Bab 12 Permainan

1104 Kata
Di setiap sudut banyak ruangan tak hanya itu ruangan tersebut ada yang terkunci ada juga yang tidak terkunci, Yura pun tetap berjalan melewati setiap ruangan dengan pencahayaan yang kurang terang. Dan apa yang terjadi saat Yura berhenti di ruangan paling pojok, ia mendengar suara seorang gadis menangis. Yura pun tak ada rasa takut untuk membuka ruangan tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat wanita itu. Yang sudah terluka akibat pukulan keras dan terus meringis kesakitan. "Tunggu sebentar, aku akan kembali." Wanita itu mengangguk dan masih menunggu kedatangan Yura kembali. Tak lama kemudian Yura pun kembali membawa perban dan obat lainnya. "Kupikir kamu tertangkap." "Tidak karena mereka sedang tertidur dan yang lainnya masih menjaga di luar." Wanita itu terdiam saat Yura mendekatinya untuk mengobatinya. "Makasih telah mengobatiku." "Sama-sama." Wanita tersenyum melihat Yura yang begitu baik hati yang mau menolongnya. "Nama kamu siapa?" "Namaku Ayura panggil Yura saja." Yura pun tersenyum kepada wanita itu. " Ayura Kejuana, benarkah itu namamu?" "I..ya, dari mana kakak tau?" "Aku hanya melihat dirimu di televisi dan ternyata kamu pelukis yang hebat itu." Yura tersenyum manis, di tidak tau siapa wanita ini tapi dari perawakannya seperti seorang model. "Lalu nama kakak siapa?" "Namaku Anaya dan jangan panggil aku Naya tapi panggil kak Ana." "Kenapa?" "Aku tidak mau identitas diriku terbongkar." Yura mengernyitkan dahinya bingung, sudah Yura duga kalau wanita ini bukanlah wanita sembarangan dan pastinya wanita ini berkelas atas. "Oke kak." "Aku tidak bisa menceritakan ini kepadamu, nanti saat sudah terungkap barulah aku akan menceritakannya." Yura mengangguk walaupun dia penasaran dengan semua ini semua apalagi tentang penculikan ini, Yura belum bisa menemukan siapa dalangnya. "Kalau boleh tau kakak sejak kapan berada di ruangan ini?" Yura saja penasaran tentang semua ini apalagi penculik ini tidak mungkin asal-asalan menculik seseorang. "Sejak...." Baru sepatah kata terucap, tiba-tiba saja seorang lelaki bertopeng hitam datang dan menarik tangan Yura pergi dari ruangan Ana. "Apakah perlu aku membunuhmu?" Lelaki bertopeng itu tampak kesal karena dia tidak suka orang yang tidak patuh kepadanya. Apalagi Yura yang hanya bisa pasrah saat lelaki ini menariknya pergi ke atap. "Aku tidak akan segan mendorongmu jika kamu tidak mau menurutiku." "Iya-iya aku turuti apa yang kamu mau." Yura berdengus sebal, dia tidak bisa apa-apa sekarang kalau pun dia melawan mana kuat yang ada dia udah beda alam. "Bagus." Lelaki bertopeng hitam itu mengacak-acak rambut Yura yang membuat Yura marah. Ini penculik kok genit banget sih. Batin Yura padahal dari topengnya menyeramkan tapi perlakuannya yang lembut. Yura mencurigai kalau semua ini adalah orang yang pernah Yura kenal tapi entah siapa. "Ngaku aja napa, kamu siapa sebenarnya?" Lelaki itu diam dan masih tetap menarik tangan Yura untuk kembali ke ruangan berdebu itu. "JANGAN PERNAH KELUAR DARI TEMPAT INI LAGI!" Suara pintu yang ditutup secara keras mengakibatkan semua penjaga terbangun dari tidurnya. Yura masih memikirkan siapa lelaki itu dan kenapa sifatnya berubah-ubah yang tadinya lembut dan sekarang menjadi lelaki yang galak seperti seorang psikopat. "Lelaki yang aneh." Kalau saja Yura dulu tidak banyak tingkah mungkin masa depannya tidak seperti ini apalagi dulu itu Yura pernah kasih harapan palsu kepada seorang lelaki dan ada juga yang udah lama nembak dia tapi Yura lupa kasih jawaban. Dan dulu ada seorang anak lelaki yang 3 tahun di bawahnya tapi Yura tidak tau namanya siapa lalu dia pun menerima cintanya Deren lelaki b******k yang pernah membuat Yura hampir kehilangan keperawanannya. # Keesokan paginya Andra terbangun dari tidurnya mendengar panggilan telpon tak lama kemudian Andra mengangkatnya. "Benarkah ini Andra?" "Iya ini siapa?" Andra tidak tau siapa ini dan sampai sekarang dipikiran Andra hanya ada Yura yang masih terlintas di pikirannya. "Temui aku di cafe dekat SMA kita dulu." Setelah itu panggilan berhenti, Andra yang setengah sadar hanya menatap kosong entah pikirannya hari ini penuh dengan Yura. Andra pun bangkit dari tidurnya bersiap-siap pergi ke cafe tempat yang dituju tetapi hati Andra tidak tenang apalagi suara lelaki yang menelponnya itu terdengar tidak asing. Setelah beberapa menit kemudian Andra sampai ke Cafe dekat SMA nya dulu dimana ia dipertemukan dengan gadis bernama Yura. Cafe itu sama seperti dulu tak pernah berubah. "Mana itu orang?" Andra yang menunggu dari tadi tapi lelaki itu tak kunjung datang. Dan benda pipih persegi panjang itu berdering di dalam kantongnya dengan segara Andra mengangkatnya. "Keluar dari Cafe itu." "Gimana sih tadi disuruh datang eh malah disuruh keluar." "Keluar atau Cafe itu kamu akan mati." Andra tidak mengerti maksud lelaki ini memang tempat ini agak sepi tapi Andra tak mau lama-lama dan akhirnya dia keluar dari Cafe. Andra pun berjalan ke arah taman dan ia pun mendengar suara ledakan lalu ia menoleh kebelakang dan benar saja kalau Cafe itu terbakar. Andra menganga dan menjauh dari tempat kejadian itu. Andra pun mengangkat panggilan itu. "Apa yang kamu lakukan?dan siapa sebenarnya kamu?" Andra tak bisa diam saja apalagi saat mendengar perkataan lelaki itu menjadi nyata itu sudah membuat dirinya hampir kehilangan nyawa. "Itu hanya sebuah permainan kecilku." "Permainan kamu bilang!" Andra tidak abis pikir dengan lelaki lawan bicaranya ini yang sedikit mengerikan. "Iya permainan dan jika kau ingin menemukan gadismu dan kakakmu kau harus mengikuti permainan bersamaku." "Kakak?"Andra bingung, entahlah setau dia kakaknya itu sedang berada di rumah bermain playstation. Lalu kakak siapa yang di maksud lelaki ini. "Sepertinya kamu tidak tau tentang keluargamu." "Cepat katakan dimana mereka?" Andra berusaha keras untuk menekannnya tapi lelaki itu justru ingin mengajaknya bermain. "Jika kau tidak mau ya sudah biarkan kedua perempuan itu mati." "Jangan, aku ingin bermain denganmu. " "Oke.. nanti malam kita akan bertemu di SMA kita dulu dan jangan bawa siapapun apalagi membawa polisi." "Oke." Apa yang mau lelaki ini Andra lakukan karena dia tidak mau gadis dicintainya itu mati karena ulah dirinya yang tak bisa menjaganya dan mengetahui siapakah kakak yang dimaksud lelaki itu. Andra pun pulang ke mansion dengan wajah yang sulit diartikan dan kakak sulungnya tertawa melihat adiknya seperti orang yang putus asa. "Napa lo?" "Gaada bang." "Abis ditolak ya?" "Gaklah, aku mau nanya sesuatu." "Nanya aja." "Selain kakak apa aku punya kakak?sebelum aku lahir." Arga kaget saat adiknya ini menanyai tentang hal ini yang ia tak sangka kalau pertanyaan ini tidak bisa disembunyikan lagi. "Bingung gue mau kasih tau gimana tapi lo jangan kaget ya!" "Iya." "Lo itu udah lahir sebenarnya nah waktu lo SMA itu gue ketemu sama perempuan yang persis kek mama nah pas gue tau kalau itu cewe adalah saudara tiri dan papa cuman kasih tau ke gue doang." Ada jeda dalam ucapannya. " Dan itu cuman gue yang dikasih tau tapi lo pernah ketemu sama itu cewe waktu itu dia yang jadi guru les lo." "Kak Naya, bukan?" Arga mengangguk dan Andra kaget saat tau kalau wanita yang dekat dengannya adalah kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN