Rapat baru saja usia. kali ini tidak untuk pekerjaan, tapi untuk acara kegiatan di kuar kantor.
" Penampilan kamu tadi hebat, Andi. Cara kamu menyampaikan semuanya bagus!" ujar Rini didalam ruangan rapat jetika semua orang sudah mulai pergi satu persatu.
" Terima kasih, Bu!" berdiri agak binggung, ingin segera keluar ruangan mengikuti yang lain
Rini melihat ke arah Andi.
" Kamu bisa duduk dulu ko, Andi!" tidak usah terburu - buru. Kamu kan ketua panitia masih banyak yg harus kamu jelaskan sama aku sebagai ketua pelaksana.
" Bagaimana tadi cara penyampaian saya, bu! apa masih ada yang harus di perbaiki?" tatapan mereka sejenak bertemu hingga trlihat benih - benih cinta di antara mereka.
" Hem...ngak ada! Hanya saja kamu kurang rasa percaya diri." jawab Rini lembut
Mereka bicara banyak, terkadang mereka juga bercanda, dan berdiskusi.
Sampai akhirnya Andi pamit keluar dari ruangan. Tapi sebelumnya mereka sudah berjanji akan bertemu makan siang di sebuah restoran diluar kantor.
Mereka terang - terangan keluar kantor berdua. Meskipun ada rasa takut juga.
Sesampai di sebuah restoran. Mereka lansung duduk di tempat yang sudah di pesan okeh Rini sebelum nya.
" Kalau seperti ini apa kita tidak akan jadi bahan gosip, Bu?" tanya Andi ragu - ragu
Rini tersenyum sambil tertawa ringan.
" Kalau ada yang bertanya, kita akan bilang, ini adalah rapat penting persiapan tour nanti, bukan kah acara nya sudah di depan mata. Kau ketua panitia sedang aku ketua pelaksana nya. Beres bukan." akhirnya mereka tak lagi kaku, semua nya mengalir saja.
Topik berganti mulai dari hal pekerjaan menjadi hal - hal pribadi.
Dari sana mereka mulai bertambah rasa saling mengagumi.
Selesai percakapan mereka di restoran. Mereka memutuskan untuk pulang. Tapi karena motor yang di pakai Andi ada di parkiran kantor, akhir Rini memutuskan untuk pulang bersama dengan mobilnya.
" Bagaimana kalau kamu antar aku pulang, habis itu kamu pulang dengan mobil aku. Besok pagi - pagi benar kamu jemput aku dirumah, ya!" lagi - lagi Rini mengatur strategi nya
" Apa kamu sepercaya itu sama aku? Bagaimana kalau mobil kamu aku bawa lari, terus aku gadai." ujar Andi berceloteh
" Nggak lah, aku yakin kamu orang baik, lagi pula masa kamu tega sama aku."
Akhirnya mereka berdua oulang dari restoran. Sepanjang perjalanan di dalam mobil mereka berbincang, topik terus saja mengalir. Terkadang mereka tertawa terbahak - bahak Terkadang mereka bicara serius.
Tiba - tiba Andi bicara sambil terus mengemudikan mobilnya.
" Bagaimana kalau orang lain tahu? "
" Biarkan mereka menebak - nebak. Kita tidak perlu memperjelas." ujar Rini santai sambil tersenyum penuh misteri
Aku tidak ingin kehilangan semua waktu ini. karena aku sangat mencintaimu.
Andi tak bisa berkata - kata lagi. Rasa kagumnya semakin besar pada Rini
Mobil terus melaju, sampai akhirnya mobil sampai di depan rumah mewah.
Satpam dengan sigap membuka kan pagar buat sang nyonya, meskipun supir nya bukan dia.
Rini dan Andi menganguk membalas salam sang satpam. Sambil bicara dengan sopan ," Jangan di tutup pagarnya Pak, mobil nya mau keluar lagi."
" Siap Bu! " ujar satpam hormat
"Hati - hati dijalan, kalau sudah sampai cepat khabari aku"
" Iya, sayang !"
Dengan sigap Andi memutar arah mobil, pamit pulang sambil melambaikan tangan..
****
Acara tour dari kantor berlangsung lancar.
Sempat setelah acara berakhir Andi berbisik pelan.
" Kamu kelihatan cantik sekali hari ini, Bu!
" Dan kamu juga terlihat berbeda sekali hari ini, Andi." balas Rini pelan dan sedikit berbisik
Mereka berbicara sangat hati - hati.
Tapi tetap saja, dari kejauhan ada beberapa rekan kerja yang memperhatikan bahkan melirik dengan penasaran.
Meskipun tidak ada yang tahu ada apa dengan mereka. Bahkan bukti yang nyata sedikit pun tidak ada.
Acara dari kantor sudah selesai. Masing - masing karyawan pulang dengan keluarga nya. Ada yang mengunakan fasilitas yang kantor sediakan. Adapula yang pulang dengan kendaraan pribadinya masing - masing.
Berbeda dengan Rini dan Andi mereka pulang paling akhir. setelah karyawan yang lainnya pulang. Dengan alasan masih ada yang harus dibahas. Mereka semua bisa mengerti. Walaupun terkadang mereka berdua harus menghadapi tatapan dari rekan kerja dan anak buah yang berbeda. Seperti ingin mencari tahu, ada apa dengan mereka berdua.
Mobil melaju agak cepat, menerobos masuk kedalam arus lalu lintas yang padat. Tujuan mereka kali ini bukan rumah atau kos an tempat Andi tinggal.
Tapi apartemen milik Rini yang ada di tengah - tengah kota.
Tidak perlu waktu lama mereka berdua sampai di apartemen itu.
Rini sipemilik apartemen membimbing Andi masuk. Apartemen yang nyaman di tengah kota. Mereka masuk kedalam ruangan apartemen,Rini pamit pergi ke kamar mandi ingin membersihkan diri. Disudut kamar sudah tersedia beberapa baju salin untuk Rini. Tak lupa Rini memberi satu stel kaos dan celana pendek untuk Andi.
" Bersihkan badan kamu, sayang. Ini ada baju milik aku . Aku rasa cukup untuk kamu!" ucap Rini sambil mengeringkan rambutnya yang basah
Andi yang sedang terkesima melihat Rini, hanya bisa menganguk nurut.
Pasalnya Rini malam itu memang sedikit berbeda, memakai kaos oblong dan celana pendek membuat sisi lain dari seorang Rini terekspos.
Degan gesit Rini membuat minuman hangat dan mengoreng beberapa makanan siap saji yang ada di kulkas, di dalam apartemen nya. Andi sendiri tidak menyangka seorang CEO yang di takuti, yang punya kekuatan besar di kantor, mempunyai sisi feminim.
" Wah..ini serius kamu yang udah siapin semuanya!" teriak Andi tidak percaya
Bagaimana tidak seorang CEO yang biasa di perlakukan bak seorang putri di kantor maupun dirumahnya bisa cosplay menjadi wanita sejati yang menyiapkan makanan untuk orang tercintanya
" Iyalah aku yang siapin, memang menurut kamu siapa yang sudah siapin semuanya?" tanya Rini balik
Malam itu mereka menaruh semua, kepalsuan yang biasa dipakai. Mereka saling bicara, berpelukan, dan tertawa. Sesekali mereka juga duduk di balkon apartemen untuk membicarakan berbagai rencana dan apapun yang akan mereka lakukan dimasa yang akan datang. Tembok apartemen jadi saksi. Bagaimana mereka menghabiskan malam itu.
Hubungan mereka semakin erat, bahkan mereka saling berjanji untuk setia selamanya. Mereka berjanji akan saling menguatkan satu sama lain untuk menghadapi apapun yang akan menghalangi cinta mereka.
Dan mereka juga akan membuktikan kalau perbedaan bukan lah penghalang, untuk mereka.