"Jadi kau akan menemui pamanmu sendiri di ruangannya? Midas, pikirkan sekali lagi. Apakah sudah saatnya memang kau bertemu dengan mereka? Tapi aku memang mendukungmu jika memang itu keputusanmu. Kau bisa saja menemui mereka. Tapi, izinkan aku untuk menemanimu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian di sana. Saat mereka membutuhkan seseorang untuk berbicara dengan lantang, aku akan bisa melakukannya. Jangan pernah melarangku karena aku akan memaksamu. Tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan kamu sendiri menghadapi situasi yang sangat rumit seperti itu."
Sebenarnya aku bisa menghadapinya sendirian, Ana. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah lain. Karirmu sudah sangat cemerlang. Jangan gara-gara aku kau malah mendapatkan sesuatu yang sangat rumit seperti ini. Sebaiknya kau urusi semua yang sudah aku katakan. Aku akan menuju ke ruangan pamanku dan menemuinya. Aku juga ingin berbicara empat mata dengannya. Mengertilah. Kali ini aku ingin sendiri.
Spontan Ana memelukku. Dia menyandarkan kepalanya di tubuhku yang cukup besar ini. Aku segera membalasnya, memeluknya dengan erat. Seperti biasa, aku mengelus-elus rambutnya yang sangat indah itu.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, Midas. Kau tahu sendiri, kan. Aku benar-benar mengkawatirkan dirimu. Bagaimana jika pamanmu itu melakukan sesuatu yang buruk di dalam. Sedangkan aku tidak ada di sana. Aku benar-benar akan menyesal."
Aku melerai pelukan itu. Kini aku memandang wajah Ana dengan sangat lembut. Senyuman hangat seperti biasanya aku berikan kepadanya. Aku tidak ingin dia terlalu mengkawatirkan diriku.
Tidak akan ada masalah yang akan menimpaku di dalam. Kau tahu sendiri kan, aku sudah bertarung dengan seseorang yang lebih besar denganku. Tapi aku bisa memenangkannya. Apalagi dengan seseorang yang sangat tua seperti pamanku. Pasti aku akan mudah untuk mengalahkannya. Rio juga sangat kecil. Kau tidak usah cemas seperti itu. Sekarang, aku ingin kau tersenyum dan bersemangat kembali. Aku menyerahkan pasien itu kepadamu. Jaga dia dengan baik dan tunggu sampai aku kembali. Jika ada sesuatu yang harus kau lakukan, cepat hubungi aku.
"Bagaimana jika dia di dalam bersama dengan semua pengawal dan membawa senjata api. Dia mengancam, lalu melesatkannya ke tubuhmu itu. Aku sangat cemas, Midas. Tapi jika kau memang bersikeras untuk sendirian ke sana, baiklah. Aku akan mengabulkannya. Tapi jangan terlalu lama karena aku tidak suka menunggu."
Ana kembali memelukku dengan erat. Aku sangat senang sekali. Dia selalu melakukan hal itu. Andai saja aku sudah menikahinya, pasti aku akan setiap hari melakukannya. Tapi, itu semua harus aku tahan. Untuk saat ini banyak sekali urusan yang harus aku lakukan dan menikahinya adalah waktu yang kurang tepat.
Baiklah Ana. Aku harus menemui pamanku. Pasti dia sudah tahu jika aku berada di sini. Rio pasti sudah memberitahukannya.
Ana menarik napas panjang. Dia masih sangat cemas akan melepaskan aku sendirian. Namun aku tetap tidak akan pernah membawanya dalam masalah ini. Aku tidak ingin dia ikut berada di dalam ruangan keluargaku. Karena ini hanya masalahku dan dia tidak boleh ikut andil di dalamnya.
"Berhati-hatilah, Midas. Jangan pernah melakukan sesuatu yang sangat membahayakan. Tapi, jika mereka melakukannya terhadap kamu, lawan saja. Jangan pernah memberi ampun kepada seseorang yang sudah menyakitimu sampai sakit parah."
Aku menganggukan kepala, kembali memberikan senyuman hangat. Dengan cepat aku mendadak mengecup bibirnya, lalu berlari dan melambaikan tangan. Ana terlihat bahagia saat aku melakukannya.
Kini aku berada di ruangan pintu kepala rumah sakit ini. Pamanku adalah seorang dokter, namun dia tidak sehebat ayah dan kakekku dulu. Dia selalu saja iri melihat ayahku sering sekali mendapatkan penghargaan dan berhasil menyembuhkan beberapa penyakit yang sama sekali tidak bisa ditangani oleh dokter. Begitu juga dengan kakekku yang mendapatkan julukan sang legenda.
Pamanku selalu saja ingin menyingkirkan ayahku. Aku selalu ingat saat melihat dia berbicara dengan sangat lantang dan selalu saja menyalahkan setiap apa yang dilakukan oleh ayahku. Namun, ketika itu aku masih sangat kecil dan tidak bisa membelanya. Kali ini aku tidak akan pernah membiarkannya.
Perlahan aku menyentuh gagang pintu itu dan ingin membukanya. Aku kali ini harus benar-benar kuat untuk menghadapi sesuatu yang sama sekali tidak aku duga. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menduga diriku bisa menjadi dokter dan akan mengambil hak milik kembali. Ternyata roda berputar dan kali ini aku akan benar-benar mengambil milikku. Rumah sakit ini sudah tidak pantas untuk dimiliki oleh pamanku yang hanya memikirkan kekuasaan dan jabatan tanpa memikirkan apa sebenarnya arti dari pekerjaannya itu sendiri.
"Midas! Apa yang kau lakukan? Jangan pernah masuk ke dalam sana!"
Tidak aku percaya Roy ternyata datang sambil menarik lenganku. Dia mengatur napasnya yang terengah-engah pasti dia segera berlari ke sini saat mengetahui diriku yang berada di rumah sakit ini.
"Midas. Ini bukan waktu yang sangat tepat untukmu menemui ayahku. Kau tahu sendiri bagaimana dengannya. Apalagi kau sekarang tidak berhak untuk berada di sini. Masih ada saatnya yang tepat. Namun tidak sekarang. Aku mau kita segera pergi dari sini dan kita akan merencanakan dengan sangat detail, kapan saatnya yang tepat untuk menemui ayahku."
Aku sudah menduganya. Pasti Rio memberitahukan semua keluarga dan mengatakan jika aku berada di sini. Tapi, ini adalah waktu yang sangat tepat, Roy. Kau jangan mencegahku. Kapan lagi aku akan menemui Paman? Sementara aku membawa pasien di sini. Aku membutuhkan fasilitas untuk dia.
Roy tetap menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak setuju jika aku berada di sini. Namun, aku tetap saja ngotot. Aku tidak akan pernah menurutinya, karena ini juga menyangkut nyawa dari pasien yang sudah aku selamatkan.
"Aku bisa memberikan fasilitas yang sangat bagus kepada pasien itu. Biarkan aku mengurusnya. Kau tetap jangan menemui ayahku. Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya. Aku tidak ingin terjadi suatu hal apa pun kepada dirimu. Tolonglah mengerti diriku, Midas."
Roy aku tetap akan masuk ke dalam dan menemui Paman. Sudah lah, kau sebaiknya pergi dan jangan mencegahku, atau kau ikut saja masuk ke dalam dan membantuku. Jika aku mengalami sebuah masalah, kau akan membantuku. Aku tidak akan menundanya. Aku harus melakukan ini. Karena ini adalah kewajibanku. Menjaga semua yang ditinggalkan oleh keluargaku.
"Midas. Kenapa kau sama sekali tidak mau mengerti dengan ini semua? Kau tahu sendiri kan, kau tidak akan pernah mendapatkan pertolongan apa pun di dalam. Bahkan kau akan mendapatkan penghinaan yang cukup dalam. Kau akan sakit hati dan malah membuatmu sangat frustasi nantinya.
Aku tidak akan takut dan aku tidak perlu takut apa pun. Yang sekarang, aku hanya ingin melakukannya. Karena aku berhak berada di sini.
Aku tidak peduli lagi dengan perkataan Roy. Aku segera menekan gagang pintu dan masuk ke dalam. Aku melangkahkan kakiku cepat hingga berada di tengah ruangan. Tidak aku sangka ternyata Paman sudah akan mengetahui kehadiranku. Beberapa pengawal sudah berada di belakang tubuhnya. Dia duduk di kursi kerjanya, mengamatiku dengan sangat serius.
Roy masuk ke dalam. Dia memegang kepalanya. Wajahnya terlihat sangat cemas. Apa yang dia katakan memang benar. Tapi aku tidak takut. Aku tetap akan menghadapi ini semua.
"Ternyata kau memang memiliki nyali yang sangat tinggi, Midas."