Kesalahpahaman Yang Terjadi

1104 Kata
Orang itu mendorongku. Dia melewati begitu saja lalu pergi ke dalam ruangan di mana anak itu dirawat. Untung saja anak itu sudah selesai, dan masuk ke dalam sana dengan sangat rapi. Dia segera mendekati ranjang lalu menarik kursi dan menatapnya sembari menggenggam telapak tangan anaknya. Aku lihat dia memang sangat mencintai anaknya. Wajar jika dia melakukan hal itu. Dia kehilangan istrinya dengan penyakit yang sama saat itu. Dia telah melakukan semua usaha hingga dia memang benar-benar kehilangan istrinya. Aku berjalan mendekatinya, lalu berdiri di sebelahnya. Aku mengamati dirinya yang sangat resah dengan kesembuhan anaknya. "Terima kasih sudah menyembuhkan anakku. Aku tidak tahu harus berkata apa. Mungkin jika kau tidak berani mencegah aku, maka aku akan benar-benar kehilangan keluargaku kembali," ucapnya lalu menolehkan pandangan ke arahku. Semua sudah ditakdirkan. Tapi kita berusaha memberikan yang terbaik. Jangan pernah memutuskan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Jangan pernah meninggikan egomu, karena kekayaanmu, ataupun hartamu tidak akan pernah bisa membeli nyawa seseorang jika sudah ditakdirkan untuk pergi selamanya. Kita hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kami akan merawat anakmu dengan baik Kau tenang saja. Sebaiknya kau sekarang tidak perlu membuat keributan dengan semua pengawalku itu. Aku permisi. Selamat tinggal. "Tunggu!" teriaknya keras membuat aku menghentikan langkah lalu kembali membalikkan tubuhku dan mengamatinya. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah mendekatiku, lalu memegang pundakku sebelah kanan dengan tatapan yang sangat serius. "Siapa namamu? Tidak aku sangka ada seorang dokter tidak bisa berbicara. Namun, bisa bekerja dengan baik melebihi dokter yang memiliki wujud sempurna. Istriku juga tidak bisa berbicara, makanya aku bisa mengetahui bahasa isyarat," katanya yang sangat mengejutkanku. Tidak kusangka dia memiliki istri sama seperti diriku, namun sangat mencintainya. Aku mengingat Ana. Dia juga sangat mencintaiku dengan kekuranganku seperti ini. Cinta memang tiada batas. Nama Midas. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya lelaki yang bercita-cita menjadi seorang dokter itu saja. Baiklah, jaga dirimu dengan baik. Aku menganggukan kepala lalu pergi dari sana. Aku mencari keberadaan Ana. Dia pasti sangat resah memikirkan perasaan hatinya. Dan, seperti dugaanku. Memang itu benar. Dia duduk di taman sendirian sambil menundukkan kepala. Aku memetik salah satu bunga lalu mendekatinya. Sambil tersenyum aku memberikan bunga itu. Dia terkejut, lalu menolehka. pandangan. Dia menerima bunga itu. Tapi, segera memalingkan wajah. Aku semakin tersenyum melihatnya. Jika sangat cemburu, dia memang menggemaskan. "Kenapa kau mendekatiku? Apa kau mau mengatakan kesalahanmu? Apa kau mau meminta maaf? Aku sangat sebal. Baru saja kau ke sini, kau sudah membuat masalah. Kau ini kenapa sih? Apa kau memang menyukai Mira? Dia memang selalu saja dibuat rebutan oleh semua dokter laki-laki dan aku sangat kawatir jika kau juga melakukan hal yang sama. Dia sangat cantik, seksi. Wajar saja jika semua laki-laki mendekatinya," ucap Ana dengan nada kesal. Aku menggelengkan kepala, namun dia tidak melihatnya. Dia masih membelakangiku. Perlahan aku menarik tubuhnya. Kini dia menatapku dengan wajah yang sangat sendu. Bahkan kedua matanya sudah bersiap untuk meneteskan air mata. Aku tidak ingin dia menangis karena hal sepele semacam ini. Tidak mungkin aku mencintai wanita lain selain dirinya. Hanya dia yang aku cintai dan aku akan menjelaskan perasaanku kepadanya. Kau sangat cantik jika memakai bunga itu terselip di telinga kananmu. Bolehkah aku memasangkannya? Karena aku ingin melihatnya. Ana masih saja menunduk. Namun, dia memberikan bunga itu kepadaku. Perlahan aku memegang dagunya lalu mengangkatnya agar dia memandangku. Wajahnya memang sangat cantik. Benar-benar luar biasa. Aku mengamati kanan-kiri, lalu mengecupnya dengan sangat cepat. Dia terkekeh pelan melihatnya. Akhirnya dia bisa tersenyum dengan perbuatan konyolku ini. Perlahan aku menyelipkan bunga itu di telinga kanannya, lalu memandanginya dengan saksama. Dia memang sangat cantik. Tidak ada di dunia ini yang bisa mempermainkan perasaanku. Aku meminta maaf jika melakukan kesalahan. Biarkan saja alam yang menjadi saksi bagaimana dan apa yang aku lakukan di sana. Aku mengelak pun kau tidak akan pernah percaya. Jadi aku hanya bisa mengatakan, aku tidak melakukan apa pun. "Dia wanita yang selalu mengambil pria yang dimiliki wanita dan itu sudah tersebar kemana-mana. Dia ditempatkan di sini karena dia berhubungan bersama kepala dokter, yang membuat istrinya sangat marah dan menjadikan kasus. Ketika kau berada di belakang sendirian dan dia mengatakannya padaku, aku sangat terkejut. Wajar saja jika aku marah seperti itu. Karena memang sifat yang dia miliki adalah seperti itu. Maafkan aku sudah berpikiran yang bukan-bukan kepadamu." Sekarang lebih baik kita melupakan semuanya. Kita akan pergi berkencan setelah semua pekerjaan selesai. Kita akan makan lalu kita akan pulang bersama-sama. Tapi sebelum keluar dari mobil, aku ingin kau memberikan sesuatu seperti biasanya. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum memakan bibir merah merekah itu. Kau sangat cantik dan membuatku tidak tahan. Ana tertawa sembari menutup mulut dengan kelima jemarinya. Wajahnya memerah dan malu. Tidak aku sangka. Aku tidak memiliki rasa malu lagi dengannya. Rasanya dia sudah menjadi milikku dan aku sangat mudah mengutarakan keinginanku. "Jadi kalian berpacaran di sini dan meninggalkan pekerjaan?" ucap kepala dokter tiba-tiba datang berada di belakang kami. Mira yang berada di belakang lelaki tua yang sudah memimpin lama rumah sakit kecil ini tersenyum senang. Aku bersama Ana spontan beranjak dari kursi taman. Aku berdiri tepat di hadapan dokter itu. Ana juga melakukan hal yang sama. Sementara, Mira malah tersenyum sinis. "Kami istirahat. Kami sudah melakukan tugas dengan baik," ucap Ana tegas. Semua yang dikatakan Dokter Ana adalah benar. Kami sudah melakukan semuanya dengan baik. "Siapa yang menyuruhmu mengoperasi pasien tanpa seizinku? Aku sangat melarang itu! Kenapa kalian melakukannya?" tanyanya dengan sangat marah. Jemari telunjuknya menunjukku bergantian dengan Ana. Aku sangat terkejut mendengarnya. Anak itu harus ditangani. Jika tidak, maka akan terlambat. Aku menjalankan tugasku menjadi seorang dokter. "Kau ini sudah bisu, sok sekali hebat. Kau bukan siapa-siapa di sini. Kau hanya dokter beasiswa murahan dan miskin. Aku adalah kepala dokter di sini, dan aku yang berhak untuk memerintah apa pun termasuk melakukan operasi." Dia semakin membuatku kesal. Aku ingin sekali menghajarnya, namun aku tahan. Ana melangkah satu kali ke depan. Dia menatap kepala dokter itu dengan tajam. Aku sangat resah melihatnya. "Bagaimana jika terlambat menangani anak itu? Bagaimana jika dia kehilangan nyawanya? Apakah kau mau bertanggung jawab?" balas Ana. Kepala dokter itu tidak mau menyerah. Dia malah memberikan pelototan tajam ke arah Ana. "Bagaimana jika kalian malah melakukan suatu hal yang salah? Hah, mengoperasi pasien begitu saja dan melakukan kesalahan yang membuat nyawa mereka melayang. Bukankah itu juga suatu hal yang sangat buruk dan tidak bisa ditolerir? Ingat. Aku adalah kepala di sini. Kalian harus mengikuti aturanku. Siapa saja yang tidak meminta ijin dariku, sama saja kalian harus bersiap dengan pemecatan!" "Kau .... yah, kau adalah dokter yang menangani istriku. Aku membawanya ke sini. Kau tidak segera menanganinya, dan malah pergi karena berkencan. Kau baru saja mengoperasinya keesokan harinya. Aku baru sadar. Kau terlambat melakukannya! Aku akan menghajarmu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN