Kepala Dokter rumah sakit sangat kebingungan. Ternyata lelaki yang memiliki anak yang sudah aku operasi itu berseteru dengannya. Dia adalah dokter yang akan mengoperasi istrinya, namun lebih memilih berkencan. Itu adalah suatu hal yang sangat memalukan yang pernah dilakukan oleh seorang dokter, apalagi memiliki jabatan tinggi seperti dirinya.
"Yah. Kau adalah lelaki itu. Kau adalah dokter yang sudah membuat istriku meninggal. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Karena aku akan benar-benar membuatmu membalas semua yang sudah kau lakukan saat itu. Aku menunggumu sangat lama. Ternyata kau datang bersama dengan wanita, lebih tepatnya wanita penghibur! Kau malah tertawa. Sedangkan aku menunggumu dengan perasaan sangat panik."
"Tuan. Tenanglah. Paling tidak aku sudah mengoperasi istrimu. Dia memang memiliki penyakit yang sangat parah dan kau terlambat membawanya. Aku sudah melakukan yang terbaik. Jadi, semua itu tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, dan istrimu meninggal karena penyakitnya. Bukan karena diriku. Jika kau membuat keributan, maka aku akan mengusirmu dari sini. Aku yang berwenang di rumah sakit ini dan aku berhak melakukannya. Kau sudah mencemari nama seorang dokter!"
Lelaki itu tidak terima. Dia mendorong Kepala Dokter itu dengan sangat keras. Aku tidak bisa diam. Aku harus melerai mereka. Dengan cepat aku berada di tengah, lalu mengulurkan tanganku.
"Di sini adalah rumah sakit. Untuk apa kalian merebutkan hal ini? Jika memang kau merasa Kepala Dokter ini bersalah, silakan tuntut dia. Gunakan jalur hukum untuk melawannya. Dengan kekerasan kau malah akan di penjara karena sudah menyebabkan seseorang terluka," ucap Ana dengan sangat tegas membuat lelaki itu terdiam dan akhirnya mundur.
"Sepertinya apa yang dikatakan dokter wanita ini benar-benar cerdas. Dia lebih cerdas dari pada pemimpinnya yang sangat menjijikkan ini. Lihat saja. Aku akan menuntutmu. Aku mempunyai bukti yang kuat untuk membuatmu keluar dari jabatanmu ini. Aku pastikan kau akan benar-benar celaka!"
Lelaki itu pergi bersama para pengawalnya. Aku menarik napas lega. Akhirnya keributan benar-benar sudah selesai. Aku tidak ingin rumah sakit ini tercemar gara-gara semua dokter ini tidak becus mengatasi pasien. Dan, membuat keributan, atau nama dokter yang tercemar begitu saja. Aku tidak mau semua ini tidak terjadi.
"Kalian bekerjalah dengan baik. Jangan berduaan saja. Selesaikan tugas apa yang harus kalian lakukan, karena aku tidak ingin melihat kalian berdua di taman ini sekali lagi," ucap Kepala Dokter sebelum akhirnya berlalu. Sementara Mira masih berdiam di tempat mengawasi kami berdua. Dia perlahan berjalan mendekati Ana dan mengamatinya. Ana juga membalas tatapan yang sudah diberikan kepadanya. Ini benar-benar sangat membuatku pusing. Masalah selesai, lalu masalah lain kembali datang. Apalagi mereka adalah 2 wanita. Aku sama sekali tidak bisa melawan wanita.
"Aku menyukai kekasihmu dan aku ingin sekali memilikinya. Jadi kalau aku mengejarnya, aku sudah memberitahukan kepadamu dan aku sudah meminta izin. Entah Kau memberikan izin atau tidak, aku tetap akan mengejarnya. Karena aku sangat menyukainya," ucap Mira dengan sangat lantang dan tidak malu. Bahkan dia tidak peduli jika aku mendengarnya dengan sangat baik. Dia benar-benar sangat membingungkan.
Ana sangat marah. Dia ingin mencegah Mira untuk pergi. Namun, aku menahannya. Aku menggelengkan kepala dan tidak akan membiarkan dia untuk membuat keributan yang lain. Apalagi menyangkut masalah diriku. Aku yang akan meyakinkan dia jika aku hanya miliknya dan tidak akan pernah berselingkuh. Ataupun menyukai wanita lain.
Biarkan saja dia seperti itu. Untuk apa kau memperebutkan masalah yang tidak penting ini? Apakah kau tidak percaya jika aku benar-benar menyukaimu? Ana, jangan pernah meragukan apa yang sudah aku lakukan dan katakan. Aku sudah berjanji setelah bersekolah, aku akan menikahimu dan sepertinya ini adalah waktu yang sangat tepat. Aku harus menggunakan cincin agar semua orang tidak menggangguku. Kau harus paham memiliki suami yang sangat tampan seperti ini.
Ana akhirnya tersenyum. Dia memelukku dengan erat. Aku pun melakukan hal yang sama. Dari kejauhan aku melihat Mira menatap kami dengan sangat tajam. Aku membiarkannya. Aku tidak peduli apa pun yang terjadi, aku hanya tetap akan bersama Ana.
Kami terus memeriksa pasien hingga sore hari. Tidak berselang lama beberapa polisi datang ke rumah sakit dan aku sangat resah. Apakah lelaki itu sudah melaporkan Kepala Dokter dan akan membawanya? Atau, bagaimana? Namun, aku berharap itu yang terjadi. Dia memang harus mendapatkan pelajaran dengan perbuatannya.
"Aku akan menangkap kepala dokter itu. Aku sudah melaporkannya dan membawa beberapa pengacara. Kalian jangan menghalangi aku, karena aku harus menuntut hak. Dia adalah dokter yang sangat kurang ajar dan dia tidak pantas untuk bekerja di sini. Kalian harus mengerti."
"Apa-apaan ini? Kenapa kau datang lagi? Apa lagi membawa aparat seperti ini. Kau tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menangkapku. Aku sudah melakukan semuanya dan bekerja sebagai dokter yang sangat profesional. Apalagi yang harus aku buktikan kepadamu? Dia memiliki penyakit lain dan aku sama sekali tidak bisa menolongnya. Apalagi semua alat yang berada di sini sangat minim. Bagaimana bisa aku menyembuhkannya sementara kau datang dengan terlambat ke sini!"
Dengan sangat emosi Kepala Dokter datang. Dia sangat marah didampingi oleh semua suster dan dokter muda yang bekerja di sini. Aku masih diam saja dan tidak mengikuti semua urusan yang bukan urusanku. Kali ini lelaki itu yang akan mengurusi semuanya.
"Aku tidak peduli. Jelaskan saja di pengadilan dan semua yang sudah kau miliki sebagai bukti. Karena kau harus mempertanggungjawabkan semuanya. Istriku meninggal gara-gara dirimu!" bantah lelaki itu, lalu berlalu dengan para pengacara dan pengawalnya. Sementara para polisi menarik Kepala Dokter dan menangkapnya dengan paksa.
"Aku tidak bersalah! Aku ini Kepala Dokter di sini. Kalian akan rasakan akibatnya, jika mempermalukan aku seperti ini!" teriaknya keras.
"Sebaiknya Anda menjelaskan di kantor polisi. Anda juga berhak mendapatkan pengacara. Jadi, lebih baik Anda menurut saja. Jika tidak, kami akan tetap membawa Anda dengan paksa," ucap sang polisi akhirnya membuat Kepala Dokter diam.
Mereka akhirnya membawanya. Aku dan yang lainnya sangat cemas. Lalu, siapa yang akan memimpin?
"Dokter Midas! Ada telepon untukmu dari dokter Alberth. Telepon itu berada di dalam ruangan Kepala Dokter. Anda harus segera ke sana dan menerimanya," ucap salah satu suster membuatku sangat terkejut. Apakah Dokter Alberth mendengar keributan yang terjadi barusan? Hah, ini benar-benar tidak bisa terjadi. Baru saja aku berada di dalam rumah sakit ini, namun dia sudah mendengar hal yang sangat buruk seperti ini.
"Kau harus menerimanya, Midas. Jangan kawatir. Kami semua mengerti jika kau tidak bersalah. Bahkan kau sudah menyembuhkan anak itu dari penyakitnya."
Ana memberikan senyuman kepadaku. Senyuman yang sangat cantik. Dia berusaha meredakan hatiku yang sangat terasa cemas ini seketika. Aku segera berjalan menuju ke ruangan Kepala Dokter. Ana mengikutiku. Begitu juga dengan Mira. Dia sama sekali tidak akan pernah melewatkan peristiwa ini.
Aku menekan tombol speaker karena aku tidak mungkin menjawab telepon darinya. Sedangkan aku tidak bisa berbicara. Jika aku memerlukan bantuan, Ana yang akan melakukannya.
Midas, aku sudah mendapat kabar dari seseorang tentang Kepala dokter di sana. Biarkan saja dia berada di pengadilan untuk mempertanggungjawaban apa yang harusnya dia lakukan. Namun, di rumah sakit kecil itu tidak mungkin kehilangan Kepala Dokter. Sekarang aku menunjukmu untuk menggantikan posisi itu.
Tidak aku percaya. Dokter Albert begitu saja memberikan tugas yang sangat berat itu kepadaku? Bahkan aku baru saja berada di sini. Ini benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa, namun juga sangat berat.
Midas, aku tahu kau mendengarkanku. Tolonglah menjadi dokter yang baik. Berikanlah contoh kepada semua dokter yang ada di sana. Setelah kau bisa mensukseskan rumah sakit itu, aku akan memindahkanmu ke sebuah rumah sakit yang besar. Rumah sakit yang bersaing dengan rumah sakit milikmu. Sudah waktunya kau bertemu dengan semua keluargamu.