BAB 23 – PERLINDUNGAN SANG KAKAK Alya berdiri kaku di antara dua pria yang kini saling berhadapan dengan ketegangan yang begitu jelas. Kakaknya—pria yang baru saja dikenalnya—berdiri tegap, melindunginya dari Reihan. Sementara itu, Reihan menatap tajam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Rahangnya mengeras, dan matanya penuh ketidakpuasan. “Jauhkan dirimu darinya, Reihan,” suara kakaknya terdengar tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Reihan mendengus pelan. “Kau tidak bisa begitu saja mengambilnya dariku.” Alya menahan napas. Kata-kata Reihan membuatnya ingin berteriak. Ia bukan barang, bukan benda yang bisa diklaim seenaknya. “Aku bukan milik siapa pun,” kata Alya, suaranya bergetar karena amarah. “Aku tidak peduli siapa kalian, aku hanya ingin pergi dari sini!” Tatapan Reihan berubah

