Menuju Rumah Sakit Milik Sendiri

1504 Kata
Ini hal mengejutkan buatku. Berada di rumah sakitku? Tapi, hanya itu cara yang bisa aku lakukan. Alu harus ke sana. Suster masih mengamatiku untuk langkah selanjutnya. Sementara, aku diam tak berkata apa pun. "Dokter Midas. Bagaimana ini. Apa langkah sepanjutnya?" tanyanya masih saja menatapku. Tidak ada jalan lain. Aku harus melakukannya. Dan, ini adalah janjiku. Melakukan dengan profesionalitas. Katakan kepada suster itu untuk mengirim ambulan. Kita akan segera betangkat. Suster menganggukkan kepalanya. Dia segera mengatakan kepada suster di rumah sakit itu untuk menyiapkan semuanya. Sementara aku harus menyiapkan hatiku untuk menemui seseorang yang dengan sangat kejam memgusir dari rumahku sendiri. Ini sedikit membuatku kawatir. Tapi aku harus melawan, melakukan pekerjaan dengan profesionalitas. Itu yang harus aku lakukan. Lakukan semua, dan aku akan di dalam ruanganku. Aku segera berjalan di ruanganku kembali aku masuk dan menutup pintu sangat rapat Aku menuju kursi kerja lalu duduk dan diam termenung Aku memikirkan cara yang bisa aku lakukan untuk menghadapi Pamanku yang sama sekali belum melakukan beberapa tahun ini aku hanya berharap dia tidak mengenaliku itu tidak mungkin dia pasti sangat baik "Dokter Midas. Izinkan saya masuk!" teriak suster di luar ruangan. Aku segera beranjak dari kursiku untuk menuju ke pintu dan membukanya. Suster itu menatapku dengan cemas. Aku segera terseyum. Dia aku persilakan untuk masuk ke dalam. "Dokter Midas, semuanya sudah selesai. Saya juga memberikan suntikan melalui infus yang berisi semua obat yang sudah Anda perintahkan sebelumnya. Semuanya sudah selesai. Mungkin Anda bisa kembali ke kamar untuk mempersiapkan semuanya sebelum berangkat menuju rumah sakit di kota." Baiklah, terima kasih sudah melakukan tugasmu dengan baik. Kau sangat profesional. Aku akan membantumu untuk mendapatkan jabatan yang lebih baik di sini. "Aku bertugas membantu semua pasien dan itu adalah kewajibanku. Baiklah, saya akan keluar dengan menunggu semuanya." Aku menganggukkan kepalaku. Suster itu sedikit tersenyum kepadaku, lalu meninggalkanku dengan cepat. Aku menyambar ransel yang biasa aku bawa, lalu kembali ke kamar untuk menyelesaikan semuanya. Di dalam kamar aku berdiam sejenak. Masih saja mengatur hatiku. Bagaimana jika mereka tidak menerima aku, lalu mengusirku? Apakah aku harus menghubungi Dokter Alberth agar dia bisa membantuku? Tapi aku ingin sekali melakukannya sendiri. Paling tidak aku harus mencoba. Apalagi aku melihat pasien itu tidak memiliki biaya untuk melakukan operasi di sana. Semoga saja tidak ada masalah yang sangat serius. "Midas! Bukalah pintu! Midas, ini aku, Ana!" Ternyata Ana yang memanggilku. Dia pasti sudah mendengar berita ini dan segera menemuiku. Aku berjalan cepat menuju pintu kamar dan membukanya. Dia segera masuk dan menatapku dengan cemas. "Apa kau akan pergi ke sana. Kau harus mengajakku, Midas. Karena aku adalah asistenmu. Bagaimana jika kau akan berhubungan dengan mereka dan mereka tidak mengetahui bahasa isyarat? Jika ada diriku, akan ada yang membantumu." Perkataan Ana yang memang benar. Aku memang harus ke sana bersama dengan seseorang yang sangat dekat denganku dan itu adalah dirinya. Aku menganggukan kepala, membuat Ana segera keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya. Dia akan mempersiapkan dirinya. Ponselku berbunyi. Aku segera mengambilnya. Ternyata suster itu memberi pesan jika semua sudah siap. Bahkah ambulan pun sudah datang. Jarak antara Desa ini dari kota tidak cukup jauh. Hanya satu jam saja. " Mita aku sudah siap Ayo kita segera pergi sana aku mendengar ambulans itu juga sudah siap kita harus bergegas kasihan itu tidak boleh terlambat kita harus bertanggung jawab menangani nya." Aku masih saja menarik napas panjang sebelum akhirnya aku melangkah dan mendekati anak. Sejenak aku memeluknya untuk menenangkan hatiku, karena hanya dirinya yang bisa melakukannya. "Aku tahu. Kau pasti sangat cemas Midas. Lawan rasa cemas itu agar kau bisa menjalankan pekerjaan dengan baik. Ada aku di sini yang akan mendampingimu selalu." Seperti biasanya, Ana selalu membuatku sangat tenang. Aku tersenyum, lalu menggenggam erat telapak tangannya. Kami berdua berjalan bergandengan menuju ke rumah sakit. Aku segera memeriksa semua pasien di sana, memastikan keadaan mereka baik. Setelah itu, aku mengumpulkan semua suster di sana. Ana, katakan kepada mereka. Kita akan pergi sebentar saja. Semua kekuasaan aku serahkan kepada dokter Mira dan suster yang sudah membantuku untuk menghubungi rumah sakit itu. Tapi jika ada sesuatu yang harus mereka sampaikan kepadaku, mereka bisa memberikan pesan di dalam ponselku. Ana segera memberitahukan semua yang aku katakan kepada suster. Dia juga membereskan berkas-berkas yang harus diberikan kepada semua pasien saat pagi. Dalam waktu singkat saja, dia sudah melakukannya. "Semuanya sudah beres. Kita harus segera masuk dan pergi." "Kalian tidak boleh pergi kemana pun. Di sana banyak sekali dokter yang bisa menangani pasien seperti itu, dan itu sangat mudah. Untuk apa kau meninggalkan rumah sakit ini dan pergi ke sana. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Kalian sebaiknya mengurungkan niat untuk ke sana dan tetap di sini," ucap Mira tiba-tiba mengejutkanku dan Ana. Aku tidak akan pernah membiarkan pasien itu ke sana sendirian, karena aku sangat mengetahui kondisi rumah sakit itu. Pasti mereka akan mengusir dan tidak akan pernah membiarkan pasien itu untuk berobat. Apalagi dia tidak memiliki biaya sama sekali. "Kau tahu sendiri bagaimana keadaan rumah sakit itu. Mereka tidak akan pernah membiarkan pasien tidak bisa membayar masuk ke sana. Jika tidak ada kami berdua, bagaimana dengan pasien itu? Pasti mereka akan mengusirnya dan aku tidak mau. Sekarang kau lebih baik diam dan jangan mencampuri keputusan kepala dokter di sini. Kau tidak berhak untuk mengatakan semuanya. Yang kau lakukan hanya diam dan menurut," balas Ana dengan sangat tegas sembari menunjukkan jemarinya tepat di wajah Mira yang seketika itu membuatnya sangat geram. "Kalian adalah dokter yang baru saja keluar dari sekolah, lalu menangani semua pasien. Tapi kalian juga harus mengetahui aturan. Tidak bisa seenaknya saja. Apalagi kau meninggalkan rumah sakit ini. Aku tidak akan membiarkan. Kalian sama sekali tidak bertanggung jawab." "Kami tidak meninggalkan rumah sakit ini dengan cuma-cuma. Lihatlah semua berkas dan semua yang akan dibutuhkan besok. Semua sudah selesai dan kau yang harus memimpin rumah sakit ini. Kau yang bertanggung jawab. Semua itu yang diperintahkan oleh Kepala Dokter. Sebaiknya kau menurut, karena dia adalah atasan!" Aku berada di antara mereka, lalu mengangkat kedua tangan. Aku tidak mau terjadi perselisihan yang sangat tidak penting karena keadaan pasien itu tidak bisa menunggu untuk keadaan seperti ini. Kenapa kalian melakukan perdebatan di saat yang tidak tepat. Ini benar-benar membuatku sangat kesal. Jika terjadi sesuatu kepada pasien itu dan aku terlambat menanganinya, aku akan menyalahkan kalian berdua. Kalian sangat memalukan. Apalagi di depan suster dan lancang di depanku. Sekarang apa yang dikatakan dokter Ana memang benar. Kau harus menjaga rumah sakit ini dan mengurus semuanya. Jika ada kesalahan sedikit saja yang, aku akan membuatmu menyesal. Sekarangjangan berdebat. Karena aku harus berangkat. Dokter Ana. Ikuti aku! "Kalian tidak bisa seenaknya sendiri merubah peraturan yang ada di sini sebelumnya. Aku tidak akan membiarkanya. Aku akan melaporkan ini!" Aku bersama Ana terus berjalan tidak memperhatikan apa yang sudah Mira teriakkan kepada kami. Dengan sangat kencang, dia masih saja memaki. Dia tidak punya malu di depan semua suster. Dan selalu saja berbuat sesuatu hal yang sangat tidak pantas. Aku benar-benar akan mengurusnya setelah menyelesaikan tugas ini. Dengan cepat aku masuk ke dalam ambulans itu. Aku mengamati semua sebelum berangkat. Ana. Apakah kau sudah mempersiapkan semuanya? Jangan sampai ada yang tertinggal. Waktu 1 jam itu sangat berharga. Aku tidak ingin terjadi apa pun saat kita berada di jalan. "Seperti biasanya, aku sudah melakukan tugas itu. Dan kau lihat. pasien itu sudah tenang sekarang. Bahkan dia bisa bernapas dengan sangat baik." Kau memang adalah dokter yang sangat hebat dan aku sangat mencintaimu. "Tapi kau tadi menyalakan aku di depan semua orang. Padahal aku sudah membelamu. Kau mengatakan hal itu membuatku sedikit bersedih. Aku hanya ingin menjelaskan kepada Mira jika kita harus segera pergi dari sana." Aku menarik dan memeluknya, kemudian mengelus-elus rambutnya yang terurai dengan sangat indah itu. Dia kini bersandar di pundakku. Aku melakukan itu karena aku tidak ingin dianggap selalu membela Ana karena aku tidak akan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Aku harus bekerja dengan baik dan mengikuti semua aturan. Berjanjilah satu hal kepadaku. Jangan pernah berdebat di depanku jika aku tidak mengizinkannya. Aku tidak ingin kau selalu melakukan itu di depan semua orang. Semua itu akan tidak baik.  Kau bukan Mira dan kau lebih baik darinya. Aku harus melakukan itu karena itu adalah tugasku. Tidak ada perbedaan di sana. Walaupun kau nantinya akan menjadi istriku. "Aku mengerti, Midas. Makanya aku tidak membantah dan diam saat itu juga. Aku akan menahan kemarahanku jika dia kembali membuat aku sangat jengkel." Itu yang aku inginkan. Sekarang bantu aku untuk masuk ke rumah sakit itu. Sepertinya kita sudah sampai di tujuan. Kau tahu sendiri bagaimana keadaan rumah sakit ini. Aku sangat cemas. Namun, kita harus mencobanya. Kami telah sampai di rumah sakit itu saat hari sudah mau menjelang pagi. Dengan cepat aku keluar, lalu melambai ke arah suster yang berjaga di ruangan gawat darurat. Dia segera mengambil brankar dorong dan membantuku untuk mengangkat pasien itu. Kami segera masuk ke dalam. Untung saja masih sangat sepi, hingga aku bisa dengan mudah melakukannya. "Midas. Apakah ini kau? Argh, tidak aku percaya. Kau ternyata berada di sini? Aku seharian menjaga rumah sakit ini. Dan sekarang aku akan pulang. Kau sekarang sudah menjadi seorang dokter?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN