" Bu Rini tolong ke ruangan saya!"
Deg
" Ada apa pagi - pagi Pak Admawijaya sudah panggil saya?" gumam Rini dalam hati
Perasaan Rini mendadak menjadi tidak enak. Karena tidak biasanya Direktur utama itu bersikap seperti itu. Kalau pun ada rapat atau pertemuan lainnya pasti sudah di planning sebelumnya, tidak akan dadakan seperti ini.
Cepat Rini mengubungi Gadis assistennya melalui pesawat yang ada di mejanya.
" Gadis ke ruangan saya, sekarang!"
Tidak perlu menunggu lama, Gadis sudah ada di depan ruangan Rini.
Mengetuk sopan pintu itu.
Tok....tok...tokk
" Masuk!"
Suara sepstu pantofel Gadis melangkah memasuki ruangan. Agak membungkuk dengan kepala menganguk Gadis masuk
" Iya, Bu? sapa Gadis
" Tolong atur ulang semua jadwal saya hari ini. Saya ada pertemuan mendadak dengan Bapak Direksi.
" Tapi semua laporan saya mau sebelum istirahat sudah ada di meja saya." terdengar tegas dan sedikit mengintimidasi kepada Gadis
" Siap,Bu! Apa adalagi, Bu!" tanya Gadis sopan
" Ohh...sudah cukup! " Rini mengangguk pelan
" Baik Bu, Permisi!" pamit Gadis sopan, kemudian keluar pintu Ruangan
Setelah Gadis keluar pintu ruangan, Rini segera bangkit dari duduknya. Cepat Rini merapihkan blazer yang dipakai, merapihkan seluruh penampilan nya dari atas sampai bawah, di semprot kan nya parfum tipis - tipis, dia hanya ingin terlihat lebih fresh dan cantik.
Kaki jenjangnya melangkah pasti keluar ruangan. wangi parfum vanila bercampur bunga yang segar menyeruak ke seluruh ruangan divisi keuangan, begitu CEO cantik itu lewat.
Semua nengangguk hormat, tanpa terkecuali Andi.
Andi menghentikan sesaat aktifitas nya. Mata nya diam terpukau melihat pemandangan indah di depannya. Ekor mata Rini sempat melirik ke arah kelasihnya. Tanpa menghentikan langkah nya.
Tok.....Tok....Tokk
Langkah kaki Rini berhenti di ruangan besar, Yang paling mereka segani. tangan nya mengetuk pelan pintu, sebelum akhirnya mendorong nya pelan.
" Masuk!"
" Silahkan duduk!" ucapnya tegas penuh kharisma
" Terima kasih, Pak!" jawab Rini sopan
" Bu Rini.....! Apa anda tahu kenapa saya panggil ke sini!" tanya Pak Direktur
"Maaf tidak Pak!" jawab Rini sambil mengeleng pelan
"Saya mendengar khabar yang...hemm...lumayan mengkhawatirkan, Apa kamu tahu maksud saya?" sesekali matanya mulai melirik Rini, lalu kembali ke layar komputer di hadapannya
"Entah sejak kapan desas - desus itu mulai berkembang, sampai akhirnya mulai sampai ke telingga saya. Sebagai pemimpin perusahaan saya tidak bisa mengabaikan hal ini."
" Gosip tentang saya, Pak?" tanya Rini takut - takut
Rini tidak menyangka kalau desas - desusnya sudah berkembang sejauh ini. Mengapa dia sendiri tidak peka, atas semua yang sedang terjadi. Rini mulai mengambil nafas berat, sebelum akhirnya berkata...
" Maaf Pak, kalau memang ini gosip tentang saya dan Andi, saya pasti kan ini semua tidak akan mempengaruhi profesional kerja kami, Pak!"
" Dan saya juga bisa pastikan kalau semua interaksi kami akan bersikap profesional, Pak!" tutur Rini tegas dan lugas
" Bu Rinil! Saya tahu bener profesionalime kerja anda, dan itu tidak akan di ragukan lagi. Tapi pandangan, persepsi adalah segalanya dalam dunia kerja. Apa anda yakin semua ini tidak akan menganggu trutama di dalam lingkungan anda divisi keuangan." panjang kebar Pak Direktur menjelaskan
Rini diam sesaat, tidak bisa di pungkiri apa yang dikatakan bos nya banyak benernya, tapi mau bagaimana lagi.
Rasa sayang nya pada Andi, hubungan yang sudah dia jalin juga harus diperjuangkan.
Akhirnya pembicaraan Antara Pak Direktur dan Rini selesai, tapi dengan satu kesepakatan. Rini harus bisa mengkondisikan semuanya. Jangan sampai semua berita yang tersebar semakin menjadi, apalagi semakin berkembang.
Rini akhir nya pamit, kemudian keluar dari ruangan pak direktur. Rini berjalan tegap dan cepat, melangkah di lorong kantor.
Semua mata memandangnya, lalu mengangguk hormat.
Tak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Yang ada di pikiran Rini...siapa orang yang berani mengosipkan dirinya, bahkan sampai berkembang pesat dan sampai ketelinga direktur.
Suara sepatu pantofel yang Rini pakai tiba - tiba berhenti d meja Gadis stafnya
" Gadis tolong ke ruangan saya!" ucap nya tegas
" Iya, Bu! " takut - takut Gadis bangun dari duduknya, kemudian meninggalkan mejanya. Langkahnya cepat mengekor Rini atasannya. Sesekali matanya melirik ke semua rekan kerjanya, seakan meminta pertolongan.
Sementara rekan kerja nya yang lain hanya bisa mengangkat bahu nya dan mengeleng lemah.
Pintu ruangan kerja di dorong pelan oleh, Rini. kakinya melangkah cepat ke kursi empuknya. Sebelum akhirnya b****g nya mendarat di kursi empuknya.
" Duduk!" ucap Rini tegas
" I_Iya Bu!" takut - takut Gadis duduk di kursi di depan meja Rini.
" Gadis ! Apa yang kamu tahu tentang hubungan saya dan Andi?"
" Ha? Apa Bu? " Gadis tidak percaya dengan perkataan yang atasannya ajukan
" Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya nya balik
" Jawab saja dengan jujur! Saya hanya ingin tahu!" seperti sedang di meja sidang Gadis semakin binggung di buatnya
"Kalau menurut pandangan saya, interaksi yang terjadi selama ini antara Bu Rini dan Andi memang dekat dan sering, tapi saya rasa semuanya masih dalam batas profesionalisme kerjaan. "
" Ada lagi?"
" Saya hanya bisa menilai sebatas itu, Bu."
" Teima kasih kalau itu pendapat kamu. Apa saya bisa percaya sama kamu?"
" Ibu bisa percaya sama saya, baik sebagai bawahan, atau sebagai sesama wanita kalau ibu berkenan."
Mereka berbincang - bincang cukup lama. Akhirnya Rini bisa mempercayai Gadis bukan lagi sebatas bawahannya. Rini juga sempat memberitahu Gadis kenapa dia di panggil oleh direktur tadi.
Baik Rini maupun Gadis sama - sama binggung, Kenapa gosip itu bisa sampai ke telinga atasannya Sedangkan di dalam divisinya sendiri, semua baik - baik saja.
" Maaf Bu! Kalau menurut pendapat saya, ini pasti ada yang tidak beres. Kasih waktu saya untuk menyelesaikan dan.mencari tahu semuanya. " ujar Gadis yakin
Rini mengganggu - angguk tanda mengerti.
" Baik terima kasih sebelumnya! Tapi tolong jangan sampai menganggu pekerjaan kamu sendiri. Bekerja lah lebih hati - hati." Rini berusaha mengigatkan staf nya itu
" Baik Bu! Saya pamit melanjutkan pekerjaan saya." Gadis pun melangkahkan kakinya menuju pintu.
Belum sempat dia menarik pintu, tiba - tiba Rini memanggil nya
" Gadis!"
" Iya, Bu! jawab gadis singkat, sambil menoleh kearah suara
" Terima kasih banyak, Ya!" ucap Rini sambik tersenyum tipis
" Iya Bu!" Gadis menjawab dan tersenyum sambil mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya keluar pintu