Kedatangan Niko

738 Kata
Bab 4 Kedatangan Niko *** Mungkin aku akan meminta tes itu di lakukan jika diriku sudah mulai pulih, agar aku bisa menyaksikannya sendiri. Kini untuk berjalan saja masih terasa sakit. Tepat 4 hari aku berada di rumah sakit, aku meminta Papa untuk ke rumah saja, kami bertemu di rumah jika aku sudah di perbolehkan pulang. Karena sekarang aku ingin fokus untuk pulih, dan tak ingin membuat keributan di rumah sakit karena ini adalah masalah yang cukup rumit tak selesai jika terus saja berdebat. "Mama kemana Mbok?" dari tadi Mama keluar dan belum kembali. "Nyonya sedang pulang ke rumah, kan di rumah ada Tuan Ferdinand," jawab Mbok Sar, ia adalah Papaku. Mas Dylan masuk kedalam ruanganku, dia duduk di sofa dengan memijit pelipisnya. "Kenapa kamu masih di sini Mas, kenapa tidak pulang saja kerumah?" ujarku. "Aku hanya ingin menemanimu," jawabnya. "Menemaniku atau menemani Giselle?" selorohku. "Tentu saja menemanimu Kay! Hentikan cemburu butamu itu!" bentak nya. "Cemburu? Tak sudi aku cemburu denganmu Mas, rasa ini telah mati!" aku tahu pasti dia sengaja di sini, karena masih menemani Giselle. "Alvino Daffa" itulah nama yang ku berikan pada bayiku, aku tak memberinya nama belakang Mas Dylan. Aku tidak mau memberinya nama belakang Papanya, karena dia saja tak peduli dengan anaknya ini. Bahkan hingga saat ini Mas Dylan belum pernah menggendong anaknya ini. Baiklah Mas, aku juga tak sudi kamu menyentuh Alvin. Bahkan saat ini aku sedang menyusui Alvin, dia sama sekali tak ingin melihat bahkan sekedar memandangnya. Apa salah bayiku, jadi korban keegoisan Papanya sendiri. Mas Dylan sedang melihat ponselnya, sepertinya sedang membaca pesan. Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan keluar ruangan. "Mbok, tolong tidur kan Alvin di box bayi. Dia sudah tertidur," ujarku. Mbok Sar mengambil Alvin dari gendonganku, dan menidurkan bayi mungil itu di boxnya. Aki penasaran apa yang di lakukan Mas Dylan saat keluar tadi, apa dia sedang di kamar Giselle. "Mbok, antar aku keluar. Aku penasaran kemana Mas Dylan pergi, apa dia kamar wanita itu lagi," "Baik Nyonya," Mbok Sar mengambil kursi roda yang telah di siapkan, Mama yang meminta kursi roda itu agar aku bisa keluar jika jenuh di dalam kamar. Mbok Sar membantuku untuk duduk di kursi roda, kami berdua keluar kamar. Baru saja kami keluar dari pintu, namun sudah di suguhkan dengan pemandangan yang tak pantas untuk di saksikan oleh diriku. Giselle sedang belajar berjalan, dengan di bantu oleh Mas Dylan. Dia menggandeng lengan suamiku dengan erat, mereka berdua tampak sangat menikmati momen itu. Seakan tak sadar dengan kehadiranmu Dan mbok Sar yang menatap tak terlalu jauh. "Masih sakit ya, kita ke kamar lagi yuk," ucap Mas Dylan, yang masih bisa ku dengar. "Iya Mas sakit, aku mau rebahan lagi aja," ucap Giselle dengan suaranya yang di buat manja. "Kasihan masih ngerasain sakit," Mas Dylan mengusap lembut rambut Giselle. Giselle tersenyum semakin manja Menatap mas Dylan. "Gendong Mas," pinta Giselle. Aku yang melihat mereka geram dan pasti kesal, dengan kelakuan mereka yang seperti itu saja sudah cukup menjelaskan perselingkuhan yang terjadi, tapi tetap saja menyangkal. "Manja banget sih minta gendong, baiklah aku gendong kamu, tapi sakit gak bekas jahitan nya jika di gendong?" tanya Mas Dylan, dengan penuh perhatian. "Coba aja dulu Mas," rengek Giselle. "Perempuan gatal," ujar Mbok sar. "Sama saja mereka berdua itu gatal, mbok!" sahutku. "Bagus ya, gendong-gendongan!" suara yang cukup berat, berasal dari belakangku dan Mbok Sar. Kami menoleh, ternyata dia adalah Niko suami Giselle. Raut wajahnya tampak marah melihat kelakuan sang istri dan mas Dylan, yaitu Boss dan temannya. Tanpa sadar Mas Dylan menjatuhkan tubuh Giselle. "Sakit mas," rintih Giselle, bokongnya menghantam lantai. Aku ikut merasa nyeri menyaksikannya. Buggg.....! "Apa yang kalian lakuin di belakang gue!" teriak Niko. Dia kembali mengangkat kerah baju Mas Dylan, dan siap memberi bogem mentah. "Kalian jangan ribut, tolong aku," ujar Giselle. Suster yang melihat itu, datang menolong Giselle. "Bang, jangan hajar Mas Dylan dia hanya membantuku," pinta Giselle. "Membantu? Sedangkan pada istrinya saja di tak acuh, kenapa dia malah perhatian denganmu!" ujar Niko dan menoleh ke arahku. Giselle dan Dylan jugam menoleh ke arahku, mereka sontak kaget ternyata aku menyaksikan kelakuan mereka sedari tadi. "Setelah pulang dari rumah sakit, kamu jangan pernah pulang ke rumah lagi!" "Kamu ingin mengusirku Bang?" tanya Giselle pada Suaminya. "Ya, aku tak sudi mempunyai istri sepertimu yang main gila dengan temanku!" "Enggak Bang, jangan usir aku. Aku tak punya apapun, bagaimana nanti aku menghidupi anak kita?" Giselle menangis dan memohon. "Aku tak akan berubah pikiran!" ucap Niko.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN