Tidak aku sangka, aku melihat saudara sepupuku. Dia adalah adik dari Roy bernama Rio. Tidak aku sangka dia menggunakan pakaian dokter. Dengan cepat dia menghampiriku, lalu mengernyit melihat pasien yang berada di hadapanku.
"Ini siapa? Apakah itu pasien yang berada di rumah sakit mu itu? Yah, yang aku tahu kau berada di rumah sakit di desa. Aku mengamatimu selama ini. Kau ternyata terkenal juga. Banyak sekali yang membicarakanmu. Baiklah, apa yang akan kamu lakukan di sini? Apa kau sudah mendapatkan izin untuk membawa pasien ke sini?"
Ana berjalan ke depan. Dia mendekati Rio. Sementara aku masih terdiam dan berharap Rio bisa membantuku untuk membantu memasukkan pasien ini.
"Aku dokter Ana. Aku adalah asisten dari dokter Midas. Aku telah mendapatkan izin untuk membawa pasien ke sini, karena aku menghubungi rumah sakit ini terlebih dahulu sebelum membawanya. Jadi kita tidak perlu mengobrol di sini. Lebih baik kita sekarang masuk ke dalam dan menangani dia."
Ana membiarkan Rio begitu saja. Dia menarik brankar dorong itu untuk masuk ke dalam ruangan gawat darurat. Dia segera mengambil berkas dan mengisi semua data, sementara aku masih terpaku. Aku seakan tidak memiliki tenaga sama sekali.
"Jadi kau sekarang menjadi kepala dokter? Wah, hebat sekali kau menyelesaikan sekolah hanya dalam waktu singkat dan sudah menjadi dokter ahli bedah."
Aku hanya menarik napas panjang tidak menghiraukan dirinya dan berjalan cepat mendekati Ana. Aku tidak begitu dekat dengan adik Roy. Dia sama persis dengan pamanku. Sementara Roy berbeda. Dia sangat dekat denganku dan mengerti jika semua yang dilakukan keluarganya itu adalah licik. Banyak yang tidak menyukai Roy disana. Hingga membuat dirinya tidak betah di rumah.
Rio tidak menyerah. Dia mendekatiku, selalu mengamati semua yang aku kerjakan. Aku bersama Ana masih sibuk untuk menangani pasien yang untungnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Kita harus menyiapkan operasi untuk dirinya. Segala biaya sudah ditanggung oleh pemerintah. Jadi tidak perlu mengeluarkan biaya lagi," ucap Ana kepada suster kepala. Suster itu segera menganggukkan kepalanya.
"Tunggu dulu. Kalian tidak bisa melakukan operasi dengan seenaknya sendiri. Kalian harus mendapatkan izin dari aku, karena aku yang berada di sini. Aku kepala dokter jaga dan aku tidak mengizinkan kalian melakukan apa pun sebelum aku mengatakan, iya."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Segera katakan, iya. Kau tidak mungkin membiarkan lelaki ini menunggu lebih lama. Jangan katakan kau akan mencegah kami melakukan operasi karena dia mendapatkan dana dari pemerintah," ucapnya dengan tegas. Aku masih tetap diam saja tidak menanggapi apa yang dilakukan oleh Rio.
:Aku akan memeriksanya terlebih dahulu dan melihat semua kesehatannya. Aku tetap tidak bisa membiarkan kalian untuk melangkahi aku. Ini tidak benar. Kalian harus melakukan sesuai dengan prosedur."
"ini semua sudah dilakukan sesuai prosedur. Aku mau minta jadwal besok oke. Tepatnya jam 9, pasien ini harus segera disiapkan. Dokter Midas yang akan melakukannya."
Rio terlihat sangat kesal dengan perkataan Ana. Dia menarik napas, lalu membenarkan jasnya dan segera mendekati Ana. Dia menarik lengannya. Dengan sigap aku memandangnya sangat tajam. Aku tidak ingin dia memperlakukan Ana seperti itu. Dia harus menghormati semua dokter dan tidak bisa bersikap sembarangan.
"Midas, kau bukan siapa-siapa di sini. Jadi kau tidak berhak untuk berani dengan seseorang yang sangat berpengaruh disini. Ingatlah posisimu. Lagi pula kau tidak memiliki keahlian khusus. Kau tidak bisa berbicara, Midas. Kau jangan lupa. Kau ini sangat lemah. Mana ada dokter tidak bisa berbicara walaupun kau terlihat sangat hebat, kau tetap saja bukan siapapun."
Aku tidak menanggapi perkataan yang sangat menusuk itu. Aku mengambil berkas dan menandatangani untuk menjadi dokter penanggung jawab pasiennya sudah aku bawa. Lalu aku mendekati Ana yang masih saja memandang Rio dengan sangat kesal.
Masukkan dia ke ruangan. Aku akan mengamatinya hingga besok pagi. Setelah mengoperasinya, aku akan menghubungi Dokter Alberth untuk membantu kita.
"Jadi kau akan meminta tolong oleh dokter itu? Percuma saja. Dia tidak akan pernah bisa membantu kalian karena aku tidak mengijinkannya. Maka kalian tidak bisa melakukan operasi di sini. Sekarang bawalah pergi pasien ini. Karena aku tidak mengijinkannya. Kalian tidak melakukan prosedur yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit ini dan itu termasuk pelanggaran."
"Prosedur apa? Hei, yang harus kita lakukan semuanya sudah mendapat izin. Bahkan kita melapor saja, kalian harus menanggapi. Kami memesan ambulan dan kita memiliki surat untuk melakukannya. Apalagi yang harus kita lakukan? Semua sudah selesai. Kau saja yang tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Seorang dokter itu harus membantu semua orang yang mengalami seperti ini. Namun, engkau selalu membawa kekuasaan."
"Hentikan bicaramu, karena aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika kau terus menghina aku seperti ini. Ini adalah rumah sakit milikku dan ini aturanku. Lagipula banyak sekali pasien yang berada di sini yang harus ditangani. Jadi kita tidak memiliki kamar lagi untuk menampung dirinya."
"Lihat data komputer itu. Banyak sekali kamar yang kosong. Bahkan kita tidak meminta untuk kamar VIP. Kita meminta kamar paling biasa. Kita hanya ingin membutuhkan alat yang cukup canggih di sini dan kita mau mengoperasinya. Kita akan mengamati sendiri tanpa meminta hal yang di luar sesuai prosedur."
"Kamu tidak bisa berkata sembarangan. Aku benar-benar sangat marah. Aku tahu kau adalah dokter wanita yang akan bertunangan dengan sahabatku. Tapi kau malah mencobloskan dia ke dalam penjara dan tentu saja Midas juga ikut andil dalam hal ini. Kalian sepasang kekasih dan itu sangat memalukan!"
Perkataannya benar-benar sudah membuatku marah. Rio sudah berada di luar batas kesabaran ku. Aku tidak akan pernah diam saja dalam hal ini. Aku harus membuat dia mengerti, jika rumah sakit ini tidak berada dalam kekuasaannya. Aku hanya menandatangani peralihan kekuasaan. Namun, aku tidak menandatangani hak untuk kepemilikan. Secara sah rumah sakit ini tetap menjadi milikku.
Dengan cepat aku mendekatinya, lalu menarik lengannya. Kami bertatapan dengan sangat tajam.
"Kau bukan siapa-siapa di sini, Midas. Kau sudah terusir dari rumahmu dan semua itu sudah hilang. Kau tidak bisa menggunakan apa pun yang kau miliki untuk membela dirimu. Apa yang bisa kau lakukan? Apalagi kau sangat buruk, dan memiliki tubuh cacat sepertimu. Kau tidak pantas menjadi seorang dokter. Kau tidak seperti Ayah dan kakekmu. Kau ... sangat buruk!"
"Bentikan omong kosong itu! Kau itu sangat keterlaluan, tidak pantas untuk menyandang gelar dokter yang sangat mulia! Kau benar-benar sangat menyebalkan. Jika aku mendengar lagi perkataan seperti itu, aku tidak segan-segan akan membuat dirimu celaka!" teriak Ana semakin kesal.
Ana berdiri di antara kami. Tidak aku sangka dia benar-benar sangat berani. Tapi aku tidak ingin dia terlibat dalam masalah bersama Rio. Karena Rio akan melakukan sesuatu yang akan membuat Ana terluka, jika dia membencinya. Aku segera menarik Ana dan membuat tubuhnya berada di belakangku.
Aku memandang Rio yang sudah mengepalkan kedua tangannya dan siap menyerangku lagi.
Bukankah kau sangat cerdas? Kau bisa mengetahui bahasa isyarat. Ingatlah, aku kembali di sini, Rio. Dan aku akan mengambil semua yang aku miliki.Jika kau tidak tidak bisa melakukan perbuatan dengan baik, maka aku akan mengejarmu. Aku adalah pemilik dari rumah sakit ini!