Bab 13 Permainan Baru Dimulai

1049 Kata
Andra yang masih kepikiran soal kakaknya itu dan sama khawatirnya tentang Yura. Sampai saat ini Andra tidak bisa fokus dan memilih untuk pergi keluar hingga malam pun tiba. Andra pun menancapkan gas mobilnya menuju SMA lalu menunggu kedatangan lelaki itu. "Kemana itu cowo?" Andra masih di depan gerbang tidak ingin masuk sebelum lelaki itu mengabarinya. Dan benar saja benda pipih panjang itu berdering di saku celananya. "Tunggu dilantai dua di kelas MIPA 2" Setelah itu sambungan terputus padahal Andra belum saja selesai bicara tetapi lelaki itu lebih dulu mematikannya, kalau bukan karena khawatir Andra tidak akan seperti ini apalagi kepalanya tidak bisa menampung lebih banyak pikiran karena sekarang semua isinya tentang Yura dan kakaknya. Andra pun bergegas kelantai 2 memang dilantai dua sangat seram karena pencahayaan lampunya kurang terang tapi Andra tidak ada rasa takut sedikit pun. "Apa kabar Andra?" Seorang lelaki bertopeng hitam datang membawa tongkat bisbol. "Kamu siapa?" "Ah kamu melupakanku padahal sainganmu dulu saat SMA." "Gyber?" Andra masih berfikir kalau saingannya saat main bisbol itu adalah Gyber tapi saat nama Andra terkenal, Gyber malah tidak suka padahal dulu mereka sempat berteman baik tapi semua itu hanyalah akal-akalan Gyber saja. Dan sekarang laki-laki itu sudah meninggal. "Rupanya kamu masih mengingatnya." "Bukannya Gyber sudah meninggal?" Tanya Andra karena lelaki ini tidak sama dengan Gyber apalagi dari postur tubuhnya saja kelihatan beda. "Aku hanya membalaskan dendamku kepadamu maka dari itu aku ingin bermain denganmu jika kau kalah nyawa perempuan itu akan mati." Andra tak bisa diam saja apalagi sekarang dia sudah tau siapa yang telah menyekap Yura dan kakak perempuannya yang memang Andra tidak tau keduanya ada dimana. Andra tidak bisa berfikir jernih dan yang terjadi adalah perkelahian mereka tidak mau kalah apalagi Andra yang masih emosional. "Cepat katakan mereka berdua ada dimana?aku tidak bisa diam saja di saat orang terdekatku menghilang begitu saja." Celoteh Andra tak bisa diam jika seperti ini terus. "Jika kau ingin tau kau harus bermain denganku." Kata 'bermain' itu saja yang terdengar dari telinga Andra tapi dia tepis karena dia tidak mau mengorbankan seseorang demi menyelamatkan dua orang. "Permainan apa yang kamu ingin mainkan?" "Permainan ini harus dengan poin." Lelaki itu menjelaskan permainan yang akan mereka mainkan walaupun itu permainan tidak masuk akal bagi Andra tapi mau gimana lagi ia harus menyelamatkannya baru dia menangkap lelaki ini. Dan mereka berdua pun keluar dari gedung sekolah dan berjalan ke arah Cafe yang meledak tadi pagi yang menewaskan 5 orang didalamnya. "Kamu duluan yang mulai." Andra tak mau duluan karena bisa saja angka itu tidak sesuai dengannya. Lelaki itu melemparkan dadu dan angka 6 yang keluar itu yang dinyatakan menang tapi lawan mainnya belum tentu akan mendapatkan 6 angka. Sekarang giliran Andra yang melempar dan hampir saja dadu itu berubah menjadi angka 5 dan akhirnya berangka 6. Belum ada yang kalah dalam permainan ini dan lelaki itu lebih dulu melemparkan dadu tapi Andra tetap tak tenang dan benar saja dadu itu berubah menjadi angka 4 dan Andra pun melemparkan dadu tersebut dan hasilnya 6 lagi. "Aku akan melakukannya sekarang." Andra pun menatapnya ngeri karena lelaki itu tidak main-main dalam melakukannya apalagi dia menaruh petasan di bawah tempat duduk di taman dimana keempat gadis itu terkejut dan berlarian karena mereka pikir itu adalah bom. Andra terkejut dengan kelakuan lelaki ini tapi ini belum seberapa bisa saja dia mengorbankan nyawa seseorang lagi. "Ini belum sampai akhir, tapi bisakah kita melakukannya besok?" "Oke." Andra juga lelah tapi dia harus bertahan dia tidak boleh nyerah begitu saja karena dia tidak mau nyawa mereka berdua jadi korban selanjutnya. "Tapi berjanjilah kepadaku kamu tidak melakukan kekerasan kepada mereka berdua." "Kalau mereka tidak membantah aku tidak akan berbuat kekerasan." Setelah itu lelaki itu masuk kedalam mobil sedan dan tentunya Andra menghapalkan nomer drnya dan meminta temannya untuk melacaknya. Andra pun pelan-pelan mengikuti mobil sedan itu dan benar saja kalau mobil itu berhenti di sebuah rumah besar yang letaknya tak jauh dari SMA. Andra menyadari sesuatu kalau rumah itu adalah milik Tantenya. "Inikan rumahnya Tante Rere, untuk apa lelaki itu datang kerumah ini?" Andra tak abis pikir dengan semua ini, memang sudah jelas kalau orang-orang jahat yang ingin mencelakainya dan mencoba menjatuhkannya itu adalah orang-orang yang ada disekitarnya. Sampai rumah pun Andra tidak bisa tidur apalagi untuk makan malam saja dia tidak makan dan besok paginya dia harus menemui lelaki itu. # Sementara Yura sangat bosan di dalam ruangan ini apalagi tempat ini usang dan yang pastinya kotor. Tapi Yura harus terbiasa dengan semua ini apalagi saat kejadian dimana dia bertemu dengan wanita itu sudah dipastikan kalau wanita itu memang sudah lama disekap. "Aku ingin ke toilet." Yura teriak dari dalam dan tentunya para penjaga itu datang membukakan pintu untuk Yura, mereka sudah percaya kalau Yura tidak akan mencoba hal yang harus tidak dilakukan. Arah toilet pun melewati ruangan pojok itu dan saat Yura melihat ruangan itu kosong tidak ada siapa-siapa. Kemana perginya Kak Ana?. Batin Yura. Atau mungkin saja wanita itu dipindahkan di ruangan lain, Yura mencoba positif thinking. Yura pun keluar dari kamar mandi dan dia pun di kagetkan dengan wanita itu. "Ayo!" Ajaknya, Yura mengernyitkan dahinya bingung. "Mau kemana?" "Kabur." Yura tampak kaget ia pun mengiyakan apa yang Naya lakukan agar mereka berdua bisa keluar dari tempat ini dan benar saja saat mereka keluar dari gedung tidak ada penjaga. Dan saat mereka membuka gerbang tentu saja mereka kaget saat semua orang yang ada didalam mobil sedan keluar dan menangkap mereka berdua. "Bukannya sudah dibilang jangan mencoba kabur, kenapa masih ngeyel sih,hm?" Lelaki bertopeng itu menarik rambut mereka berdua karena Yura tidak terima akhirnya dia menarik topeng hitam itu dan Yura melihat siapa lelaki itu walaupun hanya sebentar dan lelaki itu menutupnya lagi. "Kurang ajar, cepat masukan gadis ini kedalam ruangan bawah tanah." Perintahnya dan Naya pun kaget karena ruangan bawah tanah itu tempat Naya disekap selama beberapa tahun agar semua keluarga percaya kalau di gedung itu tidak ada Naya tapi mereka tidak tau kalau tempat itu ada ruangan bawah tanah kecuali orang yang lebih duku tinggal di gedung itu. "Kamu jangan nyiksa perempuan seperti itu, kamu tau kan kalau gadis itu adalah belahan hati sahabatmu." Naya kasian melihat Yura yang diperlakukan seperti dia dulu apalagi perlakuan kasar. "Aku gak peduli dan jangan pernah kalian berdua mencoba kabur lagi." Penuh dengan penekanan dan setelah itu lelaki itu kembali mengunci pintu ruangan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN