Berhasil Menumbangkan Bram

1942 Kata
"Midas. Apa yang kau lakukan? Kau sepertinya sangat serius sekali melihat. Hei, bagaimana? Apa yang kau dapat?" bisik Roy di bawahku sambil melotot. Sementara aku masih terdiam, terus mengamati Bram dengan adegannya bersama wanita petarung itu. Aku sangat kesal. Amelia sedang melawan penyakitnya dan dia di belakangnya sedang bermain api bersama wanita lain? Argh, ini benar-benar di luar dugaanku. Apakah aku harus mendekatkan Rey kembali dengan Amelia? Yah, agar hidup mereka bersama Putri sangat bahagia. Kemudian menyingkirkan Bram dari kehidupan mereka. Sepertinya itu jalan terbaik yang harus aku lakukan. Ah, kenapa aku ini banyak sekali rencana di dalam kepalaku ini. Sementara aku selalu saja masuk ke dalam bahaya yang sangat mengerikan. Aku kembali melompati pagar, lalu menarik Roy untuk masuk ke dalam mobil. Aku menekan dadaku, mengatur napas yang terengah-engah. Roy pun melakukan hal yang sama. "Kau ini sudah membuatku sangat panik. Cepat katakan apa yang kau lihat? Sepertinya aku menemukan suatu hal yang sangat menarik. Semoga saja itu adalah benar-benar apa yang kita cari," kata Roy menatapku dengan sangat serius. Aku kembali menarik napas panjang untuk bersiap mengatakan apa yang aku lihat. Roy pasti akan sangat terkejut dengan apa yang aku katakan nanti. Aku melihat kekasih Amelia. Yah, mantan istri Rey sedang melakukan hubungan intim dengan wanita petarung itu. Maafkan, aku sangat terkejut. Kau tahu sendiri Amelia sebenarnya mengidap sebuah penyakit. Tapi tidak kusangka selama ini mantan istri Rey sudah mendukung dia dan ternyata mendapatkan pengkhianatan. "Apa? Jadi yang di dalam sana, wanita petarung itu dengan lelaki yang selalu mengejarmu selama ini? Oh mu God! Tidak aku sangka dunia memang sangat sempit. Kenapa kita harus selalu menemukan dia ke mana pun kita berada? Midas, ini benar-benar membuatku sangat pusing. Kita sekarang tidak hanya akan melawan satu musuh, tapi melawan dua musuh sekaligus. Apa yang harus kita lakukan, sementara kau harus kembali ke sana. Jika tidak, tamat riwayatmu!" Roy menepuk jidatnya. Aku tahu perasaannya. Apalagi dia sekarang ikut terlibat. Kita akan mengamati wanita itu dulu dan aku sangat paham dengan kelemahan wanita. Mungkin sekali pukulan yang aku berikan, dia bisa tumbang seketika. Roy semakin melotot ke arahku. Dia kini bersedekap sambil memiringkan tubuhnya di depan kursi kemudi agar dengan jelas bisa melihat wajahku. "Hei, Bro. Sadarlah, yang masuk ke dalam sana adalah orang yang sangat spesial. Walaupun dia wanita, tentu saja dia memiliki kekuatan yang tidak kau sangka. Mungkin aku saja, jika melawannya, aku bisa kalah seketika. Hei, kau jangan meremehkan wanita, Midas." Bukan begitu, Roy. Sekuat-kuatnya wanita. Dia memiliki kelemahan dan di situ tempatnya. Sekarang kita di sini untuk mengamati Bram. Aku ingin sekali memergokinya. Aku ingin sekali berdiri di hadapannya, lalu menghajarnya sampai habis. Ijinkan aku melakukannya saat ini juga. Setelah dia keluar dari rumah itu! Roy menggelengkan kepala dengan cepat. Dia tidak setuju dengan permintaanku. "Kau! Lebih baik menyimpan tenagamu itu untuk bertarung. Jangan membuangnya sia-sia. Biarkan saja lelaki itu dengan keinginannya. Mungkin saja Amelia selama ini selalu mengaturnya dengan sangat keras dan tidak bisa memuaskan hasratnya. Pantas saja dia mencari wanita lain, Midas. Kau pun harus menerima akan hal itu. Kita ini laki-laki membutuhkan kepuasan." Aku kali ini yang menggeleng, tidak setuju dengan perkataannya. Laki-laki yang tidak tahu diri tepatnya. Kenapa kamu membelanya? Ah, udahlah. Kita tunggu saja mereka keluar. "Kau memang lelaki yang sangat aneh dan unik. Mungkin hanya satu di antara seribu lelaki di sana. Hah, Ana sangat beruntung sekali memilikimu," gumam Roy kembali mengamati rumah petarung itu. Kami masih berdiam di sini untuk menunggu Bram keluar dari sana. Aku terus mengeratkan kesepuluh jemariku untuk melemaskannya. Ingin sekali aku memukul wajahnya agar lebam dan menjadi sangat buruk. Aku sangat membenci lelaki yang bermain api di belakang wanita. Entahlah, mungkin yang dikatakannya kali benar. Jika aku ini satu-satunya lelaki yang setia. Selang beberapa menit, ternyata Bram dengan wajah yang sangat berantakan, keluar dari sana. Aku menepuk pundak Roy dan menunjukkan arah di depan. Roy masih menggelengkan kepala. Dia tidak ingin aku melakukan hal yang aku katakan barusan. Tapi, aku akan melakukannya, entah mendapatkan persetujuan dari Roy atau tidak. Roy. Jangan pernah ngelarang aku. Argh, ku ingin sekali menghajarnya. Sudahlah! Izinkan aku melakukan hal itu. Aku ingin sekali membuat dia jera. Dia tidak seharusnya melakukan hal ini, dan tentu saja tidak hanya itu alasan aku melakukannya. Aku selama ini memendam kebencian kepadanya. Kau tahu sendiri, dia sudah membuntutiku bersama Rey. Lalu, membuat kehidupan kami sangat berantakan. Itu adalah tujuannya, dan sekarang saatnya aku harus menghajarnya. Roy mendengus kesal melihatku berbicara. Namun dia sepertinya menyerah dan akan membiarkan aku. Yah, sebaiknya itu yang dia lakukan. "Midas! Baiklah! Lakukan apa yang kau inginkan. Sepertinya kau memang harus membalas dendam, dan ini adalah waktu yang sangat tepat. Apalagi dia tidak bersama semua pengawal yang biasanya dia bawa. Kau hanya harus memukulnya saja tanpa harus melawan semua pengawal itu. Baiklah, aku akan menghadang mobil di depan pagar, lalu kau keluar. Waktumu hanya lima menit. Jangan terlalu lama, karena kita harus menghemat waktu." Aku sedikit tersenyum melihat Roy akhirnya memberikan saran yang sangat luar biasa. Aku mengatur diriku sendiri untuk bersiap menghadapi lelaki yang sangat aku benci! Kau memang saudaraku yang sangat luar biasa. Aku tidak sabar untuk menghajarnya cepat. Oke, lakukan apa yang kau katakan tadi! Roy menganggukkan kepalanya. Dia mulai memasukkan kunci di mesin mobil, lalu bersiap untuk menekan pedal gas. Saat mobil Bram benar-benar akan keluar dari gerbang, dengan cepat Roy melesatkan mobil. Dia menabrak ujung mobil Bram. Brak! Tentu saja hal itu membuat Bram akan sangat marah dan aku senang akan hal itu. Seperti dugaanku. Bram keluar dengan ekspresi kemarahan yang sangat luar biasa. "Apa-apaan ini! Kurang ajar! Siapa yang sudah berani menabrak mobilku?!" teriaknya keras. Kedua matanya melotot seperti boneka panda. "Hei, kalian semua yang berada di mobil! Keluarlah! Kalian mau menyetorkan nyawa kepadaku? Kalian melakukan ini dengan sangat sengaja! Kalian tidak tahu diri!" lanjutnya berteriak sambil terus memaki dengan sangat keras, sambil menunjukkan jemarinya tepat di mobil Roy. Aku sudah geram dan segera membuka pintu, lalu menghampirinya dengan mendadak. Bram melotot melihatku. Dia tidak percaya, kini aku berada di hadapannya secara langsung. "Oh, jadi kau lelaki bisu yang sangat kurang ajar! Kau, berani-beraninya melakukan hal ini kepadaku? Apa kau mau mati!" umpatnya dengan sangat keras. Aku tidak menanggapinya sama sekali dan tetap berjalan, lalu menarik kerahnya. Aku segera melayangkan pukulan yang sangat keras, membuat hidungnya memuncratkan cairan merah segar. Aku sangat puas!" Buk! Buk! Bertubi-tubi aku memukul wajahnya. Dia sama sekali tidak bisa melawanku. Ketika dia ingin bangkit dari tubuhnya yang sudah menunduk, aku kembali melayangkan pukulanku dengan keras. Bram berjalan sempoyongan mundur untuk menghindariku. Aku tidak akan pernah memaafkanya. Aku akan terus melakukan itu sampai dia tumbang dan mengalami hal seperti semua petarung yang sudah dia tertawakan. Aku benar-benar akan melakukannya! "Kau! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau akan menanggung semua akibatnya lelaki bisu! Aku tidak akan pernah memaafkan, apa yang kau lakukan hari ini! Aku akan mengingatnya dan membuat kau membayarnya!" ucapnya dengan kata terpatah-patah sambil terus menekan perutnya. Aku semakin geram, kembali melangkah mendekatinya. Mendadak aku menendangnya sangat keras. Kini tubuhnya terhempas di tanah. Aku sangat puas melihatnya. Yang terpenting dia tidak mati dan merasakan penderitaan itu! "Apa-apaan ini? Kenapa kau menghajar lelaki ini? Dasar kurang ajar! Aku akan membalasnya!" Mendadak petarung wanita itu keluar sangat mengejutkan. Kini dia mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya sangat tinggi. Aku akan bersiap menghadapinya. Ini adalah seharusnya pertarungan pertamaku. Namun aku beruntung. Jika dia tumbang, maka aku terbebas dari dirinya. Dia seorang wanita. Tentu saja aku bisa mengalahkannya dengan sangat mudah. "Kau pasti orang yang tidak waras! Menghajar lelaki tanpa ada alasan. Aku benar-benar sangat marah!" ucap wanita itu sebelum melayangkan pukulannya dengan cepat. Buk! Buk! Aku menangkis. Ternyata dia sangat kuat. Dia kembali menyerangku bertubi-tubi. Aku tetap menangkisnya dengan cepat. Apa yang dikatakan Roy memang benar. Walaupun dia seorang wanita, pasti akan memiliki sesuatu yang spesial jika masuk ke dalam pertarungan itu. Dan aku melihatnya. Sekarang, pukulanku saja yang mengenai wajahnya bisa dengan mudah dia tahan. Ditambah, pukulan yang aku layangkan kepadanya dengan mudah dia tangkis begitu saja. Kami benar-benar bertarung di sini. Roy berlari keluar dari mobilnya, menghampiriku dan memegang kepalanya. Dia menghentakkan kakinya berkali-kali. Sangat resah melihat aku menemukan lawan seimbang. Namun, dia hanya bisa diam mengamati pertarungan yang berada di hadapannya. Tentu saja dengan perasaan yang sangat marah. Aku sangat paham dengan dirinya. "Kau pasti lelaki bisu yang sudah diceritakan Bram kepadaku. Kau sangat tidak tahu diri. Aku akan membunuhmu saat ini juga," ucap wanita itu saat kembali bersiap akan melayangkan pukulannya. Aku benar-benar tidak percaya Bram menceritakan keburukanku kepada wanita itu. Padahal dia sama sekali tidak pernah mengetahui kehidupanku. Bram memang sangat kurang ajar! Kali ini aku akan benar-benar mengakhiri pertarungan ini. Aku sangat paham dengan wanita. Sekuat apa pun mereka, ada kelemahan yang tidak diketahuinya. Aku akan menyerang di bagian itu. Namun, aku akan membuatnya pingsan dan itu sebenarnya suatu hal yang tidak boleh aku lakukan. Tapi, apa boleh buat. Aku harus melakukan hal itu. Sebelumnya aku akan membuat dia merasa lelah, agar dia tidak datang di pertarungan itu. Ditambah dengan sesuatu yang membuat dia benar-benar tidak akan datang. "Kenapa kau lelaki bisu diam saja? Kau menyerah denganku? Hahaha. Ternyata kau lelaki yang sangat lemah, tidak bisa melawan seorang wanita!" ucapnya dengan memakiku. Aku masih berdiri di hadapannya dengan diam, dan belum menyerangnya. Aku akan menunggu dia berusaha melawanku, kemudian membuat dia lelah. "Dasar tidak tahu diri. Kau benar-benar sangat kurang ajar!" umpatnya semakin keras. Dia kemudian mulai berjalan mendekatiku kembali. Dia berusaha memukul wajah, perutku, atau menendangku. Dengan cepat aku menghindarinya. Aku melihat Roy sangat tegang. Waktuku sangat pendek. Baiklah, aku akan menumbangkannya saat ini juga. Dengan cepat aku menarik kakinya, lalu memukul bagian sensitif atasnya dengan sekali pukulan. Aku menarik tengkuk lehernya, dan menamparnya sangat keras. Plak! Plak! Secepatnya aku membalikkan tubuhnya, dan mendorongnya hingga dia terhempas ke tanah. Tidak percaya aku sangat kejam kepada seorang wanita. Argh, aku benar-benar lelaki yang sangat tidak waras! Roy segera menghampiriku. Dengan cepat dia menarik lenganku untuk mengajakku pergi dari sana. Namun aku sedikit menahannya, karena ada urusan yang sangat penting untuk aku sampaikan kepada Bram. Aku tidak akan pernah meninggalkan kesempatan ini. Aku harus mengatakan itu semua. Bram memang sangat kurang ajar! "Midas! Apa yang kulakukan? Kenapa kau kembali mendekati lelaki itu? Hei, kita harus pergi dari sini karena dia sudah tumbang. Ini adalah kesempatan terbaik yang harus kita lakukan. Sudah! Tinggalkan saja!" Aku sama sekali tidak mendengarkan perkataan Roy. Aku terus berjalan dan berdiri di hadapan Bram yang terus menekan perutnya yang sangat sakit itu. Aku sangat paham, dia pasti sangat terluka dengan ini semua dan tentu saja membuatku sangat senang. Aku menatapnya dengan sangat tajam, membuat dia semakin geram terhadapku. Aku tidak mempedulikan akan hal itu. Aku akan menyampaikan suatu hal dan dia harus mengamati semua bahasa isyarat yang sudah aku berikan kepadanya. Kau sudah mengkhianati wanita itu. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini. Aku akan membuat kau berpisah dengan Amelia dan itu yang akan aku lakukan. Camkan itu baik-baik lelaki kurang ajar. Bram menatapku dengan kesal. Dia sangat marah. Aku membalikkan tubuh, lalu menarik Roy untuk keluar dari sana. Dengan cepat Roy menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari sana. di dalam mobil Aku sangat puas dengan apa yang aku lakukan terhadap Bram. Aku tidak akan pernah membuat dia kembali mendekati Amelia. Aku akan menceritakan semuanya kepada Rey dan menyarankan kepadanya untuk kembali menjadi pendamping Amelia agar kehidupannya bersama putri bahagia tanpa ada pihak ketiga yang selalu membuat mereka sengsara. Namun, satu hal yang harus aku lakukan adalah dan ini sebuah sarang yang terlintas begitu saja di kepalaku setelah aku melawan wanita petarung itu dan membuatnya tumbang sehingga tidak akan melakukan pertarungan itu. Aku akan membuat semua ketiga petarung itu tumbang sebelum mereka benar-benar berada di arena pertandingan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN