Ruangan persegi panjang tanpa jendela dan pastinya tempatnya terpencil. Entahlah bagaimana nasib Yura sekarang yang masih terikat dengan tali, kepalanya saja sudah terasa pusing.
"Kamu siapa?" Tanya Yura melihat lelaki bertopeng hitam membawa tongkat bisbol dan memukul meja.
"Apa sebenarnya yang kamu dariku?" Yura tak bisa diam saja, dia saja sudah sangat ketakutan apalagi melihat lelaki ini sangat mengerikan.
"Aku hanya membutuhkanmu sayang." Yang mendengarnya saja agak geli apalagi Yura, dia sudah tidak tahan untuk menghantam lelaki bertopeng hitam tersebut.
Tapi siapa sangka kalau Yura sudah berhasil membuka tali itu tetapi lelaki bertopeng hitam itu tidak tau dengan kekuatan yang tak seberapa. Yura pun menendangnya hingga lelaki itu tersungkur tapi lelaki tidak mau kalah, ia bahkan melawan Yura tapi pertahanan gadis itu tidak kuat untuk melawan apalagi menahan pukulan yang lelaki itu berikan yang ada Yura bisa mati.
Yura pun akhirnya kalah dan tergeletak di lantai dengan sekujur tubuh yang penuh dengan keringat dan tak hanya itu di keningnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah karena hantaman dari lelaki tersebut. Tetapi lelaki itu bukannya kasihan kepada Yura tetapi malah semakin menjadi-jadi, dia bahkan menyiram Yura dengan Air dan sekarang dia kembali mengurung Yura di dalam ruangan itu tanpa diobati sama sekali.
"Jangan mencoba kabur lagi!" Bisik lelaki itu di telinga Yura membuatnya meringis tapi Yura tidak akan menyerah gitu aja, dia pun mencoba untuk melepaskan ikatan tali itu dan berhasil.
Semua tempat ini ditutupi oleh kayu dan sinar mataharinya hanya masuk melawati ventilasi udara. Yura pun menaiki kursi agar bisa melihat ke arah luar dan benar saja hari sudah sore. Entah berapa lama Yura tertidur tetapi yang jelas yang ia perlukan adalah kekuatannya untuk bertahan walaupun dia merasa kesakitan di daerah tubuhnya yang luka akibat hantaman lelaki itu.
Yura pun mencoba mencari celah untuk ia keluar tapi saat itu juga lelaki bertopeng hitam itu masuk ke dalam ruangan dan untungnya Yura kembali ke tempatnya semula walaupun ada sedikit perbedaan.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?sebut aja jangan nyulik kek begini." Kesal Yura, tetapi ia tahan kalau tidak dia samanya saja seperti tadi, yang ada bikin semua tubuhnya terluka akibat pukulanya yang keras.
"Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, kalau kamu tidak mau kamu akan tetap di ruangan ini sampai kamu tua." Yura mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki itu katakan.
"Kamu itu Deren, kan?" Dari nada suaranya sama seperti Daren tapi dari postur tubuhnya berbeda. Tapi bisa saja itu Deren.
"Namaku bukan Deren."
"Lalu siapa?" Yura penasaran siapa lelaki di balik topeng hitam tersebut padahal dia tidak peduli yang dipikirkannya hanyalah keluar dari tempat ini.
"Nanti kamu tau sendiri." Lelaki bertopeng hitam itupun keluar dari ruangan tempat Yura disekap. Dia tidak mau sampai Andra menemui Yura. Ataupun menyentuh gadis itu sudah bikin dirinya marah dan berbuat jahat seperti ini.
Yura agak kesal mendengarnya, tapi ia tau kalau orang yang menculiknya ini adalah orang yang terdekat dan tau siapa dirinya yang sebenarnya.
Maka dari itu Yura harus berhati-hati dalam memilih seseorang yang berada didekatnya karena dia tidak mau salah satu diantaranya memendam amarah kepadanya walaupun sekecil apapun masalahnya.
Yura pun mencoba membuka ruangan itu dan dia tidak berhasil. padahal lelaki itu baru saja menutupnya. Batin Yura mengeluh, dia tidak suka tempat kotor di sini apalagi melihat dari ruangan ini seperti gudang.
Tak hanya itu banyaknya sarang laba-laba yang enak sekali membuat sarang tempat tinggalnya. Yura pun tidak bisa kemana-mana, dia berharap seseorang bisa menemukannya.
#
Malam pun tiba. Andra belum bisa mendapatkan kabar dari Yura apalagi telepon tidak di angkat. Khawatir kalau Yura tidak baik-baik saja saat ini atau mungkin memang gadis itu sibuk.
"Kenapa Yura gak bisa hubungi?.
" Perasaan Andra tidak karuan, datang ke ruamh gadis itu saja dia tidak menemukan dan yang ia temukan adalah Cana.
"Aku juga gatau Andra, setauku dia selalu bersamamu." Cana pun sama tidak tau keberadaan Yura padahal dia adalah sahabat Yura.
"Oh oke."
"Kalau Yura udah ketemu kabari aku secepatnya." Ucap Cana yang sama gelisahnya apalagi tentang kehilangan Yura. Dan setelah itu barulah Andra pergi dari rumah Yura dan lebih memilih mencari Yura.
Hilangnya Yura saat Andra mengundangnya untuk makan bersama di restoran tapi ternyata Yura tidak datang dan panggilannya saja tidak di angkat.
Tidak mungkin Yura sesibuk itu sampai tidak bisa membalas pesannya apalagi untuk menelponnya saja tidak bisa. "Sebenarnya kamu itu di mana?" Andra dari tadi berjalan kesana kemari memikirkan Yura yang entah dimana gadis pujaan hatinya itu berada.
"Kamu kenapa dek?" Suara lelaki paruh baya itu memberhentikan tingkah Andra yang seperti orang yang tak tau arah.
"Gak ada pa."
"Yakin?" Sang ayah mencoba membuat anak bungsunya berani menceritakan masalahnya.
"Iya pa."
"Kamu kek orang yang abis ditagih utang tau." Diakhir dengan ketawa kecil.
"Eh gak, sejak kapan anak papa ngutang? Mau taruh dimana muka Chandratama." Rasa gelisahnya pun terhenti dan berubah ceria saat papanya datang ke mansion miliknya.
"Hahahaha...siapa tau kan."
"Nggaklah, Andra mana mungkin ngutang apalagi sampe kepikiran gitu."
"Lalu apa yang kamu pikirkan?" Papanya merasa kalau anaknya ini seperti orang yang sedang jatuh cinta pandangan pertama.
"Aku memikirkan seorang yang dari tadi tidak bisa dihubungi, aku udah berapa kali telpon sama kasih pesan tapi memang tidak di balas." Andra tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari ayahnya karena memang dari dulu ayahnya yang selalu Andra ceritakan setelah ibunya meninggal.
"Mungkin dia sibuk."
"Ya, aku tau dia sibuk tapi tidak satu hari."
"Emang dia anggap kamu siapa? pacar?atau cuman dianggap teman?"
Duh, ini mah Andra gatau mau jawab apa apalagi kalau Andra jawabnya pacar yang ada reaksi ayahnya bakalan marah itu yang dipikirkan oleh Andra.
"Kita itu deket tapi emang dia itu fans aku pa dan dia itu cuman teman tapi mana mungkin seseorang yang sudah dekat tidak menaruh hati sama sekali." Ayahnya tertawa melihat anaknya yang dulu masih kecil sering merengek minta ini itu dan sekarang malah sedih karena perempuan yang disukainya tidak mengabarinya.
"Kamu itu yang teralu bawa perasaan, padahal cewenya biasa aja, yakan?"
"Iya sih tapi dia baik pa."
"Oke deh, papa serahkan semuanya sama kamu tapi ingat kalau gadis itu tidak menyukaimu maka jauhilah karena gadis itu sudah memiliki hati yang lain yang harus ia jaga."
"Iya pa, Andra tau." Smpai sekarang Andra masih memikirkan keberadaan Yura saat ini.
#
"Jangan mendekatiku....hiks." Suara tangisan gadis dari dalam ruangan membuat lelaki itu terbangun dari tidurnya.