanya diam saja. Kemudian menundukkan kepala. Roy segera mendorong kursi roda ini keluar menelusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi. Kita keluar saat tengah malam. Tentu saja tidak ada pengunjung yang datang. Bahkan suster pun tidak ada yang berkeliaran. Ini adalah satu hal yang sangat menguntungkan bagi kita. Dengan cepat Rey menuju lift, lalu menekan tombol untuk membukanya. Kami berdua terdiam dengan perasaan yang sangat berdebar. Pintu lift ini sangat lama untuk terbuka. Semoga saja kita tidak diketahui oleh siapa pun dalam pelarian ini.
"Midas. Jangan pernah mengangkat wajahmu, karena aku tidak mau kau memperlihatkannya sedikit pun," bisik Roy kepadaku. Aku hanya terdiam tidak menganggukkan kepalaku. Namun, dia paham jika aku sudah mengetahui apa yang dia maksud.
Kami berdua menarik napas panjang saat pintu lift terbuka. Dengan cepat Roy kembali mendorongku untuk masuk ke dalam, lalu dia kembali menekan tombol untuk menutup lift itu. Kami masih saja terdiam tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun.
Pintu lift terbuka. Roy kembali mendorong kursi ini dengan cepat. Dia terus berjalan mengamati arah ke depan. Mendadak, dia membelokkan kursi dorong itu dan aku paham Roy melewati pintu belakang. Dalam sekejap kita sampai di parkiran.
"Sekarang turunlah. Mobilku ada di pojok sana. Aku akan meletakkan kursi itu di sini saja," bisik Roy masih dengan pelan. Aku mengamati sekitar, memastikan tidak ada siapa pun di sini.
Roy berjalan cepat menuju mobilnya. Aku mengikutinya dari belakang. Akhirnya kami masuk ke dalam dan kembali menarik napas panjang. Roy segera memasukkan kunci mobil ke dalam mesin. Dia segera melesatkan mobil untuk keluar dari rumah sakit, dan kini kami benar-benar berhasil kabur. Aku benar-benar seperti buronan yang sangat mengenaskan. Ini benar-benar buruk.
"Kita tidak akan pernah pergi ke apartemenku, karena terakhir mereka melihatku. Pasti mereka mengira kita akan ke sana. Kita akan pergi ke tempat yang sangat sepi dan itu adalah pelabuhan. Malam ini kita akan beristirahat di mobil ini. Aku akan menghubungi temanku. Aku akan membayarnya untuk mengetahui nama keempat petarung itu. Untung saja aku pernah datang ke sana, hingga aku tahu siapa saja yang bisa aku hubungi untuk membantu kita."
Aku hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa pun. Roy terus melesatkan mobilnya sampai di pelabuhan. Kami berhenti di tempat yang sangat gelap dan sepi. Aku segera mengganti bajuku, menghubungi seseorang. Entahlah itu siapa. Dalam sekejap dia tersenyum menatap ponselnya. Karena sudah mengetahui empat nama dan alamat yang akan bertarung denganku besok. Aku sangat lega melihatnya.
Semalaman kami menutup kedua mata. Walaupun aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku berusaha untuk terlelap agar tenagaku kembali normal. Hingga pagi menjelang, kami segera terbangun. Roy kembali melesatkan mobil itu untuk menuju alamat pertama.
Kami berdua tidak percaya. Petarung itu adalah seorang wanita? Dan ... aku kembali terkejut, saat melihat mobil tidak asing terparkir di halaman depan.
Itu mobil Bram. Kekasih Amelia.
Aku keluar dari mobil. Roy sangat kesal melihatnya. Aku berlari menuju pagar belakang. Aku segera menaikinya. Untung saja tidak terlalu tinggi. Aku mengamati sekitar, dan ... aku tidak percaya dengan penglihatanku.
Bram bercinta dengan petarung itu?