Mengikuti Peraturan Paman

1104 Kata
Aku berdiri menatap Paman yang sudah memandangku dengan tajam. Aku tidak peduli. Kini aku membalas tatapan itu. Aku bukan Midas yang dulu lagi. Kini aku adalah seseorang yang sangat baru. Seseorang yang tidak akan pernah diremehkan oleh siapapun. "Aku sudah mendengar kau datang ke rumah sakit ini. Bahkan aku mendengar kau masuk dengan membawa pasien tanpa memiliki izin. Melakukan operasi begitu saja. Kau pikir kau bisa seenaknya sendiri di rumah sakit ini? Aku sudah bilang kepadamu. Ini adalah rumah sakit milik pamanmu ini dan engkau tidak bisa seenaknya berbuat." Aku masih diam saja tidak menanggapi perkataannya. Dia kini berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekatiku. Kedua tangannya memegang pundakku dan mendongakkan kepalanya. Dia menatapku dengan sedikit tersenyum sinis. Kau sudah memberikan semuanya kepadaku. Ingatlah hal itu. Aku juga tidak bisa menerima pasien dengan sembarangan. Ini menyangkut harga diri rumah sakit yang sangat besar dan terkenal ini. Semua pasien di sini selalu tertangani dengan sangat baik. Jika kau memperlakukan rumah sakit ini seperti itu, maka akan berdampak buruk dengan nama rumah sakit yang sudah dikelola oleh kedua orang tuamu itu dengan baik. Pasti kakek juga tidak akan pernah menyetujuinya." Paman berusaha meyakinkanku. Namun, aku tetap tidak menyerah. Perkataannya sangat tidak masuk akal. Paman, aku hanya memberikan surat kuasa kepadamu selama aku tidak berada di sini. Tetapi aku tidak memberikan hak milik rumah sakit ini kepadamu. Aku tidak akan pernah  membawa masalah itu di sini. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu. Pasien yang sudah aku bawa sudah mendapatkan izin. Kau tidak bisa memperlakukan pasien seperti itu. "Baiklah. Kali ini aku akan membiarkan kau menanganinya, karena aku tidak akan pernah mencegahmu. Tapi ingatlah. Kau harus melakukan satu hal dan itu adalah kewajiban yang harus kau jalani selama di sini." Aku semakin tidak mengerti dengan permintaan Paman. Namun, bagaimanapun juga aku harus melakukan semua perintah dan aturannya. Aku masih saja baru berada di bidang kedokteran dan aku tidak mungkin untuk membantah dirinya. Apa yang harus aku lakukan? Paman, aku akan benar-benar menaati semua peraturan yang berada di rumah sakit ini. Asalkan sesuai dengan peraturan kedokteran. Jika aku harus selalu menerima pasien dengan uang yang cukup banyak, aku tidak bisa menerimanya. Aku sangat menentang tegas akan hal itu. Paman terkekeh pelan. Dia kembali berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk kembali, lalu mengamatiku. "Kau harus menuruti Rio. Apa pun yang dia katakan lakukan saja. Bagaimanapun juga dia adalah senior kamu. Semua perintahnya harus kau lakukan dan jangan beralasan apa pun." Melakukan semua perintah Rio? Apakah itu memang harus aku lakukan? Namun dia memang tetap senior. Dia lebih lulus dahulu dibandingkan dengan aku. Umurnya walaupun lebih muda dariku, aku terlambat untuk berkuliah dan dia tepat waktu menyelesaikannya. Tentu saja aku harus menuruti dan melakukan semua perintah. Ini semua demi pasien. Aku akan bisa memperlihatkan kehebatan ku. Dan ... pasti aku akan mendapatkan semuanya. Aku setuju. Rio adalah dokter yang sangat hebat dan aku harus menurutinya. Namun aku akan menuruti semua perintahnya asal sesuai dengan peraturan yang berlaku. "Aku tidak perlu menjelaskan semua peraturan itu kepadamu. Yang jelas Rio sangat mengetahuinya dan dia adalah pemilik dari rumah sakit ini. Kau harus menghormatinya Midas. Ingatlah posisimu." Aku akan selalu mengingat posisiku di sini.Terima kasih, Paman sudah membiarkanku untuk berada di sini. Aku hanya akan menunggu pasien itu sampai dia benar-benar sembuh, lalu akan aku bawa kembali menuju rumah sakit di desa. Aku menganggukan kepala lalu keluar dari ruangan Paman. Roy yang sedari tadi menungguku, segera berjalan ke arahku. Dia masih saja memegang kepalanya sambil mengamati tubuhku dari atas sampai bawah. Kau ini melihat siapa? Seperti melihat hantu saja. Jangan seperti itu. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Paman mengizinkan aku untuk berada di sini dengan satu syarat. Roy melotot ketika mendengar aku mengatakan syarat. Perasaannya sangat tidak karuan. Dia segera mengikuti aku yang sudah berjalan meninggalkan ruangan ayahnya. "Midas, syarat apakah itu? Apakah ayahku memberikan sebuah persyaratan yang sangat konyol? Atau ... suatu hal yang bisa membuatmu akan celaka? Tentu saja dia akan melakukan itu. Aku sudah menduganya. Pasti dia memiliki cara yang sangat licik. Sekarang katakan kepadaku. Apa yang sudah aku katakan kepadamu itu pasti benar!" Roy terus aja mengikutiku. Dia tidak menyerah. Maksudnya sangat baik dan aku mengetahuinya. Namun, aku tidak akan pernah melibatkannya. Bagaimana jika dia tidak ada dalam nama pewaris dalam keluarganya? Pasti itu terjadi jika membuat ayahnya sendiri sangat marah. Itu tidak akan aku biarkan. Roy, sudahlah. Jangan berkata apa pun. Aku akan menghadapi semuanya. Kau sebaiknya tenang saja. "Dokter Midas. Pasien sugdah sadar dan dia mencarimu. Sekarang dia berada di kamar. Dokter Ana sudah menunggumu di sana," ucap salah satu suster berlari dengan terengah-engah menuju ke arahku. Aku harus menemui Pasien itu. Kau harus pergi sekarang juga dan jangan berpikiran apa pun. Aku akan bisa mengatasinya. Sekarang aku ada pasien yang harus aku tangani. Jadi pergi lah. Kita kan bertemu setelah urusanku semuanya selesai. "Midas, aku harap kau bisa mengatasinya. Aku sangat cemas denganmu. Kau tahu kan, aku tidak mau kau terjadi hal buruk kepadamu. Aku sangat malu dengan perlakuan keluargaku kepadamu. Padahal mereka sudah sangat cukup dengan kekuasaan dan kekayaan yang sudah kalian berikan. Apalagi nama ayahku juga melambung tinggi ketika mengatakan dia adalah saudara dari ayahmu dan ternyata sekarang kau tertikung oleh keluargamu sendiri. Aku tidak bisa berkata apa pun." Aku tidak memiliki dendam apa pun. Aku  hanya ingin menyelamatkan semua orang yang membutuhkan bantuanku. Kau jangan pernah memikirkan sesuatu yang tidak penting. Aku akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku. Sekarang pergilah. Jangan bengong seperti itu. Aku menepuk pundaknya, dia masih saja berkacak pinggang sambil menatapku geram. Aku hanya tersenyum dan meninggalkannya begitu saja. "Midas, kamu ini ke mana saja? Aku membutuhkan dirimu. Dia sudah tersadar dan mencarimu. Dia ingin bertemu denganmu." Perkataan Ana yang sangat membingungkan aku. Pasien itu tersenyum menatapku. Aku segera mendekatinya. Semua aku periksa dengan sangat teliti. Ana. Katakan kepadanya. Apa yang dia rasakan sekarang. "Aku mengetahui bahasa isyarat. Tidak aku sangka, aku ditangani oleh dokter memiliki keahlian khusus. Kemarilah," ucapnya sembari melambaikan tangan. Dengan cepat aku memberikan berkas kesehatan miliknya kepada suster. Aku perlahan mendekatinya. "Ternyata kau mengingatkanku dengan temanku Leonidas. Dia persis dirimu. Dia adalah legenda. Aku sangat mengaguminya dari dulu. Apa kau mengenalnya?" tanyanya sangat mengejutkan aku. "Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Beberapa pengawal masuk ke dalam. Aku sangat terkejut melihatnya. Mereka segera mendekati pasien itu dan menundukkan kepala. Wanita yang berada di desa saat mengantarnya juga melakukan hal yang sama. "Tuan, Marvin. Anda sangat baik. Syukurlah." Rio tiba-tiba datang bersama dengan beberapa dokter muda lainnya. Lalu ikut menundukkan kepala kepada pasien itu. Aku semakin tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Namun, yang bisa aku lihat, dia adalah orang yang sangat penting. "Aku hanya ingin menemui dokter itu. Kalian semua pergilah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN