Happy Reading . . . "Maaf, tapi Anda harus tunggu di luar." Seorang suster membentangkan tangannya, lalu pintu ruang ugd pun ditutup rapat. Tak ada satu pun yang bisa Kavin mengerti. Semuanya terjadi begitu cepat, sampai-sampai otaknya tak mampu mencerna. Pelukannya saja masih terasa hangat, tapi siapa yang tahu kalau Nesya melakukannya hanya untuk sesuatu yang lain. Sungguh, Kavin tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau ada yang terjadi pada Nesya. "Kavin.." seru seseorang, menghampiri. "Gimana sama.." ucapan Nella terhenti, melihat keadaan Kavin yang seperti mandi darah--hampir seluruh tubuhnya dipenuhi bercak merah--cukup menjadi jawaban. Kavin hanya diam, tanpa kata, tanpa air mata. Semua ini masih terasa mimpi belaka. Sejak di hari ulang tahunnya, pertama kalinya seseorang yang b

