Bab 10 Topeng Hitam

1028 Kata
Yura menatap lukisannya yang berantakan, entahlah perasaannya yang sekarang baginya hati adalah bagian yang penting kalau pun hati di sakiti secara terus menerus yang ada makin lama makin tetap sakit. "Sebenarnya apa yang aku buat?" Yura kesal melihat lukisan yang ia buat, lukisan itu melambangkan hatinya yang kacau walaupun hasilnya lumayan bagus. Karena lukisan itu membuat dirinya kesal akhirnya Yura membuangnya, dia hanya ingin melukis tanpa memikirkan sesuatu yang bikin dirinya stress. Cana yang baru saja ditelpon oleh penjaga langsung mendekati Yura."Di carik sama doi kamu, tuh!" Yura pun bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan seni untuk menemui Andra. "Nanti malam jalan-jalan, yuk!" Ajak Andra dipikirnya Yura tidak akan menolak ajakannya. Yura yang tidak bersemangat untuk kemana-mana dan lebih memilih diam dirumah atau di ruangan seni itu sudah membuatnya merasa tenang. "Aku gak bisa Andra, masih banyak yang aku harus selesaikan." Yura pun berbalik membelakangi Andra dan pergi begitu saja. Dan Andra hanya diam seperti patung tidak bisa berbuat apa-apa. # Andra tidak pernah deket dengan perempuan apalagi berhubungan sekalinya deket itu pun hanya sahabat dari kecil. Dan kalaupun seorang perempuan mendekatinya Andra cuman bilang 'kita hanya teman', siapa sih cewe yang sakit hati dengernya. Maka dari itu Andra tidak ingin berhubungan dengan gadis manpun dan masih dengan status single. "Kalau cewek nolak ajakan cowo, berarti tandanya dia itu lagi marah sama si cowo walaupun itu cowo gatau salahnya dia itu apa." Kata Regal teman Andra yang serba tau tentang perasaan perempuan tapi kadang salah tebakan juga. "Tapi ni cewe beda gal, walaupun bisa ditaklukkan kalau udah kesel atau apalah gitu moodnya langsung berubah." "Ya makanya lo harus kasih perhatian gitu kek, kalau masih dia kesal jangan di deketin dulu terus kalau dia menjauh yaudah terima aja berarti dia itu bukan jodoh lo." "Nyakit juga sih kalau bukan jodoh padahal udah dari dulu pendem perasaannya." Andra menghela nafas lelah, dia mana mungkin bisa kasih perhatian lebih yang ada malah ketauan kalau Andra ini suka sama Yura. "Nah, maka dari itu lo harus nembak dia biar gak di ambil orang duluan." Andra kaget mendengarnya, bagaimana mungkin Andra bilang kalau dia suka sama Yura. Sedangkan baru beberapa hari lalu ia mengenal perempuan itu tapi bagi Andra gadis itu sudah lama ia kenal walupun Yura mungkin saja tidak mengingatnya. "Aku masih mikir-mikir, nanti pas waktunya yang tepat aku akan mengatakannya." Setelah itu Ansra pun pamit pulang ke mansion. Sementara Yura di dalam kamar sedang memikirkan sesuatu yang bikin mood dia seharian ini buruk, tadi saja di ruang keuangan Gallery Rose Yura malah marah karena penulisan tempat pemasaran yang salah padahal itu bisa di ganti. Mood Yura sekarang hancur dan saat Andra menemuinya itu dia udah gak mood lagi untuk di ajak ngobrol yang ada bikin lawan bicaranya malah sakit hati saat mendengarnya berbicara. Dan sekarang Yura menyesali perbuatannya yang bikin semua orang yang ada di dekatnya malah jadi sedih. "Aku kenapa sih?inget Yura kamu itu adalah gadis yang tidak suka marah-marah." Yura berkata pada dirinya sendiri agar dirinya sadar bahwa kemarahan akan membuat marahnya semakin menjadi-jadi. # Selesai sholat subuh Yura bergegas menuju taman dekat dengan tempatnya tinggal untuk melakukan olahraga pagi dan tentunya taman ini adalah taman yang sangat luas di Indonesia. Tak heran banyak orang yang jauh-jauh kesini hanya untuk berolahraga dan jalan-jalan bersama dengan teman dan keluarga. Karena hari ini libur jadi banyak orang yang ke sini. Yura berlari mengitari taman dan di samping kanan dan kirinya terdapat pohon-pohon yang rindang apalagi tempat itu seperti di Korea. Setelah lama berlari Yura duduk di bangku taman sembari meminum air putih yang ia bawa dari rumah. Saat Yura bangkit dari tempat duduknya datanglah anak kecil yang memberikan bunga mawar putih bukan hanya satu yang memberikannya tapi 10 anak kecil, Yura pun bingung dari siapa bunga-bunga ini tidak mungkin anak-anak itu memberikannya secara mereka tidak mengenalinya. "Kalau mau buang, tinggal dibuang aja." Suara berat itu membuat Yura menoleh ke arahnya dan ternyata benar saja kalau yang memberikannya itu adalah Deren. "Aku tidak mau menerima bunga pemberian dari seorang lelaki b***t seperti dirimu." Yura membuang bunga itu ke hadapan Deren berlalu pergi. Tapi lelaki itu tidak menyerah begitu saja. Deren pun menyusul Yura lalu menarik Yura dalam pelukannya. "Maafin semua kesalahan yang pernah aku buat dan aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi." Kata-kata itu sudah membuat Yura muak lalu melepaskan pelukannya. "Bukannya aku udah bilang ke kamu, jangan pernah kamu menampakkan dirimu di depan aku lagi, ngerti!" "Aku gak bisa hidup tanpa kamu Yura, aku minta kamu kembali lagi kepadaku." Deren tetap kekeh mendekati Yura. "Itu tidak akan pernah terjadi." Setelah itu barulah Yura pergi toh juga buat apa dia mendengarkan omongan lelaki b***t seperti Deren itu dan perkataannya itu sama seperti dulu. Yang bikin Yura menyukainya tapi saat mendengarnya itu sudah membuat dirinya jijik. Yura pikir setelah lelaki itu pergi meninggalkannya dia akan hidup senang tapi kenyataannya apa dia datang kembali dan membuat semuanya menjadi kacau. Tak lama benda pipih di genggaman tangannya berdering dan segera Yura mengangkatnya. "Assalamualaikum." Salamnya dari seberang sana. "Wa'alaikumsalam." Yura tersenyum saat mendengar suara salam dari seorang yang selalu ada di dalam hatinya, ya siapa lagi kalau bukan Andra. "Boleh gak kamu keluar sebentar?" "Boleh aja, emang ada apa?" "Ada sesuatu yang aku mau omongin." "Oke." Yura pun bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang Andra sudah dijanjikan. Dan Yura pun keluar dari rumah tak lupa ia mengkunci pintu rumah tapi saat ia ingin berbalik seseorang bertopeng hitam membekapnya dengan sapu tangan yang membuat Yura pingsan. Entah Yura di bawa kemana oleh lelaki bertopeng hitam ini, Yura yang masih memakai dress bewarna biru muda dan make up yang sempurna membuat dirinya semakin cantik sampai lelaki itu sudah tak sabar ingin memilikinya. Andra yang sudah datang dan dia menunggu setengah jam tapi tidak ada kedatangan Yura. Dia takut terjadi sesuatu kepada gadis itu dan saat di telepon tidak di angkat. Andra masih menunggu tak lama kemudian pesan dari Yura muncul di layar benda pipih panjang itu. "Maaf tidak bisa datang aku ada urusan mendadak." Setelah melihat pesan itu Andra pun bangkit dari tempat duduknya. Andra merasa ada sesuatu tapi dia berusaha positif thinking, tapi yang namanya perasaan itu pasti bisa saja yang ditakutkan akan terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN