Roy terkejut mendengar perkataanku. Namun, dia menganggukkan kepala dan menepuk pundak sebelah kananku dengan sangat keras. Kemudian dia tertawa.
"Hahaha sangat mengejutkan sekali. Ternyata kau diam-diam memiliki otak yang sangat cerdas. Tentu saja kau adalah dokter yang sangat luar biasa. Otakmu pasti juga luar biasa.
Kau ini mengatakan itu mengejekku, atau memujiku? Wajahmu sangat memprihatinkan. Ekspresimu itu tidak jelas.
Roy semakin tertawa ketika aku memberitahukan hal itu. Dia berdiri, lalu menatapku dengan berkacak pinggang.
"Tentu saja aku sangat terkejut. Kau memiliki otak yang cerdas sekaligus misterius. Apa yang berada di dalamnya? Hmm, sebuah rencana yang dengan tegas kau berikan kepadaku. Aku sangat penasaran. Katakan kepadaku. Apa rencanamu itu? Tidak mungkin kau hanya ingin menjadi dokter yang terbaik di sini. Pasti kau memikirkan cara lain. Bukankah seperti itu?"
Aku menggelengkan kepala lalu berdiri tegak di hadapannya. Kini aku yang memandangnya dengan sangat serius. Aku harus mengatakan kepada dirinya agar dia tidak membuat masalah di dalam rumah sakit ini. Aku tidak mau terjadi keributan, apalagi ini menyangkut keluargaku.
Jangan pernah membuat keributan di dalam. Jika kau ingin menegur adikmu, menunggu lah saat dia selesai dengan tugasnya dan keluar. Apa kau tidak malu jika semua orang memandangmu seperti itu?
"Aku sangat marah dengannya. Dia selalu saja berkata kasar dan tidak menganggapku sama sekali. Aku sangat capek berhadapan dengan semua keluargaku. Mereka selalu saja menganggap rendah. Aku memang sengaja tidak menuruti mereka. Aku bisa saja melakukan usaha atau bisnis ku sendiri. Tapi aku tidak ingin membawa nama mereka. Hah, mereka tidak tahu sebenarnya aku sudah melakukannya. Kau pikir aku mengeluarkan uang yang sangat banyak dari pemberian mereka? Tentu saja tidak. Aku memiliki usaha yang cukup lama dan kau pun tidak akan aku beritahu. Yang penting ini adalah usaha yang benar-benar legal."
Tidak aku percaya Roy ternyata memiliki usaha sendiri dan itu sangat membuatku bangga.
Tidak aku percaya. Ternyata kau benar-benar memiliki usaha. Ini membuatku sangat terkejut. Kau ternyata lebih cerdas dari dugaanku dan itu memang benar. Baiklah, sekarang waktunya aku memeriksa semua pasien. Kau sebaiknya pergi dari sini dan jangan membuat keributan. Pulanglah, lalu beristirahat. Kau sangat berantakan. Pasti kau semalaman berada di kafe dengan seorang wanita. Wajahmu sangat kusut dan bau.
"Kau selalu saja bisa menebak apa yang sudah aku lakukan. Tapi sepertinya kau akan mengurusi pasien dan aku harus pamit. Selamat tinggal. Jaga dirimu dengan sangat baik. Jika adikku menemuimu lalu membuatmu sangat marah, balas aja. Kau berhak untuk melakukannya."
Roy masih saja tidak memberitahukan usahanya. Aku yakin jika usaha itu adalah benar-benar sebuah bisnis yang sangat legal. Aku juga mengharapkan hal itu. Dia Melambaikan tangan lalu berlalu dengan cepat. Aku segera kembali ke dalam. Namun, langkahku terhenti saat seseorang menghadangku dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jadi kau sudah merencanakan sesuatu dengan kakakku? Hmm, kalian berdua sama saja tidak bisa dipercaya. Kalian pasti sudah melakukan sebuah rencana untuk menghancurkan diriku. Kalian benar-benar sangat licik."
Bukankah kau yang selalu berkata seperti itu dengan pikiranmu sendiri? Mana buktinya jika aku melakukan rencana kepadamu? Kau hanya melihat kita saling berbicara dan kau tahu sendiri. Aku sangat akrab dengan kakakmu sejak kecil. Kau yang selalu tidak mau bermain dengan kami. Apakah pantas kau menuduh kami seperti ini?
"Sayangnya lelaki hebat seperti dirimu hanya bisa berbicara dengan tangan yang digerakkan seperti itu. Sangat memalukan. Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan pernah bekerja menjadi seorang dokter. Karena aku punya rasa malu. Tentu saja aku berbeda denganmu kau tidak memiliki rasa malu sama sekali."
Rio selalu saja mengatakan suatu hal yang sangat buruk. Aku hanya terdiam, tidak ingin membahasnya. Aku tidak akan membalas semua perkataan itu. Aku hanya ingin tenang bekerja di sini. Aku menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepadanya karena dia adalah senior. Lalu aku membalikkan tubuh dan akan pergi dari hadapannya.
"Tunggu! Aku masih memerlukanmu. Aku akan berbicara denganmu dan kau tidak berhak untuk meninggalkanku, kecuali aku mengijinkannya."
Rio menghentikan langkahku. Dia kembali dengan sifat arogannya. Tidak ingin mengalah dan terus mempertunjukkan dirinya. jika dia adalah penguasa di rumah sakit ini. Aku menghentikan langkah, kembali membalikkan tubuhku. Lalu aku perlahan melangkah mendekatinya. Kini kita saling bertatapan sangat dekat. Aku sedikit menundukkan kepala ketika menyorotkan tatapan itu karena memang tingginya hanya sebatas daguku saja.
Aku tidak ingin membuat masalah denganmu, Rio. Kau harus mengerti kita di sini bekerja profesionalitas. Jangan ada dendam yang terus mengarah di antara kita. Kini kau pemilik rumah sakit ini. Aku tidak akan pernah merebutnya darimu. Untuk apa aku melakukannya? Pasti aku akan mendapatkan masalah yang sangat besar. Kalian adalah penguasa di sini dan aku tidak akan pernah melawan sang penguasa.
"Dari dulu aku selalu tidak paham dengan yang kau katakan. Tetapi kini aku sedikit paham. Kau mengatakan tidak ingin melawan diriku, karena aku adalah sang penguasa. Bukankah seperti itu? Kau harus memberikan aku penghargaan karena kini aku akhirnya bisa membaca bahasa isyarat yang sudah kau berikan kepadaku."
Aku harus pergi Rio. Banyak sekali pasien yang harus aku tangani di desa. Sepertinya pasien yang sudah aku operasi itu akan mendapatkan pelayanan spesial di sini. Aku tahu kau bisa melanjutkannya, karena kau dokter yang sangat hebat.
Aku kembali menundukkan kepalaku, lalu membalikkan tubuh dan meninggalkannya. Kini dia tidak menghadangku lagi. Perasaanku sangat tidak enak. Dia selalu akan menyerangku walaupun aku akan berusaha untuk tidak takut menghadapinya. Namun, aku sedikit cemas. Aku hanya takut seseorang yang berada di sebelahku akan terkena imbas dari masalah ini, termasuk dengan Ana.
Dari kejauhan, Ana berjalan cepat mendekatiku. Dia sepertinya membutuhkan aku. Aku segera kembali melangkah untuk mendekatinya. Semoga saja tidak ada masalah yang tidak aku ketahui.
"Kau ke mana saja? Kenapa kau sangat lama sekali. Kau dicari oleh pasien itu. Midas, dia tidak mau meminum obat jika kau tidak berada di sebelahnya. Aku harus bagaimana? Dia seperti anak kecil yang kehilangan ayahnya dan kau adalah ayah dia. Sebaiknya kau pergi ke sana dan tangani pasien yang sangat rewel itu. Dia sepertinya sangat berkuasa. Jadi aku tidak bisa bertindak apa pun, bahkan marah padanya."
Ana membuatku terkejut. Aku tidak percaya pasien itu kini membuat masalah. Aku segera berjalan mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Jangan pernah memberikan obat karena aku tidak akan pernah meminumnya. Aku hanya mau meminum obat yang diberikan oleh Dokter Midas. Aku tahu kalian pasti akan meracuniku dan mengambil semua kekayaanku," ucapnya dengan sangat tegas kepada beberapa suster yang sudah membawa obat.
Aku segera mendekati suster itu dan memeriksa semua obat yang telah mereka bawa dan memang itu adalah obat yang harus dia minum. Tapi kenapa dia tidak mau meminumnya?
Tuan, ini adalah obat yang saya bawa dan ini harus Anda minum. Semuanya aman. Aku sudah memeriksanya.
"Wah. Untung saja kau datang. Tadi ada dokter yang sangat sombong itu ke ruangan ini dan memberikan resep kepada suster itu. Aku tidak mau meminum obat lain selain dari dirimu. Bisa-bisa dia memberikan obat yang sangat salah, lalu aku kembali sakit. Bukankah orang yang menginginkan kekuasaan selalu melakukan hal itu?"
"Tuan. Apakah Anda baik-baik saja? Maafkan aku terlambat datang ke sini. Semua obat itu sudah aku resepkan untuk Anda dan ini sangat baik untuk kesehatan Anda. Aku sudah memeriksa semua berkas kesehatan Anda. Obat ini bagus untuk kesembuban setelah operasi yang sudah dilakukan. Ini adalah obat penunjang untuk kebaikan tubuh Anda. Sebaiknya Anda segera meminumnya."
Rio tiba-tiba datang. Dia masuk ke dalam dan segera mendekati pasien itu yang mengernyit melihatnya. Dia menjelaskan semua obat yang sudah diberikan. Memang dia yang sudah menyiapkannya, karena aku merasa tidak pernah memberikan resep seperti itu. Namun obat itu sama persis dengan obat yang sudah aku berikan saat awal sebelum keluar dari kamar ini.
"Kenapa aku harus memiliki dokter lain? Bukankah sudah jelas Dokter Midas yang sudah mengoperasi aku dan menyembuhkanku? Sekarang lebih baik aku kembali ke desa saja agar dokter itu bisa merawatku tanpa ada gangguan seperti ini. Kau adalah kepala di rumah sakit ini. Seharusnya kau tahu bagaimana menangani perpindahan dokter itu tidak baik. Kau harusnya membiarkan Dokter Midas menangani diriku."
Masalah ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak akan pernah mempermalukan Roy di hadapan semua orang. Bagaimanapun juga menjadi kepala rumah sakit adalah tanggung jawab yang sangat berat. Jangan karena diriku dekat dengan pasien itu, lalu aku bisa memperlakukan dia seenaknya. Aku segera mendekati pasien itu dan menganggukkan kepala, lalu tersenyum.
Semua yang saya resepkan adalah perintah dari dokter Rio. Saya jauh berada di bawahnya. Dia dokter yang sangat berpengalaman. Saya masih harus belajar bersama Dokter Rio. Percayalah kepadaku, Tuan. Ini semua berkat bimbingannya hingga aku bisa menjadi di dokter yang sangat hebat. Semua obat ini sudah aku periksa kembali dan memang Dokter Rio yang memerintahkan suster itu untuk memberikannya. Obat itu sangat aman untuk kesembuhan Anda.
"Kau selalu saja baik hati tidak ingin mempermalukan orang lain dan aku sangat paham. Baiklah, aku akan meminumnya. Tapi aku ingin pindah ke desa. Aku ingin berada di sana dan kau harus mengikutiku."
"Semua akan diatur dengan baik setelah Anda pulih, karena di desa tidak ada alat yang bisa membantu untuk membuat pernapasan Anda menjadi semakin baik. Tapi aku akan mempertimbangkannya," balas Rio kemudian meninggalkan pasien itu. Aku segera mengikutinya keluar. Aku tidak ingin terjadi salah paham di antara kita.
"Kau sudah membuatku seperti ini, Midas. Dan aku tidak akan pernah melupakannya. Aku akan membalasmu secara perlahan dan membuatmu menderita. Hingga kamu tidak ingin kembali menjadi seorang dokter," ancamnya yang sedikit membuatku cemas.