"Kamu tidak akan pernah memiliki hak mu. Aku adalah pemiliknya. kau ... tidak berhak apa pun."
Rio menatapku tajam. Dia masih saja tidak terima. Aku membalas tatapan itu. Tentu saja dia tidak akan membiarkan aku.
Kau tahu kan aku pemilik semua kekayaan ini. Dan aku akan mengambilnya. Jika kau tidak mengizinkan aku memeriksa pasien itu, bagaimana dengan laporan yang akan aku berikan? Kau bisa merundingkan dengan Paman. Aku tidak peduli.
Aku meninggalkannya. Aku bersama Ana menyusul pasien yang sudah kami bawa. Sementara Rio bergeming kaku. Wajahnya terlihat geram. Aku sedikit meliriknya.
Ana kita sudah mengurus semua. Aku akan menuju ruangan dokter dan beristirahat di sana. Kau juga harus melakukannya.
"Baiklah. Kita akan bertemu satu jam lagi."
Ana memelukku, lalu pergi meninggalkanku. Senyumannya selalu saja cantik.
Rasanya selalu berat berpisah dengannya. Aku harus segera menikahinya.
Dengan cepat, aku berjalan menuju kamar. Semua dokter jaga terkejut melihatku. Senyuman ramah aku berikan kepada mereka semua.
"Dokter ... Midas?" tanya salah satunya. Tidak aku sangka ada yang mengenalku. Aku segera menganggukkan kepala.
"Dokter. Tidak aku sangka, aku bertemu denganmu. Aku mendengar gosip tentang dirimu. Kau bisa menyelesaikan semua kuliah itu dalam waktu singkat. Tapi ...."
Dia menghentikan ucapannya. Aku paham. Dia pasti mengatakan jika aku tidak bisa berbicara. Entahlah itu membuat mereka mengagumi aku karena hal itu, atau ada yang lain dan malah meremehkanku. Tapi yang jelas aku mendapatkan sambutan yang baik di sini dan aku sangat bersyukur melihatnya.
Ya benar. Namaku Midas. Aku tidak bisa berbicara. Apakah itu yang akan kau katakan? Tapi aku tidak masalah. Yang penting, penyambutan kalian sangat luar biasa. Ijinkan aku di sini untuk beristirahat, karena aku harus mengoperasi seseorang 2 jam lagi. Aku membutuhkan tenaga untuk melakukannya.
"Maafkan, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Tapi aku benar-benar mengagumimu, kalau tidak bisa berbicara tapi bisa menyelesaikan kuliah itu dalam waktu singkat. Yah, itu memang benar-benar sangat luar biasa.
Semua dokter yang berada di dalam ruangan menganggukkan kepala. Kali ini aku benar-benar merasa lega. Ternyata mereka mengagumi prestasiku dan bukan kekuranganku. Apa lagi salah satu dari mereka melambaikan tangan dan segera menunjukkan satu ranjang yang kosong. Kebetulan sekali dan aku sangat beruntung.
"Sebuah kehormatan Anda bisa berada di sini Dokter Midas. Ini adalah ranjang yang belum ditempati. Anda bisa berada di sini. Kami sangat senang Anda bergabung," ucap salah satu dari mereka. Kini mereka semua bergantian berjabat tangan. Aku menerimanya dengan sangat baik.
Dengan cepat aku membuka jas putihku, lalu menyelampirkan ke sandaran kursi. Aku melepaskan sepatu dan menuju wastafel. Aku mengamati wajahku yang ada di depan cermin. Sambil bersiap menghadapi hari ini yang mungkin akan sangat panjang. Bisa-bisa aku juga akan bertemu dengan pamanku. Aku hanya berharap tidak ada keributan yang terjadi. Aku tidak ingin membuat masalah di sini. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang dokter.
Aku segera merebahkan tubuhku di ranjang. Perlahan aku memejamkan kedua mataku, lalu terlelap hingga alarm di ponselku berbunyi kembali menunjukkan 2 jam. Mendadak aku terbangun. Untung saja aku tidak melewatkan suara alarm itu.
"Dokter Midas, ada dokter wanita yang sangat cantik menunggumu di depan ruangan."
Semua dokter itu membukakan pintu. Mereka tersenyum ramah kepada seseorang yang menungguku di sana. Aku sudah mengira. Itu pasti Ana.
Dengan cepat aku menghampirinya dan ternyata memang benar. Dia terlihat sangat cantik. Rambutnya sedikit basah. Pasti dia sudah mandi. Semua dokter masih tersenyum memandangnya. Kini aku sadar. Ana adalah dokter tercantik yang pernah aku temui. Tentu saja semua orang pasti akan seperti itu. Mereka adalah lelaki yang sangat wajar ketika melihat wanita yang sangat cantik.
"Kamu belum siap sama sekali? Pasien itu sudah kupersiapkan. Sekarang mandi dan bersihkan tubuhmu. Aku akan menunggumu di ruangan operasi sebentar lagi, dan jangan terlambat," ucapnya dengan tegas. Aku menganggukan kepala dan kembali masuk ke dalam. Tapi aku masih melihat mereka semua mengangguk dengan tersenyum ke arah Ana. Walaupun dia sudah meninggalkan pintu kamar ini.
Aku hanya tersenyum sembari menggeleng. Yang terpenting aku harus bersiap dan segera membersihkan tubuhku. Dengan cepat aku melakukannya. Semua dokter itu ternyata menungguku. Mereka mengamatiku dari atas sampai bawah. Perasaanku jadi tidak enak.
Kenapa kalian mengamati seperti itu? Hmm, apakah ada yang salah denganku?
"Tidak ada yang salah dengan Anda, Dokter. Ternyata Anda memang sangat tampan. Kami hanya senang sekali melihat Dokter Ana ternyata pasangan Anda, dan memang kalian sangat serasi."
Pujian yang kalian berikan sangat berlebihan. Tapi memang benar apa yang kau katakan. Wanitaku itu memang sangat cantik dan kalian sudah memandangnya seperti itu. Membuatku sangat cemas.
Aku tersenyum, membuat mereka tertawa dengan keras. Kemudian aku berjabat tangan dengan mereka dan akan meninggalkan ruangan itu.
Terima kasih atas sambutannya yang sangat baik. Aku akan melakukan operasi dan setelah itu aku akan meninggalkan rumah sakit ini. Jadilah dokter yang sangat baik dan jangan pernah membawa jabatan apa pun dalam kehidupan karena kita ini tidak memiliki apa pun di dunia ini. Semuanya itu hanya titipan.
"Suatu kehormatan bisa bertemu Anda. Terima kasih, Dokter," ucap salah satunya dan kembali menjabat tangan, kemudian diikuti semuanya.
Beberapa suster sudah menghampiriku. Aku segera masuk ke dalam ruangan operasi dan mempersiapkan semua. Kedua tanganku aku steril, kemudian mengganti pakaian. Hingga Aku benar-benar siap untuk melakukannya.
Aku segera masuk ke dalam ruang operasi. Ana bersama dengan suster yang membantu menganggukkan kepala, menandakan aku harus segera melakukannya.
Ini adalah sesuatu yang sangat mendebarkan. Melakukan operasi besar untuk pertama kalinya. Aku tidak boleh gagal.
Perlahan Ana memberikan pisau operasi. Aku mulai membelah tubuhnya. Ternyata dia mengalami sedikit pembengkakan di jantungnya karena ada penyumbatan. Aku segera mengobati dan menyentuhnya. Perlahan aku mengoperasinya dengan semua peraturan yang sudah aku dapatkan ketika bersekolah.
Dalam sekejap saja, aku sudah bisa menyelesaikan operasi ini. Dia akan sembuh dan bisa bernapas dengan baik.
Operasi telah selesai. Suster segera memangani lainnya. Aku keluar ruangan, dan kembali membersihkan diri.
"Bagaimana perasaanmu? Kau memang sangat hebat. Sekali sentuhanmu saja, orang itu kini bisa menikmati kehidupannya lagi. Padahal aku lihat tadi penyakitnya cukup parah. Kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sang legenda, Midas. Menggantikan kakek dan ayahmu."
Buah tidak jauh dari pohonnya. Yang terpenting aku tidak akan membawa pekerjaan ini ini dengan sia-sia. Semua yang membutuhkan sentuhan tanganku, aku akan membantu dan sembuhkan. Sekarang bawa pasien itu ke dalam kamar kembali dan kita akan menitipkannya ke suster yang berjaga. Nanti kita akan menghubungi keluarganya biar mereka menuju kemari. Karena tidak mungkin kita membawanya kembali ke desa.
"Tapi kau tetap harus mengamatinya. Kau yang bertanggung jawab Bagaimana jika kau berada di sini beberapa hari sampai dia selesai dan keluar dari rumah sakit ini. Aku akan menjaga rumah sakit di desa bersama dengan Mira. Walaupun aku tidak menyukainya. Namun, itu yang harus aku lakukan. Dia masih membutuhkan pertolonganmu sampai selesai, Midas."
Ucapan Ana memang benar. Tapi aku tidak bisa berada di sini tanpa izin dari kepala rumah sakit ini dan aku harus menemui pamanku.
Aku tidak bisa berada di sini. Jika aku tidak mendapatkan izin. Aku akan menemui Paman. Aku akan meminta izin.
"Bagaimana jika kita menemui Dokter Albert dan mengatakan masalahnya. Jadi kita tidak perlu menemui pamanmu. Mungkin dengan izin Dokter Alberth, kita langsung saja berada di sini tanpa harus membuat masalah dengan mereka. Aku sudah paham. Pasti pamanmu itu tidak akan mengizinkannya. Kau tahu, pasti dalam batin mereka itu sangat takut dengan kehadiranmu. Mereka akan mengira kau pasti akan merebut semua hak milik dari rumah sakit ini. Aku sudah merasakannya saat melihat dokter sangat menyebalkan itu tadi malam."
Perkataan Ana sekali lagi memang benar. Tapi aku ingin sekali menemui Paman, dan aku kali ini akan bertindak sendiri. Sudah waktunya untuk diriku mengambil alih. Walaupun ini terlalu cepat untukku. Tapi aku akan memberanikan diri untuk bertemu dengan Paman. Sudah cukup Dokter Alberth membantuku selama ini. Aku harus percaya diri bisa mengatasinya sendiri. Apalagi dia sudah memberikan diriku jabatan yang sangat tinggi di desa. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya.
Ana, aku tidak akan minta tolong siapa pun. Aku akan pergi ke ruangan itu dan menemui Paman. kali ini aku akan melakukannya sendiri.