Masih Berusaha Bertahan

1504 Kata
Ancaman Rio menembus gendang telingaku. Aku mengatur hatiku. Rasanya ingin marah sekali saat dia mulai melontarkan semua kata yang membuatku sangat kecewa. Padahal aku sama sekali tidak ingin menyerangnya. Lebih baik aku pergi dari sini dengan segera. Nanti, saatnya tiba. Aku akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Kau selalu saja ingin menghancurkan seseorang dalam hidupmu. Apa salahku hingga kau akan melakukan itu kepadaku? Semua sudah aku berikan kepadamu. Untuk apa kau mengkhianatiku seperti ini? "Kau dari kecil sudah selalu menghancurkan hidupku. Semua orang selalu memuji kecerdasanmu. Padahal kau tidak bisa berbicara apa pun. Apa yang bisa dibanggakan dengan dirimu. Kau tidak bisa melakukan apa pun, namun mereka selalu saja memilihmu. Walaupun mereka tahu kau memiliki kelemahan yang sangat menyedihkan itu. Ingatlah Midas. Aku tidak akan pernah membuatmu bahagia. Aku akan terus menyerangmu dan membuat kau keluar dari predikatmu sebagai seorang dokter." Rio segera membalikkan tubuhnya. Dia meninggalkanku begitu saja dengan kemarahan. Kali ini aku tidak menghentikannya. Biarkan saja dia berpikiran buruk seperti itu. Hanya saja aku sangat kawatir. Apakah dia akan menyerang orang yang berada di dekatku, karena aku tidak akan pernah membiarkannya. "Hei melamun saja. Kau ini kenapa? Dari tadi mengamati lorong yang tidak ada siapapun. Apakah kau melihat hantu yang sangat cantik? Hmm, bisa-bisa aku sangat cemburu." Suara Ana mengejutkanku dari belakang. Aku segera membalikkan tubuhku untuk memandang wajahnya. Dia tersenyum sangat bahagia ke arahku. Wajahnya benar-benar sangat cantik. Aku segera menariknya, lalu memeluknya. Kemudian memandangnya dan tidak mengalihkan kedua mataku sama sekali. "Kau sama sekali belum makan, Midas. Aku sudah menyiapkannya di dalam ruangan. Kita akan menuju ruangan itu hanya berdua saja. Kau harus makan untuk mengisi tubuhmu ini. Sebuah mobil saja membutuhkan bensin agar dia berjalan. Apalagi manusia tanpa makanan. Mana bisa? Kau ini seorang dokter. Seharusnya kau bisa menjaga kesehatanmu dan tidak melupakan makanan." Aku semakin tersenyum melihat Ana terus mengomel ini. Aku sangat senang ada seseorang wanita yang sangat cantik memperhatikanku sampai seperti ini. Dengan cepat aku menariknya, lalu menganggukkan kepala. Ana segera berjalan menuju sebuah ruangan dan memang di sana tidak ada siapapun. Hanya kami berdua. "Aku sudah menyiapkan minuman hangat juga. Kau segera minum dan makanlah dengan sangat cepat. Semua pasien itu sudah menunggumu di desa. Mira sudah sangat marah karena kita tidak segera kembali ke sana. Kita akan benar-benar dilahap oleh seekor singa betina saat kita kembali nanti." Aku tersenyum mendengar ucapan Ana. Dia memang sangat menggemaskan. Aku segera menerima suapan demi sesuap darinya. Dia sangat memanjakan aku. Aku kini memgingat ibuku yang saat itu melakukan hal yang sama seperti yang Ana lakukan kepadaku." "Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Nanti aku bisa salah memberikan suapan ini," candanya yang membuatku semakin tertawa pelan. Aku menangkap tangannya dan segera menariknya. Aku sama sekali tidak tahan. "Kau pasti ingin mengecup aku bukan? Sudah kubilang. Aku ini adalah wanita yang sangat cantik, yang sudah kau miliki. Tidak ada siapapun yang bisa menggantikan aku." Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Padahal aku sama sekali tidak tidak ingin kau tahu. Aku ingin memberikan kejutan itu. Namun, sekarang sepertinya sudah terbongkar. Aku menarik sendok yang masih di genggaman Ana, lalu aku meletakkannya di atas mangkok yang masih berisi makanan. Aku sangat kawatir denganmu. Kau terlalu dekat denganku dan kau tahu sendiri musuhku sangat hebat. Dia adalah pemilik dari rumah sakit ini walaupun secara sah, sebenarnya aku adalah pemiliknya. Tapi aku kehabisan cara untuk mengambil alih semua rumah sakit ini. Yang aku bisa jalani adalah hanya menjadi seorang dokter yang profesional itu saja. Walaupun aku memiliki sebuah cara untuk benar-benar menyingkirkan Rio dan pamanku yang sangat berkuasa di sini, tapi aku masih sangat cemas. "Lalu, apa hubungannya denganku? Aku tidak pernah mencampuri urusanmu yang sangat rumit itu. Aku berusaha tidak melakukannya. Walaupun aku ingin sekali andil di dalamnya. Apa yang kau cemaskan?" Ana memegang pipi kananku dan mengelusnya. Dia semakin membuatku tenang. Belaian lembut itu persis seperti yang sering ibuku lakukan saat aku sangat bersedih dulu. Aku sangat senang sedih ketika bertemu dengan semua temanku. Mereka selalu membuliku dan mengatakan aku lelaki tidak normal. Tapi ketenangan yang Ibu berikan membuatku melupakan semua itu. Dan kini aku sangat bersyukur Ana bisa menggantikannya. Aku tidak ingin kau disakiti oleh mereka, Ana. Aku sangat kawatir jika mereka juga menyakitimu, karena kau adalah kekasihku. "Midas, dengarkan, aku. Tidak akan ada orang yang mau menyakiti aku. Jangan kawatir. Sekarang lebih baik kita habiskan makanan ini dan kembali bekerja, lalu malam nanti kita harus kembali ke desa. Kita harus menyelesaikan tugas di sana." Kau memang wanita yang sangat luar biasa. Aku sangat mencintaimu, Ana. Jika ada seseorang yang menyakitimu, aku sama sekali tidak rela. Apalagi itu berhubungan denganku. Ana menarik wajahku. Kali ini dia yang memulai duluan. Bibirnya kembali mencicipi bibirku. Spontan aku membalasnya. Aku terus melumat bibir itu yang sangat lezat sekali melebihi apa pun. Seperti biasanya. Sebenarnya aku tidak tahan jika dia melakukan ini. Kami masih saling membalas. Suasana yang sedikit menyakitkan beberapa jam lalu, kini membuat diriku melupakannya. Sentuhan Ana membuatku sangat menginginkannya. Seperti candu buatku. "Apakah sudah cukup yang aku berikan? Sekarang tersenyumlah, Midas. Karena jika seperti itu, kau akan sangat tampan. Jangan pernah mengkawatirkan sesuatu yang bisa membuatmu tidak berdaya seperti itu. Jangan takut apa pun kecuali kehilangan orang yang kamu cintai." Entahlah apa yang akan aku katakan. Aku benar-benar sangat bahagia memiliki pendamping seperti dirimu. Aku ingin sekali menikahimu  namun belum saatnya. Apakah kau mau menungguku Ana? Aku harap kau bisa seperti itu karena aku masih memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mengatasi ini semua. "Aku akan menunggumu sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah berpaling darimu. Kau adalah segalanya bagiku, Midas. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam kondisi apa pun. Aku sangat mencintaimu." Kami berpelukan kembali, lalu segera membereskan semua sampah dari sisa makanan kami. Dengan cepat kami keluar dari ruangan. Sekali lagi tiba-tiba Rio berada di depan kami dengan beberapa suster. Dia menatap kami dengan sangat tajam. Entah apa lagi yang akan dia rencanakan. "Jadi kalian berada di sini berdua, berpacaran seperti itu? Padahal di dalam rumah sakit ini banyak sekali pasien yang membutuhkan bantuan kalian. Dan, kalian seenaknya sendiri berada di sini. Entah apa yang kalian lakukan. Bagaimana jika seorang sepasang kekasih sendirian berada di ruangan yang gelap seperti ini? Hah, pasti akan terjadi sesuatu hal dan itu sangat memalukan." "Jangan pernah berkata suatu hal yang sama sekali tidak bisa kau buktikan. Kau ini memang benar-benar tidak bisa mempertunjukkan dirimu sebagai kepala rumah sakit yang terhormat. Sikapmu sangat kampungan dan ini merupakan penghinaan terbesar yang sudah kau berikan padaku. Aku akan menuntutnya, jika kau terus melakukan hal ini." Ana spontan membantah semua perkataan Rio dengan sangat kasar. Aku sedikit kawatir mendengarnya. Ini yang aku takutkan. Dia terlibat dalam masalah yang sangat rumit ini karena dekat denganku. Aku segera menarik tubuh Ana untuk berada di belakangku. Aku tidak ingin dia terlibat sangat dalam dengan situasi kondisi yang kembali mencekam ini. "Apakah kau tidak mengetahui peraturan di rumah sakit ini? Seharusnya kau mengerti tanpa aku menjelaskannya. Kau sekarang menduduki kepala rumah sakit di desa itu. Semua peraturan sama saja. Tidak boleh berpacaran ketika sedang bekerja dan kali ini kau salah. Kau tidak bisa membantah apa pun." Aku menarik napas panjang berusaha mengatasi hal ini. Yang dia katakan memang benar. Tidak seharusnya aku berdua saja dengan Ana. Namun dia juga tidak bisa seenaknya memperlakukan diriku seperti ini. Aku mau minta maaf. Aku memang bersalah. Hal ini tidak akan aku ulangi lagi. Sekarang aku akan memeriksa pasien dan segera kembali ke desa. Aku harap kau bisa menjaga pasien yang sangat terhormat itu. Kau adalah dokter yang sangat hebat. Kau pasti bisa melakukannya. Aku kembali menundukkan kepala lalu menarik Ana untuk meninggalkan Rio yang masih menatapku tajam. Aku harap dia tidak menahanku untuk melangkah. Aku sama sekali tidak ingin Ana terlibat dalam masalah ini. "Dokter Midas. Pasien VIP mengalami sesak napas mendadak. Entah apa yang yang ditelan. Sepertinya dia membutuhkan bantuan Anda," ucap suster dengan mendadak mengejutkanku. Aku segera berlari ke arahnya. Namun aku kembali tertahan saat Rio kembali mencegahku dengan teriakan yang sangat keras. "Tunggu. Kau tidak boleh menemui pasien itu, Midas. Lihatlah dia kini mengalami sesak napas yang sangat tiba-tiba. Kau pasti meletakkan sesuatu dan membuat dia mengalami hal ini. Kau ini benar-benar tidak tahu diri, Midas. Jika terjadi sesuatu kepada pasien itu aku akan benar-benar menuntutmu dan membuat kau dipecat dari gelar menjadi seorang dokter," ucap Rio dengan sangat lantang. Aku semakin tidak percaya mendengarnya. Aku berlari mendahuluinya untuk masuk ke dalam kamar dan memeriksa pasien itu. Ana yang berada di sebelah aku juga sangat panik. "Dokter Midas. Aku perintahkan kau jangan menyentuhnya karena kali ini aku yang akan mengatasinya. Ini semua gara-gara kau. Kau pasti sudah gagal melakukan operasi itu. Apa yang kau lakukan saat mengoperasinya? Jangan-jangan kau salah dalam menanganinya. Kau memang benar-benar dokter yang tidak tahu diri!" Beberapa dokter muda datang dan membantu Rio untuk menangani pasien itu. Namun, ada kesalahan saat dia melakukannya. Aku harus menghalanginya. Jika dia melakukan itu. Pasien itu akan benar-benar sesak napas dan bahkan kehilangan nyawanya. Dia tidak boleh melakukannya. Dia akan membuat pasien itu semakin parah. Aku harus mencegahnya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN