Pasien Di Malam Hari

1210 Kata
Aku tidak mengerti itu surat apa? Seseorang telah memberikan secarik kertas yang berisi surat. Ana segera membukanya dan sangat marah. Dia sangat tahu jika itu adalah Mira pemiliknya. Namun, aku tidak akan pernah membiarkannya. Dia tidak boleh marah untuk hal sepele ini. Untuk apa dia seperti itu? Berikan surat itu padaku. Biarkan aku menyimpannya. Kau jangan marah seperti itu. Sudahlah. Biarkan saja dia hanyut dengan kemarahannya. Kau tidak boleh terpancing dengannya. Sudah, lebih baik kau sekarang pulang dan beristirahat. Jangan sampai kita kelelahan karena suatu hal yang tidak penting seperti ini, dan sekarang kau harus menurut karena aku tidak suka juga kau selalu saja membantah perkataanku. "Tapi, Midas. Kau tau sendiri kan, aku sangat membencinya. Lihatlah, dia memberikan surat kepadamu dan menyatakan perasaannya. Dia itu sengaja melakukannya. Apakah aku akan diam saja? Tidak mungkin itu aku lakukan." Ana, sekali Ini saja kau mendengarkan apa yang aku katakan. Kau dari tadi selalu saja tidak mendengarkan aku. Sekarang pulang saja dan masuk ke dalam kamarmu karena aku tidak mau kita membahas ini. Aku sedikit tegas mengatakan sesuatu kepada Ana. Aku berjalan cepat menariknya, lalu menuju ke pintu kamarnya. Ruangan kami tidak terlalu jauh. Kami berada di dalam satu tempat, namun berbeda ruangan. Aku segera membuka pintu itu. Namun ternyata terkunci. Ana masih saja marah. Ana akhirnya membuka tasnya. Dia mengambil sebuah kunci dan segera membuka kamarnya. Dia mendengus kesal, lalu melirik dengan sedikit tajam. Aku menarik napas panjang menanggapi apa perlakuan Ana kepadaku. Aku benar-benar melakukan ini untuk kebaikannya. Aku tidak ingin dia mengurusi sesuatu hal yang sama sekali tidak penting seperti ini. Untuk apa lirikan itu? Ana, jangan pernah memberikannya kepadaku, karena aku tidak suka melihatnya. Ayolah, Ana. Kita banyak sekali pekerjaan yang harus kita lakukan. Besok jangan sampai kau terpancing dengan suatu hal seperti ini. Sekarang kamu lebih baik Istirahat di dalam. "Tentu saja aku akan tidur di dalam. Emangnya aku mau tidur di luar? Hah, enak saja. Aku pasti akan kedinginan jika melakukan hal itu. Sudahlah, aku akan melupakannya. Tapi perlu kau tahu, aku tidak akan pernah membiarkan dia menindasku lagi seperti ini. Dia sudah sangat lancang memberikan surat ini kepadamu. Jika besok dia membahasnya, aku akan menarik dia keluar dan kita akan berdebat. Kau tidak boleh menghalangiku. Ini menyangkut harga diriku, Midas." Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas sekarang masuklah dan beristirahat. Saat Ana akan melangkah masuk ke dalam, Aku menariknya dengan mendadak. Seperti biasanya aku memberikan sesuatu sebelum dia benar-benar mereda dari kemarahannya. Hanya itu yang bisa aku berikan kepadanya. Aku memberikan kecupan mesra dan dia ternyata membalasnya semakin dalam. Bagaimana jika ada yang mengetahuinya? Namun, aku akan tetap membiarkan dia melakukannya, karena aku sendiri memang tidak bisa menahan itu. Bibirnya sangat membuatku candu. Apalagi jika dia marah seperti itu. Hmm, wajahnya memang sangat menggemaskan. Sudah cukup. Jika banyak yang mengetahuinya bagaimana? Lalu bergosip tentang kita malam-malam begini. Melakukan suatu hal yang sangat pribadi di depan kamar. "Siapa yang memulai, siapa yang marah. Tapi aku suka jika kamu selalu mencuri seperti itu. Selamat malam dan nikmati malam ini dengan mimpi indah. Tentu saja mimpi dengan diriku." Akhirnya Ana masuk ke dalam. Aku sangat lega. Aku kembali melangkah dan akan masuk ke dalam kamarku. Sejenak aku membaca surat yang sudah aku genggam ini. Mira ternyata memang benar-benar wanita yang sangat nekat. Dia menyatakan cintanya kepadaku dan memberikan surat seperti ini. Persis dengan anak SMA yang mengalami masa pubertas, atau pertama kali jatuh cinta dengan seseorang. Ini sangat menggelikan. "Dokter Midas! Ada pasien yang membutuhkan Anda. Maafkan aku malam-malam begini menemui Anda. Tapi ini sangat mendadak. Dengan siapa aku harus meminta tolong. Karena aku sendiri tidak bisa menangani pasien ini." Dokter jaga tiba-tiba menghentikan langkahku saat akan masuk ke dalam kamar. Spontan aku melipat surat itu dan memasukkan ke dalam kantong. Dia sangat panik dan aku menganggukkan kepalaku. Dengan cepat kami berangkat ke rumah sakit kembali. Aku harus memeriksa pasien itu, karena itu memang kewajibanku. "Dia mengalami sakit pada jantungnya sebelah kiri, Dokter. Lalu dia muntah dan mengeluarkan sedikit darah. Aku tidak tahu banyak dia memiliki sakit apa, karena kami tidak memiliki alat yang cukup canggih di sini untuk memeriksa di dalamnya. Namun rontgen memperlihatkan ada masalah dengan jantungnya," ucap dokter jaga itu dengan tergesa-gesa sambil berlari terus, hingga kami akhirnya sampai di rumah sakit. Dengan cepat aku memeriksa hasil rontgen itu. Dan ternyata dia mengalami kelainan pada jantung yang membuat dia akhirnya mengalami sesak napas sangat hebat. Lalu sedikit mengeluarkan lendir yang bercampur darah. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memasukkan alat yang sangat dibutuhkan dia untuk di dalam jantung itu. Tapi dia harus aku rujuk menuju ke rumah sakit kota, karena alat di sini tidak memungkinkan. Kita harus merujuknya ke kota. Sementara berikan obat penenang untuknya. Lalu atasi dengan menggunakan obat seperti biasanya. Aku akan menghubungi seseorang agar dia bisa dibawa segera ke kota. Apakah ada keluarganya yang berada di sini? karena aku membutuhkan persetujuan mereka. Dokter jaga itu sedikit kebingungan ketika melihatku menggunakan bahasa isyarat. Aku segera keluar dan mengamati sekitar. Ternyata ada seseorang yang sangat sedih dengan menundukkan kepala. Aku pikir itu adalah keluarganya. Aku menarik dokter jaga itu dan menunjukkan kepadanya untuk membawa wanita yang sudah menunduk itu kepadaku. "Oh, maksud Dokter adalah keluarganya? Yah, benar. Dia ke sini bersama wanita itu. Baiklah, aku akan segera membawa wanita itu ke hadapan dokter." Dengan cepat dia melakukannya. Wanita itu terus menangis dan mengawasi lelaki yang masih terbaring dengan sangat lemah itu. Kemungkinan dia adalah suami atau kakaknya. Katakan kepadanya jika kita harus membawanya ke kota. Aku harus menghubungi seseorang agar segera menyiapkan ambulans. Kita membutuhkan alat yang sangat canggih. Apakah kau mengerti perkataan yanh aku berikan? Atau aku harus bagaimana? Dokter jaga itu melirikku, lalu dia sedikit berfikir. Kedua alisnya mengernyit dalam, hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Aku sangat bersyukur dia akhirnya bisa mengerti dengan apa yang aku lakukan. "Aku mengerti dokter. Anda mengatakan aku harus memberitahu dia jika kita akan membawanya ke kota. Yah, aku tahu. Akhirnya aku sangat paham dengan apa yang kau katakan." Aku tersenyum lalu meninggalkannya. Aku menuju ke ruanganku dan segera menghubungi pihak rumah sakit cukup terkenal di kota. Untung saja mereka segera mengangkatnya. Namun aku lupa. Aku tidak bisa berbicara. Aku kembali keluar dan menarik salah satu suster untuk masuk ke dalam. Dia kebetulan sangat paham dengan semua perkataanku. Suster, kau harus berbicara kepada rumah sakit itu. Kita harus membawa pasien ke sana sekarang. Karena ini adalah penyakit yang sangat serius. Bantulah aku karena hanya kau yang bisa melakukannya. "Baik dokter. Aku akan segera mengatakan semua itu," jawabnya dengan tegas. Dia segera melakukan apa yang aku katakan. Aku menekan tombol speaker agar aku bisa mendengarkan semua perkataan suster yang ada di rumah sakit itu. Namun aku mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Mereka mengatakan pasien sangat penuh dan tidak mungkin untuk menerima pasien seperti itu. Karena dokter juga sangat terbatas. Yang aku tahu itu adalah rumah sakit terkenal. Kenapa mereka bisa seperti itu? "Tapi kami harus membawa pasien ini ke sana. Apakah suster bisa memberikan alternatif lain untuk kami segera membawa pasien ini? Karena kami tidak memiliki cukup waktu yang sangat banyak," ucap Suster itu. Dia mengatakan apa yang sudah aku tuliskan di secarik kertas. Sesuatu sangat mengejutkan kembali aku dengar. Suster yang berada di rumah sakit kota itu mengatakan nama rumah sakit milikku dan aku harus ke sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN