Andra masih berada di rumah Yura, dia sempat khawatir terhadap Yura karena bagaimanapun masalah ini belum dipecahkan.
"Dimas gak kesini lagi, kan?"
Yura yang sedang menuang air dingin karena saus tteokboki yang pedas.
"Udah nggak, kenapa?"
"Aku cuman nanya aja."
Yura hanya bilang 'O' saja, setelah itu dia kembali meminum air dingin karena masih kepanasan.
"Gak bisa makan sambal, ya?" Andra memperhatikan Yura dari tadi.
"Bisa kok tapi ini pedes banget."
"Cabenya cuman sepuluh, masa pedes."
Gak abis pikir sama jalan pikirannya Andra yang dia bilang kalau tteokboki buatan dia gak pedes.
"Cuman sepuluh kamu bilang, wah udah gila kamu udah bikin aku kepanasan setengah mati."
"Kamunya aja yang lebay."
Dibilang lebay lagi hadeh. Gerutu Yura dalam hatinya ingin dia jambak rambut Andra sekeras-kerasnya agar dia tau sepanas itu rasanya.
"Terserah."
Setelah itu Yura pergi ke kamarnya, dia kesal dan juga Andra itu ekspresi wajahnya yang datar terus nada bicaranya dingin. Yura jadinya gak suka.
Andra terdiam melihat Yura yang menutup pintu kamar secara keras dan sekarang Andra gak tau salahnya apa lalu dia terdiam. Andra mikirnya mungkin Yura sedang merapikan kamar.
Dan yang dilakukan Yura adalah memberantakan kamarnya karena merasa malu, dia harusnya gak seperti itu kepada Andra dan juga dia gak boleh baper sama sikapnya Andra toh juga lelaki itu menganggapnya tidak lebih sebagai teman. Jadi mulai sekarang Yura harus biasa saja, dia gak mau terlibat percintaan.
"Aku mau pulang Yura!" Pekik Andra agar gadis itu mau keluar dari kamar. Yura yang mendengarnya dengan segera keluar dari kamar sambil melayangkan ekspresi judes.
"Yaudah tinggal pulang." Andra tau ini Yura sedang marah tapi Andra mana tau kalau Yura marah karena apa. Andra merasa kalau dirinya itu gak salah.
"Oh, oke."
Setelah itu Andra keluar dari rumah besar itu, dia gak mau melihat gadis itu ngamuk karena dulu Andra pernah melihat Yura marah lalu memukul mantannya itu berkali-kali dan tentunya mantannya kalah lalu ingin menghantam Yura dengan sigap Andra langsung menahan tangan lelaki itu.
Mantan Yura pun akhirnya pergi, tak lupa Yura mengucapkan terimakasih tapi Andra gak balik hadap dan pergi gitu aja ninggalin Yura padahal gadis itu sudah teriak manggil "Nama kamu siapa? Eh malah kabur, woy!" Yura berlari mengejar tapi karena Andra lebih cepat jadinya Yura gak liat muka Andra.
#
"Cepat datang ke Gallery!" Cana terlihat panik.
"Kenapa?" Yura pun kaget dengan suara Cana yang panik karena terjadi sesuatu di Gallery miliknya
"Cepet kesini ada masalah!"
Setelah itu Cana mematikan telepon dengan segera Yura menancapkan gasnya menuju Gallery Rose dan melihat banyaknya orang di depan pintu gerbang, sampai mobil yang dinaiki Yura saja sudah dihalangi oleh reporter yang ingin bertanya sesuatu.
Entahlah Yura gak tau persoalan apa yang jelas dia kaget saat melihat ini semua apalagi ini udah siaran langsung dan tentunya ada di televisi.
"Apa benar kalau penyanyi solo bernama Chandratama menginap dirumah nona Ayura?"
Tentunya Yura kaget dengan pertanyaan ini, setau dia gak ada orang yang tau kalau Andra menginap dirumahnya kecuali Cana dan Dimas.
Kalau bukan mereka. Siapa yang memberitahunya? Karena Yura gak mau persoalan ini makin panjang akhirnya Yura mengatakan.
"Benar tetapi dia menginap karena hari sudah larut malam dan kami berdua tidak lebih dari rekan kerja, kalau tidak percaya tanya saja ke teman saya Cana."
Cana yang masih panik kini menghampiri Yura, padahal dia harusnya menghindar tetapi reporter itu malah bertanya kepadanya dan Cana pun menjawabnya.
Semua orang menyaksikan pengakuan Yura dan setelah itu Yura dan Cana masuk ke dalam karena tidak ingin keluar apalagi reporter itu bisa saja menanyakan hal-hal tentang kebersamaannya bersama Andra.
"Kamu kok jujur sih."
"Aku gak bisa sembunyikan ini teralu lama dan pada akhirnya akan ketahuan juga, kuharap Andra juga menjawabnya dengan jujur dan tenang."
"Ya, oke."
Cana cemberut tapi untuk kali ini dia harus bisa menjaga Yura harusnya tadi dia narik Yura masuk ke dalam tapi malah Yura diam di sana dan menjawab pertanyaan tapi karena masih banyak yang belum ditanyakan dengan sigap Cana menariknya.
"Dari mana mereka tau kalau Andra menginap dirumahku?"
"Aku juga gak tau Yura."
Yura mana pernah menceritakan kalau Andra pernah menginap dirumahnya dan juga dia pikir-pikir lagi bukan hanya Andra yang menginap dirumahnya tapi ada Dimas juga. Tapi yang mereka tanyakan hanya Andra, tidak mungkin kalau Andra memberitahukan ini ke orang lain.
"Atau jangan-jangan Dimas lagi pelakunya." Cana menebaknya padahal dia udah tau kalau dimata Yura itu Dimas adalah orang yang baik jadi Yura pikir bukan dia orangnya.
"Gak mungkin, kalau aku liat sih dia itu kan baik mana mungkin dia melakukan ini dan juga di rumahku dia tinggal disitu."
"Tapi bisa aja, kan..."
"Kalau iya, kamu punya buktinya?"
Cana terdiam karena dia tidak tau kalau Dimas itu pura-pura bsik di depan tapi di hatinya dia busuk. Kalau saja Yura tau bisa-bisa dia tidak akan pernah memaafkan Dimas.
"Yura!" Panggil seorang di ambang pintu dan berlari menuju Yura yang sedang duduk menetralkan isi pikirannya tetapi lelaki bernama Dimas itu datang disaat waktunya tdiak tepat.
"Kamu gak apa-apa, kan?"
"Nggak."
"Syukur deh, aku bisa bernafas lega."
"Kamu liat aku di televisi, ya?"
"Iya... Aku pikir kamu akan menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan tapi emang harus seperti itu kalau gak semua awak akan tau."
"Aku cuman menjawabnya cuman satu dan setelah itu Cana membawaku ke kantorku yang udah lama aku gak pernah datang kesini."
Dimas tersenyum tipis dan menarik kursi yang Yura duduki lalu Dimas membisikinya.
"Oke."
Setelah itu Dimas pun keluar dari ruangan Yura dan menancap gas pulang kerumahnya yang tak jauh dari tempat tinggalnya Andra.
Walaupun mereka satu perumahan tapi dia gak pernah pergi kerumahnhnya Andra karena dia sadar kalau rantingnya turun naik.
"Dia ngomong apa ra?"
"Mau tau aja kamu."
"Gini amat punya sahabat."
"Dia itu cuman nanya besok aku ada waktu atau gak tapi aku bilang usahain datang."
"Oh, aku kirain dia itu main-main dalam ucapannya."
"Andra juga pernah bilang sama aku kalau Dimas itu bukan lelaki yang baik karena dari dulu dia mainin hati perempuan."
"Yaudah kalau gitu kamu sama Andra aja karena menurutku dia lebih baik sari siapapun."
"Tapi aku gak bisa percaya dari mulut ke mulut orang lain apalagi lelaki itu baik dan yang jelas dia bisa hormati perempuan."
"Apanya yang dihormati kalau lelaki itu lebih mementingkan temannya dari pada kekasihnya."
"Emang kamu tau tentang lelaki itu?"
"Udah banyak korbannya Yura, kok kamu gak mau percaya sama aku."
"Aku bukannya mau percaya atau gak tapi nanti liat aja deh sifatnya seperti apa."
Setelah itu Yura pergi dari ruangannya menuju kafe di dekat Gallery Rose karena merasa dirinya harus memenangkan hati dan pikirannya. Kalau tidak dia bisa saja marah kesemua orang yamg berada didekatnya, makanya dia mencoba keluar dari tempat yang ramai, penuh dengan manusia.