Perdebatan Yang Terus Terjadi

1905 Kata
Ana tersenyum kepadaku. Dia akhirnya menurut apa yang aku katakan. Kami bersama-sama membongkar semua berkas yang berada di ruangan kepala dokter. Tidak kusangka memang dokter itu benar-benar melakukan korupsi. Sementara Ana menanyakan semua hal kepada pasien dan mereka benar-bemar mengeluarkan uang jika memeriksakan diri ke rumah sakit. Mereka harus membayar dan sangat mahal. Bahkan mereka ada yang habis jutaan. "Midas, aku sudah menanyakan ke semua pasien dan memang ternyata benar mereka mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk memeriksakan penyakit mereka di sini. Dokter itu sudah melakukan korupsi yang sangat hebat. Sebaiknya kita harus melaporkan hal ini kepada dokter Alberth." Kau segera hubungi Dokter Alberth dan katakan semuanya sekarang juga. Tidak peduli ini sudah malam jam. Kita tetap harus melakukan itu, karena ini menyangkut nama baik seorang dokter. Aku tidak ingin dokter di sini tercemar karena hal yang sangat tidak baik seperti ini. "Baiklah, aku akan segera melakukannya," balas Ana. Ana segera mengambil ponselnya berada di dalam saku jas dokternya. Dia segera menekan nomor Dokter Alberth. Untung saja Dokter Alberth menerima dengan cepat panggilan Ana. "Maafkan aku, Dokter. Karena sudah menghubungi Anda malam seperti ini. Karena ada suatu hal yang harus kami sampaikan dan tentu saja ini sangat penting. Ini berhubungan dengan kepala dokter yang berada di sini. Aku harap Anda mengerti dan mau mendengarkannya. Mungkin aku sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Aku tahu Anda cukup lelah karena seharian ini, pasti banyak sekali pasien yang Anda tangani." Penjelasan yang Ana berikan cukup panjang. Aku harap Dokter Alberth bisa menerimanya Karena aku menganggap ini sesuatu yang sangat tidak sopan. Dengan menghubunginya sangat malam. Aku baru saja pulang dari kantor. Tapi aku tidak akan pernah menutup telepon ini. Apa yang harus kau katakan? Aku tidak akan pernah marah. Kau menghubungi aku waktu malam, pasti ini sesuatu yang sangat penting. Cepat katakan dan aku akan mendengarkannya. Ana menekan tombol speaker agar aku bisa mendengarkan apa yang Dokter Alberth itu katakan. Untung saja dia mengerti dan tidak masalah dengan kita yang sudah menghubunginya sangat malam. Dokter Alberth memang sangat baik dan dia sangat bertanggung jawab dengan semua pekerjaannya. Dia adalah contoh dokter yang sangat aku sanjung. "Dokter. Kami menemukan sebuah berkas kepala dokter. Dia sudah melakukan korupsi yang sangat banyak. Dia menarik pembayaran yang sangat mahal di setiap pasien .Padahal dokter tahu sendiri jika rumah sakit ini adalah milik pemerintah. Mereka bisa berobat secara gratis di sini. Aku harap dokter bisa menindaklanjuti kepala dokter itu." Apa? Hmm, tidak aku percaya ternyata dia benar-benar sangat playboy. Apalagi melakukan korupsi yang sangat luar biasa. Aku baru saja mendengar laporan tentang dia, jika dia berada di rumah sakit karena melalaikan pemeriksaan kepada pasien dan mengakibatkan seseorang kehilangan nyawanya. Dan, sekarang aku mendengar kabar yang sangat lain dan lebih mengejutkan. Baiklah, kalian sekarang urusi saja semua keadaan rumah sakit itu dan ubah semua peraturan. Aku akan menangani ini dan mempekerjakan semua pesuruh ku untuk membuat dia bertanggung jawab dengan semua yang dia lakukan itu. "Baiklah dokter. Aku sangat lega jika Anda bisa menangani semua ini." Kau pasti bersama Midas bukan? Katakan kepada dia, rumah sakit itu harus ditangani dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun. Rubah nama yang tidak baik menjadi nama yang sangat baik. Karena hanya dia satu-satunya yang bisa merubah semuanya itu. "Midas mendengarkan apa yang Anda katakan, Dokter. Dan dia menganggukkan kepala lalu tersenyum sangat tampan. Anda tahu sendiri aku sangat mencintainya dan aku harap Anda bisa menyetujui hubungan kami. Tentu saja kami tidak akan pernah membawa hubungan dalam hal pekerjaan. Kami akan bekerja dengan profesionalitas." Hahaha. Tentu saja aku akan menyetujui kalian. Namun jangan pernah membuat keributan di sana karena aku sudah mendengar kau membawa masalah pribadi ke dalam rumah sakit. Kau tahu mata dan telinga aku sangat banyak. Baik lah aku ingin beristirahat. Tangani  rumah sakit itu dengan baik. Ana menutup ponselnya. Aku sangat lega masalah sudah terselesaikan. Namun, aku sedikit kawatir mendengar perkataan Dokter Alberth barusan. Dia memiliki mata dan telinga yang sangat banyak. Aku harap keributan yang terjadi antara Ana dan Mira tidak lagi terdengar di telinganya. Karena aku tidak ingin terjadi hal apa pun dengan Ana. Pertengkaran sepele akan menjadi hal yang sangat buruk jika masing-masing kedua belah pihak tidak ada yang saling mengerti. Aku harap mereka bisa mengerti. Aku sangat kawatir. "Wow, kalian sangat kompak sekali. Sekali dayung dua perahu terlampaui. Hmm, benar-benar sangat luar biasa. Sekarang kepala dokter itu pasti akan merasakan akibatnya dan kalian yang sudah melaporkannya. Apa kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan itu benar-benar sangat membahayakan karir kalian sendiri? Yah, seharusnya kalian tidak melakukan hal itu." Perkataan Mira yang sangat mengejutkan. Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Namun, aku tidak ingin membuat keributan. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Sebaiknya aku pergi dari sini bersama Ana karena tugas kami sudah selesai dan ini sudah sangat malam. Namun, Ana tetap meladeni perlakuan Mira. "Jadi kau tahu sebenarnya apa yang dilakukan oleh Kepala Dokter itu, namun kau diam saja?" tanya Ana dengan sangat ketus membuat Mira malah tertawa dengan sangat keras. Aku menarik Ana dan menggelengkan kepala. Aku tidak ingin Ana menanggapiny. Biarkan saja Mira melakukan apa pun dengan rencananya. "Hahaha. Tentu saja aku mengetahuinya. Tapi aku diam saja karena apa? Haha, jika aku melaporkannya. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan bantuan untuk posisiku. Kau tahu sendiri dokter di sini sangat banyak dan tentu saja aku menginginkan posisi yang sangat baik. Aku sangat kecewa sebenarnya Midas berada di posisi tertinggi saat ini. Hah, padahal aku sudah mengincarnya. Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan membuat posisi itu berada di tanganku. Aku rasa ini benar-benar tidak adil." Mira melangkah semakin mendekati Ana, dan dia seolah-olah menantang Ana untuk melawannya. Ini benar-benar tidak bisa aku biarkan. Namun, aku juga tidak bisa mencegah. Ana terlihat sangat marah. Ana makin marah. Wajahnya benar-benar geram. Aku sangat kawatir dengan dirinya. Aku tidak mau dia terpancing dengan Mira. Dia benar-benar wanita yang tidak tahu diri. "Jadi, maksud kamu kau akan menggantikan posisi Midas dengan hal yang sangat buruk atau memfitnahnya? Mira, aku tahu kelicikan yang sudah kau rencanakan selama ini. Bahkan kau selalu saja membuat onar di setiap rumah sakit yang kau singgahi. Tidak ada ketenangan jika kau berada di sana. Kenapa kau melakukan itu? Mira, kau adalah dokter yang sangat hebat dan kau sangat pintar. Bahkan kau lulusan terbaik. Kenapa kau ingin sekali terobsesi dengan semuanya?" Aku menarik lengan Ana dan kembali menggelengkan kepala. Aku tidak ingin terjadi keributan apa pun karena Mira juga sudah menampakkan wajahnya yang sangat tegang. Sudah cukup! Kalian jangan meributkan suatu hal yang tidak penting seperti ini. Semua keputusan ada di kepala. Sekarang, aku adalah kepala di sini, dan aku yang memutuskannya. Dokter Alberth yang menunjukku. Dia adalah kepala kita semua. Dia adalah contoh dokter yang sangat baik. Jangan pernah menyalahkan siapapun. Lebih baik kalian pulang dan beristirahat, karena kita besok pagi memiliki pekerjaan yang sangat banyak. Aku tidak ingin rumah sakit ini kembali tercemar. Kalian tau sendiri kepala dokter sudah melakukan suatu hal yang sangat buruk. Kalian berdua harus menjaga nama baik rumah sakit ini karena juga menyangkut nama baik kita. "Nasehat yang sangat luar biasa. Aku sangat salut kepadamu, Midas. Tidak seperti wanita yang berada di hadapanmu ini. Selalu saja mementingkan dirinya sendiri dan selalu membuat orang lain terlihat sangat buruk. Kau yang menyebabkan semua ini Ana. Yah, kau yang selalu berada di atasku dan aku sangat membencimu. Aku tetap akan mengejar lelaki yang berada di sebelah itu. Aku tidak akan pernah berhenti sampai aku memilikinya. Terserah kau marah atau tidak, aku tetap akan melakukannya!" "Jika kau melakukannya, kau akan berhadapan denganku karena aku tidak akan pernah membiarkannya. Aku tidak akan pernah membuat hidupmu tenang. Jika kau berani untuk mengganggu hidupku, aku akan membalasnya. Aku bukan Ana yang seperti dulu yang selalu kau hina seperti itu. Aku sekarang berubah dan aku tidak takut lagi kepadamu." Tanpa berbicara lagi aku menarik lengan Ana dan mengajaknya untuk pergi. Namun, Mira tidak terima. Dia tetap mencegah kami, hingga langkah kami kembali berhenti. Aku tidak mengerti kenapa dia bersama Ana sepertinya mengenal lama dan bermusuhan. Pasti mereka memiliki masa lalu yang buruk. "Untuk apa aku menghindar. Katakan kepadaku, kenapa kau mengancamku seperti itu? Apakah kau tidak puas akan membullyku dan menyiksaku sekali lagi? Sudah cukup dengan semua yang kau lakukan kepadaku. Aku tidak akan pernah membiarkan." "Cukup dokter Ana. Ingat lah padaku. Aku akan membalas dendam dan melakukan semua yang ingin aku lakukan termasuk menghancurkan dirimu. Aku akan mengambil semua yang kau miliki, karena aku benar-benar membencimu!" Mira benar-benar mengungkapkan kekesalannya. Dia kini meluapkannya begitu saja. Aku tidak percaya dia melakukan itu kepada Ana. Entahlah apa yang terjadi di antara mereka, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi di rumah sakit yang sudah aku pimpin ini. Ana, aku harap kau menurut kepadaku. Sekarang. Biarkanlah dia dan jangan pernah membuat keributan di sini, karena aku tidak menyukainya. Kalau kau tidak bisa menurut kepadaku, aku akan pergi saja dan meninggalkanmu di sini bersama dengan wanita ini. Kini aku menatap Mira dengan sangat tajam. Dia tersenyum sinis sambil bersedekap seakan menantangku dengan sangat hebat. Dia tidak takut apa pun, bahkan tidak takut jika aku akan mengancamnya dan membuat dia pergi dari sini karena itu yang akan aku lakukan kepadanya. Kau selalu menjunjung kepala dokter, bahkan kau melakukan itu karena kau ingin mendapatkan posisi yang lebih baik. Kau sekarang ingatlah jika aku yang menjadi kepala dokter di sini. Yah, aku bisa membuatmu pergi dari sini. Jika aku besok masih saja melihat keributan yang terjadi, maka aku benar-benar akan membuatmu pergi dari sini. Kau akan mendapatkan tempat yang sangat jauh, bahkan di luar dugaan mu. "Jadi kau mengancamku dengan ancaman yang sangat mengerikan seperti itu? Baiklah, kali ini aku memang akan mengalah. Karena kau memang kepala dokter yang sangat luar biasa. Dan, bahkan sangat tampan. Lihat saja nanti, kau akan menjadi milikku," ucapnya kemudian melirik sinis Ana lalu berjalan begitu saja meninggalkan kami. "Apa yang dikatakan Mira benar-benar sangat menjijikkan. Aku benar-benar sangat membencinya. Aku memiliki masa lalu yang buruk dengannya. Dia selalu saja menindasku. Dia memang sangat cantik dan paling populer saat kita satu sekolah. Tapi ketika aku selalu menjuarai perlombaan dan mendapatkan peringkat tertinggi saat berkuliah, dia semakin membenciku. Karena dia selalu berada di bawahku. Aku saat itu sangat lemah sehingga membuat dia melakukan itu padaku. Tapi sekarang berbeda. Aku tidak akan pernah membiarkannya." Aku menarik Ana dan memeluknya. Hanya dengan cara ini yang bisa membuat dia mereda dari kemarahan. Kita akan kembali dan beristirahat, karena besok pagi adalah hari yang sangat panjang. Kita harus membuat rumah sakit ini memperoleh nama yang baik kembali. Kita harus mengembalikan semua uang yang mereka berikan. Aku akan kembali menghubungi Dokter Alberth dan meminta dia menyita semua harta yang dimiliki oleh kepala dokter itu. Aku akan memeriksa semua berkas pasien dan mengembalikan uang itu dengan perlahan. Kau jangan menggubris suatu hal yang sangat tidak penting, karena itu tidak baik untuk pekerjaan kita. Ana menganggukkan kepala, kemudian aku menggandengnya. Kita keluar dari rumah sakit ini. Kami berjalan kembali ke sebuah penginapan yang memang disediakan untuk para dokter. Hingga kita sampai di depan penginapan, terkejut dengan secarik kertas yang berada di depan pintu kamarku. Aku semakin tidak percaya ternyata di depan pintu keluar ada sebuah surat. "Kenapa ada sebuah surat di depan pintu kamar mu? Dan, pasti ini surat dari wanita itu. Dia memang benar-benar tidak mau menyerah. Aku akan segera membukanya." Ana segera mengambil dan membacanya. Dia menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dibacanya. "Dia memang benar-benar wanita yang sangat tidak tahu diri dan aku membencinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN